Share

Bab 4

Penulis: Sella
Elsa tiba-tiba mencengkeram rambut Linara, lalu mendorongnya hingga seluruh wajahnya terbenam ke dalam kue penyambutannya.

"Aah!"

Linara menjerit, wajahnya berlumuran krim, dan matanya terasa perih.

Raut wajah yang penuh penderitaan dan malu itu persis seperti yang dialami Elsa bertahun-tahun lalu, saat wajahnya didorong ke tempat sampah oleh Linara.

Suasana menjadi hening mencekam.

Tidak seorang pun menyangka, Elsa yang biasanya baik dan penurut bisa membalas seperti itu!

Hanya Elsa yang tetap tersenyum. "Ternyata memang lucu. Tapi, kenapa kalian nggak tertawa?"

Semua orang terdiam, kehabisan kata-kata.

"Elsa!"

Surya, dengan tatapan sedingin es, hendak membela Linara, tapi tatapan Lintang menghentikannya.

"Sudah, kalian silakan senang-senang sendiri, jangan racuni istriku." Dia memeluk Elsa dengan lembut. "Bajumu basah, jangan sampai masuk angin. Ayo pulang, ganti baju yang bersih."

Elsa juga tidak ingin tinggal lebih lama. Sepanjang perjalanan, Lintang mengemudi dengan sangat cepat, sementara Elsa menatap pemandangan di luar jendela dalam diam, hanya ingin segera sampai di rumah.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor melaju kencang melawan arah lalu lintas.

Lintang membanting setir untuk menghindari tabrakan, dan mobilnya menabrak batang pohon di pinggir jalan.

Berkat sabuk pengaman, dia tidak terluka sedikit pun.

Namun, Elsa terlempar, berguling beberapa kali di jalan, lalu jatuh ke selokan yang bau di samping jalan.

Air terciprat dengan deras, seluruh tubuhnya menjadi kotor dan bau, dan matanya berair karena air kotor.

Saat dia berusaha bangkit dengan susah payah, bunyi rana kamera terus bersahutan tanpa henti di atas kepalanya.

Seorang reporter yang mengenakan masker mengarahkan kamera ke arahnya dan mengambil gambar dengan membabi buta.

"Nyonya Kusuma mempermalukan dirinya sendiri, ini berita langka!"

"Berhenti!" seru Lintang, bergegas menghentikannya. "Turunkan kameranya. Kalau nggak, aku akan buat namamu diboikot di pekerjaanmu!"

Gentar karena intimidasinya, wartawan itu melempar kameranya dan lari.

Kamera berat itu jatuh tepat di atas kepala Elsa!

Dalam kesakitan yang hebat, Elsa benar-benar kehilangan kesadaran.

Saat terbangun kembali, dia hanya merasakan sakit kepala yang luar biasa.

Yang pertama dia lihat adalah langit-langit kamar rawat rumah sakit. Telinganya menangkap suara-suara dari luar.

"Nggak heran, memang hebatnya Lintang. Merusak sabuk pengaman dan pintu mobil Elsa, lalu menabrakkan mobil dengan tepat biar dia terguling ke selokan. Keahlian yang begini memang bikin kagum!"

"Surya juga nggak main-main, menyamar jadi reporter dan langsung membuatnya pingsan. Akhirnya, bisa melampiaskan dendam Ara!"

"Dia masih beruntung," kata Surya dingin, "Kalau bukan karena dia masih ada gunanya, aku pasti sudah membalas seratus kali lipat waktu dia menyakiti Ara!"

Lintang hanya tertawa kecil. "Sudah, kalian semua bubar saja. Aku harus masuk dan akting di dalam."

Pintu kamar rawat dibuka, dan Elsa memejamkan mata seolah-olah masih tertidur.

Lintang duduk di sampingnya, dan setelah beberapa saat, menyisir lembut helaian rambut yang jatuh di dahinya.

Ujung jari yang hangat itu meluncur ke bawah, seolah sedang menggambar kontur mata dan alisnya.

Elsa tanpa sadar menegang. Dia tidak mengerti. Dia belum bangun, pria ini pura-pura memainkan drama penuh kasih sayang untuk apa!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 24

    Pria itu muda dan tampan. Baik dari segi karisma maupun pembawaan, dia tidak kalah dari Surya maupun Lintang.Saat menatap Elsa, matanya penuh kelembutan.Yang lebih menyakitkan hati Surya adalah, Elsa pun tersenyum, membalas dengan kelembutan yang sama.Baru pada saat itu, Surya akhirnya menyadari bahwa dia telah benar-benar kehilangan Elsa.Atau mungkin, dia memang tidak pernah memilikinya.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga pesta pertunangan berakhir dan para tamu meninggalkan halaman, kembali ke ruang perjamuan di dalam vila.Tiba-tiba dia tersenyum, berbalik, lalu menghilang.Setelah dia pergi, Elsa dengan sopan mengucapkan terima kasih kepada Deva."Terima kasih, mau membantuku pura-pura."Beberapa hari terakhir ini, setiap ada waktu luang, Heru suka mencari orang untuk bertanding catur di bawah pohon besar di tepi pantai.Tanpa disengaja, dia pun berkenalan dengan Deva, dan bahkan menjadikannya muridnya.Setelah mengetahui bahwa Elsa diganggu oleh Surya, Deva menawarkan diri

