Share

Bab 6

Author: Fen
Kali ini, Jeremy tidak mengamuk. Dia hanya menatap Nancy sambil tertawa dingin, tertawa hingga matanya memerah.

Dia menghempaskan Nancy dan pergi tanpa pernah menoleh lagi.

Beberapa hari kemudian, Jeremy harus pergi ke sebuah vila pegunungan untuk urusan bisnis.

Nancy tidak tahu soal ini, karena Jeremy tidak pernah melaporkan jadwalnya.

Dia mengetahuinya secara tidak sengaja saat mendengar para pelayan berbisik-bisik.

"Kudengar Tuan pergi ke Vila Atap Salju untuk urusan bisnis. Saat turun gunung, ada longsor salju. Sekarang belum ada kabar lagi dari Tuan!"

"Benaran? Aduh, bagaimana ini? Katanya salju tahun ini sangat lebat. Kalau kena longsor, kemungkinannya kecil untuk selamat!"

"Benaran, aku dengar dari asisten Tuan saat menelepon Nona Seria. Tim penyelamat nggak berani naik karena badai salju masih hebat. Entah dia bisa ditemukan atau nggak."

Tubuh Nancy seketika kaku. Rasanya seperti disiram air es dari ujung kepala hingga kaki. Dengan tangan gemetar, dia membuka ponselnya. Benar saja, berita utama menyatakan terjadi longsor salju besar di Vila Atap Salju. CEO Perusahaan Zerti dinyatakan hilang!

Nancy belum pernah merasa setakut ini hingga ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai.

Brak!

Berbagai bayangan buruk melintas di benaknya, wajahnya pucat pasi.

Tidak boleh, Jeremy tidak boleh mati!

Dia segera mengambil mantel dan syal, lalu berlari keluar vila sekuat tenaga.

Saat tiba di kaki Vila Atap Salju, seluruh tim penyelamat tertahan oleh badai.

Dia menerobos kerumunan dan merampas sebuah motor salju.

Seseorang mencoba menghentikannya. "Kamu sudah gila? Badai sehebat ini, jarak pandang sangat rendah! Kalau kamu naik pun, nggak akan bisa menyelamatkannya. Malah kamu sendiri yang akan mati! Tunggu sampai badai reda!"

Nancy mengertakkan gigi dan mendorong orang itu. "Bukan urusan kalian! Aku pasti akan membawanya pulang!"

Tanpa membuang waktu, dia memacu gas dan melesat pergi.

Badai di atas gunung jauh lebih ganas. Meski sudah memakai pakaian salju tebal, dia tetap menggigil hebat.

Seluruh gunung tertutup warna putih, mencari Jeremy di sana bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Nancy berteriak memanggil namanya berulang kali, "Jeremy! Jeremy! Kamu di mana?"

Suaranya tertelan badai. Tenggorokannya serak, namun dia tidak berhenti memanggil.

Satu jam kemudian, dia akhirnya melihat sosok Jeremy di bawah sebatang pohon.

Dia berlari seperti orang gila, melepas topi dan syalnya untuk dipasangkan ke tubuh pria itu.

Jeremy sudah pingsan, pipinya sedingin es.

Sambil menangis, Nancy menyeretnya ke atas motor salju.

"Jeremy, kamu akan baik-baik saja. Aku nggak akan membiarkanmu mati."

Di tengah jalan, kakinya tertusuk dahan kayu yang tersembunyi di balik salju, namun dia seolah tak merasakan sakit.

Saat ini, pikirannya hanya satu. Membawa Jeremy turun dengan selamat.

Tiga jam dia berjuang menembus badai hingga akhirnya sampai di kaki gunung.

Para petugas penyelamat terkesima melihat mereka berdua.

Mereka tidak menyangka, seorang wanita memiliki keberanian dan kekuatan sebesar itu untuk menemukan seseorang di tengah cuaca ekstrem.

Begitu melihat orang-orang berlari ke arah mereka, Nancy menoleh menatap Jeremy untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kelelahan.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, saat terbangun, sosok Jeremy sudah tidak ada di rumah sakit.

Dia merapikan diri seadanya dan mengurus administrasi untuk pulang.

