Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 10 Sayembara Bagian 2

Share

Bab 10 Sayembara Bagian 2

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-18 19:53:25

Seorang pemuda berpakaian lusuh melesat membelah keheningan wilayah istana di atas punggung kuda kerdil.

“Cepat Liwa, jangan sampai kita ketinggalan tontonan menarik!” teriak Arga membuat sang kuda kerdil berlari seperti kesetanan.

Mendengar Arga, Liwa mengambil jalan memutar menuju alun-alun, jalanan itu selalu sepi karena melewati belakang wilayah istana.

Liwa mengambil jalan tersebut karena tidak ingin aksinya dilihat oleh orang lain.

“Hahaha, kau bahkan lebih cepat dari harimau Liwa, hebat,” puji Arga sembari tertawa senang di atas punggung Liwa.

“Oak, oak!” sang kuda kerdil menyombongkan diri.

Meski dia mengambil jalan memutar, namun dengan kecepatan Liwa, Arga dapat tiba di alun-alun tepat waktu.

Dia segera menarik tali kekang membuat Liwa seketika berhenti sebelum mencapai kerumunan warga.

Dari sana Arga berjalan kaki menuntun Liwa sampai ke pinggir pagar bambu, mereka berdua memutuskan menonton jauh di pojokan karena tidak ingin kembali dibuli para penduduk serta pegawai istana.

Terlebih Arga tidak ingin terlihat oleh prajurit kerajaan khawatir di antara mereka ada yang sedang mengincar nyawanya.

“Di sini sudah cukup bagi kita Liwa, hahaha, lihatlah! 2 pendekar di sana sepertinya penunggang yang hebat, dia melesat jauh melampaui para penunggang lain.” Arga menunjuk dua pendekar berpakaian biru dan putih yang sedang berada di barisan depan pacuan.

Ternyata saat Arga tiba, pacuan sudah dimulai satu putaran, sehingga dia masih bisa menyaksikan dua putaran tersisa karena dalam sayembara ini terdapat 3 putaran pacuan.

“Oak, oak,” ungkap si kuda dekil meledek, dia bilang bahwa kecepatan lari kuda-kuda di sana masih jauh dengan kecepatan dirinya.

“Hahaha, kau jangan membandingkan mereka dengan dirimu Liwa, kau memang kuda terbaik di kerajaan ini,” Arga tertawa.

Sayembara diikuti oleh berbagai pendekar dari semua wilayah kerajaan Bunisora.

Mereka merupakan para pendekar yang sengaja turun gunung hanya untuk mengikuti sayembara.

Tidak hanya pendekar pria, tetapi para pendekar wanita pun turut mengikutinya.

Dua orang yang ditunjuk oleh Arga merupakan murid dari dua perguruan terbesar di kerajaan Bunisora.

Pemuda yang berbaju biru bernama Waruna berasal dari perguruan Mata Budha, dia adalah pendekar muda berusia 23 tahun yang telah mencapai tingkat kanuragan bergelar.

Sementara yang berbaju putih bernama Jantaka, murid inti dari perguruan Sayap Dewa. Usianya lebih muda dari taruna, tetapi tingkat kanuragannya sungguh mengerikan, dia saat ini telah berada di tingkat pendekar bergelar tahap 7 yang merupakan tahap sempurna dari kependekaran bergelar.

Ada 8 tingkatan kependekaran di dunia persilatan. Antara lain tingkat Dasar, Taruna, Angin, Bergelar, Awal Tanding, Pilih Tanding, Langit, dan yang terakhir adalah Tanpa Tanding.

Butuh latihan 10 tahun bagi seorang pendekar dalam setiap tingkatannya, itu artinya, Jantaka dan Waruna merupakan pendekar sakti yang berbakat.

Selain kedua pendekar muda itu juga ada beberapa pendekar yang memiliki tingkatan kependekaran tinggi, dua di antaranya adalah perempuan yang berasal dari perguruan Melati Sakti.

Keduanya saat ini sedang berkuda di belakang Waruna dan Jantaka berusaha saling mengejar.

Tingkat kependekarannya memang baru berada di tingkat Angin, namun kemampuan berkuda gadis itu sungguh memukau, mereka melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan para pendekar lain.

Putaran kedua sudah terlewati, Arga yakin ke 4 pendekar itu pasti akan lolos di tahap ini.

Dia beberapa kali berdecak kagum kepada mereka, sayang Arga tidak bisa mengikuti sayembara karena bukan seorang pendekar.

400 kuda terus berlari memutari lapangan alun-alun, menciptakan jejak debu yang mengepul ke ketinggian.

Tetapi aneh, entah mengapa Arga mampu melihat semua kondisi mereka.

Bahkan Arga dapat merasakan hembusan nafas setiap penunggang, membuatnya tahu siapa saja diantara mereka yang akan menjadi pemenang.

