LOGINMenjelang pernikahan kami, tunanganku membeli dua set perhiasan dan membiarkan kakakku memilih terlebih dahulu. Salah satunya adalah kalung berlian merah muda yang dia temukan setelah berpindah-pindah ke tiga kota dan membelinya dengan harga relatif tinggi. Sementara yang satunya lagi adalah bros hitam yang murahan dan juga hadiah tambahan dari pembelian kalung itu. Padahal, bros itu sama sekali tidak cocok dengan gaun pengantinku. Untuk pertama kalinya, aku menunjuk kalung itu terlebih dahulu. "Kali ini, bolehkah aku yang memilih duluan?" Rendra Mahesa mengusap rambutku. "Sejak kecil, Nina sudah keras kepala. Kalau bukan yang dia inginkan, dia lebih memilih untuk tidak mengambil apa pun. Sementara, kamu tidak pilih-pilih. Lagian, bros hitam itu juga bagus." Aku tidak menjawab. Akan tetapi, ada rasa hampa yang perlahan menyelimuti hatiku. Aku tumbuh besar bersama Rendra selama 20 tahun. Baginya, aku selalu menjadi orang yang menunggu dan menerima apa pun yang tersisa dari kakakku. Namun kali ini, aku tidak ingin mengambil barang yang tersisa lagi.
View MoreSetahun kemudian, kami mengadakan sebuah pernikahan yang kecil dan sederhana di Kota Batam.Aku bahkan tidak mengundang orang tuaku. Aku tidak tahu dan juga tidak ingin tahu apakah mereka mengetahuinya.Satu jam sebelum pernikahan dimulai, ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama pengirimnya, tapi ada satu kalimat.[Kudengar kamu akan menikah hari ini. Semoga kamu bahagia.]Aku tidak membalasnya.Tepat saat pesan itu terkirim, Rendra sedang duduk sendirian di apartemen yang kosong.Cahaya di layar ponsel menerangi wajahnya. Pesan yang bertuliskan "semoga kamu bisa bahagia" itu sudah dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan.Melihat layar percakapan yang tidak kunjung mendapat jawaban itu, dia tiba-tiba tersenyum. Matanya pun memerah.Dulu, aku pernah tinggal di apartemen ini.Di dalam lemari masih tergantung satu hoodie yang tidak kubawa. Dia tidak pernah membuangnya.Tidak tahu apa yang sebenarnya dia tunggu. Mungkin sedang menungguku pulang u
"Lalu, bagaimana kamu memperlakukanku?""Kamu menganggap semua perasaanku selama ini sebagai apa? Sebagai cadangan yang terpilih karena tidak ada pilihan yang lebih baik? Sebagai pengganti yang sedikit mirip dengannya atau sebagai alasan supaya kamu tetap bisa berada di sebelah kakakku?"Wajah Rendra seketika memucat."Aku juga berpikir kalau aku tidak akan menyukaimu, tapi aku tidak tahu...."Sebelum dia sempat selesai berbicara, aku langsung menyela perkataannya, "Kamu kira dirimu tidak akan menyukaiku.""Tapi, kamu tidak pernah bertanya padaku, apa aku suka diperlakukan seperti itu.""Kamu tidak pernah berpikir, apa gadis yang selalu kamu tempatkan di urutan kedua itu akan merasa sakit hati."Rendra membuka mulutnya, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun."Kamu pulang saja, Rendra.""Sekarang aku sangat serius, aku ingin memulai hubungan baru. Aku ingin menjadi orang pertama yang dia pilih."Rendra berdiri cukup lama di tempat semula, sampai adiknya Tomi mendongak dan melihatnya
Gerakan di tanganku berhenti sejenak, aku mengangkat kepala dan melihatnya."Apa maksudmu?""Rendra."Dia bersandar di kusen pintu dan berkata dengan nada datar, "Di hari pernikahan kalian, aku menyatakan cintaku kepadanya di depan pintu hotel. Aku bilang diriku sudah menyesal dan ingin kembali bersamanya."Matanya menatap lurus ke arahku. "Tapi, dia menolakku."Aku sontak tercengang."Kemudian, dia mencarimu selama sebulan.""Dia pergi ke semua tempat yang mungkin akan kamu kunjungi. Sampai akhirnya, dia menemukan tempat ini."Kakakku berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ada sedikit kekacauan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya."Akhirnya kamu menang dariku, apa kamu merasa senang?"Tanah liat di atas roda tembikar perlahan-lahan berhenti berputar. Aku kembali menginjak pedal hingga roda berputar lagi."Biasa saja."Kakakku memiringkan kepalanya. "Kenapa?"Aku menundukkan kepala dan melihat tanah liat di tanganku. Suaraku terdengar sangat datar. "Sel
Rendra berdiri di barisan paling depan, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat. Tatapannya tertuju pada bunga yang kugenggam, kemudian beralih ke arah Tomi sebelum akhirnya kembali melihat wajahku.Di belakangnya ada orang tuaku. Wajah Ibuku terlihat sangat buruk, bibirnya mengatup dengan erat. Ayahku mengerutkan kening tanpa mengatakan sepatah kata pun.Suasana tiba-tiba menjadi hening.Ibuku yang pertama kali memecahkan keheningan. "Maya! Kamu kabur di hari pernikahan, bukankah kamu sengaja mempermalukan Rendra dan keluarga kita?"Terdengar suara Rendra yang sangat rendah. "Siapa pria ini?"Sebelum aku menjawab, ibuku sudah berbicara terlebih dahulu, "Jangan-jangan kamu punya selingkuhan? Pantas saja kamu kabur dari pernikahanmu. Ya sudahlah kalau kamu tidak pintar, tapi kenapa kelakuanmu juga begitu buruk?"Aku masih berdiri di tempat semula sambil menggenggam buket bunga itu.Tomi melirikku, kemudian melirik mereka. Dia berkata dengan nada tenang, "Aku ke belakang untuk meneman












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.