Sesampainya di rumah, dia baru tahu bahwa Seria sudah menjemput Jeremy lebih dulu.

Dan ironisnya, orang yang dianggap telah mempertaruhkan nyawa menembus badai salju untuk menyelamatkannya adalah Seria.

Melihat pria itu baik-baik saja, Nancy tidak berkata apa-apa. Dia berbalik untuk naik ke lantai atas. Dari belakang, Jeremy yang melihat sikap Nancy yang seolah tak peduli, lalu memanggilnya dengan suara dingin.

"Nancy, apa kamu sebegitu berdarah dingin selama ini?"

Punggung Nancy sedikit bergetar, namun dia tetap bungkam dan melanjutkan langkahnya.

Tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Biarlah pria itu terus membencinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 26

    "Nancy ...." "Ikhlaskan dia." "Jangan terlalu sedih."Di depan makam, Nancy menatap batu nisan itu dengan pandangan kosong. Rekan-rekan sejawatnya mencoba menghiburnya. Mereka semua tahu betapa besarnya risiko menjadi polisi anti-narkotika, satu kesalahan kecil bisa berarti kehancuran seluruh keluarga.Dulu, keluarga Nancy dibantai oleh kartel narkoba. Dia datang terlambat dan tidak sempat melihat mereka untuk terakhir kalinya. Sekarang, pria yang paling dia cintai juga mati di tangan kartel yang sama. Tepat di depannya, dipukuli sampai mati demi melindunginya.Dari hasil autopsi, dokter menyatakan bahwa hampir seluruh tulang di tubuh Jeremy patah dan organ dalamnya hancur. Betapa luar biasa rasa sakit yang dia tanggung. Namun pada akhirnya, hanya karena mendengar ucapan cinta dari Nancy, Jeremy pergi dengan senyuman.Hal ini membuat Nancy sangat membenci dirinya sendiri. Dia akhirnya merasakan kepedihan yang sama dengan yang dirasakan Jeremy saat dia memalsukan kematiannya dulu.

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 25

    Tak lama kemudian, suara sirene polisi menggema di luar. Gudang itu seketika menjadi kacau balau."Ada polisi!" "Bagaimana polisi bisa menemukan tempat ini?" "Jelas-jelas nggak ada yang tahu lokasi ini, bagaimana mereka bisa sampai ke sini?"Para penjaga di sana, yang semuanya adalah orang-orang Keluarga Lumadi, panik luar biasa. Namun, karena sudah bertahun-tahun bergelut di dunia hitam, mereka langsung menaruh curiga pada Naomi."Pasti wanita ini yang membocorkannya! Belum lama dia dikurung, polisi sudah datang!" "Jalang sialan, ternyata dia bekerja sama dengan polisi!" "Kalau kami nggak bisa lari, dia juga nggak boleh hidup!"Orang yang sudah terdesak bisa melakukan apa saja, apalagi mereka yang memang terbiasa hidup dalam bahaya. Sekelompok pria dengan beringas membawa tongkat besi, berniat menghabisi Naomi sebelum polisi merangsek masuk.Mereka mengepungnya, menghujani tubuhnya dengan pukulan tongkat tanpa ampun, meluapkan amarah atas kegagalan mereka."Dasar jalang!" "Mati

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 24

    Meski sempat terjadi kekacauan karena Jeremy, pesta pertunangan itu akhirnya selesai. Naomi pun sudah menenangkan emosinya."Ayo pulang, hari ini aku akan membawamu ke rumah utama Keluarga Lumadi untuk bertemu dengan para tetua," ujar Daren dengan semangat. Dia sudah lama ingin membawa Naomi ke sana, tetapi baru sekarang dia punya alasan yang tepat. Mata pria itu berkilat penuh ketamakan."Oke. Karena kita sudah bertunangan, kapan kita akan menikah, Daren? Kamu tahu sendiri, aku nggak punya posisi kuat di Keluarga Stevina," tanya Naomi sambil merangkul lengan Daren dengan nada khawatir."Nggak perlu buru-buru. Kita sudah bertunangan, pernikahan tinggal selangkah lagi. Setelah Kakek bertemu dan menyukaimu, semuanya akan beres. Tenang saja," jawab Daren dengan nada meremehkan.Daren memilih Naomi justru karena statusnya sebagai anak angkat Keluarga Stevina yang sebatang kara. Naomi tidak punya saham besar dan saudara-saudara angkatnya justru sangat membencinya dan ingin dia menyingkir

