Short
Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu

Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu

By:  L.SCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Butuh waktu tiga tahun penuh bagiku untuk memenangkan hati Regina Liandra, wanita yang terkenal dingin dan sulit didekati. Demi menikahinya, aku mengorbankan seluruh karierku dan rela menjadi suami yang mengurus rumah tangga. Aku bahkan pergi ke rumah sakit untuk menjalani vasektomi tepat sehari setelah dia mengaku takut pada rasa sakit saat melahirkan. Semua orang di sekitar kami yakin kami akan menjadi pasangan yang saling mencintai seumur hidup. Namun, tepat pada ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku memutuskan untuk bercerai. Pengacara sekaligus sahabat karibku, Thomas Judika, terus bertanya padaku, "Kamu yakin? Dulu, demi nikah sama dia, kamu bahkan tolak tawaran kerja dari majalah ternama seperti Vogur. Sekarang, kamu malah mau cerai?" Sambil menahan sesak di dada, aku menjawab, "Buatkan saja surat kesepakatan cerai untukku secepat mungkin." Dia bertanya dengan kebingungan, "Apa alasannya?" Aku menatap buket bunga datura hitam yang dibungkus dengan mewah di atas meja makan. Setelah ragu sejenak, aku memberikan jawaban terakhirku, "Karena sebuah buket bunga."

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat pertama kali menerima bunga itu hari ini, aku sungguh gembira. Kupikir, Regina akhirnya sudah sadar dan menyiapkan kejutan ulang tahun pernikahan untukku. Namun, saat membuka kartu ucapan yang terselip di dalamnya, senyumku seketika membeku.

[ Kak Regina, terima kasih. Kamu sudah terbang jauh-jauh khusus untuk mengoperasi bibiku. Kami sekeluarga merasa sangat berterima kasih. Aku pilih bunga ini khusus untuk Kak Regina. Aku rasa, bunga ini sangat cocok untuk gambarkan 'kita'. Semoga kamu suka. Kevin. ]

Tanganku gemetar dan seluruh buket bunga itu jatuh ke lantai.

Tiga tahun lalu, ayahku sakit parah. Dokter mengatakan dia harus segera dioperasi. Namun, fasilitas medis di kota kecil itu tidak memadai, sedangkan kondisi ayahku terlalu lemah untuk menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit yang lebih baik.

Aku sempat memohon pada Regina untuk datang ke kampung halamanku dan melakukan operasi itu sendiri. Apa jawabannya?

"Pihak rumah sakit melarang dokter-dokternya untuk melakukan tindakan medis di rumah sakit lain. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Aturan nggak boleh dilanggar cuma karena hubungan pribadi."

Pada akhirnya, ayahku meninggal di dalam ambulans saat sedang dipindahkan. Hal itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku.

Di pemakaman ayah, aku secara khusus memilih bunga datura hitam. Bunga itu memiliki makna yang sesuai dengan sosoknya, yaitu kematian dan cinta yang tak terduga.

Namun, sebenarnya, tidak ada satu pun hal yang benar-benar tak terduga ....

Di tengah malam ketika terbangun dari mimpi, aku sering teringat rambut ayahku yang memutih di saat-saat terakhir hidupnya, lalu diam-diam meneteskan air mata. Aku terus meyakinkan diri untuk tidak menyalahkan Regina. Setiap orang memiliki prinsip yang mereka junjung tinggi.

Sekarang, aku baru menyadari bahwa aturan bisa dilanggar dan prinsip bisa dikesampingkan. Hanya saja, aku, Louis Rikardi, tidak pantas mendapatkannya.

Setelah mengakhiri panggilan dengan Thomas, aku membuang semua pita dan balon yang telah kupasang sebagai dekorasi ke tong sampah. Kemudian, aku membuka halaman web dan mengetik beberapa kata.

[ Panduan perjalanan darat Jalur Aruna-Sagara. ]

Pegunungan bersalju, padang rumput, danau, dan jalan raya yang membentang hingga ke cakrawala.

Aku pernah berjanji pada ayahku bahwa suatu saat nanti, aku akan menyusuri Jalur Aruna-Sagara bersama kameraku. Setelah ayahku tiada, Regina mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa dia akan menemaniku untuk memenuhi janji yang belum sempat terwujud itu.

Namun, tahun itu, Regina baru saja dipromosikan menjadi dokter spesialis. Dia sangat sibuk hingga hampir tak punya waktu untuk makan. Melihatnya yang sering lupa makan hingga sakit maag, tetapi masih memeriksa rekam medis dan menulis makalah, hatiku terasa perih.

Oleh karena itu, aku menutup studio fotografiku dan beralih peran dari seorang fotografer menjadi "suami Dokter Regina". Tahun itu, aku memenangkan penghargaan fotografi nasional dan mendapat tawaran dari beberapa perusahaan ternama. Masa depanku sangatlah cerah. Namun, aku melepaskan semuanya tanpa keraguan sedikit pun.

Regina akhirnya menjadi Kepala Bedah Jantung termuda dan sosok yang disegani di bidangnya.

