MasukBAB 48
Zea menatap Ibra sesaat. Dibenaknya terngiang-ngiang ucapan rekan-rekan sekantornya di pantry tadi mengenai dia yang dianggap menjalin hubungan ‘terlalu dekat’ dengan klien.Padahal apa salahnya dengan menjaga hubungan baik? Zea berusaha melakukannya dengan semua orang tak hanya klien saja, ia bahkan cukup dekat dengan beberapa supplier.Zea menelan ludahnya kasar. Apakah berdekatan dengan Ibra juga akan membawa masalah untuk keduanya? Apakah kedekatanBAB 54Arkan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Zea yang menghujam. Membuka semua kecurigaannya sekarang rasanya bukan tindakan bijak, apalagi ia belum memegang bukti fisik yang bisa ia lemparkan ke meja. Namun, melihat sorot mata Zea yang penuh luka, Arkan tak bisa hanya diam membisu.“Aku punya beberapa dugaan. Tapi masih harus kuselidiki lebih dalam, Ze. Aku nggak mau salah ngambil langkah,” ucap Arkan dengan nada berat.Zea menarik napas panjang, menatap sisa roti bakar di piringnya dengan pandangan kosong. “Jujur aja, Mas, tuduhan ini nggak bisa kuanggap sepele. Nama baikku terancam rusak. Bahkan perusahaan langsung bereaksi dengan men-skors aku tanpa ngasih kesempatan untuk membela diri. Mas tau kan, di dunia profesional, sekali nama kita dicap jelek, susah buat bersihin lagi.”Arkan mengangguk mengerti, rasa sesal makin menghimpit dadanya. “Aku betul-betul minta maaf, Ze. Seperti kataku tadi, aku akan bereskan semuanya. Ak
BAB 53Sesampainya di kamar, Zea langsung membersihkan diri. Air dingin yang membasuh tubuhnya tak mampu menghilangkan rasa berat di kelopak matanya yang bengkak. Ia lalu membaringkan badan ke ranjang dan seketika itu juga rasa lelah menyerang tubuhnya, yang tadinya sudah terasa lebih segar. Kepalanya terasa berdenyut.Zea menghirup aroma bantal dalam-dalam. Begitu banyak yang terjadi hari ini, membuat otaknya bingung memilah bagian mana yang harus diproses lebih dulu. Zea mendekap bantal gulingnya erat. Ia menemukan rasa nyaman yang familiar di sana dan perlahan kedua matanya mulai memejam. Detik itu juga, pikirannya langsung melayang pada sosok Ibra. Lelaki itu seolah memiliki sihir yang membuatnya lupa sejenak pada badai masalah yang menghantamnya.Dan Zea tak langsung menyadarinya. Di sepanjang perjalanan pulang tadi, ia terus bersikap dingin dan kerap melontarkan ucapan ketus pada semua ucapan Ibra. Kekanak-kanakan sekali.
BAB 52Sekujur tubuh Zea gemetar akibat luapan amarah. Ia menarik napas panjang, berkali-kali, mencoba memaksa paru-parunya bekerja normal, agar sesak di dadanya sedikit berkurang.“Minum dulu,” suara bariton Ibra menariknya kembali dari pusaran emosi. Lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya, sambil memandang Zea lekat, dengan tatapan sarat makna.Zea menerimanya dengan tangan yang masih gemetar halus. “Makasih,” gumamnya lirih. Cairan dingin itu mengalir melewati tenggorokannya yang kering, dan sedikit mendinginkan bara kemarahan yang tadi sempat membakarnya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Kesunyian di antara mereka hanya diisi oleh suara sayup-sayup pengunjung mall yang berlalu-lalang di kejauhan. Zea akhirnya mengangkat wajah, menatap Ibra yang masih setia menunggunya tenang.“Aku balik duluan ya, Mas,” pamit Zea. Ia butuh ruang sendiri. Ia butuh merebahkan tubuhnya dan memproses
BAB 51Ibra tersenyum kecil, matanya mengerling jenaka. “Okey, jadi kamu sebenarnya lebih baik dari yang aku kira?”Zea membalas tatapan itu sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur yang justru terlihat manis di mata Ibra. “Nggak jelas,” gumamnya pelan.Ibra terkekeh, namun tawanya perlahan menyurut, digantikan oleh sorot mata yang lebih dalam. “Kamu punya masalah sama mereka, Ze?”Zea terdiam. Lagi-lagi, ia hanya memandang Ibra tanpa suara. Ia sedang menimbang, seberapa banyak ia bisa membagi beban ini tanpa terlihat menyedihkan. Membuat Ibra menjadi gemas. Lelaki itu bahwa Zea sedang berusaha untuk menutupi sesuatu.Ibra mendesah, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Oke, aku paham. Kamu belum mau cerita. Aku nggak akan maksa.”Zea meringis, merasa sedikit bersalah karena terus menerus menolak memberi jawaban pada pertanyaan pertanyaan yang Ibra lontarkan. “Maaf ya, Mas.”“No, jangan
BAB 50“Ze…,” tegur Ibra pelan.Lelaki itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Zea. Tatapan Zea yang sedari tadi kosong, perlahan mulai fokus kembali. Zea mengerjap, lalu meringis canggung. Ia baru sadar kalau dirinya sudah terlalu lama tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri.Ibra melipat kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Zea dengan ekspresi serius“Aku perhatiin kamu dari tadi kayak bengong terus. Kenapa sih? Ada masalah apa? Aku siap dengerin lho,” tanya Ibra lembut, namun ada nada menuntut di sana.Zea menggeleng pelan, mencoba memaksakan senyum tipis. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma tiba-tiba kepikiran sesuatu aja barusan. Maaf ya.”“Biasanya cewek kalau ngomong nggak apa-apa, berarti ada apa-apanya,” sahut Ibra, mencoba memancing kejujuran Zea dengan gaya santai.“Masa sih,” balas Zea singkat, masih dengan senyuman di wajahnya.“Iya, siapa tau aku bisa bantu, kan.” Tamba
BAB 49Pintu teater akhirnya dibuka. Ibra ternyata memilih kursi di barisan tengah. Suasana tampak cukup lengang karena tak banyak orang yang menonton hari itu. Kursi-kursi di kanan dan kiri mereka kosong, membuat keduanya bisa meletakkan barang bawaan di sana.Perlahan lampu meredup hingga akhirnya padam sama sekali. Dan saat film dimulai, Zea benar-benar tenggelam dalam diamnya. Film yang mereka tonton ternyata adalah drama tentang kehilangan dan pengkhianatan. Ceritanya cukup klise, namun bagi Zea yang hatinya sedang babak belur, setiap dialog di layar terasa seperti sindiran langsung.Di tengah kegelapan, saat adegan sang tokoh utama dikhianati oleh orang yang paling ia percayai, pertahanan Zea runtuh. Awalnya hanya napas yang terdengar berat, lalu bahunya mulai bergetar. Tak lama kemudian, suara isakan kecil mulai terdengar.Ibra, yang sejak tadi lebih banyak memperhatikan reaksi Zea daripada layar, segera menoleh. Ia bisa meli







