Compartir

Bab 2

Autor: Xaviera
Di luar ruang rawat inap, Julia menatap ke dalam melalui jendela kaca.

Calvin bersandar di kepala tempat tidur. Naomi sedang menyuapinya bubur. Pria yang biasanya bersikap dingin dan menolaknya itu, kini membiarkan orang lain mendekatinya.

Melihat kedatangan Julia, Naomi terburu-buru berdiri. "Saya mau ambil air panas dulu."

"Nggak perlu, pekerjaan seperti itu ada perawat yang mengurusnya." Calvin menghentikannya, lalu pandangannya tertuju ke wajah Julia. "Untuk apa kamu ke sini?"

"Kalau merasa luka kali ini belum cukup parah, aku bisa melakukannya sekali lagi."

Mendengar cemoohan itu, Julia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia membuka mapnya. "Selain sebagai istrimu, aku juga direktur perusahaan. Beberapa proyek ini butuh tanda tanganmu untuk konfirmasi."

Tidak menyangka wanita itu akan merespons seperti ini, Calvin mengerutkan dahi lalu mengambil pena.

Naomi membujuk, "Nona Julia, Calvin cuma kekanak-kanakan saja. Dokter bilang kondisinya sudah tidak apa-apa, Anda jangan melampiaskan emosi padanya lagi."

Melihat Calvin membubuhkan tanda tangan terakhir, Julia mengambil kembali dokumen itu lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Kalau begitu, beruntung sekali dia dirawat dengan baik olehmu. Aku akan suruh asistenku mentransfer bonus dua kali lipat dari gaji perawat untukmu."

Wajah Calvin berubah muram. "Kamu ini!"

Julia tidak memandangnya lagi dan langsung berbalik pergi.

Ada terlalu banyak hal yang harus diselesaikan di perusahaan. Julia hampir menghabiskan seluruh waktunya di kantor, menatap angka-angka dan pasal hukum yang rapat di layar.

Hingga rasa sakit yang tajam menjalar di punggungnya, barulah dia tidak sanggup menahan untuk meringis pelan.

Hari itu di ruang kerja saat hendak menahan Calvin, punggungnya membentur sudut meja. Waktu itu dia hanya merasakan nyeri, dengan serangkaian kejadian setelahnya, dia sampai lupa akan hal itu.

Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ibu Calvin.

[Calvin keluar dari rumah sakit hari ini, kamu di mana? Sebagai istri, kamu bahkan nggak kelihatan. Dasar, nggak tahu malu sekali!]

Ketika digeser ke atas, celaan serupa sudah menumpuk banyak.

[Sudah bertahun-tahun menikah tapi perutmu nggak ada tanda-tanda hamil sama sekali, dasar nggak becus jadi istri orang!]

[Sampai nggak disukai suami sendiri, benar-benar gagal jadi wanita!]

Dulu ketika melihat pesan-pesan ini, dia akan merasa tertekan dan mengadukannya kepada Calvin. Namun pria itu hanya membalasnya dengan ucapan, "Dia ibuku, cuma negur kamu sedikit saja. Sabarlah."

Julia mematikan layar, menelungkupkan ponselnya di meja, lalu kembali menatap komputer.

…

Malam perayaan untuk proyek kompleks komersial terbaru Perusahaan Parsa.

Awalnya dia tidak berniat hadir, tetapi beberapa tokoh kunci di industri ini akan datang, dan ini adalah kesempatan bagus bagi Perusahaan Martha.

Namun, begitu melangkah ke aula acara, dia langsung melihat pemandangan tiga orang yang tampak seperti keluarga bahagia.

Calvin sedang menggendong putri Naomi dengan ekspresi lembut yang jarang terlihat.

Seseorang yang tidak tahu situasi mendekat sambil membawa gelas anggur dan memuji sambil tersenyum, "Pak Calvin dan istri Anda benar-benar pasangan yang serasi, keharmonisan kalian membuat iri!"

Naomi terkejut dan melambaikan tangan berulang kali, tetapi bibirnya hanya terkatup tanpa memberikan penjelasan secara jelas.

Calvin tidak membantah, hanya memperkenalkan dengan wajar, "Ini Naomi Filla, pemilik Galeri Filla. Dia memiliki bakat seni yang mendalam. Kalau kelak Bapak dan Ibu butuh investasi atau koleksi seni, bisa menghubungi dia."

Orang itu seketika mengerti dan langsung melontarkan pujian kepada Naomi.

Julia justru teringat akan draf perjanjian tidak adil yang dilihatnya di rumah orang tuanya, lalu terkekeh dingin.

Suaranya tidak keras, tetapi membuat suasana seketika menjadi canggung.

Naomi refleks mengambil setengah langkah lebih dekat ke arah Calvin.

