Share

Bab 2

Author: Sella
Elsa berbalik dan pergi.

Pintu lift tertutup, membawa serta hatinya yang dulu penuh cinta, turun ke lantai bawah.

Begitu keluar dari pintu gedung Grup Kusuma, Elsa ditabrak dengan keras oleh seseorang dari belakang.

Kepalanya terbentur ke dinding, membuat napasnya tersentak kesakitan. Saat dia mendongak, dia melihat Lintang yang sedang memegang ponsel dengan wajah cemas.

"Ara, tunggu aku."

Dia menutup telepon, melangkah masuk ke mobil sportnya, menginjak pedal gas, dan melaju kencang.

Pria yang selalu mengaku mencintainya itu sama sekali tidak menyadari bahwa dia telah menabraknya. Bahkan tidak sempat melihatnya sama sekali!

Rasa pahit menyelimuti hatinya, dan Elsa pun memanggil taksi untuk mengikutinya.

Dia ingin melihat sendiri, siapa sebenarnya Ara yang begitu dipuja-puja olehnya.

Di pintu masuk kantor polisi.

Elsa turun dari taksi dan melihat seseorang yang dilindungi Lintang tidak jauh dari sana. Matanya membelalak tak percaya.

"Ara" yang dimaksud Lintang ternyata adalah Linara Kusuma, gadis yang pernah membully dia di SMA dan memberinya mimpi buruk tak terhitung jumlahnya!

Saat itu, Linara menindas Elsa dalam segala kesempatan hanya karena Elsa dipuji kecantikannya.

Kursinya dilumuri lem super, kotak pensilnya diisi kecoak dan tikus, buku PR-nya disobek-sobek tanpa alasan. Bahkan saat dia terpilih menjadi pembawa acara perayaan sekolah, dia dipaksa minum air cabai ....

Orang yang kejam dan menjijikkan itu digambarkan sebagai sosok yang bebas dan ceria di mulut Lintang. Sungguh ironis!

Linara berkata dengan kesal, "Kak, aku sebenarnya pulang dari luar negeri sebagai kejutan untukmu, makanya aku ngebut di jalan. Aku nggak sengaja nabrak mobil di depan, kenapa aku harus ditangkap? Bikin repot saja!"

Lintang tersenyum tidak berdaya dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Nggak peduli masalah seberat apa pun, pasti Kakak uruskan."

Suara yang akrab di telinga, tapi mengandung kelembutan tulus yang belum pernah didengar Elsa sebelumnya.

Linara akhirnya bisa tersenyum. "Aku percaya Kakak. Dulu, demi mendapatkan wanita itu, kamu merancang kasus penculikan, bahkan nyaris kehilangan nyawamu sendiri. Semua itu biar pada akhirnya bisa menikah denganku. Kakak memang orang yang paling baik padaku!"

Elsa tiba-tiba membeku, kedua matanya bergetar dan memerah.

Kasus penculikan itu ternyata dirancang olehnya?

Dia mengira dirinya yang telah menyeret Lintang ke dalam bencana tanpa alasan, dan merasa bersalah karenanya selama bertahun-tahun.

Namun ternyata, dialah pelaku sebenarnya.

Gejolak hati yang dia rasakan saat itu rupanya tidak lebih dari jebakan yang sudah direncanakan!

Amarah, rasa tersakiti, putus asa, dan sakit hati ... semua itu bagaikan binatang buas yang mengoyak-ngoyak jiwa Elsa.

"Ibu sakit?" Seorang polisi wanita memperhatikan wajahnya yang pucat. "Butuh bantuan?"

Mendengar suara itu, Lintang menoleh.

Saat tatapan mereka bertemu, jantungnya berdebar kencang.

"Elsa, kenapa kamu di sini? Kamu ... sejak kapan datang?"

Nadanya terdengar sangat peduli.

Namun Elsa tahu, pria itu hanya takut dirinya mendengar rahasia yang tidak boleh terungkap!

"Barusan."

Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya. Dia menekan emosi yang bergejolak dalam dirinya.

"Aku kehilangan sesuatu, mau lapor polisi."

Lintang menghela napas lega. "Apa yang hilang? Nanti aku minta orang-orangku membantumu mencarinya."

Elsa menatapnya dalam diam sejenak, lalu tiba-tiba menggeleng. "Nggak usah, nggak perlu dicari lagi."

