INICIAR SESIÓNElla merasakan sakit yang tajam di bagian jantungnya, tetapi tidak lama kemudian rasa itu hilang begitu saja."Ka ... kamu melakukan apa padaku?" tanya Ella. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia menatap punggung Niveria sambil berkata, "Niver, kumohon beri aku kesempatan hidup. Aku benar-benar salah. Tolong ampuni aku. Bagaimanapun, kita tumbuh bersama sejak kecil.""Kamu ingat nggak? Waktu kamu umur 18 tahun, ada pria yang terus mengejarmu. Aku yang menghajarnya sampai dia berhenti mengganggumu!" Ella terus memohon.Niveria menghela napas panjang sebelum membalas, "Justru karena kita tumbuh bersama sejak kecil, aku nggak langsung membunuhmu. Kamu bisa hidup atau nggak, itu tergantung nasibmu sendiri."Setelah itu, Niveria berbicara sambil menggeleng, "Kelvin, ayo kita pergi."Kelvin mengangguk. Dia melirik Ella sambil berkata, "Kalau bukan karena Niveria, aku sudah membuatmu menjadi cairan mayat di sini."Dengan nada tenang, Kelvin melanjutkan, "Setengah jam lagi, efek jarum peraknya aka
Niveria menghela napas panjang, lalu berucap, "Pilih saja tempat untuk kuburanmu sendiri."Ella langsung tidak bisa menahan diri lagi. Air matanya mengalir deras.Ella adalah Nona Muda Keluarga Christian. Meskipun sudah berulang kali mengutus orang untuk membunuh Niveria selama ini, dia tidak pernah turun tangan langsung.Namun saat benar-benar menghadapi hidup dan mati seperti ini, Ella tidak mampu menahan diri lagi. Emosinya mulai runtuh."Maaf, Niver. Maafkan aku!" Pada saat ini, Ella berbicara sambil menangis, "Aku salah. Aku benar-benar salah. Aku nggak seharusnya serakah. Aku nggak seharusnya menginginkan harta tahap fondasi milikmu itu.""Sejak kapan kamu mengincarnya?" tanya Niveria dengan nada tetap tenang."Sejak ulang tahunmu yang ke-18. Waktu itu kami datang ke rumahmu untuk merayakan ulang tahunmu dan kakekmu memberimu giok itu." Ella memberi tahu, "Keluarga Christian punya beberapa catatan kuno. Aku pernah melihat catatan tentang giok itu. Itu adalah harta tahap fondasi,
Ekspresi Ella sedikit berubah. Di tangan kanannya, kekuatan sejati mulai mengalir. Dia hendak menghantam pintu mobil dan melompat keluar.Sebenarnya, Ella sudah mulai menyesal keluar lebih dulu.Sejak tadi Ella sudah merasa tatapan Kelvin tidak biasa, jadi dia buru-buru pergi agar tidak merasa tidak nyaman.Namun, justru itu memberikan celah bagi Kelvin dan Niveria.Kalau Ella tetap berada di tempat ramai, menurut aturan Pengawas Malam, Kelvin tidak akan berani bertindak terang-terangan, kecuali dia bisa melakukannya tanpa diketahui siapa pun.Hanya saja tak disangka, Ella malah pergi sendiri dan memberi kesempatan itu.Sekarang, Ella berniat menghantam pintu dan kabur.Mungkin wanita itu akan terluka, tetapi setidaknya nyawanya kemungkinan besar masih aman.Sayangnya pada saat itu, sebuah jarum perak kembali menusuk tubuh Ella. Tangan yang tadi dia angkat langsung kaku dan tidak bisa digerakkan."Mendingan kamu nurut," kata Kelvin."Niver, sebenarnya apa maksud suamimu ini?" tanya Ell
"Oke!" ucap Ella sambil mengangguk. "Omong-omong, untuk pernikahan ini kamu dapat cuti berapa hari dari keluargamu?""Cuma lima hari," jawab Veronika. "Setelah lima hari ini selesai, aku harus meninggalkan Kota Yanir dan kembali lagi ke Kota Sunsed. Banyak pekerjaan di sana yang tertunda."Di tengah percakapan itu, Niveria juga berjalan mendekat sambil berujar, "Veronika, aku dan Kelvin juga ada urusan, jadi pamit dulu. Oh ya, pil yang kami berikan jangan lupa diminum ketika kalian ada waktu luang. Itu benar-benar bagus!""Pasti!" Veronika membalas sambil mengangguk, "Nanti aku hubungi kamu."Di sampingnya, saat melihat Kelvin dan Niveria juga hendak pergi, ekspresi Ella langsung sedikit berubah. Dia buru-buru meninggalkan aula.Niveria berbicara sebentar lagi dengan Veronika, lalu menarik Kelvin dan segera keluar dari aula.Pada saat yang sama, mereka berjalan mengikuti Ella menuju area parkir.Ella jelas merasakan mereka berdua mengikutinya. Dia mulai panik dan tanpa sadar mempercepa
Sebagian besar orang di tempat itu sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Bagi mereka, itu hanya pertunjukan sulap biasa. Hanya saja trik terakhir tadi tidak terlalu berhasil.Namun secara keseluruhan, masih tetap mengesankan.Trik kartu remi sebelumnya dan berbagai pertunjukan lain sudah cukup membuat semua orang kagum.Kebanyakan tamu di sini memang orang kaya, tetapi tidak semua punya kesempatan berinteraksi dengan kultivator. Kalaupun pernah, biasanya mereka tidak menunjukkan kemampuan mereka secara terang-terangan.Jadi, hampir semua orang tetap merasa puas.Kecuali Ella.Gagal lagi. Percobaan pembunuhan itu kembali gagal.Tatapan Kelvin barusan entah kenapa membuatnya merasa takut.Di momen itu, Ella benar-benar yakin bahwa Kelvin jelas bukan orang desa biasa seperti yang terlihat.Ditambah lagi Ella teringat kejadian di Balai Munres, saat pemilik tempat itu langsung memberikan Kartu Emas kepada Kelvin. Identitas Kelvin terasa makin misterius.Ekspresi Ella pun beruba
Niveria merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun sudah berada di Tahap Pembukaan Batin, dia tidak punya pengalaman bertarung sama sekali. Perubahan mendadak ini membuatnya tidak sempat bereaksi dan dia hanya bisa berdiri terpaku di tempat.Kartu itu memelesat sangat cepat dan langsung menuju ke tengah dahinya."Sudah berakhir!" Senyum muncul di sudut bibir si pesulap."Sudah berakhir!" Ella juga tersenyum tipis. Dia bahkan sudah bersiap berdiri. Begitu Niveria mati, dia akan segera berlari mendekat dan memeluk tubuhnya, lalu diam-diam mengambil liontin di lehernya.Plak!Tiba-tiba, sebuah tangan muncul di depan Niveria.Hanya dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan, Kelvin menjepit kartu yang berputar dengan kecepatan tinggi itu. Di depan mata semua orang yang terkejut, kartu itu berhenti dan tidak bisa bergerak sama sekali."Hmm?"Senyum di wajah Ella langsung membeku.Di atas panggung, ekspresi Tarot juga berubah sedikit.Tarot sama sekali tidak merasakan adanya ali
"Selain itu di generasi Revan ini, cuma dia satu-satunya anak laki-laki. Ke depannya, dia pasti akan menjadi pewaris Keluarga Wijaya. Karena itu, seluruh Keluarga Wijaya sangat memanjakannya. Hal inilah yang membentuk kepribadiannya yang arogan dan semena-mena," kata Natasha sambil tersenyum pahit.
Ruang VIP itu sangat sunyi.Tiga orang itu duduk terpaku di kursi masing-masing. Di dalam mata mereka, hanya tersisa keputusasaan yang tak berujung.Kelvin memegang ponsel di tangannya. Di wajahnya, terpasang senyum tipis. Dia berkata dengan nada ramah, "Halo, aku Kelvin."Di seberang telepon, suasa
Keluarga Lorenz, Kota Jingawan!Saat ini di rumah Keluarga Lorenz, kepala keluarga yang hanya berstatus nama saja, Gino Lorenz, sedang mondar-mandir di dalam sebuah kamar.Di atas ranjang di sampingnya, ada seseorang yang sedang berbaring. Orang itu tidak lain adalah Karlo."Kenapa belum kembali jug
Adrian menatap ke arah Kelvin. Wajah dan sorot matanya dipenuhi keputusasaan, ketakutan, dan amarah!Yang membuat Adrian putus asa adalah karena dia mengira rencana yang disusunnya kali ini sudah sempurna tanpa celah. Namun kenyataannya, Kelvin justru berhasil membalikkan keadaan.Awalnya setelah te







