MasukSeorang pemuda berpakaian lusuh melesat membelah keheningan wilayah istana di atas punggung kuda kerdil.
“Cepat Liwa, jangan sampai kita ketinggalan tontonan menarik!” teriak Arga membuat sang kuda kerdil berlari seperti kesetanan.
Mendengar Arga, Liwa mengambil jalan memutar menuju alun-alun, jalanan itu selalu sepi karena melewati belakang wilayah istana.
Liwa mengambil jalan tersebut karena tidak ingin aksinya dilihat oleh orang lain.
“Hahaha, kau bahkan lebih cepat dari harimau Liwa, hebat,” puji Arga sembari tertawa senang di atas punggung Liwa.
“Oak, oak!” sang kuda kerdil menyombongkan diri.
Meski dia mengambil jalan memutar, namun dengan kecepatan Liwa, Arga dapat tiba di alun-alun tepat waktu.
Dia segera menarik tali kekang membuat Liwa seketika berhenti sebelum mencapai kerumunan warga.
Dari sana Arga berjalan kaki menuntun Liwa sampai ke pinggir pagar bambu, mereka berdua memutuskan menonton jauh di pojokan karena tidak ingin kembali dibuli para penduduk serta pegawai istana.
Terlebih Arga tidak ingin terlihat oleh prajurit kerajaan khawatir di antara mereka ada yang sedang mengincar nyawanya.
“Di sini sudah cukup bagi kita Liwa, hahaha, lihatlah! 2 pendekar di sana sepertinya penunggang yang hebat, dia melesat jauh melampaui para penunggang lain.” Arga menunjuk dua pendekar berpakaian biru dan putih yang sedang berada di barisan depan pacuan.
Ternyata saat Arga tiba, pacuan sudah dimulai satu putaran, sehingga dia masih bisa menyaksikan dua putaran tersisa karena dalam sayembara ini terdapat 3 putaran pacuan.
“Oak, oak,” ungkap si kuda dekil meledek, dia bilang bahwa kecepatan lari kuda-kuda di sana masih jauh dengan kecepatan dirinya.
“Hahaha, kau jangan membandingkan mereka dengan dirimu Liwa, kau memang kuda terbaik di kerajaan ini,” Arga tertawa.
Sayembara diikuti oleh berbagai pendekar dari semua wilayah kerajaan Bunisora.
Mereka merupakan para pendekar yang sengaja turun gunung hanya untuk mengikuti sayembara.
Tidak hanya pendekar pria, tetapi para pendekar wanita pun turut mengikutinya.
Dua orang yang ditunjuk oleh Arga merupakan murid dari dua perguruan terbesar di kerajaan Bunisora.
Pemuda yang berbaju biru bernama Waruna berasal dari perguruan Mata Budha, dia adalah pendekar muda berusia 23 tahun yang telah mencapai tingkat kanuragan bergelar.
Sementara yang berbaju putih bernama Jantaka, murid inti dari perguruan Sayap Dewa. Usianya lebih muda dari taruna, tetapi tingkat kanuragannya sungguh mengerikan, dia saat ini telah berada di tingkat pendekar bergelar tahap 7 yang merupakan tahap sempurna dari kependekaran bergelar.
Ada 8 tingkatan kependekaran di dunia persilatan. Antara lain tingkat Dasar, Taruna, Angin, Bergelar, Awal Tanding, Pilih Tanding, Langit, dan yang terakhir adalah Tanpa Tanding.
Butuh latihan 10 tahun bagi seorang pendekar dalam setiap tingkatannya, itu artinya, Jantaka dan Waruna merupakan pendekar sakti yang berbakat.
Selain kedua pendekar muda itu juga ada beberapa pendekar yang memiliki tingkatan kependekaran tinggi, dua di antaranya adalah perempuan yang berasal dari perguruan Melati Sakti.
Keduanya saat ini sedang berkuda di belakang Waruna dan Jantaka berusaha saling mengejar.
Tingkat kependekarannya memang baru berada di tingkat Angin, namun kemampuan berkuda gadis itu sungguh memukau, mereka melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan para pendekar lain.
Putaran kedua sudah terlewati, Arga yakin ke 4 pendekar itu pasti akan lolos di tahap ini.
Dia beberapa kali berdecak kagum kepada mereka, sayang Arga tidak bisa mengikuti sayembara karena bukan seorang pendekar.
400 kuda terus berlari memutari lapangan alun-alun, menciptakan jejak debu yang mengepul ke ketinggian.
Tetapi aneh, entah mengapa Arga mampu melihat semua kondisi mereka.
Bahkan Arga dapat merasakan hembusan nafas setiap penunggang, membuatnya tahu siapa saja diantara mereka yang akan menjadi pemenang.
Padahal jarak Arga dengan jalur pacuan sangatlah jauh sehingga tidak mungkin bagi orang lain dapat melakukannya, bahkan bagi pendekar sekalipun.
Jangankan untuk merasakan hembusan nafas, melihat jelas wajah penunggang saja bagi mereka akan sangat sulit dimana para panunggang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
“Sepertinya ada yang aneh dengan tubuhku Liwa, semakin lama menatap mereka, aku bahkan dapat merasakan detak jantung dan nadinya,” ungkap Arga pada Liwa.
“Oak, Oak,” tanggap si kuda kerdil.
“Entahlah, aku curiga ini semua karena penyakitku tempo hari,” jawab Arga.
“Oak?” kembali Liwa bertanya.
“Aku juga tidak tahu, jangankan keluarga, tempat asalku saja belum bisa kuingat,” kata Arga menjawab pertanyaan Liwa.
Mereka terus berbincang hingga tidak terasa pacuan kuda para pendekar sudah selesai.