Dia kehilangan cinta yang dia kira saling berbalas. Namun, karena semua itu memang hanya tipuan, bagaimana mungkin bisa ditemukan kembali?

Maka dari itu, tidak perlu dicari lagi.

"Ya sudah." Lintang berkata dengan nada tidak peduli. "Nanti beli yang baru saja."

"Kak, ternyata kamu menikah dengan teman SMA-ku dulu? Kebetulan sekali."

Linara menghampiri dengan senyum cerah.

"Kita sahabat dekat waktu SMA. Ya 'kan, Elsa?"

Nada suaranya yang ringan seketika membawa Elsa kembali ke masa lalu.

Dulu, Linara juga selalu tersenyum polos setelah menindasnya dengan kejam. "Kami cuma bercanda antar teman. Ya 'kan, Elsa?"

Tangan Elsa diam-diam mengepal, tapi tatapannya tetap menghadap mata Linara secara langsung.

"Memang kebetulan sekali. Ternyata, orang yang 'sangat dekat' dan sering menindasku dulu itu adik iparku."

Lintang mengerutkan kening terkejut. "Elsa, orang yang kamu bilang sering membully kamu dulu itu Ara?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 24

    Pria itu muda dan tampan. Baik dari segi karisma maupun pembawaan, dia tidak kalah dari Surya maupun Lintang.Saat menatap Elsa, matanya penuh kelembutan.Yang lebih menyakitkan hati Surya adalah, Elsa pun tersenyum, membalas dengan kelembutan yang sama.Baru pada saat itu, Surya akhirnya menyadari bahwa dia telah benar-benar kehilangan Elsa.Atau mungkin, dia memang tidak pernah memilikinya.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga pesta pertunangan berakhir dan para tamu meninggalkan halaman, kembali ke ruang perjamuan di dalam vila.Tiba-tiba dia tersenyum, berbalik, lalu menghilang.Setelah dia pergi, Elsa dengan sopan mengucapkan terima kasih kepada Deva."Terima kasih, mau membantuku pura-pura."Beberapa hari terakhir ini, setiap ada waktu luang, Heru suka mencari orang untuk bertanding catur di bawah pohon besar di tepi pantai.Tanpa disengaja, dia pun berkenalan dengan Deva, dan bahkan menjadikannya muridnya.Setelah mengetahui bahwa Elsa diganggu oleh Surya, Deva menawarkan diri

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 23

    "Gila!"Elsa tidak bisa menahan diri dan akhirnya mengumpat."Sakit jiwa!"Heru menyambung.Ayah dan anak itu bersatu dalam kebencian mereka, tidak lagi menghiraukan Surya dan pergi dengan sepeda mereka.Surya pun tidak marah. Dia bahkan tidak mengejar mereka.Elsa dan ayahnya bersepeda mengelilingi danau cukup lama, lalu menemukan sebuah kedai mi yang terkenal enak untuk makan malam.Suasana hati mereka akhirnya membaik.Setelah gelap, keduanya kembali ke penginapan sambil mengobrol riang.Bum!Tiba-tiba, kembang api yang cemerlang dan menawan meletus di langit.Kembang api itu membentuk serangkaian kalimat ....[Elsa, aku minta maaf.][Surya mencintai Elsa.][Elsa, kumohon menikahlah denganku.]...Kembang api yang indah itu menampilkan baris demi baris tulisan yang cemerlang.Elsa hanya merasa kehabisan kata-kata.Dia berdiri di bawah cahaya yang gemerlap itu, lalu menelepon pengacaranya."Aku sudah memutuskan. Jual Grup Kusuma ke pesaing Grup Permana, secepatnya ...."Segalanya ber

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 22

    Elsa kembali ke penginapan dan bisa mencium aroma harumnya dari kejauhan.Ayahnya sudah memasak sup ayam dengan jamur yang aromanya begitu menggugah selera hingga membuatnya tidak bisa menahan diri.Akhirnya, senyuman tulus terpancar dari mata Elsa.Ayahnya sejak dulu orang yang positif dan semangat dalam hidup. Dia suka membaca, menulis, olahraga, memotret, bermain catur ... dan dia juga sangat suka bereksperimen dengan masakan.Dulu, demi memberinya kehidupan yang baik, ayahnya mengubah diri menjadi mesin kerja yang membosankan, tanpa waktu untuk menikmati hidup.Namun mulai sekarang, akan ada banyak waktu indah seperti ini.Ayah dan anak itu menikmati makan dengan gembira.Setelah makan, mereka berencana bersepeda ke tepi danau untuk membantu pencernaan.Begitu keluar, mereka melihat dua sosok di depan.Salah satunya adalah Lintang.Yang satunya lagi adalah Surya.Elsa mengedipkan mata, mengira pemandangan itu hanya halusinasi akibat jamur yang dia makan.Sayangnya bukan.Padahal su

