INICIAR SESIÓNSudut Pandang Calvin.Saat sekretarisku membawakan surat cerai ke ruang kerjaku, di luar sedang turun salju tipis.Aku membuka dokumen tipis itu, menatap dua nama yang tertulis berdampingan di sana, dan merasakan ujung jariku mendingin.Julia.Nama ini telah mewarnai tujuh tahun kehidupanku, bagaikan bayangan yang tak bisa diabaikan, sekaligus bagaikan kobaran api yang membakar.Pada awalnya, aku memang membencinya.Saat tenggelam pada usia sembilan belas tahun, di tengah kesadaranku yang kabur, seseorang menyeret diriku ke darat. Wanita itu berkata, "Aku sudah menyelamatkanmu, kamu harus menikah denganku."Aku pikir dia sudah gila.Namun, Keluarga Martha memiliki kekuatan. Perusahaan kecil milik orang tuaku saat itu sedang menghadapi krisis besar, dan mereka hampir memohon padaku untuk menerima pernikahan ini."Calvin, anggap saja ini demi keluarga ...."Pesta pernikahan berlangsung sangat megah hingga menjadi sorotan seluruh kota.Pada malam pernikahan, aku berdiri di kamar tamu, me
"Aku rasa ini konyol," kata Julia jujur. "Aku benci padanya, tapi dia malah mau menitipkan anaknya padaku. Dan anehnya, aku malah ragu-ragu." "Ragu-ragu itu wajar kok." Nada suara Dimitri terdengar tenang. "Kamu punya hati, kamu bakal menimbang-nimbang dan merasa nggak tega.""Tapi membesarkan anak itu bukan urusan kecil, apalagi ...." Julia mengerutkan dahi."Apalagi dia anak angkat mantan saingan cintamu?" Dimitri memotong kalimatnya sambil terkekeh. "Julia, sejak kapan kamu melakukan sesuatu dengan memikirkan pandangan orang lain? Kamu cuma perlu tanya pada dirimu sendiri. Mau nggak, rela nggak, dan sanggup bertanggung jawab atau nggak."Pria itu menghentikan candaannya dan berbicara dengan serius, "Kalau kamu mau, kita jalani bersama. Kalau kamu merasa keberatan, kita bantu carikan wali dan fasilitas hidup yang terpercaya buat dia, memastikan dia tumbuh dengan aman.""Tapi jangan cuma karena benci pada Naomi, atau takut dengan cemoohan orang lain, kamu ambil keputusan dengan gegab
Beberapa hari kemudian, sidang pengadilan yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Julia akhirnya digelar.Selain urusan pekerjaan, kepulangannya kali ini juga untuk menuntaskan satu hal penting. Dia tidak akan pernah melepaskan dalang utama yang telah membuat Ayahnya koma.Di kursi pengunjung, dia menatap wanita di kursi terdakwa. Wanita yang dulunya selalu tampak rapuh dan memancarkan rasa kasihan, tapi kini wajahnya pucat pasi bagai mayat.Tidak ada rasa puas atau dendam yang meluap, hanya ada ketenangan yang dingin saat segalanya akhirnya usai.Saat vonis akhir dijatuhkan, Naomi dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan dan dijatuhi hukuman penjara.Ketukan palu hakim tidak hanya menandai hukuman atas kejahatannya, tetapi juga memberi titik henti bagi masa lalu mereka yang menyakitkan.Namun, sebelum ditahan, Naomi menyampaikan sebuah permohonan melalui pengacaranya. Dia ingin bertemu dengan Julia.Julia tadinya tidak berniat menemui wanita itu lagi. Namun setelah mempertimbangkannya s
Dimitri tertawa makin keras. "Nggak apa-apa, tahu sekarang juga belum terlambat. Tapi gelar 'Bintang Top' itu cuma panggilan luar saja. Di hadapanmu, aku cuma Dimitri."Nada bicaranya berubah menjadi bergurau. "Cuma ya, untuk selanjutnya, kamu mungkin harus agak terbiasa dengan kehidupan kalau kamera sesekali bakal mengarah ke kamu kalau jalan di sampingku. Takut nggak?"Julia menatap ke luar jendela, pada pemandangan jalan yang diterangi neon dan sisa salju, lalu menggelengkan kepala.Takut?Dia sudah pernah melewati intrik dan persaingan tajam di dunia bisnis, dan sudah pernah merasakan dinginnya pernikahan yang menusuk tulang. Perhatian semacam itu sungguh tidak ada apa-apanya.Apalagi ...."Sama kamu, nggak ada yang perlu ditakutkan." Suaranya sangat pelan, tetapi terdengar sangat jelas di telinga Dimitri.…Pada saat yang hampir bersamaan, di ruang kerja CEO Perusahaan Parsa.Calvin baru saja menyelesaikan rapat via Zoom lintas negara yang panjang. Selama dua tahun ini, dengan pe
Julia berdiri di tempatnya, angin malam mengibaskan helai-helai rambutnya. Kata-kata pria itu seperti ketukan lembut yang menyentuh hatinya.Tepat pada saat itu, butiran cair dan dingin mendarat di wajahnya. Disusul butiran-butiran kecil yang makin banyak, berguguran dengan anggun di bawah cahaya lampu jalan dan sorot lampu mobil."Wah, turun salju!" Pasangan kekasih yang sedang menunggu taksi di tepi jalan, berseru kaget sekaligus gembira."Benaran! Katanya di sini sudah hampir dua tahun nggak pernah turun salju. Musim dingin tahun ini datang lebih cepat, hujannya juga mendadak banget ...."Julia menatap hujan yang makin lebat dengan tatapan agak linglung.Dimitri, entah sejak kapan sudah sedikit membungkukkan badan mendekatinya. Aroma tubuhnya yang segar dan menyenangkan menyelimuti sekitar. Suara pria itu ditekan sangat rendah, berbisik tepat di telinganya, "Julia, waktu salju pertama turun, kamu harus membuat permohonan."Bayangan masa lalu yang terpendam jauh di dasar hatinya, m
Pesan berikutnya langsung menyusul.[Baru selesai syuting dan lihat foto ini, kutebak kamu bakal suka. Kalau lagi capek, lihat pemandangan yang luas bisa bikin perasaan agak mendingan. Nggak usah dibalas, cepat istirahat, ya.]Julia menatap foto itu, saraf-sarafnya yang tegang perlahan melonggar. Dia berjalan ke dekat jendela, memandangi suasana malam di negeri orang. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa kesepian atau dingin.Dia tetap mencurahkan sebagian besar energinya untuk pekerjaan dan merawat keluarga. Benteng di hatinya memang masih tebal, tetapi Dimitri seperti secercah sinar matahari yang gigih. Selalu menemukan celah untuk menyusup masuk dan memberikan sedikit kehangatan.Julia tahu pria itu sedang mendekatinya. Perasaan Dimitri begitu terang-terangan, tak pernah ditutup-tutupi. Dia juga tahu dirinya belum siap. Namun kadang-kadang, saat membaca lelucon garing kiriman pria itu dan tak sanggup menahan tawa, atau saat menerima pengingat larut malam seperti [Jangan lupa







