Share

Bab 3

Author: Stary Dream
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-31 08:56:37

"Tidak ada yang membahayakan. Hanya dismenore biasa." Ucap dokter wanita yang bertugas di igd siang ini. Dokter sama yang juga memeriksa Riana kemarin.

"Apa maksud dokter biasa? Apa nggak membahayakan?" Rangga jadi tersinggung karena dokter ini seakan menyepelekan keluhan rekan kerjanya.

"Kalau dari hasil pemeriksaan saya tidak terjadi masalah yang berarti. Atau begini saja. Saya rujuk ke spesialis dokter kandungan. Nanti mbak Riana bisa di usg. Biasanya kalau dismenore berkepanjangan bisa jadi ada kista atau mioma yang bertumbuh." Jelasnya lagi.

"Oh!" Riana terperanjat. Wanita ini menggeleng cepat. "Nggak perlu, dok. Kayaknya minum obat aja deh. Abisnya kemarin setelah meminum onat dari sini, saya agak enakkan."

"Apa obatnya nggak diminum hari ini?" Tanya dokter ini menebak.

"I-iya.. belum." Jawab Riana jadi malu.

"Kalau begitu lanjutkan saja obatnya. Dan kalau sakitnya masih dirasakan, kalian bisa ke dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan."

Rangga masih tak terima akan penjelasan dokter wanita itu. Dengan sedikit memaksa, dia ingin membawa Riana ke dokter spesialis. Tapi wanita ini menolak.

"Aku istirahat di kost aja kayaknya, mas. Perutku sakit nggak ketulungan." Ucap Riana mencebik.

"Lalu siapa yang akan menjagamu disana?" Rangga memiliki ide yang lain. "Gimana kamu tinggal di rumah kami aja untuk sementara ? Allea pasti nggak akan menolak."

Riana menggeleng. "Jangan, mas. Kasihan Allea kan habis keguguran. Dia juga pasti butuh istirahat. Nanti aku dicap mengganggu."

Sejenak Rangga berpikir, ucapan Riana ada benarnya. Apalagi sekarang masih ada ibunya di rumah. Rangga takut Sofia akan berpikir macam-macam.

"Ya, sudah. Aku antar kamu pulang ke rumah." Ucap Rangga.

Akhirnya dinas lapangan ini terlupakan. Berganti menjadi drama Riana yang tak berkesudahan. Setelah mengantar Riana, Rangga tak mood lagi bekerja. Dia pulang ke rumah sebelum Sofia menelepon lagi.

Sesampainya di rumah, ternyata ibunya sudah tak ada. Bergegas Rangga menemui Allea yang tengah tertidur di kamarnya.

"Allea! Kamu ngomong apa aja sama mama tadi?" Tanya Rangga dingin.

Allea mengerjap. Sayup-sayup sepertinya ia mendengar suara Rangga.

"Allea!" Tegur Rangga sekali lagi.

Mata Allea lalu separuh terbuka. Dia lalu menatap Rangga yang sinis memandangnya.

"Iya, mas?" Allea beringsut duduk sembari menahan sakit di perutnya.

"Ada mama tadi kemari?"

Allea mengangguk.

"Ngomong apa aja kamu?"

"Nggak ada. Aku nggak ngomong apa-apa."

"Terus kenapa mama nyuruh aku pulang cepat? Pasti kamu merengek sama mama biar aku nggak bekerja, kan? Astaga, Allea! Aku ini sedang mencari nafkah. Kok bisa-bisanya sih kamu bertindak seperi anak kecil!" Rangga mulai mendumal.

Allea termenung sejenak. Dia memandang suaminya dengan getir.

"Lalu apa yang kamu katakan ke mama, mas? Kamu bilang sama mama kalau kamu mengantarku ke rumah sakit?"

Giliran Rangga yang terdiam.

"Kamu membohongi mama, mas. Padahal nyatanya kamu sedang mengantar wanita lain."

"Allea!!" Tegur Rangga tak senang. "Riana benar-benar sakit. Dia mendapatkan suntikan kemarin!"

"Dan aku keguguran, mas!" Ucap Allea setengah berteriak. Air mata mulai membasahi pipinya. "Kita sudah kehilangan anak! Dan tidak sedikitpun kamu iba dengan keadaanku!"