Padahal jarak Arga dengan jalur pacuan sangatlah jauh sehingga tidak mungkin bagi orang lain dapat melakukannya, bahkan bagi pendekar sekalipun.

Jangankan untuk merasakan hembusan nafas, melihat jelas wajah penunggang saja bagi mereka akan sangat sulit dimana para panunggang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

“Sepertinya ada yang aneh dengan tubuhku Liwa, semakin lama menatap mereka, aku bahkan dapat merasakan detak jantung dan nadinya,” ungkap Arga pada Liwa.

“Oak, Oak,” tanggap si kuda kerdil.

“Entahlah, aku curiga ini semua karena penyakitku tempo hari,” jawab Arga.

“Oak?” kembali Liwa bertanya.

“Aku juga tidak tahu, jangankan keluarga, tempat asalku saja belum bisa kuingat,” kata Arga menjawab pertanyaan Liwa.

Mereka terus berbincang hingga tidak terasa pacuan kuda para pendekar sudah selesai.

Pengumuman pemenang-pun diumumkan oleh patih Taruma Jati, membuat seluruh penonton bersorak mendengarnya.

Tetapi bagi Arga, pengumuman itu sungguh tidak mengejutkannya karena jauh sebelum memasuki putaran ketiga, Arga sudah tahu siapa yang akan menjadi pemenang.

“Baiklah, bagi para peserta yang tidak masuk ke tahap kedua, silahkan untuk meninggalkan lapangan, dan untuk para pemenang, kalian diperbolehkan beristirahat selama setengah jam,” seru patih Taruma Jati.

300 peserta dengan kecewa meninggalkan lapangan pacuan, sementara 70 peserta lain harus ditandu karena mengalami kecelakaan.

Sebuah keberuntungan tidak ada yang tewas dalam kecelakaan tersebut, mereka hanya mengalami patah tulang saja dibagian lengan dan rusuk.

Sementara 30 pemenang langsung menempati bangku turnamen kanuragan, di sana mereka beristirahat sembari memakan hidangan yang sudah disediakan oleh abdi dalem kerajaan.

Melihat orang lain makan, Arga juga jadi merasa lapar karena sedari pagi dia belum mamasukan apa pun keperutnya, tetapi dia tidak memiliki uang untuk membeli makanan, membuat Arga harus keluar dari alun-alun menuju hutan kerajaan.

“Pertarungan para pendekar dimulai setengah jam lagi dari sekarang, sepertinya itu cukup untuk aku berburu Liwa,” ungkap Arga.

“Oak, Oak,” tanggap Liwa, dia menghentakan kedua kaki belakangnya menyuruh Arga untuk segera naik.

“Hahaha, terima kasih Liwa,” Arga tertawa senang.

Merekapun melesat menuju hutan kerajaan, Liwa tetap melalui jalur sebelumnya agar tidak terlihat oleh siapa pun.

Tiba di hutan, Arga turun tepat di tepi sungai, kali ini dia akan menangkap ikan karena lebih mudah dari pada berburu rusa.

“Tunggu di sini sebentar Liwa, aku akan menyelam dulu ke dalam air,” kata Arga kepada kuda dekil di sisinya.

“Oak, oak,” Liwa mengangguk seraya berjingkrak.

Mendengar itu Arga hanya tersenyum, kemudian dia segera membuka seluruh pakaian membuat tubuh kekar miliknya dapat dilihat oleh Liwa.

Walau sudah sering melihatnya, Liwa terus saja berdecak kagum memandangi Arga.

Seperti seorang pangeran, Arga memiliki tubuh yang mulus dan bersih, tetapi setiap otot tubuhnya mengatakan bahwa dia seorang pendekar.

Meski Arga tidak menyadari, Liwa sangat yakin sepertinya Arga adalah putra dari sepasang pendekar. Atau bahkan dia adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan.

“Oii! mengapa kau memandangiku seperti itu? Bukankah kita sama-sama pria? Cepat berbalik, tatapanmu membuatku takut kuda cabul,” seru Arga mengagetkan lamunan Liwa.

 **

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 45 Serangan tak terduga

    “Dia tewas terkena anak panah beracun,” gumam Arga lirih di dalam hati.Setelah memastikan kondisi perempuan tersebut, Arga kemudian kembali menghampiri Julman dan Sulastri.“Ibu kalian benar-benar sedang sakit, sebaiknya ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat dengan tenang,” ungkap Arga.Arga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tidak tega melihat kondisi Julman dan Sulastri masih sangat kecil.“Apakah ibu akan sembuh kak? Benarkan, kak?” Sulastri bertanya dengan semangat.Mendapati itu Arga segera memalingkan wajah karena setetes air matanya terjatuh tidak mampu dibendung lagi.“Ibu Sulastri pasti akan sehat,” jawab Arga lirih.“Hore!” sang gadis kecil kembali melompat riang.Begitu juga dengan Julman, mereka berpelukan melompat-lompat kegirangan.Arga kemudian membawa mereka keluar kamar.“Bagaimana?” tanya putri Anandya.Arga tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia menggeleng dengan air mata menggenang menunjukkan kesedihan.Jantaka langsung menunduk mengerti apa yang

