FAZER LOGIN
"Mas. Tolong pulang sekarang!! Aku.. aku sepertinya keguguran!" Allea menangis terisak saat menghubungi suaminya.
["Aku masih di kantor. Pergi saja sendiri."] Tut. Sambungan di matikan. Allea tersentak. Suara dingin pria itu kapan akan berubah di hadapannya? Saat ini, Allea tengah kritis. Ia benar-benar membutuhkan kehadiran suaminya. Tapi Rangga seperti menelantarkannya. Bukan! Tapi lebih tepatnya tak pernah menganggapnya ada. Akhirnya, Allea pergi sendiri ke rumah sakit. Berjalan tertatih-tatih membawa mobilnya dengan menahan darah yang mulai mengucur membasahi sela-sela pahanya. Sambil menahan rasa sakit, Allea tiba di sebuah rumah sakit dan lekas mendapatkan pertolongan. Perut wanita ini diperiksa. Darah yang membasahi kakinya dibersihkan. Hasil pemeriksaan membuat Allea menangis tersedu-sedu. Kandungannya yang baru berusia 8 minggu itu menyerah. Calon anaknya pergi meninggalkan Allea setelah tak bisa mempertahankan diri. Allea menangis hebat. Dokter dan perawat memberikan simpatiknya dengan menguatkan Allea. "Ada keluarga yang bisa dihubungi, nyonya? Biar kami bantu." Ujar perawat wanita itu. "Hubungi suami saya, sus. Tolong sayaa.." agar Rangga percaya. Jika dia benar-benar dalam kondisi kritis. Sayang sekali, panggilan yang berasal dari nomor Allea tak terangkat. Petugas pun mengakalinya dengan menghubungi menggunakan nomor rumah sakit. Tapi tetap saja.. panggilan itu selalu gagal terjawab. "Bagaimana, nyonya? Suami anda tidak mengangkat teleponnya. Sementara anda harus dikuret segera." Allea mengusap wajahnya yang basah akan air mata. Sekarang ia mengerti jika dirinya bukan prioritas. "Lakukan saja tanpa menunggu suami saya, sus. Apapun itu yang terbaik. Maka saya akan menerimanya." Tak ada persetujuan dari wali. Hanya Allea yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Malam ini setelah dinyatakan keguguran, Allea dikuret di ruang operasi. Setelah 6 jam beristirahat di kamar rawat, Allea memutuskan untuk pulang ke rumah saja karena tak ada yang menemaninya. Tepat pukul 10 malam, Allea tiba di rumahnya. Di dalam garasi, terdapat mobil suaminya yang telah terparkir rapi. Artinya Rangga ada di rumah. Sambil menahan rasa pilu dan kecewa. Allea ingin menumpahkan kesedihannya pada bahu Rangga. Semoga saja hati pria yang membeku itu terketuk saat mengetahui dia telah kehilangan calon anaknya. Ceklek. Pintu dibuka oleh Allea. Lampu ruang tamu dan tengah telah dimatikan. Menyisakan lampu dapur yang bercahaya lemah. Brak! Suara pintu kulkas tertutup membuat perhatian Allea teralih. Ia yang tadinya ingin melangkahkan kaki ke lantai dua lantas terhenti. Ia menuju dapur dan melihat orang yang ada di dalam sana. Di rumah ini, hanya ada dia dan Rangga saja yang meninggali. Itu artinya Rangga mungkin ada di dapur. Allea berjalan pelan menuju dapur untuk melihat siapa yang ada disana. Deg! Langkah Allea terhenti. Ia lalu tertegun saat melihat wanita yang tengah mengambil segelas air minum. Memakai pakaian tidur berwarna merah muda. Pakaian kesukaannya. Miliknya. "Riana.." Allea terkesiap. Riana menoleh. Ia ikut terkejut melihat wanita yang ada di rumahnya. Ternyata Allea. Sahabat karibnya. "Sedang apa kamu disini, Riana?" Tanya Allea menatap tajam. "Dan kenapa kamu memakai bajuku?" Sorot wajah Riana berubah panik. Ia pun terbata-bata mendengar pertanyaan Allea. "Allea.. aku... aku..." "Aku yang membawanya." Riana yang tadi panik lalu melengkungkan senyuman. Allea lantas menoleh saat mendengar suara dari belakang tubuhnya. Suara yang dingin dan tegas. Siapa lagi jika bukan suaminya, Rangga. "Riana sedang sakit. Jadi aku membawanya kemari." Sambung Rangga datar. Mata Allea langsung memerah. "Ini rumah kita, mas.." "Aku tahu. Tapi Riana juga sahabatmu, Allea. Dan dia adalah pegawaiku. Sebagai atasan yang baik aku tidak tega membiarkan Riana kesakitan. Sebab itulah aku membawanya kemari untuk beristirahat." Allea lalu menggeleng. "Kamu mengkhawatirkan wanita lain yang sakit dibanding dengan istrimu sendiri, mas? Apa kamu tahu apa yang....???" "Riana sakit perut dan harus pergi ke rumah sakit tadi, Allea." Potong Rangga cepat. "Tapi.. sekarang aku sudah lebih baik kok, mas Rangga." Riana ikut menyela. "Aku sepertinya pulang saja sekarang." "Jangan!" Cegah Rangga. "Kamu belum sehat betul. Lebih baik menginap disini. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang." Riana terdiam. Dia bersikap canggung akan situasi yang menimpa keduanya. Dia seakan menjadi orang ketiga antara Rangga dan Allea. Walau sebenarnya memang seperti itu. Sementara rasa keterkejutan Allea semakin menjadi-jadi. Suara Rangga terdengar lembut saat berbicara pada Riana. Seperti membelai namun menusuk hati Allea dengan dalam. Pandangan Rangga yang melunak kembali teralih memandang istrinya. Wajah itu kembali bersorot datar. "Kamu juga kembali lah ke kamar, Allea." Sambungnya saat melihat wajah wanita itu pucat pasih. Allea mengerjap tangisnya. Dengan wajah memerah. Ia berjalan melewati Rangga menuju tangga yang ada di sisi pria tersebut. Saat melangkahkan kakinya pada anak tangga, Rangga kembali menegur. "Ada apa kamu meneleponku tadi, Allea?" Allea menoleh dan memandang getir. "Aku hanya ingin memberitahu, mas. Kalau aku keguguran dan harus dikuret." Jawab Allea serak. Deg! Mata Rangga membulat sempurna. Begitu juga dengan Riana yang terkejut. Tanpa menunggu tanggapan Rangga, Allea kembali naik ke tangga sembari menyeret langkahnya.Rangga mengaduk sendok di dalam kopinya dengan setengah menggerutu."Hebat sekali dia. Apa dia pikir aku akan perduli padanya?!" Sebal sekali Rangga dibuat oleh istrinya itu.Berani sekali Allea sarapan santai dan duduk manis. Hanya makan satu porsi dan tidak menawarkannya lagi.Biasanya wanita itu akan memanggil Rangga dengan lembut. Jika Rangga menolak, maka Allea akan memaksanya duduk dan menyuapinya makan. Dan yang paling konyol, Allea akan membawakan bekal makan siang untuknya.Tapi hari ini, Allea sama sekali tak menawarinya.Astaga!Bagaimana Allea bisa mengajaknya sarapan bersama jika melihat wajah suaminya saja tidak?"Hey! Mas Rangga lagi buat kopi juga?" Tegur suara cerah dari belakang.Rangga menoleh dan membingkai senyuman."Gimana perutmu?""Agak mendingan." Riana mengambil cangkir dan menyeduh kopi. "Kamu nggak sarapan, mas?"Rangga menggeleng. "Tadi masih kenyang."
Riana menekuk kepalanya dengan dalam. Di depan sana ada Ilmi dan Riza yang sibuk bekerja di balik komputer. Gara-gara ditegur Madani di hadapan rekan kerjanya membuat Riana jadi malu. Terlebih Madani mengatakan akan memutasi Riana ke divisi lain gara-gara hubungannya dengan Rangga yang terlanjur dekat. Astaga! Bagaimana ini? Mau ditaruh dimana wajah cantiknya ini. Apalagi memang keduanya acap kali menjadi buah bibir di kantor.Percuma mau mengelak. Toh, waktu itu rekan kerja mereka pernah memergoki Rangga membawa Riana menginap di rumah pria itu.Sedangkan, Rangga juga ikut pusing karena perkataan dari Madani tadi. Wajah ini jadi merah padam. Seolah-olah dia adalah pelaku perselingkuhan.Nyatanya, Rangga dan Riana kan hanya berteman saja.Ah, lupakan soal itu. Rangga melirik ponselnya yang sejak tadi tenang. Padahal hari sudah sore, tapi Allea kok tidak memberi kabar?Ralat. Allea tadi ada di IGD, kan? Dengan sikapnya yang kekan
Allea keluar dari kamar mandi sambil menggeret tiang infus. Tangannya yang kecil terkait dengan selang infus. Wajah itu pucat pasih. Hidungnya memerah karena muntah.Perawat yang melihat Allea bersusah payah berjalan dengan tiang infus itu lekas menolong. Allea lalu dipapah masuk ke dalam tirai tempat dirinya berbaring."Allea.." Rangga mengerjap kesadarannya.Mata Riana sampai membulat sempurna. Astaga! Kesialan apalagi kini yang menimpanya. Tadi pagi ia melihat Allea di kedai kopi. Dan sekarang Allea juga ada di rumah sakit dengan posisi terinfus. Oh.. pasti sakitnya parah sekali."Mas! Itu Allea, kan?" Riana mencoba bertanya. Allea masih memakai kemeja bergaris yang sama."Hmm.. iya.""Sakit apa dia, mas?"Rangga menggeleng. "Aku nggak tahu.""Ayo, kita lihat." Ajak Riana."Biarkan saja. Kita harus pulang ke kantor, Riana.""Tapi, dia...""Tidak." Potong Rangga tegas. "Jika Allea sa
"Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p
Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.
"Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki







