MasukBAB 49
Pintu teater akhirnya dibuka. Ibra ternyata memilih kursi di barisan tengah. Suasana tampak cukup lengang karena tak banyak orang yang menonton hari itu. Kursi-kursi di kanan dan kiri mereka kosong, membuat keduanya bisa meletakkan barang bawaan di sana.Perlahan lampu meredup hingga akhirnya padam sama sekali. Dan saat film dimulai, Zea benar-benar tenggelam dalam diamnya.Film yang mereka tonton ternyata adalah drama tentang kehilangan dan pengkhianatBAB 130Kantuk Zea seketika lenyap tanpa sisa. Ia melompat dari ranjang seolah kasurnya diletakkan di atas bara api."Rusak?! Nggak mungkin, Ben! Kemarin sore waktu di gudang, aku periksa sendiri valve dan regulatornya! Waktu instalasi malamnya aku juga standby, pas di-tes running semuanya normal, apinya biru, tekanannya stabil. Nggak ada indikasi bocor sedikit pun!""Aku tahu, Mbak! Aku lihat sendiri semalam! Tapi Pak Dirga nggak mau dengar alasan apa pun. Dia langsung eskalasi laporan ke Bu Sandra."Zea memejamkan mata, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Jebakan ini ternyata memiliki lapisan yang lebih dalam dari dugaannya.Setengah jam kemudian, tanpa sempat sarapan, Zea sudah berdiri dengan bahu menegang di dalam ruang kerja Sandra. Hawa AC di ruangan itu terasa menusuk tulang, tapi tak sedingin tatapan wanita yang duduk bersedekap angkuh di balik meja mahoninya.Sebuah map berisi laporan keluhan
BAB 129Mata mereka bertemu, dan di detik itu, Zea bisa melihat binar kemenangan yang culas memantul di manik Sandra. Senyum miring tercetak jelas di bibir berpoles lipstik merah menyala itu."Kamu belum cek yang di sana," perintah Sandra, dagunya menunjuk angkuh ke sudut ruangan yang agak gelap, tempat susunan pipa sekunder berada. "Cek dulu. Pastikan semua terpasang dengan benar!"Zea tak menjawab. Ia hanya mendengus pelan, nyaris tak terdengar, lantas berbalik dan melangkah menuju titik yang ditunjuk. Hari ini, ia memilih untuk menelan harga dirinya bulat-bulat. Biarlah Sandra berkubang dalam pujian. Biarlah perempuan itu merasa menjadi pahlawan di atas panggung yang ia sutradarai sendiri. Bagi Zea, memastikan keamanan instalasi gas ini dan menyelamatkan wajah perusahaan di mata klien jauh lebih krusial daripada memenangkan adu ego yang tak ada habisnya.Namun, di balik diamnya yang tampak patuh saat memeriksa katu
BAB 128Kesunyian kembali melanda saat sambungan telepon dari Ibra diputuskan. Lelaki itu menemaninya, memastikan makanan di piringnya tandas dan kelopak matanya nyaris menutup saking beratnya. Dan tentunya tak lupa sambil terus membujuk Zea agar datang ke acara launching kafenya.“Aku bilang ke Pak Wira, launching batal kalo kamu nggak hadir.” Ibra berkata kalem, seakan sedang membicarakan cuaca terik hari ini.Mata Zea membulat. Ia antara percaya dan tak percaya pada ucapan lelaki itu.“Yang bener?” tanyanya setengah seru.Kepala Ibra terlihat mengangguk.“Dih, kok gitu sih Mas….” Zea memajukan bibirnya. Ia jadi tak enak hati pada bosnya itu.“Ya, kan dari awal kamu udah ikut terlibat, rasanya kurang aja kalo kamu nggak hadir.” kilah Ibra.“Padahal ada Dimas dan temen-temen lain juga.” Zea mencibir.Ibra terdiam sejenak, lelaki itu mencibir, “Maunya kamu.” Zea mendengus sambil
BAB 127“Eeh…, tapi ya Mas….” Zea berusaha meralat ucapannya, “I-ini tuh baru kejadian sekarang ya, yang kemarin, di kantor sebelumnya tuh nggak pernah ada sabotase sabotase kayak gini….” Jelasnya gugup.Ibra tertawa, “Kamu mikir apa emang, hmmm…?” Tanya lelaki di seberang dengan suara baritonnya.Zea menggeleng, tanpa menyadari bahwa Ibra tak bisa melihatnya, “Nggak mikir apa-apa,kok,” elaknya.Tawa Ibra makin keras, “Kamu tuh nggak jago bohong, tau nggak?”Zea meringis, menahan malu karena merasa ketahuan, “Apaan sih? Bohong apaan? Aku cuma takut kamu mikir kantorku nggak beres, padahal nggak kayak gitu.” Ia bersungut-sungut.“Yang mikir kayak gitu itu kamu,” Ibra berujar gemas, “Aku nggak ada mikir begitu.”Zea mengatupkan bibirnya rapat, tak bisa membalas ucapan Ibra.“Kamu tuh suka overthinking, aku kan udah bilang kalo aku nggak akan komentar apa pun….” lanjut Ibra.“Iya, aku tau, kan aku bi
BAB 126Zea tiba di kosan dengan tubuh dan pikiran yang luar biasa letih. Ia meletakkan tasnya asal lalu melemparkan diri ke kasur yang langsung berderit pelan seperti sedang mengerang menahan bobot tubuhnya. Berharap dengan berbaring, setidaknya ia dapat menghilangkan sedikit keletihannya. Zea memejamkan matanya erat-erat. Langit-langit kamar kosnya yang putih kusam seolah berputar. Udara pesisir utara yang lembab dan panas masih terasa menempel di kulitnya, bercampur dengan debu proyek dan sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi dengan Sandra dan Pak Dirga tadi siang.Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup, bukan wajah merah padam Pak Dirga atau tatapan tajam Sandra yang muncul. Melainkan siluet seorang pria yang ia lihat tadi.Arkan.Nama itu bergema di kepalanya.Zea berguling ke samping, memeluk bantal gulingnya erat-erat, mencoba mengusir bayangan itu.“Masa sih itu Mas Arkan….” bisiknya pada diri s
BAB 125Matahari di pesisir utara Pulau B terasa seperti oven yang dinyalakan ke suhu maksimal. Bersama yang lain, Zea melangkah turun dari mobil, merasakan pasir halus menyusup ke sela sepatunya. Di depannya, bangunan megah *Royal Grand Resort & Spa* berdiri cantik dan elegan secara bersamaan.Cukup kontras dengan suasana di sekitarnya, di area proyek yang tampak kacau. Beberapa truk pengangkut terlihat parkir di sana sini. Beberapa orang juga terdengar saling berteriak memberikan instruksi entah apa, karena saling tumpang tindih.Sandra melangkah di depan rombongan kecil mereka dengan gerakan anggun yang terlihat dibuat-buat di mata Zea. Perempuan itu mengenakan kacamata hitam besar, seakan menyembunyikan tatapan predatornya di balik lensa gelap. Di belakangnya, Zea, Reni, dan Beni mengekor seperti ajudan yang sedang mengiringi ke medan perang."Ingat, Zea," Sandra berbisik tanpa m