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 23

    Harapan Jeremy pupus, Naomi menolaknya. Wajah Jeremy seketika pucat pasi. Dia menyambar tangan wanita itu dengan kuat."Nggak boleh. Kamu harus ikut denganku! Daren bukan pria baik-baik! Dia akan mencelakaimu, semua yang kukatakan ini benar, bisnisnya di luar negeri itu sebenarnya ....""Cukup, Jeremy!"Naomi mengibaskan tangan pria itu. Di matanya terdapat kekecewaan, kemarahan, dan kecaman, sama sekali tidak ada cinta. Hal itu menghunjam jantung Jeremy dengan telak."Justru bersamamu yang akan membunuhku! Kamu memaksaku mendonorkan darah untuk Seria, kamu menghinaku dengan uang berkali-kali! Kamulah bajingan yang sebenarnya! Aku sudah susah payah pergi dari kamu, kenapa kamu masih mencariku?""Aku suka Daren, aku mencintainya! Dia beda dari kamu, dia nggak akan menyakitiku! Jeremy, kamu pikir semua orang sepertimu?"Naomi berteriak dengan napas tersengal, mengerahkan seluruh tenaganya. Matanya memerah, tetapi mata Jeremy jauh lebih merah karena air mata yang mulai mengalir."Apa kam

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 22

    Beberapa hari kemudian, pesta Keluarga Lumadi berlangsung sesuai rencana. Mengingat pengaruh Keluarga Lumadi yang terbatas, tamu yang datang biasanya hanya kerabat dan teman dekat. Tidak ada yang menyangka Jeremy akan muncul di sana."Pak Jeremy, mohon maaf atas sambutan yang kurang memadai ini. Kami sungguh tidak menyangka Anda berkenan hadir di pesta kecil kami ini," ujar CEO Perusahaan Lumadi, Pak Wilbert, dengan perasaan tersanjung saat ini. Keluarga mereka tidak pernah bermimpi bisa menjalin koneksi dengan tokoh besar seperti Jeremy."Haha, istri tercintaku tertarik dengan acara ini, jadi aku datang untuk melihat apa yang sedang dia mainkan di sini," jawab Jeremy datar tanpa ekspresi."Oh, ternyata istri Anda juga hadir? Di mana beliau? Saya akan meminta anak-anak muda di keluarga kami untuk menyambutnya," sahut Pak Wilbert dengan sangat sopan.Apa pun alasannya, kehadiran Jeremy di pesta mereka hari ini memiliki arti yang luar biasa. Pak Wilbert mengabaikan tamu lain dan fokus

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 21

    "Apa kamu sudah tuli? Kenapa belum melakukannya?" Jeremy mengerutkan kening. Seria tidak pernah membangkang perintahnya sebelumnya."Kenapa aku harus melakukannya? Kalau ada orang yang bersalah padanya, itu adalah kamu!" Siksaan berhari-hari membuat Seria tidak sanggup lagi menahan diri. Kabar bahwa Nancy masih hidup adalah hal terakhir yang mematahkan akal sehatnya. Dia tidak percaya bahwa segala penderitaannya masih tidak bisa mengalahkan wanita jalang itu.Seria menatap Jeremy dengan penuh kebencian. "Apa Nancy sepenting bagimu? Walaupun dia mencampakkanmu berulang kali? Lalu aku? Aku ini apa? Aku juga mencintaimu selama bertahun-tahun, Jeremy!""Jelas-jelas dulu kamu juga suka padaku, ‘kan? Kalau nggak, kenapa kamu setuju menikah denganku? Benar, ‘kan?""Nancy sudah lama mati, dia nggak menginginkanmu lagi! Kenapa kamu nggak bisa melihatku sekali saja!"Seria berteriak histeris, namun kata-katanya hanya membuat Jeremy semakin murka. Jeremy mencekik leher Seria dan menekannya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status