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 21

    Elsa tidak ingin mendengarkan.Dia tahu itu semua tidak lain hanyalah penyesalan basi yang diulang-ulang.Namun, jika lima menit bisa ditukar dengan kedamaian setelahnya.Mungkin tidak ada salahnya."Cuma lima menit."Surya menatapnya dengan sedikit sedih.Elsa yang biasanya ramah dan sopan kepada siapa pun, kini tampak seperti landak berduri.Namun, dia tidak bisa menyalahkan orang lain. Itu semua kesalahannya sendiri."Aku tahu ini mungkin terdengar seperti alasan, tapi aku benar-benar memanjakan Linara tanpa syarat karena salah mengira dia penyelamatku.""Sebenarnya, selama tiga tahun ini, aku tanpa sadar sudah jatuh cinta padamu. Tapi aku nggak mau menghadapinya dan nggak berani mengakuinya.""Aku tahu aku telah membohongimu dan menyakitimu. Tapi Elsa, selain kamu, aku nggak punya wanita lain. Kita sangat cocok ... Kumohon, demi masa lalu kita, beri aku kesempatan lagi."Surya belum pernah merendahkan diri serendah ini.Namun, Elsa tiba-tiba tertawa."Nggak ada cocok-cocokan. Sama

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 20

    "Bagaimana rencana Anda untuk mengelola Grup Kusuma? Anda ingin mempekerjakan manajer profesional, atau ingin mengelolanya sendiri? Atau, mungkin ingin menjualnya?"Menghadapi tiga kemungkinan yang diajukan pengacara, Elsa tersenyum sambil melirik Heru yang sedang santai menikmati pemandangan."Biarkan dulu dikelola manajer profesional."Bisnis Heru memang cukup sukses, tetapi ambisinya bukan di sana. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun hanyalah untuk memberi anaknya kehidupan yang lebih baik.Kini, sudah saatnya dia kembali menjadi dirinya sendiri.Menjalani kehidupan yang bebas dan santai seperti yang dia sukai.Sedangkan Elsa yang babak belur penuh luka, hanya ingin menikmati hidupnya terlebih dahulu.Namun, tak disangka, kehidupan santai itu hanya bertahan setengah hari.Lintang dan Surya datang menemui mereka.Meskipun baru sehari tidak bertemu, keduanya tampak jauh lebih lesu.Namun, tatapan mereka kepada Elsa sangat membara, lebih dari sebelumnya."Elsa, aku sangat menyesal. Ak

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 19

    Para tamu satu per satu menatap pengacara itu dengan mata berbinar-binar.Mata mereka memancarkan ekspresi yang seolah berkata, "Masih ada kejutan apa lagi yang belum kuketahui?"Pengacara itu tersenyum tak berdaya.Ini yang terakhir.Tidak ada pilihan lain, Elsa telah membayarnya terlalu banyak. Tentu sudah sewajarnya dia membantu melampiaskan amarahnya sepuas mungkin?Apalagi, bahkan jika bayarannya tidak sebanyak itu, sekumpulan orang menindas satu wanita jelas tindakan yang kelewat tak tahu malu dan keji.Mereka pantas menderita pukulan berulang seperti ini!Surya menatap kotak kecil itu.Entah mengapa, seluruh tubuhnya gemetar, dan firasat buruk yang kuat muncul di dalam hatinya.Dia ragu-ragu dan menolak untuk menerimanya.Seolah dengan begitu, kebenarannya tidak akan pernah terungkap.Namun, tidak ada gunanya menghindar.Pengacara itu berjalan menghampirinya dan mendorong kotak itu ke tangannya.Tangan gemetarannya akhirnya membuka kotak itu.Di dalamnya, hanya ada segumpal dagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status