"Terus aku harus berbuat apa, Allea? Menangisinya?" Rangga berdecak dan menggeleng. "Apa yang terjadi ini semua karena kesalahanmu! Kamu yang tidak pandai menjaga kehamilan sendiri!"

Allea terperangah. Lagi-lagi Rangga menyalahkannya.

"Jadi Riana lebih penting dariku, mas?"

"Kamu ini bicara apa?"

"Jawab saja jujur!" Ucap Allea serak. "Kamu menyukai sahabatku, kan?"

"Astaga! Harus berapa kali ku katakan kalau kami tidak punya hubungan. Kami hanya rekan kerja dimana Riana teman satu divisiku. Dia juga sahabatmu. Wajar kalau kami dekat!"

Allea menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu berbohong, mas. Aku tahu itu!"

"Terserah!" Bentak Rangga kesal. "Kamu mau percaya atau tidak itu bukan urusanku! Tapi satu hal yang pasti. Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kesalahanmu, Allea. Jangan pernah lagi libatkan aku dalam urusammu. Jangan pernah!"

Rangga langsung keluar dari kamar dengan membanting pintu. Allea terhenyak. Rangga yang dulu dikenalnya sudah jauh berubah. Tak seperti Rangga dua tahun yang lalu.

Dulu, Rangga dan Allea menjalin hubungan saat masih sama-sama bekerja di bidang properti. Rangga yang menjadi sales dan Allea di posisi administrasi.

Keduanya saling bertemu dan menjadi dekat. Rangga dan Allea berpacaran selama satu tahun. Hingga akhirnya Riana datang. Disaat itu juga sikap Rangga berubah.

Riana yang saat itu sedang kesulitan ekonomi ditawarkan pekerjaan oleh Allea. Riana akhirnya masuk ke perusahaan properti tersebut untuk menggantikan posisi Allea.

Dan itulah sumber masalahnya..

Allea yang mengepakkan diri sebagai pebisnis lalu luput mengawasi hubungan Rangga dan Riana yang kian dekat. Bahkan setelah menikah, Riana sering kali menginap di rumah ini. Menjadi ekor Rangga dengan mengatakan bahwa dia adalah anak buah pria itu.

Namun perubahan sikap Rangga yang drastis membuat Allea curiga. Jika hati suaminya itu pasti telah mendua. Tak mungkin jika tak ada hubungan di antara keduanya.

Rangga sendiri masih jengkel setelah bertengkar dengan Allea. Ia turun ke lantai bawah dan pergi ke dapur. Mulutnya tak berhenti memaki istrinya.

"Kenapa dia selalu menyebalkan seperti itu?" Rangga meneguk segelas air dingin untuk menenangkan jiwanya. "Aku hampir kehabisan kesabaran!"

Cinta itu hilang entah kemana. Rangga akui itu. Pernikahan mereka baru berjalan delapan bulan, tapi manisnya madu setelah pernikahan malah tak bisa diresapinya.

Kadang-kadang Rangga menyesali pernikahan ini. Tapi setelah Allea hamil, dia ingin mengukir hubungan ini menjadi lebih baik. Namun kehilangan calon anak mereka membuat Rangga sadar jika Allea tak becus menjaga diri.

Ya, pantas saja! Allea memang begitu manja dengannya. Semenjak tidak bekerja lagi, dia lebih suka di rumah dan mengganggu Rangga. Padahal pria ini sibuk sekali bekerja diluar.

Nah, ingin berpisah saat ini juga tak bisa. Ada Sofia yang menjadi penghalang.

"Mama pasti marah kalau aku menceraikan Allea!" Rangga mendengkus dan mengacak-acak rambutnya. Ia hanya bisa berpasrah akan nasibnya.

Rumah yang dingin semakin membeku karena hubungan dua orang ini. Satu atap tapi tak ada kehangatan.

Selama ini, Allea sudah berusaha mendekatkan diri. Tapi suaminya itu suka sekali menjauh. Percuma jika Allea menurunkan egonya. Nyatanya, harga dirinya yang terus terinjak-injak.

"Nggak usah bawakan aku bekal. Malu! Masakanmu itu nggak enak!" Ujar Rangga ketus.

Dia baru saja melihat Allea menyiapkan bekal makanan untuknya.