Pandangan Julia sempat beradu dengan pria itu sebelum akhirnya teralih. Dia berbalik dan melangkah menuju beberapa senior yang sedang berbincang, lalu bergabung dalam percakapan.

Para pengusaha besar sangat tertarik dengan data eksperimen terbaru dari Perusahaan Martha dan mengajukan beberapa pertanyaan padanya.

Dulu, setiap ada Calvin di suatu acara, Julia akan menempel ketat padanya untuk menegaskan hak kepemilikan, atau merasa kesal diam-diam karena diacuhkan. Dia tidak pernah menyadari bahwa ada kesenangan seperti ini.

Setelah berdiskusi, Julia berhasil mengamankan kerja sama awal dan sepakat untuk membahasnya lebih detail nanti. Dia mengangguk sopan, lalu bersiap ke balkon untuk mencari udara segar.

Baru saja berbalik, dia hampir menabrak dada seseorang. Calvin entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.

"Ada perlu apa?" Julia mendongak.

Calvin tersedak oleh dua kata dingin itu sebelum akhirnya berkata, "Galeri Naomi baru saja dirintis, dia sangat butuh dukungan saat ini."

Lalu? Apa hubungannya dengan Julia? Pria ini ... sedang memberi penjelasan padanya?

Dia menatap Calvin dengan aneh, bergumam pelan sebagai respons, lalu berniat pergi.

Namun pria itu berbicara lagi, "Ada apa dengan punggungmu?"

Langkah kaki Julia terhenti mendadak karena pertanyaan itu.

Sungguh langka.

Itu adalah pikiran pertama yang terlintas di benaknya, tetapi sekaligus terasa sangat ironis.

Selama tujuh tahun terakhir, ketika kakinya terkilir dan dia berjalan terseok-seok memakai sepatu hak tinggi di belakangnya, pria itu tidak pernah menoleh sedikit pun.

Ketika dia menangis hingga sesak napas, pria itu hanya mengerutkan dahi dan memintanya untuk tidak berbuat ulah.

Kini, ketika dia sudah tidak menginginkannya lagi dan berbalik untuk pergi, pria itu justru tiba-tiba seolah berbelas kasih dan menyadari lebam kecil di punggungnya.

Julia memejamkan mata, tidak ingin bicara banyak. Namun di saat yang sama, Naomi berlari mendekat sambil menangis terisak.

"Calvin, Zoey hilang!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 18

    Sudut Pandang Calvin.Saat sekretarisku membawakan surat cerai ke ruang kerjaku, di luar sedang turun salju tipis.Aku membuka dokumen tipis itu, menatap dua nama yang tertulis berdampingan di sana, dan merasakan ujung jariku mendingin.Julia.Nama ini telah mewarnai tujuh tahun kehidupanku, bagaikan bayangan yang tak bisa diabaikan, sekaligus bagaikan kobaran api yang membakar.Pada awalnya, aku memang membencinya.Saat tenggelam pada usia sembilan belas tahun, di tengah kesadaranku yang kabur, seseorang menyeret diriku ke darat. Wanita itu berkata, "Aku sudah menyelamatkanmu, kamu harus menikah denganku."Aku pikir dia sudah gila.Namun, Keluarga Martha memiliki kekuatan. Perusahaan kecil milik orang tuaku saat itu sedang menghadapi krisis besar, dan mereka hampir memohon padaku untuk menerima pernikahan ini."Calvin, anggap saja ini demi keluarga ...."Pesta pernikahan berlangsung sangat megah hingga menjadi sorotan seluruh kota.Pada malam pernikahan, aku berdiri di kamar tamu, me

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 17

    "Aku rasa ini konyol," kata Julia jujur. "Aku benci padanya, tapi dia malah mau menitipkan anaknya padaku. Dan anehnya, aku malah ragu-ragu." "Ragu-ragu itu wajar kok." Nada suara Dimitri terdengar tenang. "Kamu punya hati, kamu bakal menimbang-nimbang dan merasa nggak tega.""Tapi membesarkan anak itu bukan urusan kecil, apalagi ...." Julia mengerutkan dahi."Apalagi dia anak angkat mantan saingan cintamu?" Dimitri memotong kalimatnya sambil terkekeh. "Julia, sejak kapan kamu melakukan sesuatu dengan memikirkan pandangan orang lain? Kamu cuma perlu tanya pada dirimu sendiri. Mau nggak, rela nggak, dan sanggup bertanggung jawab atau nggak."Pria itu menghentikan candaannya dan berbicara dengan serius, "Kalau kamu mau, kita jalani bersama. Kalau kamu merasa keberatan, kita bantu carikan wali dan fasilitas hidup yang terpercaya buat dia, memastikan dia tumbuh dengan aman.""Tapi jangan cuma karena benci pada Naomi, atau takut dengan cemoohan orang lain, kamu ambil keputusan dengan gegab