Selama ini, aku yakin pengorbanan dan usahaku itu sepadan. Setelah memikirkannya lagi sekarang, semua itu terasa sangat ironis ....

Suara pintu yang dibuka menyadarkanku dari lamunan. Regina sudah pulang. Dia melepas mantelnya, melirik meja makan yang kosong, lalu mengernyitkan dahi. "Mana makan malamnya?"

Aku menatap layar komputer tanpa mendongak. "Lagi malas masak. Capek."

Keningnya berkerut makin dalam. "Capek? Lebih capek daripada aku yang kerja?"

Sebelum aku sempat menjawab, ponselnya berdering. Dia melirik layar ponsel dan langsung mengangkatnya. "Ada apa?"

Suara pria yang lembut terdengar dari ujung telepon.

Ekspresi tegang Regina perlahan melunak. Sudut bibirnya bahkan membentuk senyum tipis. "Tenang saja, aku akan segera ke sana."

Aku bisa mendengar suara rekan-rekan kerjanya di rumah sakit yang sedang menggodanya.

"Wah, Pak Kevin minta bantuan lagi, nih."

"Dok Regina, cepat datang! Kepala perawat kami sudah kewalahan menanganinya."

Terdengar gelak tawa dari ujung telepon. Suasananya begitu santai, seperti sekelompok orang yang sedang menggoda pasangan favorit mereka.

Aku, suaminya yang sah, malah terasa seperti orang asing.

Setelah menutup telepon, Regina mengenakan kembali mantel yang baru saja dilepasnya.

Aku pun bersuara, "Kevin?"

Gerakan Regina terdiam sejenak. "Ada masalah dengan pasien. Dia cuma bisa hubungi aku. Ini masalah hidup dan mati, jangan berpikiran macam-macam."

Seusai berbicara, dia berbalik dan pergi.

Aku menatap punggungnya yang menjauh dan teringat bagaimana dia bergegas pergi seperti ini minggu lalu, dengan alasan akan melakukan perjalanan dinas selama tiga hari. Sekarang, aku mengerti itu bukan perjalanan dinas, melainkan menempuh perjalanan 500 kilometer demi mengoperasi bibi Kevin.

"Regina," panggilku.

Dia menoleh kembali. "Ada apa?"

Aku menatap matanya dan bertanya pelan, "Apa kamu ingat ini hari apa?"

Dia menjawab tanpa ragu sedikit pun, "Hari Anak?"

Aku tersenyum. Dia benar-benar lupa. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Untungnya, ini juga yang terakhir.

"Nggak apa-apa." Aku memalingkan wajah. "Pergilah bekerja."

Regina menatapku, lalu sepertinya teringat sesuatu. Setelah hening sejenak, dia berkata dengan nada kaku, "Aku akan kembali begitu urusannya selesai. Kamu mau aku bawakan camilan malam?"

Aku menggeleng. "Nggak perlu."

Aku tidak membutuhkannya lagi.

Setelah Regina pergi, aku pergi ke restoran yang sudah kupesan seminggu sebelumnya. Kembang api terlihat memukau di langit, setiap meja dipenuhi pasangan. Namun, aku hanya seorang diri.

Pelayan bertanya, "Tuan, kapan tamu satu lagi akan tiba?"

Aku tersenyum dan menjawab, "Orangnya nggak jadi datang."

Mulai sekarang, dia juga tidak akan datang lagi.

Usai makan, aku menelepon dealer mobil.

"Saya ingin pesan sebuah kendaraan off-road. Mobilnya harus cukup tangguh untuk melewati Jalur Aruna-Sagara. Anggaran saya sekitar 1,6 miliar."

Manajer toko berkata mereka memiliki mobil yang sesuai kriteria. Namun, karena permintaan terhadap mobil itu sangat tinggi, stoknya sedang kosong dan butuh waktu seminggu untuk mendatangkannya.

Tujuh hari sudah cukup bagiku untuk melepaskan masa lalu dan membereskan kekacauan dalam pernikahan ini.

"Saya akan mengambilnya seminggu lagi."

Setelah menutup telepon, aku membuka halaman web untuk lanjut membaca panduan perjalanan darat Jalur Aruna-Sagara. Saat menelusuri foto-foto itu, sebuah impian yang telah kusimpan rapat-rapat selama lima tahun seolah hidup kembali.

Tak lama kemudian, Thomas menelepon untuk mengabarkan bahwa surat kesepakatan cerainya sudah dibuat dan dikirim ke e-mailku.

Aku bergumam pelan, "Emm."

Dia terdiam sejenak, lalu tak bisa menahan diri dan bertanya, "Louis, kamu begitu mencintainya. Kamu benar-benar sanggup melepaskannya?"

Aku balik bertanya, "Kamu pernah lihat Regina abaikan prinsipnya dan curahkan seluruh perhatiannya demi orang lain?"

"Nggak," jawabnya jujur.

"Aku pernah." Aku menatap pemandangan malam yang luas dan temaram. Senyum getir tersungging di bibirku. "Tapi, itu bukan demi aku."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status