"Ya sudah." Allea membuka lagi kotak bekal tersebut dan mengeluarkan makanannya.

"Satu lagi. Jangan mengangguku, Allea! Aku akan sibuk bekerja!"

Allea mengangguk. "Lalu apa lagi?"

"Jangan mengatur atau menegurku. Jangan hubungi ponselku jika tidak penting." Sambung Rangga meluapkan emosinya. Yang semalam belum cukup.

"Baik. Akan ku patuhi." Sahut Allea datar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 14

    "Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 13

    Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 12

    "Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 11

    "Ada masalah apa lagi ini?" Desah Allea pelan.Tiba-tiba saja mobil kecilnya ini mogok di tengah jalan. Berulang kali dia menstarter. Bak kompor yang tak tersambar api, mobil ini masih tak hidup jua.Akhirnya, Allea membuka sabuk pengamannnya dan turun dari mobil. Dengan malu, ia meminta maaf pada kendaraan yang ada di belakang mobilnya."Maaf, mobil saya mogok." Allea tertunduk-tunduk ketika beberapa mobil membunyikan klakson.Pedagang kaki lima yang sedang berjualan di trotoar bergegas menolong Allea yang kesulitan. Oh, rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Beberapa pria itu datang dan menawarkan bantuan.Allea masuk lagi ke mobil dan menstarter mobilnya meskipun gagal. Walaupun begitu, pria-pria itu tadi membantu mendorong mobil mogok itu sampai ke pinggir jalan."Mbak. Disana ada bengkel. Kita kesana aja!" Teriak pria yang mendorong dari belakang.Allea mengangguk. Setelah mendorong cukup jauh, mobil Allea akhirnya bisa di rescue oleh tim bengkel. Mereka membuka cap m

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 10

    "Sudah ku bilang kan kalo masakanku lebih enak!" Goda Rangga pada Riana.Wanita ini sampai tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah."Iya, deh. Kamu memang pintar masak. Kamu pemenangnya!" Riana memberikan dua jempol. "Beruntung banget Allea bisa makan masakanmu tiap hari."Mendengar nama istrinya disebut membuat wajah Rangga yang cerah menjadi kelabu. Dia lalu berdeham tak enak. Entah apa yang membuat nama Allea jadi tak enak di dengar."Ya, begitulah." Sahut Rangga acuh.Giliran Riana yang tersenyum kecut. Dia iri pada sahabatnya bernama Allea itu. Dari kuliah, wanita itu selalu beruntung. Allea berprestasi dan langsung mendapat pekerjaan setelah tamat kuliah.Hebatnya lagi dia bisa mendirikan bisnis sendiri ya.. walaupun ambruk juga. Tapi yang lebih penting, Allea berhasil dipinang oleh pria sesempurna Rangga. Wah.. amalan apa yang sebenarnya dilakukan Allea hingga sebegitu beruntungnya!"Sini biar aku cuci piring!""Eh!" Riana terperanjat. Dia lekas menyusul Rangga yang su

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 9

    Rangga mengetuk pintu kamar tamu dengan pelan. Seakan takut mengganggu penghuni yang ada di dalam.Pintu itu terbuka lebar, Riana muncul dengan senyum manisnya. Dari rambutnya jatuh air bercucuran mengenai pakaiannya. Membasahi pakaian kerja Riana yang belum digantikan."Ini pakaian tidur untukmu." Rangga tersenyum melihat wajah wanita ini. Ternyata Riana lebih cantik tanpa polesan bedak."Ah, baju ini lagi." Riana tersipu. Gaun tidur pendek berwarna merah muda. Sudah beberapa kali Riana kemari dan sesering itu juga Rangga meminjamkan pakaian milik Allea ini untuknya."Iya. Pakailah. Jangan pakai baju yang basah. Nanti kamu masuk angin." Ujar Rangga perhatian sekali."Iya, mas. Aku ganti baju dulu, ya." Sahut Riana tersenyum manis. Dia melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Seolah dia akan pergi jauh dan sangat lama.Sementara dari ujung tangga, Allea ingin muntah melihat interaksi antara sahabat dan suaminya. Oh.. inikah namanya rekan kerja? Sungguh tidak masuk di akal. Memuakkan!

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status