แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Xaviera
Hari sudah larut malam saat keluar dari kantor polisi. Julia pulang ke rumah orang tuanya.

Meskipun dia sudah berganti pakaian, ibunya masih bisa menangkap keanehan dari cara jalannya yang tidak alami dan segera memanggil dokter keluarga.

"Bu, aku nggak apa-apa," katanya sambil memegang tangan ibunya. "Hari ini aku hebat sekali, lho! Aku menolong seorang anak kecil."

Ibu Julia menatapnya dan bicara dengan suara lembut tetapi tegas, "Julia dari dulu memang selalu baik hati."

Julia tertegun.

Dalam ingatannya, setiap kali dia membuat masalah dan dituduh manja serta sewenang-wenang oleh orang lain, ibunya selalu tersenyum dan membantah seperti itu. "Julia anak yang baik, cuma agak blak-blakan saja."

Saat diragukan oleh Calvin, dia tidak menangis. Namun di hadapan pengakuan ibunya ini, matanya seketika memerah.

Dia terburu-buru menunduk dan mengalihkan pembicaraan.

"Ayah, Ibu, penataan bisnis di luar negeri pada dasarnya sudah selesai. Sekitar setengah bulan lagi, fokus perusahaan sudah bisa dipindahkan ke sana. Kalau waktunya tiba, kita pergi sama-sama."

…

Beberapa hari kemudian, di kantor Perusahaan Martha.

Julia sedang memimpin rapat ketika sekretarisnya mendorong pintu masuk dan berbisik beberapa patah kata di telinganya.

Dia berdiri. "Semuanya, saya minta maaf, rapat akan kita lanjutkan nanti."

Di koridor, beberapa petugas berseragam sudah menunggu di sana.

"Bu Julia, kami dari biro perpajakan. Kami menerima laporan resmi beridentitas dan perlu melakukan verifikasi sesuai hukum. Mohon kerja samanya."

Julia mengangkat alisnya. Di bawah pengelolaan ayahnya, Perusahaan Martha selalu taat hukum. Dia tidak takut diperiksa. Hanya saja, siapa yang melaporkan di saat kritis seperti ini?

Dia menyatakan akan bekerja sama penuh dalam penyelidikan, sembari memberikan isyarat mata kepada sekretarisnya.

Setengah jam kemudian, setelah membaca pesan dari sekretarisnya, dia langsung menelepon Calvin.

"Laporan pajak itu, apa kamu yang menyetujui Naomi untuk melakukannya?"

Di seberang sana hening selama dua detik, tanpa membantah. "Itu karena Zoey, kamu berutang maaf pada Naomi. Biarkan dia meluapkan kekesalannya, lalu anggap saja masalah ini selesai."

Julia hampir saja tertawa karena geram mendengar nada bicara pria itu yang merasa paling benar.

"Calvin, dengan otakmu yang dangkal seperti itu, kalau Perusahaan Parsa belum bangkrut, itu benar-benar keajaiban dari Tuhan!"

Setelah mengatakan itu, dia langsung mematikan telepon.

Proses verifikasi berlangsung rumit tetapi tertata. Seperti yang telah dia duga, Perusahaan Martha tidak memiliki masalah apa pun. Hingga akhir pemeriksaan, sikap para petugas pun menjadi jauh lebih ramah.

Namun tepat setelah mengantar mereka pergi, sekelompok orang lain tiba. Petugas dari otoritas pengawas keuangan.

"Nona Julia, kami menerima petunjuk bahwa belakangan ini Anda sering melakukan transfer aset bernilai besar ke luar negeri secara intensif dan diduga melakukan manipulasi keuntungan. Mohon ikut bersama kami untuk membantu penyelidikan."

Tuduhan kali ini jauh lebih parah daripada pemeriksaan pajak.

Julia menatap dokumen yang ditunjukkan, tahu betul dalam hati bahwa ini barulah ulah Calvin. Otak Naomi tidak akan sanggup memikirkan hal sejauh ini.

"Baik, saya akan ikut dengan kalian." Dia berbalik, mengatur pekerjaan secara teratur, dan meminta sekretarisnya menghubungi pengacara.

Proses membantu penyelidikan jauh lebih panjang dan sulit daripada yang dibayangkan.

Julia duduk di atas kursi. Orang-orang di hadapannya berganti dari satu tim ke tim lain, menanyakan hal yang sama secara berulang-ulang.

Dia menjelaskan berkali-kali, suaranya yang semula jernih berangsur-angsur serak.

Tidak ada yang menawarkan air minum untuknya, dan dia pun tidak memintanya.

Langit di luar jendela berubah dari terang menjadi gelap, lalu kembali terang. Dia tidak ingat sudah berapa lama duduk di sana.

