Share

Bab 5

Penulis: Xaviera
"Dokter bilang, Ayah terkena serangan jantung akut karena emosi berlebih yang menekan hatinya. Ibu nggak tahu, apa dia bisa sadar lagi atau nggak ...." Ibu Julia akhirnya runtuh dan menangis terisak-isak.

Mendengar itu, Julia merasa seluruh darah di tubuhnya berangsur-angsur mendingin. Gejolak emosi di dadanya dia tekan kuat-kuat di balik ekspresi dingin.

Dia memeluk ibunya yang gemetar dengan lembut. "Bu, jangan menangis lagi. Jaga Ayah baik-baik, aku mau keluar sebentar."

"Julia, kamu mau ke mana? Jangan melakukan hal bodoh!" Ibu Julia memegangnya dengan panik.

Julia menoleh lalu tersenyum. "Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja."

Dia berbalik dan pergi, lalu menghubungi sebuah nomor. "Cari tahu di mana posisi Naomi dan Calvin sekarang."

Tiga menit kemudian, sebuah alamat dikirimkan ke ponselnya.

Perayaan hari jadi ke-3 Galeri Filla digelar dengan sangat mewah.

Tokoh-tokoh terkemuka di dunia seni dan para pebisnis kelas atas berkumpul, diisi oleh sanjungan dan gelak tawa di setiap sudut.

Naomi yang mengenakan gaun duyung putih, tampak menggandeng lengan Calvin, menerima ucapan selamat dari orang-orang.

"Nona Naomi masih sangat muda dan berprestasi. Dalam waktu singkat tiga tahun saja, galerinya sudah punya pengaruh sebesar ini, benar-benar luar biasa!"

"Pak Calvin dan Nona Naomi benar-benar pasangan yang sangat serasi."

Mendengar ucapan-ucapan itu, hati Julia tidak bergejolak sedikit pun. Sambil membawa beberapa orang, dia melangkah lurus menembus kerumunan dan berhenti tepat di depan mereka berdua.

Suasana meriah itu seketika hening sejenak.

"Kenapa perayaan tahun ketiga nggak mengundangku?" tanya Julia. "Untung saja aku sudah menyiapkan hadiah lebih awal."

Naomi menjelaskan dengan suara lembut, "Nona Julia, saya pikir Anda sedang sibuk belakangan ini, jadi saya tidak berani mengganggu. Saya sangat senang Anda bisa datang."

Calvin mengerutkan dahi lalu mengancam dengan suara rendah, "Jangan membuat keributan di acara seperti ini!"

"Mana mungkin?" Julia terkekeh pelan. "Aku benaran datang untuk mengucapkan selamat."

Julia mengangkat tangannya perlahan. Orang-orang di belakangnya segera bertindak dan mengambil alih kendali layar besar di aula acara. Beberapa orang yang mencoba menghalangi pun langsung disingkirkan oleh anak buah yang dibawanya.

Layar menyala.

Menampilkan foto-foto Naomi saat menuntut ilmu di luar negeri, serta pameran karya-karyanya di berbagai ajang. Suara narator memperkenalkan pencapaian seninya dengan nada anggun. Rasa terkejut dan curiga di wajah Naomi perlahan memudar, bahkan mulai memperlihatkan rasa bangga.

Hingga akhirnya, adegan berganti. Julia mulai berbicara, "Sayang sekali, di balik rekam jejak yang berkilau ini, tersimpan kebenaran yang tidak terpuji."

Tangkapan layar beberapa email, catatan transfer, hingga foto-foto pertemuan rahasia dengan dewan juri semuanya mengungkap satu hal. Penghargaan yang didapatkannya itu hanyalah hasil dari suapan uang.

Layar kembali berganti, memperlihatkan bahwa semasa masih terikat pernikahan dengan mantan suaminya, Naomi berhubungan sangat dekat dengan seorang pengusaha kaya lain.

Kurang dari tiga bulan setelah bercerai, dia bertunangan dengan pengusaha tersebut. Setelah hubungan itu kandas, barulah dia membawa putrinya pulang dari luar negeri.

"Bukan begitu ...." Naomi menggelengkan kepala dengan kuat, air matanya serta-merta menetes. Dia berbalik menatap Calvin. "Aku melakukan itu demi Zoey, Zoey! Dia ...."

Raut wajah Calvin berubah muram. Di hadapan tatapan beraneka ragam dari para tamu, dia merenggut kabel hingga layar seketika menjadi gelap.

