Mag-log in"Kamu yakin keguguran? Bukan yang lain?" Rangga mencecar istrinya sampai ke dalam kamar. Ia masih tak percaya.
Allea yang baru saja masuk ke dalam kamar lantas menoleh. Dari dalam tas tangan, ia mengambil sebuah surat yang bertuliskan nama rumah sakit. Surat itu ia serahkan pada suaminya. "Ini ada surat keterangan dari dokter kalau kamu nggak percaya, mas. Dan itu tagihan rumah sakitnya." Rangga meneliti tulisan yang ditulis oleh dokter begitu juga dengan tagihan rumah sakit. Ternyata tadi pagi, istrinya memang mengalami keguguran dan harus di kuretase. "Kamu terlalu capek mengurus rumah ini, Allea. Aku kan sudah bilang berkali-kali! Kamu nggak perlu pusing soal pekerjaan rumah tangga. Nggak perlu memasak. Percuma! Aku juga jarang di rumah." Rangga masih ingin menyalahkan istrinya. Mendengar itu, Allea tersenyum getir sembari memandang nanar suaminya. Terbuat dari apakah hati suaminya ini? Kenapa sama sekali tak ada percikan rasa iba di hatinya atas kehilangan ini? Padahal Allea kehilangan anak mereka. Tapi, Rangga berkata kalau ini semua ada salahnya. "Mas benar. Mungkin aku terlalu lelah. Tidak hanya fisikku tapi juga batinku." Allea melewati semuanya begitu saja dan masuk ke kamar mandi. Di dalam sana, Allea menumpahkan tangisannya. Dukanya. Sakit hatinya. Suami yang sangat ia cinta dan puja itu masih tak bergeming. Atau mungkin memang tak pernah menganggapnya ada. Allea hanya ingin ditenangkan. Ingin dipeluk untuk mengusir kedukaan ini. Tapi yang Rangga lakukan adalah menyayat hatinya yang terluka. Semakin dalam dengan luka yang ia tinggalkan. Selesai menangis, Allea ingin berganti pakaian dan membuka lemari bajunya. Terlihat pakaian ini berantakan. Pasti ulah Rangga yang memberikan baju kesukaan Allea pada wanita itu. Rangga yang melihat istrinya tertegun di hadapan lemari memilih membungkam dirinya. Allea baru saja kehilangan calon anak mereka. Dan Rangga tak mau memperpanjang masalah. Akhirnya, Allea mengambil piyama tidurnya yang berwarna hitam. Seakan menyiratkan kesedihan yang saat ini dia rasakan. Pagi menjelang, Allea bangun terlebih dahulu. Pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tak ada yang spesial. Hanya sandwich saja. Kondisinya tak memungkinkan untuk membuat menu makanan lainnya. "Selamat pagi, Allea." Allea mengangkat wajahnya. Wanita ini lagi. Wanita sama yang selalu diprioritaskan oleh Rangga. Yang tak lain adalah sahabat karibnya sendiri. Riana tersenyum manis. Wanita ini baru saja bangun dari tidurnya. Gaun tidur yang dipakainya sedikit tersibak hingga memperlihatkan bentukan dadanya yang padat. Entah sengaja atau tidak. Allea tak mengerti kenapa Rangga harus meminjamkan pakaian tidur ini dari sekian banyak baju tidurnya. Padahal Rangga tahu kalau gaun tidur itu adalah gaun kesukaan Allea. "Duduklah, Riana. Kita sarapan bersama." Riana mengambil duduk tanpa berbasa basi. Tak lama ada Rangga yang turun dari lantai atas. Riana menyapa. Rangga membalas. Keduanya saling melempar senyum. Allea melihat dari ekor matanya. Sebuah kedekatan antara atasan dan bawahan yang tak biasa. Sering kali Allea menduga namun Rangga selalu menepisnya. Meski gestur itu tak bisa berdusta. "Bagaimana kabarmu, Riana? Masih sakit?" Tanya Rangga perhatian. "Masih sakit sedikit. Ternyata aku mau haid, mas. Pantas aja sakit perutku melilit." Cetus Riana tertawa memalukan. Rangga sendiri berdeham setelah melihat raut wajah Allea yang berubah tak sedap dipandang. "Syukurlah. Tapi kalau kamu tidak diberi suntikan mungkin perutmu akan semakin sakit." Balas Rangga. Ia tak mau