Beranda / Fantasi / Sang Dewa Bumi: Yuan Ze / Bab. 7 - Pohon Ginkgo Kering

Share

Bab. 7 - Pohon Ginkgo Kering

Penulis: Norayolayora
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 23:59:33

“Apa ini? Sebuah cincin? Kau tidak berniat menikahi sesama lelaki kan?“ Yuan Ze memperhatikan sebuah cicin giok, dengan mata berwarna merah terang pada bagian tengahnya. Di belakang cincin itu, terdapat sebuah tulisan yang tak terbaca yang lebih mirip sebuah simbol perlindungan.

“Bahkan wanita pun tak akan ada yang mau menikahimu! Kurang kerjaan sekali aku memberikanmu cincin buatan ku hanya untuk seperti itu. Itu adalah jimat penangkal. Untuk sementara waktu, posisimu tidak akan diketahui oleh penduduk langit bahkan Yang Mulia. Untuk berjaga-jaga, Aku akan memperbarui mantranya sebulan sekali.“ Zhao Yu menutup sebuah kotak yang dipenuhi dengan batu permata yang asalnya belum diketahui oleh siapapun.

Yuan Ze menatapnya dengan penuh curiga. “... Darimana kau mendapatkan batu-batu permata itu?“

“Oh, ini? Aku menemukannya setelah membunuh monster dunia bawah. Benda ini terjatuh saat tubuh mereka hancur.“ Zhao Yu menunjukkan salah satunya. Benda itu mirip seperti sebuah kristal yang tak memiliki bentuk khusus dan berbagai ukuran. Bahkan yang paling besar pun ukurannya bisa mencapai telapak tangan kecilnya yang masih berusia 14 tahun.

Yuan Ze mengambil salah satunya dan memperhatikan. Benda kristal berwarna merah itu tampak memantulkan wajahnya dan sedikit lebih berat dari dugaannya. Ia tak mengeluarkan aroma juga tak mengeluarkan bau menyengat seperti bangkai monster. Hanya ada satu yang membuat Yuan Ze merasa curiga.

“Diam diam, Raja iblis mengintai dunia manusia melalui monster-monster yang kabur dari dunia bawah.“

“Kenapa? Apakah ada yang tidak beres?“ tanya Zhao Yu begitu ia melihat Yuan Ze begitu memperhatikannya dengan serius.

Yuan Ze menghela nafas, kemudian menaruhnya kembali ke dalam kotak milik Zhao Yu. “... Tidak salah. Aku harus menyuruhmu untuk membakarnya sampai meleleh.“ ucapnya sembari membalikkan badan dan melipat tangannya.

Zhao Yu, orang yang gemar mengoleksi benda-benda berkilauan itu terkejut dan langsung mengangkat kedua alisnya dan bibir mengkerut. “... Kenapa aku harus membakarnya sampai habis? Susah payah aku mengumpulkan benda berkilauan ini. Kau pikir mudah menghabisi satu monster?“

Kali ini Yuan Ze berbalik dan langsung melotot ke arahnya sembari berteriak, “... Apakah kau mau melawan perintah Dewa?! Aku bisa saja kabur dari kejaran makhluk langit dengan cara apapun tetapi tidak akan ada yang menyelamatkan mu begitu aku melempar mu ke jurang dunia bawah!“

Mendengar amukan itu membuat Zhao Yu seketika menciut sembari memeluk kotak berisikan batu kristal miliknya. Ia berkeringat deras, tidak tahu kalau Yuan Ze ternyata bisa semarah ini padanya hanya kerena ia gemar mengoleksi batu kristal. “... Wajar sih. Dia belum pernah merasakan jadi orang tua.“ batinnya.

Setelah ia mengamuk dalam ruangan ketua sekte, Yuan Ze kabur melalui jendela, memeriksa keadaan di sekte pedang awan yang katanya sedang krisis.

Jalan menuju sekte dipenuhi dengan pohon ginkgo yang sudah mengering dan berhamburan di jalanan. Perlahan, udara di sekitarnya mulai mendingin dan musim sepertinya sudah berganti menjadi musim gugur. Tidak hanya di halamannya, bagian dalamnya pun terdapat beberapa pohon ginkgo yang menghiasi termasuk pada bagian kuilnya. Berpa orang ada yang mengambil sapu untuk membersihkannya dan beberapa ada yang menggali lubang dan mengubur daun itu di dalamnya. Sementara murid-murid sekte yang lain, sedang berada di lapangan.