"Julia, sudah cukup gila kamu?" bentaknya keras.

"Gila?" Julia menyambut tatapannya tanpa sedikit pun mengalah. "Bukti sudah terpampang jelas di depan mata dan kamu masih menganggap dia nggak bersalah. Aku yang gila?"

Calvin tidak bicara lagi. Tanpa memedulikan penolakannya, pria itu menyeretnya keluar dari aula utama menuju ruang istirahat.

Pintu dibanting keras, menghalangi kebisingan dari luar.

"Kamu sebenarnya mau apa?" Calvin melepaskan genggamannya. "Naomi sudah cukup kasihan, kenapa kamu nggak bisa punya sedikit rasa empati?"

Menatap pria itu yang hilang kendali demi wanita lain, Julia hanya merasa konyol.

Cukup lama kemudian, Calvin menundukkan kepalanya seolah menyerah.

"Aku akan memutuskan semua kontak dengan Naomi, nggak akan bertemu lagi dengannya, nggak membantunya lagi, dan menarik seluruh investasiku dari galeri itu. Asal ... kamu nggak menargetkannya lagi."

Julia menatap Calvin seakan baru pertama kali mengenalnya. Wanita itu ingin tertawa, tetapi hanya berkedip sama sekali tidak paham.

"Bagaimana kalau aku bilang nggak?"

Calvin tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan ponselnya lalu menekan sebuah nomor. "Sebarkan berita ini sekarang. Siapa pun yang bekerja sama dengan Perusahaan Martha akan dimasukkan ke dalam daftar blokir oleh Perusahaan Parsa."

"Selain itu, rencana akuisisi Perusahaan Martha sudah bisa resmi dimulai."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 18

    Sudut Pandang Calvin.Saat sekretarisku membawakan surat cerai ke ruang kerjaku, di luar sedang turun salju tipis.Aku membuka dokumen tipis itu, menatap dua nama yang tertulis berdampingan di sana, dan merasakan ujung jariku mendingin.Julia.Nama ini telah mewarnai tujuh tahun kehidupanku, bagaikan bayangan yang tak bisa diabaikan, sekaligus bagaikan kobaran api yang membakar.Pada awalnya, aku memang membencinya.Saat tenggelam pada usia sembilan belas tahun, di tengah kesadaranku yang kabur, seseorang menyeret diriku ke darat. Wanita itu berkata, "Aku sudah menyelamatkanmu, kamu harus menikah denganku."Aku pikir dia sudah gila.Namun, Keluarga Martha memiliki kekuatan. Perusahaan kecil milik orang tuaku saat itu sedang menghadapi krisis besar, dan mereka hampir memohon padaku untuk menerima pernikahan ini."Calvin, anggap saja ini demi keluarga ...."Pesta pernikahan berlangsung sangat megah hingga menjadi sorotan seluruh kota.Pada malam pernikahan, aku berdiri di kamar tamu, me

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 17

    "Aku rasa ini konyol," kata Julia jujur. "Aku benci padanya, tapi dia malah mau menitipkan anaknya padaku. Dan anehnya, aku malah ragu-ragu." "Ragu-ragu itu wajar kok." Nada suara Dimitri terdengar tenang. "Kamu punya hati, kamu bakal menimbang-nimbang dan merasa nggak tega.""Tapi membesarkan anak itu bukan urusan kecil, apalagi ...." Julia mengerutkan dahi."Apalagi dia anak angkat mantan saingan cintamu?" Dimitri memotong kalimatnya sambil terkekeh. "Julia, sejak kapan kamu melakukan sesuatu dengan memikirkan pandangan orang lain? Kamu cuma perlu tanya pada dirimu sendiri. Mau nggak, rela nggak, dan sanggup bertanggung jawab atau nggak."Pria itu menghentikan candaannya dan berbicara dengan serius, "Kalau kamu mau, kita jalani bersama. Kalau kamu merasa keberatan, kita bantu carikan wali dan fasilitas hidup yang terpercaya buat dia, memastikan dia tumbuh dengan aman.""Tapi jangan cuma karena benci pada Naomi, atau takut dengan cemoohan orang lain, kamu ambil keputusan dengan gegab