Allea berpikir macam-macam. Selesai sarapan, Rangga pergi bekerja bersama Riana. Wanita itu sudah berganti pakaian kantor lagi. "Terima kasih tumpangannya, Allea. Maaf merepotkan. Ngomong-ngomong gaun tidur semalam aku taruh di atas tempat tidur kamar tamu. Sekali lagi terima kasih." Riana melambaikan tangan dan masuk begitu saja ke dalam mobil Rangga. Sementara, Allea hanya memandang dari dalam rumah. "Hari ini istirahat saja. Tidak usah repot memasak." Rangga berkata itu dan juga berlalu. Bersama Riana, ia masuk ke dalam mobil dan terlihat bercengkrama. Senyum dan tawa itu diberikannya pada Riana. Sementara Allea harus mengemis dulu untuk mendapatkan senyum suaminya. Sore menjelang, Allea kedatangan tamu. Sofia datang dengan rasa cemas luar biasa. Sesampainya di rumah menantunya, Sofia memeluk Allea erat. "Mama dengar kamu diantar oleh Rangga ke rumah sakit. Kamu sakit apa, nak?" Tanya Sofia khawatir. Dahi Allea langsung mengkerut. "Mas Rangga bilang begitu?" "Iya. Katanya kemarin dia sibuk mengantarmu ke rumah sakit. Kamu sakit apa, sayang?" Mata Allea lalu memerah. Kebohongan macam apa lagi yang Rangga ciptakan? "Keguguran, ma. Aku.. kemarin keguguran." Jawab Allea pahit. "Astaga!" Sofia terlonjak kaget dan memeluk menantu kesayangannya. "Mama sedih sekali mendengarnya, nak." "Aku juga, ma.. tapi ini mungkin jalan takdirnya." Sofia melepaskan pelukannya dan memandang lekat wajah Allea. Sorot wajah Allea seperti menunjukkan kehampaan. Seperti ada kesedihan yang tak bisa ia utarakan. "Tidak apa-apa, sayang.. nanti Tuhan akan memberikan ganti yang lebih baik. Nah, sekarang mama anter kamu ke kamar, ya. Kamu harus beristirahat." Allea hanya mengangguk dan mengikuti mertuanya. Jik Rangga begitu dingin dan kaku, maka lain halnya dengan ibu kandungnya. Sofia sangat baik dan penuh perhatian. Bersama wanita paruh baya itu, Allea tak pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Itu semua karena Sofia yang selalu menyayanginya seperti anak sendiri. "Sekarang kamu istirahat, ya. Nggak usah pikirin kerjaan rumah. Biar mama kasih tahu Rangga dia yang menghandle semuanya." Ujar Sofia setelah mengantarkan Allea ke kamar. "Iya, ma. Terima kasih banyak." Sahutnya letih. Tubuhnya memang masih lemah sekali. Di kantor, Rangga baru saja ingin keluar ke lapangan bersama Riana. Hari ini mereka berdua mendapatkan tugas diluar. Ah, sungguh perjalanan yang sangat menyenangkan. Hal berat pun terasa mudah karena mereka selalu bersama. Keduanya lalu menuju mobil kantor yang sudah menunggu di area parkir. Namun sebelum itu, Rangga sudah mendapatkan panggilan dari ibunya. "Kenapa mama nelepon?" Gumam Rangga. Ia lalu mengangkat panggilan tersebut. ["Rangga! Kenapa kamu nggak ngasih tahu mama kalau Allea keguguran?"] Rangga terkesiap. "Mama tahu darimana?" ["Mama lagi di rumahmu sekarang. Allea udah cerita semuanya. Nah, kamu lebih baik pulang ke rumah dan jaga istrimu. Kasihan dia sendirian!"] "Ma! Tapi aku ini bekerja!" Bagaimana ibunya ini? Rangga jadi emosi. ["Mama nggak mau tahu. Sekarang kamu pulang dan urus istrimu!"] Sofia mematikan sambungan secara sepihak. Giliran Rangga yang memijit kepalanya yang sakit. "Mas Rangga. Udah siap?" Teguran dari belakang membuatnya tersentak. "Riana.. ada apa denganmu?" Tanya Rangga sontak cemas. Riana berjalan tertatih sambil memegang perutnya. Wajahnya mulai memucat. Matanya memerah. "Mas.. perutku.. sakit.." Deg! Riana jatuh pingsan tepat dipelukan Rangga."Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p
Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.
"Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki
"Ada masalah apa lagi ini?" Desah Allea pelan.Tiba-tiba saja mobil kecilnya ini mogok di tengah jalan. Berulang kali dia menstarter. Bak kompor yang tak tersambar api, mobil ini masih tak hidup jua.Akhirnya, Allea membuka sabuk pengamannnya dan turun dari mobil. Dengan malu, ia meminta maaf pada kendaraan yang ada di belakang mobilnya."Maaf, mobil saya mogok." Allea tertunduk-tunduk ketika beberapa mobil membunyikan klakson.Pedagang kaki lima yang sedang berjualan di trotoar bergegas menolong Allea yang kesulitan. Oh, rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Beberapa pria itu datang dan menawarkan bantuan.Allea masuk lagi ke mobil dan menstarter mobilnya meskipun gagal. Walaupun begitu, pria-pria itu tadi membantu mendorong mobil mogok itu sampai ke pinggir jalan."Mbak. Disana ada bengkel. Kita kesana aja!" Teriak pria yang mendorong dari belakang.Allea mengangguk. Setelah mendorong cukup jauh, mobil Allea akhirnya bisa di rescue oleh tim bengkel. Mereka membuka cap m
"Sudah ku bilang kan kalo masakanku lebih enak!" Goda Rangga pada Riana.Wanita ini sampai tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah."Iya, deh. Kamu memang pintar masak. Kamu pemenangnya!" Riana memberikan dua jempol. "Beruntung banget Allea bisa makan masakanmu tiap hari."Mendengar nama istrinya disebut membuat wajah Rangga yang cerah menjadi kelabu. Dia lalu berdeham tak enak. Entah apa yang membuat nama Allea jadi tak enak di dengar."Ya, begitulah." Sahut Rangga acuh.Giliran Riana yang tersenyum kecut. Dia iri pada sahabatnya bernama Allea itu. Dari kuliah, wanita itu selalu beruntung. Allea berprestasi dan langsung mendapat pekerjaan setelah tamat kuliah.Hebatnya lagi dia bisa mendirikan bisnis sendiri ya.. walaupun ambruk juga. Tapi yang lebih penting, Allea berhasil dipinang oleh pria sesempurna Rangga. Wah.. amalan apa yang sebenarnya dilakukan Allea hingga sebegitu beruntungnya!"Sini biar aku cuci piring!""Eh!" Riana terperanjat. Dia lekas menyusul Rangga yang su
Rangga mengetuk pintu kamar tamu dengan pelan. Seakan takut mengganggu penghuni yang ada di dalam.Pintu itu terbuka lebar, Riana muncul dengan senyum manisnya. Dari rambutnya jatuh air bercucuran mengenai pakaiannya. Membasahi pakaian kerja Riana yang belum digantikan."Ini pakaian tidur untukmu." Rangga tersenyum melihat wajah wanita ini. Ternyata Riana lebih cantik tanpa polesan bedak."Ah, baju ini lagi." Riana tersipu. Gaun tidur pendek berwarna merah muda. Sudah beberapa kali Riana kemari dan sesering itu juga Rangga meminjamkan pakaian milik Allea ini untuknya."Iya. Pakailah. Jangan pakai baju yang basah. Nanti kamu masuk angin." Ujar Rangga perhatian sekali."Iya, mas. Aku ganti baju dulu, ya." Sahut Riana tersenyum manis. Dia melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Seolah dia akan pergi jauh dan sangat lama.Sementara dari ujung tangga, Allea ingin muntah melihat interaksi antara sahabat dan suaminya. Oh.. inikah namanya rekan kerja? Sungguh tidak masuk di akal. Memuakkan!