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 23

    "Gila!"Elsa tidak bisa menahan diri dan akhirnya mengumpat."Sakit jiwa!"Heru menyambung.Ayah dan anak itu bersatu dalam kebencian mereka, tidak lagi menghiraukan Surya dan pergi dengan sepeda mereka.Surya pun tidak marah. Dia bahkan tidak mengejar mereka.Elsa dan ayahnya bersepeda mengelilingi danau cukup lama, lalu menemukan sebuah kedai mi yang terkenal enak untuk makan malam.Suasana hati mereka akhirnya membaik.Setelah gelap, keduanya kembali ke penginapan sambil mengobrol riang.Bum!Tiba-tiba, kembang api yang cemerlang dan menawan meletus di langit.Kembang api itu membentuk serangkaian kalimat ....[Elsa, aku minta maaf.][Surya mencintai Elsa.][Elsa, kumohon menikahlah denganku.]...Kembang api yang indah itu menampilkan baris demi baris tulisan yang cemerlang.Elsa hanya merasa kehabisan kata-kata.Dia berdiri di bawah cahaya yang gemerlap itu, lalu menelepon pengacaranya."Aku sudah memutuskan. Jual Grup Kusuma ke pesaing Grup Permana, secepatnya ...."Segalanya ber

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 22

    Elsa kembali ke penginapan dan bisa mencium aroma harumnya dari kejauhan.Ayahnya sudah memasak sup ayam dengan jamur yang aromanya begitu menggugah selera hingga membuatnya tidak bisa menahan diri.Akhirnya, senyuman tulus terpancar dari mata Elsa.Ayahnya sejak dulu orang yang positif dan semangat dalam hidup. Dia suka membaca, menulis, olahraga, memotret, bermain catur ... dan dia juga sangat suka bereksperimen dengan masakan.Dulu, demi memberinya kehidupan yang baik, ayahnya mengubah diri menjadi mesin kerja yang membosankan, tanpa waktu untuk menikmati hidup.Namun mulai sekarang, akan ada banyak waktu indah seperti ini.Ayah dan anak itu menikmati makan dengan gembira.Setelah makan, mereka berencana bersepeda ke tepi danau untuk membantu pencernaan.Begitu keluar, mereka melihat dua sosok di depan.Salah satunya adalah Lintang.Yang satunya lagi adalah Surya.Elsa mengedipkan mata, mengira pemandangan itu hanya halusinasi akibat jamur yang dia makan.Sayangnya bukan.Padahal su

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 21

    Elsa tidak ingin mendengarkan.Dia tahu itu semua tidak lain hanyalah penyesalan basi yang diulang-ulang.Namun, jika lima menit bisa ditukar dengan kedamaian setelahnya.Mungkin tidak ada salahnya."Cuma lima menit."Surya menatapnya dengan sedikit sedih.Elsa yang biasanya ramah dan sopan kepada siapa pun, kini tampak seperti landak berduri.Namun, dia tidak bisa menyalahkan orang lain. Itu semua kesalahannya sendiri."Aku tahu ini mungkin terdengar seperti alasan, tapi aku benar-benar memanjakan Linara tanpa syarat karena salah mengira dia penyelamatku.""Sebenarnya, selama tiga tahun ini, aku tanpa sadar sudah jatuh cinta padamu. Tapi aku nggak mau menghadapinya dan nggak berani mengakuinya.""Aku tahu aku telah membohongimu dan menyakitimu. Tapi Elsa, selain kamu, aku nggak punya wanita lain. Kita sangat cocok ... Kumohon, demi masa lalu kita, beri aku kesempatan lagi."Surya belum pernah merendahkan diri serendah ini.Namun, Elsa tiba-tiba tertawa."Nggak ada cocok-cocokan. Sama

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 20

    "Bagaimana rencana Anda untuk mengelola Grup Kusuma? Anda ingin mempekerjakan manajer profesional, atau ingin mengelolanya sendiri? Atau, mungkin ingin menjualnya?"Menghadapi tiga kemungkinan yang diajukan pengacara, Elsa tersenyum sambil melirik Heru yang sedang santai menikmati pemandangan."Biarkan dulu dikelola manajer profesional."Bisnis Heru memang cukup sukses, tetapi ambisinya bukan di sana. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun hanyalah untuk memberi anaknya kehidupan yang lebih baik.Kini, sudah saatnya dia kembali menjadi dirinya sendiri.Menjalani kehidupan yang bebas dan santai seperti yang dia sukai.Sedangkan Elsa yang babak belur penuh luka, hanya ingin menikmati hidupnya terlebih dahulu.Namun, tak disangka, kehidupan santai itu hanya bertahan setengah hari.Lintang dan Surya datang menemui mereka.Meskipun baru sehari tidak bertemu, keduanya tampak jauh lebih lesu.Namun, tatapan mereka kepada Elsa sangat membara, lebih dari sebelumnya."Elsa, aku sangat menyesal. Ak

  • Salju Beku Menutupi Bintang   Bab 19

    Para tamu satu per satu menatap pengacara itu dengan mata berbinar-binar.Mata mereka memancarkan ekspresi yang seolah berkata, "Masih ada kejutan apa lagi yang belum kuketahui?"Pengacara itu tersenyum tak berdaya.Ini yang terakhir.Tidak ada pilihan lain, Elsa telah membayarnya terlalu banyak. Tentu sudah sewajarnya dia membantu melampiaskan amarahnya sepuas mungkin?Apalagi, bahkan jika bayarannya tidak sebanyak itu, sekumpulan orang menindas satu wanita jelas tindakan yang kelewat tak tahu malu dan keji.Mereka pantas menderita pukulan berulang seperti ini!Surya menatap kotak kecil itu.Entah mengapa, seluruh tubuhnya gemetar, dan firasat buruk yang kuat muncul di dalam hatinya.Dia ragu-ragu dan menolak untuk menerimanya.Seolah dengan begitu, kebenarannya tidak akan pernah terungkap.Namun, tidak ada gunanya menghindar.Pengacara itu berjalan menghampirinya dan mendorong kotak itu ke tangannya.Tangan gemetarannya akhirnya membuka kotak itu.Di dalamnya, hanya ada segumpal dagi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status