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 16

    Beberapa hari kemudian, sidang pengadilan yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Julia akhirnya digelar.Selain urusan pekerjaan, kepulangannya kali ini juga untuk menuntaskan satu hal penting. Dia tidak akan pernah melepaskan dalang utama yang telah membuat Ayahnya koma.Di kursi pengunjung, dia menatap wanita di kursi terdakwa. Wanita yang dulunya selalu tampak rapuh dan memancarkan rasa kasihan, tapi kini wajahnya pucat pasi bagai mayat.Tidak ada rasa puas atau dendam yang meluap, hanya ada ketenangan yang dingin saat segalanya akhirnya usai.Saat vonis akhir dijatuhkan, Naomi dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan dan dijatuhi hukuman penjara.Ketukan palu hakim tidak hanya menandai hukuman atas kejahatannya, tetapi juga memberi titik henti bagi masa lalu mereka yang menyakitkan.Namun, sebelum ditahan, Naomi menyampaikan sebuah permohonan melalui pengacaranya. Dia ingin bertemu dengan Julia.Julia tadinya tidak berniat menemui wanita itu lagi. Namun setelah mempertimbangkannya s

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 15

    Dimitri tertawa makin keras. "Nggak apa-apa, tahu sekarang juga belum terlambat. Tapi gelar 'Bintang Top' itu cuma panggilan luar saja. Di hadapanmu, aku cuma Dimitri."Nada bicaranya berubah menjadi bergurau. "Cuma ya, untuk selanjutnya, kamu mungkin harus agak terbiasa dengan kehidupan kalau kamera sesekali bakal mengarah ke kamu kalau jalan di sampingku. Takut nggak?"Julia menatap ke luar jendela, pada pemandangan jalan yang diterangi neon dan sisa salju, lalu menggelengkan kepala.Takut?Dia sudah pernah melewati intrik dan persaingan tajam di dunia bisnis, dan sudah pernah merasakan dinginnya pernikahan yang menusuk tulang. Perhatian semacam itu sungguh tidak ada apa-apanya.Apalagi ...."Sama kamu, nggak ada yang perlu ditakutkan." Suaranya sangat pelan, tetapi terdengar sangat jelas di telinga Dimitri.…Pada saat yang hampir bersamaan, di ruang kerja CEO Perusahaan Parsa.Calvin baru saja menyelesaikan rapat via Zoom lintas negara yang panjang. Selama dua tahun ini, dengan pe

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 14

    Julia berdiri di tempatnya, angin malam mengibaskan helai-helai rambutnya. Kata-kata pria itu seperti ketukan lembut yang menyentuh hatinya.Tepat pada saat itu, butiran cair dan dingin mendarat di wajahnya. Disusul butiran-butiran kecil yang makin banyak, berguguran dengan anggun di bawah cahaya lampu jalan dan sorot lampu mobil."Wah, turun salju!" Pasangan kekasih yang sedang menunggu taksi di tepi jalan, berseru kaget sekaligus gembira."Benaran! Katanya di sini sudah hampir dua tahun nggak pernah turun salju. Musim dingin tahun ini datang lebih cepat, hujannya juga mendadak banget ...."Julia menatap hujan yang makin lebat dengan tatapan agak linglung.Dimitri, entah sejak kapan sudah sedikit membungkukkan badan mendekatinya. Aroma tubuhnya yang segar dan menyenangkan menyelimuti sekitar. Suara pria itu ditekan sangat rendah, berbisik tepat di telinganya, "Julia, waktu salju pertama turun, kamu harus membuat permohonan."Bayangan masa lalu yang terpendam jauh di dasar hatinya, m

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 13

    Pesan berikutnya langsung menyusul.[Baru selesai syuting dan lihat foto ini, kutebak kamu bakal suka. Kalau lagi capek, lihat pemandangan yang luas bisa bikin perasaan agak mendingan. Nggak usah dibalas, cepat istirahat, ya.]Julia menatap foto itu, saraf-sarafnya yang tegang perlahan melonggar. Dia berjalan ke dekat jendela, memandangi suasana malam di negeri orang. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa kesepian atau dingin.Dia tetap mencurahkan sebagian besar energinya untuk pekerjaan dan merawat keluarga. Benteng di hatinya memang masih tebal, tetapi Dimitri seperti secercah sinar matahari yang gigih. Selalu menemukan celah untuk menyusup masuk dan memberikan sedikit kehangatan.Julia tahu pria itu sedang mendekatinya. Perasaan Dimitri begitu terang-terangan, tak pernah ditutup-tutupi. Dia juga tahu dirinya belum siap. Namun kadang-kadang, saat membaca lelucon garing kiriman pria itu dan tak sanggup menahan tawa, atau saat menerima pengingat larut malam seperti [Jangan lupa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status