Di tengah-tengah pemeriksaan, dia hanya diizinkan ke kamar mandi dua kali. Setiap kali ke kamar mandi, dia selalu diikuti ketat oleh petugas pengawas wanita tanpa lepas dari pandangan.

Kurang tidur membuat pelipisnya berdenyut-denyut. Penglihatannya kabur karena konsentrasi terlalu lama, dan rasa sakit di punggungnya berangsur menyebar.

Namun, dia tetap menegakkan punggungnya, menjawab pertanyaan dengan terstruktur, serta mempertahankan sikap yang anggun dan berwibawa.

Akhirnya, setelah entah berapa kali pencocokan data dilakukan, dia diizinkan pergi.

Saat melangkah keluar dari gedung itu, kakinya sempat goyah beberapa kali. Dia berniat menelepon orang tuanya untuk memberi kabar bahwa dia aman, tetapi tidak ada jawaban.

Baru setelah sekretarisnya memberi tahu bahwa ayah Julia tertimpa musibah, dia tahu bahwa ayahnya sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.

Di luar ruang rawat VIP, ibu Julia tampak menua drastis hanya dalam semalam.

Begitu melihat Julia, dia menahan rasa sedih dan menggenggam tangan putrinya.

"Setelah kamu dibawa pergi, kami mencari kamu ke mana-mana karena ingin tahu keadaanmu. Tapi, kabarnya kamu sengaja dipersulit dan menderita di sana."

"Kami sangat cemas, memikirkan bagaimana kamu menanggung ketidakadilan semacam itu. Akhirnya, kami terpaksa mencari Calvin."

"Tapi yang keluar justru Naomi. Dia mengucapkan banyak kata-kata yang sangat menyakitkan. Wajah ayahmu sampai pucat pasi karena marah saat itu."

Air mata ibu Julia menetes begitu saja. "Seumur hidupnya, ayahmu nggak pernah bicara kasar pada orang lain, tapi waktu itu tangannya sampai gemetar saat menunjuk Naomi. Di dalam mobil saat perjalanan pulang, ayahmu ... mendadak nggak bergerak ...."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 18

    Sudut Pandang Calvin.Saat sekretarisku membawakan surat cerai ke ruang kerjaku, di luar sedang turun salju tipis.Aku membuka dokumen tipis itu, menatap dua nama yang tertulis berdampingan di sana, dan merasakan ujung jariku mendingin.Julia.Nama ini telah mewarnai tujuh tahun kehidupanku, bagaikan bayangan yang tak bisa diabaikan, sekaligus bagaikan kobaran api yang membakar.Pada awalnya, aku memang membencinya.Saat tenggelam pada usia sembilan belas tahun, di tengah kesadaranku yang kabur, seseorang menyeret diriku ke darat. Wanita itu berkata, "Aku sudah menyelamatkanmu, kamu harus menikah denganku."Aku pikir dia sudah gila.Namun, Keluarga Martha memiliki kekuatan. Perusahaan kecil milik orang tuaku saat itu sedang menghadapi krisis besar, dan mereka hampir memohon padaku untuk menerima pernikahan ini."Calvin, anggap saja ini demi keluarga ...."Pesta pernikahan berlangsung sangat megah hingga menjadi sorotan seluruh kota.Pada malam pernikahan, aku berdiri di kamar tamu, me

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 17

    "Aku rasa ini konyol," kata Julia jujur. "Aku benci padanya, tapi dia malah mau menitipkan anaknya padaku. Dan anehnya, aku malah ragu-ragu." "Ragu-ragu itu wajar kok." Nada suara Dimitri terdengar tenang. "Kamu punya hati, kamu bakal menimbang-nimbang dan merasa nggak tega.""Tapi membesarkan anak itu bukan urusan kecil, apalagi ...." Julia mengerutkan dahi."Apalagi dia anak angkat mantan saingan cintamu?" Dimitri memotong kalimatnya sambil terkekeh. "Julia, sejak kapan kamu melakukan sesuatu dengan memikirkan pandangan orang lain? Kamu cuma perlu tanya pada dirimu sendiri. Mau nggak, rela nggak, dan sanggup bertanggung jawab atau nggak."Pria itu menghentikan candaannya dan berbicara dengan serius, "Kalau kamu mau, kita jalani bersama. Kalau kamu merasa keberatan, kita bantu carikan wali dan fasilitas hidup yang terpercaya buat dia, memastikan dia tumbuh dengan aman.""Tapi jangan cuma karena benci pada Naomi, atau takut dengan cemoohan orang lain, kamu ambil keputusan dengan gegab

