MasukSatu hari telah berlalu sejak Tian Hei mulai memurnikan Mutiara Api. Bulan dan bintang kembali menerangi langit Kota Qing Yun, menggantung sunyi di atas bangunan-bangunan batu yang telah tertidur. Angin dingin menyusup melalui celah jendela penginapan, membawa aroma batu basah kota yang padat. Di dalam kamar, Tian Hei duduk bersila di lantai. Tubuhnya tegak, namun napasnya tidak stabil. Suhu tubuhnya meningkat drastis hingga asap tipis keluar dari pori-porinya, membuat udara di sekitarnya bergetar samar. Xi Qianyue duduk di atas ranjang, tak sekalipun mengalihkan pandangannya sejak pemuda itu memulai pemurnian. Tangannya mengepal pelan di balik lengan jubah. "Apa yang harus aku lakukan…" pikirnya gelisah. "Jika dibiarkan, tubuhnya bisa hancur terbakar. Tapi jika dihentikan sekarang… risikonya justru berlipat ganda." Udara di dalam ruangan bergetar semakin hebat. Lantai kayu mengeluarkan suara retakan halus, seakan tak sanggup lagi menahan tekanan. Api merah keemasan menyembur
Pelelangan Paviliun Seratus Harta berakhir tanpa insiden lanjutan, namun gema peristiwa malam itu belum mereda. Nama Si Iblis Pembantai menyebar lebih cepat daripada api yang disiram minyak. Tian Hei dan Xi Qianyue meninggalkan paviliun dengan langkah ringan Setiap langkah kaki Tian Hei bergema pelan, mantap, tanpa ragu—seolah dunia di sekitarnya tak lebih dari latar belakang yang tak layak diperhatikan. malam Kota Qing Yun menyambut dengan angin dingin. Keramaian telah berkurang, namun beberapa kelompok kultivator masih berdiri di kejauhan, berpura-pura berbincang sembari sesekali melirik ke arah mereka. Beberapa tatapan orang-orang tidak lagi penuh penghinaan. Melainkan kehati-hatian dan rasa ingin tahu. Xi Qianyue melirik Tian Hei dari samping. Wajah pemuda itu tetap datar nan dingin tak peduli dengan tatapan orang-orang. Namun Xi Qianyue berbeda. Saat telah berada di luar paviliun indra persepsinya terbuka penuh. “Tiga kelompok.” bisiknya pelan tanpa menoleh. Tian
Hening di depan Paviliun Seratus Harta tidak berlangsung lama, namun bekasnya tertinggal jelas di wajah setiap orang yang menyaksikannya. Penjaga yang tersisa berdiri kaku, tangannya gemetar memegang tombak. Tatapannya tidak lagi berani menatap Tian Hei secara langsung. Ia hanya menunduk, lalu melangkah ke samping dengan gerakan tergesa. Tidak ada yang menertawakan perubahan sikapnya. Tidak ada pula yang mencibir. Semua orang di sana mengerti satu hal—nama Si Iblis Pembantai bukanlah julukan kosong. Seorang pria paruh baya berjubah hijau tua keluar dari arah dalam paviliun dengan langkah cepat. Dari auranya—jelas bukan orang sembarangan. “Tamu terhormat,” ucapnya dengan senyum sopan, menangkupkan tangan. “Insiden barusan adalah kelalaian kami. Paviliun Seratus Harta memohon maaf.” Tian Hei menatapnya sekilas. “Aku hanya ingin mengikuti pelelangan.” “Tentu. Tentu.” Pria itu mengangguk cepat. “Silakan ikut saya. Jika Anda membutuhkan apa pun, cukup beri tahu.” Tanpa menung
Setelah tujuh hari melintasi pegunungan dan jalur terpencil, tembok megah Kota Qing Yun akhirnya menjulang di hadapan Tian Hei dan Xi Qianyue. Sebagai salah satu kota penyangga utama Kerajaan Ning, Qing Yun jauh lebih besar dan lebih bising daripada kota sebelumnya. Kota Qing Yun jauh lebih hidup dibanding kota sebelumnya. Jalanan batu lebar dipenuhi kereta kuda, pedagang keliling, serta kultivator dari berbagai wilayah. Bangunan bertingkat berjajar rapi. Aura Qi di udara terasa lebih padat—tanda bahwa tempat ini sering menjadi persinggahan para kultivator kuat. Saat matahari condong ke barat, Tian Hei dan Xi Qianyue memasuki sebuah rumah makan besar di sudut jalan utama. Bangunannya tiga lantai, dipenuhi suara tawa, denting cangkir, dan percakapan keras yang bercampur aroma daging panggang serta arak. Meski seorang kultivator tidak bergantung pada makanan biasa, Tian Hei tetap memilih duduk. Memanjakan lidah sesekali bukanlah hal sia-sia—terutama setelah perjalanan panjang. Merek
Matahari baru saja menyembul dari ufuk timur kabut tipis masih menyelimuti jalanan batu, namun suasana di sana sudah mencekik. Tian Hei berjalan dengan langkah tenang, palu raksasa Pemusnah Surga dan besi panjang hitam tersampir di punggungnya, dibungkus kain hitam kasar. Di sampingnya, Xi Qianyue berjalan dengan jubah biru pucat yang berkibar tertiup angin fajar, wajahnya tertutup cadar, menyembunyikan rona pucat yang masih tersisa. Keduanya berjalan menuju gerbang kota dengan tenang, Namun di balik ketenangan itu, indra persepsi keduanya terbuka penuh. di pertengahan jalan, Xi Qianyue berbisik pelan kepada Tian Hei. "Apakah kau merasakannya juga?" Bisiknya. Dari saat meninggalkan Paviliun Awan Tenang ia telah merasakan ada seseorang yang mengawasinya. Tian Hei mengangguk tipis. “Tiga… tidak. Empat aura. Mereka menjaga jarak cukup jauh." Saat keduanya sampai di gerbang kota. Langkah mereka terhenti sepuluh meter sebelum gerbang. Bukan karena gerbang ditutup, melainka
Setelah mendapatkan informasi dari manajer rumah makan, terkait dunia luar. Tian Hei dan Xi Qianyue kembali ke Paviliun Awan Tenang. Kota ini mulai terasa seperti sarang lebah yang terusik, setiap pasang mata seolah mengikuti gerak-gerik "Si Iblis Pembantai" dengan ketakutan yang tertahan. Saat keduanya sampai di paviliun, keduanya langsung memasuki kamar mereka, Begitu pintu kamar VVIP tertutup rapat, Tian Hei tidak membuang waktu. Ia segera duduk bersila dan membentangkan gulungan kusam pemberian Lie Sha di atas meja kayu gaharu. "Seni Meramu Pil..." gumam Tian Hei, matanya menyapu baris demi baris aksara kuno itu. Xi Qianyue, yang duduk di tepi ranjang sambil mengatur napasnya yang masih berat, mengamati dengan saksama. "Alkimia bukan sekadar mencampur tanaman. Kau butuh dua hal dasar: Api Spiritual di dalam tubuh dan sebuah tungku yang mampu menahan tekanan energi. Tanpa itu, kau hanya akan gagal." Tian Hei terhenti pada satu bagian di gulungan tersebut. Benar kata Xi Qia