Pengumuman pemenang-pun diumumkan oleh patih Taruma Jati, membuat seluruh penonton bersorak mendengarnya.
Tetapi bagi Arga, pengumuman itu sungguh tidak mengejutkannya karena jauh sebelum memasuki putaran ketiga, Arga sudah tahu siapa yang akan menjadi pemenang.
“Baiklah, bagi para peserta yang tidak masuk ke tahap kedua, silahkan untuk meninggalkan lapangan, dan untuk para pemenang, kalian diperbolehkan beristirahat selama setengah jam,” seru patih Taruma Jati.
300 peserta dengan kecewa meninggalkan lapangan pacuan, sementara 70 peserta lain harus ditandu karena mengalami kecelakaan.
Sebuah keberuntungan tidak ada yang tewas dalam kecelakaan tersebut, mereka hanya mengalami patah tulang saja dibagian lengan dan rusuk.
Sementara 30 pemenang langsung menempati bangku turnamen kanuragan, di sana mereka beristirahat sembari memakan hidangan yang sudah disediakan oleh abdi dalem kerajaan.
Melihat orang lain makan, Arga juga jadi merasa lapar karena sedari pagi dia belum mamasukan apa pun keperutnya, tetapi dia tidak memiliki uang untuk membeli makanan, membuat Arga harus keluar dari alun-alun menuju hutan kerajaan.
“Pertarungan para pendekar dimulai setengah jam lagi dari sekarang, sepertinya itu cukup untuk aku berburu Liwa,” ungkap Arga.
“Oak, Oak,” tanggap Liwa, dia menghentakan kedua kaki belakangnya menyuruh Arga untuk segera naik.
“Hahaha, terima kasih Liwa,” Arga tertawa senang.
Merekapun melesat menuju hutan kerajaan, Liwa tetap melalui jalur sebelumnya agar tidak terlihat oleh siapa pun.
Tiba di hutan, Arga turun tepat di tepi sungai, kali ini dia akan menangkap ikan karena lebih mudah dari pada berburu rusa.
“Tunggu di sini sebentar Liwa, aku akan menyelam dulu ke dalam air,” kata Arga kepada kuda dekil di sisinya.
“Oak, oak,” Liwa mengangguk seraya berjingkrak.
Mendengar itu Arga hanya tersenyum, kemudian dia segera membuka seluruh pakaian membuat tubuh kekar miliknya dapat dilihat oleh Liwa.
Walau sudah sering melihatnya, Liwa terus saja berdecak kagum memandangi Arga.
Seperti seorang pangeran, Arga memiliki tubuh yang mulus dan bersih, tetapi setiap otot tubuhnya mengatakan bahwa dia seorang pendekar.
Meski Arga tidak menyadari, Liwa sangat yakin sepertinya Arga adalah putra dari sepasang pendekar. Atau bahkan dia adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan.
“Oii! mengapa kau memandangiku seperti itu? Bukankah kita sama-sama pria? Cepat berbalik, tatapanmu membuatku takut kuda cabul,” seru Arga mengagetkan lamunan Liwa.
**
Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam
“Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter
“Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah
“Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi
“Lepaskan aku! apa yang ingin kau lakukan dasar cabul?” Mutiara Sendayu terus meronta ingin terlepas dari pegangan Arga.“Dasar bodoh! Berhenti memanggilku cabul, semua yang terjadi di antara kita adalah ketidak sengajaan,” ketus Arga.Dia masih melesat menyusuri langit menghindari kejaran Kala Hitam dan kelompoknya.“Cih! Aku tidak percaya, buktinya ini kau sedang merangkul tubuhku,” Mutiara Sendayu masih meronta.“Sial! Menyesal aku membebaskan totokannya,” umpat Arga di dalam hati.Karena Mutiara Sendayu tidak bisa diam, Arga-pun berhenti, “Lihatlah! Jika kau kulepaskan, maka mereka akan kembali menangkapmu. Apa kau ingin berakhir dijadikan tumbal?” ungkap Arga sembari menunjuk kelompok Kala Hitam dengan pedangnya, membuat Mutiara Sendayu sontak membelalakan mata.Sedari tadi gadis itu baru sadar bahwa Arga telah menolongnya, sehingga setelah mengetahui itu, Mutiara Sendayu langsung tertunduk malu.“Ma-ma—maaf,” ungkap Mutiara Sendayu lemas.“Sekarang sudah telambat, mereka telah k
Dengan pedang hitam di pundaknya, Arga melesat menyusuri langit mengejar kelompok pendekar Walet Darah yang membawa Mutiara Sendayu.Beruntung Arga pernah bersentuhan bibir dengan gadis itu sehingga meski sudah jauh, Arga masih dapat merasakan hawa energinya, di mana saat itu, secara tidak sengaja mereka telah bertukar energi.“Ternyata mereka pergi ke arah barat,” gumam Arga.Langit senja mulai gelap berganti malam, tetapi semua itu bukan halangan bagi Arga karena matanya mampu menembus kegelapan.Arga memacu tubuhnya agar dapat melesat lebih cepat, dia bahkan menggabungkan teknik lompatan langit dengan ilmu terbang yang pernah dirinya pelajari dari Resi Satya Raga.Belajar sembari menyeimbangkan tubuh dalam kecepatan tinggi sungguh sulit membuat Arga beberapa kali mengalami kegagalan.Tetapi karena kegigihannya, Arga akhirnya mampu menggabungkan dua jurus tersebut sehingga kecepatan terbang Arga bertambah beberapa kali lipat.Wuuussss!Arga melesat bagai cahaya menembus pekatnya mal