“Baiklah, mari kita lihat bagaimana murid-murid mereka berlatih tanpa seorang guru. Sudah sekacau apa perguruan mereka.“

Yuan Ze kembali melangkah menuju lapangan utama. Lapangan itu berada di depan bangunan utama, di samping kanan dan kirinya terdapat dapur dan ruangan para tetua biasa berkumpul. Di tiap sudut lapangan yang terbuat dari batu halus itu juga ditanam pohon ginkgo yang sudah mengering dan beberapa bak air serta ember yang biasa mereka gunakan seusai latihan.

“HAH?! APA ITU?! JURUS APA YANG MEREKA LAKUKAN?!“

Yuan Ze sangat terkejut melihat latihan yang murid-murid sekte itu lakukan. Buruk. Bahkan sangat buruk! Mereka hanya mengayun-ayunkan pedangnya secara asal asalan sambil berhitung satu dua tiga! Apa bedanya dengan cara seorang bayi yang mengayun-ayunkan mainannya secara asal asalan bahkan jika dibandingkan dengan mereka, bayi jauh lebih sering melakukannya.

“Han Feng sialan! Mau dibawa kemana murid-murid mu yang seperti ini kalau mereka belajar tanpa mengetahui dasarnya?!“ batin Yuan Ze geram, melihat yang dilakukan oleh murid-murid itu.

Yuan Ze yang sedang bersembunyi di balik pohon merasa ingin memarahi dan memukuli wajah mereka satu persatu. Namun, jika ia menjalankan kesepakatannya dengan menjadi guru untuk mereka di usianya yang masih belia, bukankah itu malah akan menghancurkan harga diri mereka sebagai kakak?

“Ahh, kekuatan ku juga sudah mencapai puncak. Jadi, latihan apapun nanti yang aku ajarkan pada mereka tidak akan ada pengaruhnya bagiku.“ pikir Yuan Ze.

Yuan Ze mengalihkan pandangannya ke langit yang tampak kosong, tanpa satupun tanda tanda awan yang muncul bagian pelangi. Ia pikir ia telah melihat masa depan Sekte Pedang awan di sana. Tidak ada awannya, berarti tidak ada masa depan untuk mereka.

Ahh, di saat genting seperti ini bahkan ketika sangat terdesak, bukankah kita juga merendahkan harga diri untuk meminta bantuan pada musuh?

“Masa bodo dengan harga diri para kakak-kakak itu! Lebih baik menghancurkan harga diri mereka sekarang daripada menghancurkannya di masa depan!“

***

“Hei! Kakak pertama! Kenapa aku merasa kita sedang diawasi ya?“ ucap salah seorang murid bernama Lu Tao, pada Mo Ran yang berlatih di sampingnya.

“Itu hanya perasaanmu saja. Apa lahir dari keluarga cenayang membuatmu bisa merasakan makhluk halus di sekitarmu?“ tanya Mo Ran. Sebetulnya, ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Lu Tao seolah, ada yang diam-diam mengintimidasi mereka dari belakang.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan anak itu ya? Apakah dia mati?“ Lu Tao mengarahkan pandangannya ke langit sembari memikirkan Yuan Ze yang bahkan namanya saja ia belum mengetahuinya.

“Dengan luka parah seperti itu, apakah mungkin dia akan selamat? Rasanya mustahil kalau dia tidak memiliki kekuatan super. Dia pasti dewa atau semacamnya kalau dia berhasil sembuh dari luka seperti itu dan muncul di depan kita.“

“Kalau dia memang Dewa, dia pasti akan langsung kabur begitu saja kan karena tidak mau identitasnya terbongkar. Makhluk langit itu kan sangat pemalu.“

“Ya, mungkin saja begitu.“

Di saat kedua orang itu berbicara, Yuan Ze makhluk langit yang sedang mereka bicarakan tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan mereka sampai akhir. Posisinya sebagai dewa bumi, membuatnya memiliki beberapa kelebihan salah satunya, bisa mendengar isi hati, kepala dan perbicangan orang-orang yang bahkan berada pada posisi yang sangat jauh darinya.

“Ada benarnya. Kalau aku muncul dengan penampilan seperti ini, mereka mungkin akan sangat terkejut. Mana mungkin seorang anak kecil bisa menahan luka yang bertubi-tubi seperti itu. Ahh, apakah aku harus mencari wadah manusia yang baru?“ pikir Yuan Ze.