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 16

    Beberapa hari kemudian, sidang pengadilan yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Julia akhirnya digelar.Selain urusan pekerjaan, kepulangannya kali ini juga untuk menuntaskan satu hal penting. Dia tidak akan pernah melepaskan dalang utama yang telah membuat Ayahnya koma.Di kursi pengunjung, dia menatap wanita di kursi terdakwa. Wanita yang dulunya selalu tampak rapuh dan memancarkan rasa kasihan, tapi kini wajahnya pucat pasi bagai mayat.Tidak ada rasa puas atau dendam yang meluap, hanya ada ketenangan yang dingin saat segalanya akhirnya usai.Saat vonis akhir dijatuhkan, Naomi dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan dan dijatuhi hukuman penjara.Ketukan palu hakim tidak hanya menandai hukuman atas kejahatannya, tetapi juga memberi titik henti bagi masa lalu mereka yang menyakitkan.Namun, sebelum ditahan, Naomi menyampaikan sebuah permohonan melalui pengacaranya. Dia ingin bertemu dengan Julia.Julia tadinya tidak berniat menemui wanita itu lagi. Namun setelah mempertimbangkannya s

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 15

    Dimitri tertawa makin keras. "Nggak apa-apa, tahu sekarang juga belum terlambat. Tapi gelar 'Bintang Top' itu cuma panggilan luar saja. Di hadapanmu, aku cuma Dimitri."Nada bicaranya berubah menjadi bergurau. "Cuma ya, untuk selanjutnya, kamu mungkin harus agak terbiasa dengan kehidupan kalau kamera sesekali bakal mengarah ke kamu kalau jalan di sampingku. Takut nggak?"Julia menatap ke luar jendela, pada pemandangan jalan yang diterangi neon dan sisa salju, lalu menggelengkan kepala.Takut?Dia sudah pernah melewati intrik dan persaingan tajam di dunia bisnis, dan sudah pernah merasakan dinginnya pernikahan yang menusuk tulang. Perhatian semacam itu sungguh tidak ada apa-apanya.Apalagi ...."Sama kamu, nggak ada yang perlu ditakutkan." Suaranya sangat pelan, tetapi terdengar sangat jelas di telinga Dimitri.…Pada saat yang hampir bersamaan, di ruang kerja CEO Perusahaan Parsa.Calvin baru saja menyelesaikan rapat via Zoom lintas negara yang panjang. Selama dua tahun ini, dengan pe

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 14

    Julia berdiri di tempatnya, angin malam mengibaskan helai-helai rambutnya. Kata-kata pria itu seperti ketukan lembut yang menyentuh hatinya.Tepat pada saat itu, butiran cair dan dingin mendarat di wajahnya. Disusul butiran-butiran kecil yang makin banyak, berguguran dengan anggun di bawah cahaya lampu jalan dan sorot lampu mobil."Wah, turun salju!" Pasangan kekasih yang sedang menunggu taksi di tepi jalan, berseru kaget sekaligus gembira."Benaran! Katanya di sini sudah hampir dua tahun nggak pernah turun salju. Musim dingin tahun ini datang lebih cepat, hujannya juga mendadak banget ...."Julia menatap hujan yang makin lebat dengan tatapan agak linglung.Dimitri, entah sejak kapan sudah sedikit membungkukkan badan mendekatinya. Aroma tubuhnya yang segar dan menyenangkan menyelimuti sekitar. Suara pria itu ditekan sangat rendah, berbisik tepat di telinganya, "Julia, waktu salju pertama turun, kamu harus membuat permohonan."Bayangan masa lalu yang terpendam jauh di dasar hatinya, m

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 13

    Pesan berikutnya langsung menyusul.[Baru selesai syuting dan lihat foto ini, kutebak kamu bakal suka. Kalau lagi capek, lihat pemandangan yang luas bisa bikin perasaan agak mendingan. Nggak usah dibalas, cepat istirahat, ya.]Julia menatap foto itu, saraf-sarafnya yang tegang perlahan melonggar. Dia berjalan ke dekat jendela, memandangi suasana malam di negeri orang. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa kesepian atau dingin.Dia tetap mencurahkan sebagian besar energinya untuk pekerjaan dan merawat keluarga. Benteng di hatinya memang masih tebal, tetapi Dimitri seperti secercah sinar matahari yang gigih. Selalu menemukan celah untuk menyusup masuk dan memberikan sedikit kehangatan.Julia tahu pria itu sedang mendekatinya. Perasaan Dimitri begitu terang-terangan, tak pernah ditutup-tutupi. Dia juga tahu dirinya belum siap. Namun kadang-kadang, saat membaca lelucon garing kiriman pria itu dan tak sanggup menahan tawa, atau saat menerima pengingat larut malam seperti [Jangan lupa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status