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 16

    Beberapa hari kemudian, sidang pengadilan yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Julia akhirnya digelar.Selain urusan pekerjaan, kepulangannya kali ini juga untuk menuntaskan satu hal penting. Dia tidak akan pernah melepaskan dalang utama yang telah membuat Ayahnya koma.Di kursi pengunjung, dia menatap wanita di kursi terdakwa. Wanita yang dulunya selalu tampak rapuh dan memancarkan rasa kasihan, tapi kini wajahnya pucat pasi bagai mayat.Tidak ada rasa puas atau dendam yang meluap, hanya ada ketenangan yang dingin saat segalanya akhirnya usai.Saat vonis akhir dijatuhkan, Naomi dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan dan dijatuhi hukuman penjara.Ketukan palu hakim tidak hanya menandai hukuman atas kejahatannya, tetapi juga memberi titik henti bagi masa lalu mereka yang menyakitkan.Namun, sebelum ditahan, Naomi menyampaikan sebuah permohonan melalui pengacaranya. Dia ingin bertemu dengan Julia.Julia tadinya tidak berniat menemui wanita itu lagi. Namun setelah mempertimbangkannya s

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 15

    Dimitri tertawa makin keras. "Nggak apa-apa, tahu sekarang juga belum terlambat. Tapi gelar 'Bintang Top' itu cuma panggilan luar saja. Di hadapanmu, aku cuma Dimitri."Nada bicaranya berubah menjadi bergurau. "Cuma ya, untuk selanjutnya, kamu mungkin harus agak terbiasa dengan kehidupan kalau kamera sesekali bakal mengarah ke kamu kalau jalan di sampingku. Takut nggak?"Julia menatap ke luar jendela, pada pemandangan jalan yang diterangi neon dan sisa salju, lalu menggelengkan kepala.Takut?Dia sudah pernah melewati intrik dan persaingan tajam di dunia bisnis, dan sudah pernah merasakan dinginnya pernikahan yang menusuk tulang. Perhatian semacam itu sungguh tidak ada apa-apanya.Apalagi ...."Sama kamu, nggak ada yang perlu ditakutkan." Suaranya sangat pelan, tetapi terdengar sangat jelas di telinga Dimitri.…Pada saat yang hampir bersamaan, di ruang kerja CEO Perusahaan Parsa.Calvin baru saja menyelesaikan rapat via Zoom lintas negara yang panjang. Selama dua tahun ini, dengan pe

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 14

    Julia berdiri di tempatnya, angin malam mengibaskan helai-helai rambutnya. Kata-kata pria itu seperti ketukan lembut yang menyentuh hatinya.Tepat pada saat itu, butiran cair dan dingin mendarat di wajahnya. Disusul butiran-butiran kecil yang makin banyak, berguguran dengan anggun di bawah cahaya lampu jalan dan sorot lampu mobil."Wah, turun salju!" Pasangan kekasih yang sedang menunggu taksi di tepi jalan, berseru kaget sekaligus gembira."Benaran! Katanya di sini sudah hampir dua tahun nggak pernah turun salju. Musim dingin tahun ini datang lebih cepat, hujannya juga mendadak banget ...."Julia menatap hujan yang makin lebat dengan tatapan agak linglung.Dimitri, entah sejak kapan sudah sedikit membungkukkan badan mendekatinya. Aroma tubuhnya yang segar dan menyenangkan menyelimuti sekitar. Suara pria itu ditekan sangat rendah, berbisik tepat di telinganya, "Julia, waktu salju pertama turun, kamu harus membuat permohonan."Bayangan masa lalu yang terpendam jauh di dasar hatinya, m

  • Salju Pertama Setelah Tujuh Tahun Bersama   Bab 13

    Pesan berikutnya langsung menyusul.[Baru selesai syuting dan lihat foto ini, kutebak kamu bakal suka. Kalau lagi capek, lihat pemandangan yang luas bisa bikin perasaan agak mendingan. Nggak usah dibalas, cepat istirahat, ya.]Julia menatap foto itu, saraf-sarafnya yang tegang perlahan melonggar. Dia berjalan ke dekat jendela, memandangi suasana malam di negeri orang. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa kesepian atau dingin.Dia tetap mencurahkan sebagian besar energinya untuk pekerjaan dan merawat keluarga. Benteng di hatinya memang masih tebal, tetapi Dimitri seperti secercah sinar matahari yang gigih. Selalu menemukan celah untuk menyusup masuk dan memberikan sedikit kehangatan.Julia tahu pria itu sedang mendekatinya. Perasaan Dimitri begitu terang-terangan, tak pernah ditutup-tutupi. Dia juga tahu dirinya belum siap. Namun kadang-kadang, saat membaca lelucon garing kiriman pria itu dan tak sanggup menahan tawa, atau saat menerima pengingat larut malam seperti [Jangan lupa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status