Pikiran itu sempat terlintas di kepalanya namun, ia sudah berjanji pada seseorang agar tidak mengambil wadah manusia yang baru lagi. Ia sudah berkali-kali memilikinya dan sudah berkali-kali mati dengan wadahnya. Padahal wadah itu, ia ambil dari orang-orang yang sebenarnya sudah mati namun, mereka hidup kembali setelah diisi oleh jiwa Yuan Ze yang masih hidup.

“Kenapa aku harus terikat janji seperti itu. Bukannya enak mereka mendapatkan kehidupan mereka kembali setelah aku rasuki meski nantinya kehidupan mereka akan sedikit berbeda?“ pikir Yuan Ze sembari menggaruk-garuk kepalanya dan bersandar di belakang pohonnya.

Yuan Ze tiba-tiba berhenti merenung begitu ia merasakan ada hawa seorang dewa yang mendekatinya. Ia langsung bangkit kembali, menegakkan badannya, berdiri mewaspadai seseorang yang kini sedang berjalan mendekatinya dengan menyeret kakinya.

Sosok itu memakai jubah hitam dengan garis keemasan yang menutupi setengah dari bagian kepalanya. Terdapat seekor ular berwarna hitam yang sedang melingkari lehernya. Tidak menggigit atau mencekik, melainkan sedang menatap tajam ke arah Yuan Ze. Suara nafasnya yang berat, membuat Yuan Ze menduga bahwa sosok yang mendekatinya adalah seorang Dewa.

“Anak kecil kemarin sore yang datang dengan penuh luka tiba-tiba bisa berdiri tepat di depanku saat ini. Mustahil jika seorang anak bisa bertahan hidup dengan luka seperti itu dan memangnya siapa lagi yang mampu melakukannya selain kau, seorang Dewa Bumi, Yuan Ze.“

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 11 - Wadah Tumbal

    “Akh! Badanku sakit semua karena dipukuli makhluk aneh itu.“ “Aku merasa ini sudah keterlaluan.“Seluruh murid sekte kembali ke asrama mereka dengan wajah babak belur meski beberapa dari mereka ada yang selamat. Semua orang di sana sibuk merapikan diri mereka dari debu dan bersiap tidur. Namun, sampai saat ini, setelah latihan selesai, mereka tidak lagi bertemu dengan Yuan Ze. “Kira-kira kemana anak itu? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Hei! Kakak pertama! Apa kau tidak curiga kalau dia itu penipu?“ ucap salah satu murid ketika Mo Ran sedang merapikan pakaiannya. Mo Ran terdiam sejenak. Dia mulai merasa kalau kekuatannya memang tidak sebanding dengan Yuan Ze yang bahkan berhasil mementalkan para murid padahal dia sama sekalian tidak menggerakkan seujung jari pun. Di sisi lain, dia juga menggunakan jurus yang membuat tubuhnya mengecil untuk menghemat kekuatan spiritualnya sementara, jurus seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tingkatannya sudah setara

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 10 - Bukti

    “Apa? Dia yang akan menjadi guru untuk kita?!“Murid-murid dari sekte Pedang Awan tampak tak percaya dengan yang dikatakan dan ditunjukkan oleh Lu Tao pada mereka. Bagi mereka, tentu saja Yuan Ze hanyalah anak yang masih berusia 14 tahun. Dia bahkan lebih muda dari mereka. Dan lantas, apa yang membuat ketua sekte menyetujui anak ini menjadi Guru untuk mereka? “Kakak pertama! Apa benar dia yang akan menjadi Guru kita?“ salah seorang murid bertanya pada Mo Ran yang wajahnya sudah tidak bersemangat, pucat bahkan kehilangan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka masih tidak percaya bahkan dengan jawaban yang diberikan dari kakak pertama mereka. Karena tidak memiliki darah seorang cenayang, mereka tidak bisa memperkirakan seperti apa kekuatan Yuan Ze yang sebenarnya. Berbeda dengan Lu Tao yang bisa merasakannya bahkan sejak awal mereka bertemu. “Hei! Lu Tao! Apakah kau bisa meyakinkan kami kalau dia itu orang yang sangat kuat?!“ salah seorang murid menunjuk

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 9 - Anak Misterius

    Beberapa saat lalu. “Hei kak! Aku sangat yakin ada seseorang yang mengawasi kita dari balik pohon itu.“ ucap Lu Tao pada Mo Ran sembari menunjuk ke arah pohon ginkgo yang menjadi tempat persembunyian Yuan Ze di sana. Mo Ran juga ikut memperhatikannya. Ia tak merasakan keberadaan seseorang yang bersembunyi di sana. Namun, karena Lu Tao berasal dari keluarga cenayang yang bisa melihat tingkat kemampuan seseorang, dia pasti benar ada seseorang yang bersembunyi di sana. “Apakah dia cukup berbahaya kalau benar dia bersembunyi di sana?“ tanya Mo Ran. “Aku tidak tahu kalau belum melihatnya. Bisa saja dia penyusup dari Klan Iblis yang ingin menghancurkan sekte kita.“ Mo Ran seketika menjadi teringat. Di dunia ini, memang ada yang namanya Klan Iblis yang gemar sekali menghancurkan. Ditambah lagi, wujud mereka sama seperti manusia biasa. Itulah kenapa mereka sering mengatakan bahwa siapa tahu, diantara mereka ada iblis yang menyamar. Hanya seorang cenayang yang bisa menebak kekuatan spirit

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 8 - Dewa Ular Xuan She

    Pada zaman dahulu kala, Dewa bumi pernah turun ke bumi sejenak, setelah Dewi gerhana menitipkan jantungnya padanya. Sang dewa bumi memastikan Dewi gerhana melakukan tugasnya dengan baik dengan mengembalikan monster-monster kembali ke dunia bawah. Namun, ketika ia sudah memastikan tak ada lagi monster yang berkeliaran di tempatnya dan ketika dewa bumi hendak kembali ke langit, ia menemukan seekor ular yang terhimpit oleh bangunan yang hancur. Bangunan itu hancur karena serangan monster yang mengamuk dan beruntungnya ia tidak menemukan satupun mayat manusia yang berada di sana. Namun, ketika ia menggali untuk memastikan, ia malah menemukan seekor ular besar, yang sedang melingkar, melindungi sesuatu dengan tubuhnya. Ular itu sudah mati, tetapi sesuatu yang dilindunginya menunjukkan sedikit kehidupan. Benda itu adalah sebuah telur yang ukurannya nyaris seperti ukuran bayi manusia yang baru lahir. Dewa Bumi itu tersentuh melihatnya. Tubuh ular itu dipenuhi oleh luka monster dan anak p

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 7 - Pohon Ginkgo Kering

    “Apa ini? Sebuah cincin? Kau tidak berniat menikahi sesama lelaki kan?“ Yuan Ze memperhatikan sebuah cicin giok, dengan mata berwarna merah terang pada bagian tengahnya. Di belakang cincin itu, terdapat sebuah tulisan yang tak terbaca yang lebih mirip sebuah simbol perlindungan. “Bahkan wanita pun tak akan ada yang mau menikahimu! Kurang kerjaan sekali aku memberikanmu cincin buatan ku hanya untuk seperti itu. Itu adalah jimat penangkal. Untuk sementara waktu, posisimu tidak akan diketahui oleh penduduk langit bahkan Yang Mulia. Untuk berjaga-jaga, Aku akan memperbarui mantranya sebulan sekali.“ Zhao Yu menutup sebuah kotak yang dipenuhi dengan batu permata yang asalnya belum diketahui oleh siapapun. Yuan Ze menatapnya dengan penuh curiga. “... Darimana kau mendapatkan batu-batu permata itu?“ “Oh, ini? Aku menemukannya setelah membunuh monster dunia bawah. Benda ini terjatuh saat tubuh mereka hancur.“ Zhao Yu menunjukkan salah satunya. Benda itu mirip seperti sebuah kristal yang ta

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 6 - Kesepakatan

    “Baiklah! Aku sudah memberikan informasi yang kalian inginkan sekarang biarkan aku pergi.“ ucap Yuan Ze, hendak menurunkan kedua kakinya ke lantai namun, kembali dihalangi oleh Han Feng yang langsung mengembalikan kakinya ke atas kasur. “Apa? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya termasuk alasanku datang ke sini?“ celetuk Yuan Ze, sembari menurunkan alisnya saat ia melihat Han Feng menatapnya dengan alis dan bibir berkerut.“Aku hanya merasa kasihan, tak ada satupun makhluk langit yang mau membelamu. Ahh, bagaimana kau bisa bertahan hidup sampai 350 tahun kemudian?“ Han Feng mengusap usap bagian bawah matanya yang tampak berair. Baginya, Yuan Ze mungkin saja seperti anak berusia 14 tahun yang hidup sebatang kara dan terpaksa tinggal di kandang serigala. “Kenapa orang-orang yang ada di sini begitu menyebalkan?“ batin Yuan Ze tak terima bila ia disamakan dengan anak manusia berusia 14 tahun. Zhao Yu tiba-tiba mendekatinya dengan wajahnya yang dipenuhi dengan niat busuk yang ingin m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status