  • Sang Kusir   Bab 44 Kenyataan Memilukan

    “Itu kediamanku, kak Arga, aku ingin memperkenalkan kakak kepada ibu, mohon mampirlah,” pinta Julman.“Maaf adik kecil, kakak-kakak ini sedang dalam perjalanan menjalankan misi, jadi kami tidak bisa mampir,” ungkap putri Anandya menjawab pertanyaan Julman.Dia mengatakan itu karena dalam upacara kedewasaan tidak boleh singgah ke sembarang tempat sesuka hati, menyelesaikan upacara adalah tujuan utama.Mendengar itu Julman tentu saja sedih, padahal dia ingin mempertemukan teman satu-satunya yang telah menolong dia pada sang ibu.“Tidak apa Julman, kakak akan mampir,” potong Arga membuat Julman melompat senang.“Benarkah, benarkah?” anak kecil itu bertanya cepat.“Benar, bukankah ibumu tengah sakit?” Arga balik bertanya.“Benar kak Arga,” jawab Julman Lirih.“Baiklah, ayo pulang,” kata Arga sembari mengangkat bangkai rusa ke pundaknya.“Arga!” seru putri Anandya sedikit berbisik.“Ada apa tuan putri?” jawab Arga.“Dirimu tidak bisa berbuat seenaknya! Kita sedang dalam perjalanan menjalan

  • Sang Kusir   Bab 43 Kampung Teritis

    “Ma-ma—maaf tuan putri, semalam anda yang …,” Plak!Arga terkena tamparan keras dari putri Anandya, membuat Jantaka melebarkan mata menyaksikannya.Tidak bisa menjelaskan apa-apa, Arga hanya dapat tertunduk lemas menerima kemarahan gadis itu.“Jangan mentang-mentang telah beberapa kali menyelamatkanku kau bisa berbuat se-enaknya, dasar pemuda cabul!” teriak putri Anandya.“Maaf tuan putri, itu bukan kesalahan Arga, semalam Anda sendiri yang memeluknya dan bahkan anda tidur di atas tubuh Arga tanpa bisa di lepaskan,” jelas Jantaka tidak tega melihat temannya terus dimaki.“Kau juga sama saja tuan pendekar! Mana mungkin aku …,” teriakan putri Anandya terhenti saat samar-samar mengingat kejadian semalam.Bersamaan dengan itu wajahnya langsung memucat merasa malu karena telah menampar Arga.“Apa yang aku lakukan?” gumam putri Anandya di dalam hati.Beberapa kali dia mengumpati dirinya sendiri karena telah tega menampar orang yang menolongnya.Gadis itu kini masih menunduk tidak berani men

  • Sang Kusir   Bab 42 Perkara Posisi

    Malam di hutan kabut sangat lah dingin terlebih saat ini sedang musim bersalju membuat udara di sana dapat membekukan siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak terkecuali pohon, ranting bahkan bebatuan pun ikut membeku terlapisi es, sementara dedaunan di atas pohon tertimbun butiran salju.hutan itu juga senantiasa di tutupi kabut tipis setiap waktu sehingga jarak pandang di sana sangat terbatas.Meski telah mengenakan selimut, tubuh putri Anandya menggigil di atas kereta, dia mengalami hipotermia berat akibat suhu yang terlalu ekstrem.Sementara Arga saat itu tengah membuat perapian di bawah pohon berukuran besar.“Apa sudah selesai Arga? Cepatlah! Tubuh tuan putri semakin memprihatinkan,” teriak Jantaka di atas kereta panik.Wajah putri Anandya memang telah memucat, bibir merahnya memutih serta terdapat banyak retakan.Jantaka terus mengalirkan energi tenaga dalam tetapi entah mengapa di tubuh sang putri energi itu seakan tidak berguna.“Sebentar lagi!” teriak Arga terburu-buru.“Sia

  • Sang Kusir   Bab 41 Aku Pendamping Kusir Kalian

    “Sama-sama, kau tidak usah sungkan,” jawab Arga sembari berlalu menuju tempat Liwa.Begitu pun dengan Jantaka, dia berlari menuju kereta kuda.Tetapi ketika pemuda itu akan naik ke atas kereta, tiba-tiba saja dirinya ingat bagaimana cara Arga bisa ke sana? Dan apa tujuannya? Bukankah tadi dia bilang hari ini baru saja dari kerajaan?Dipenuhi berbagai pertanyaan di kepalanya membuat Jantaka langsung kembali berbalik ke arah Arga.“Ar …? Ke mana dia?” gumam Jantaka heran mendapati Arga dan kuda putih sudah lenyap dari pandangan.“Dirimu mencari siapa teman?” tanya Arga yang tiba-tiba sudah berada di dekat kereta, sehingga Jantaka kembali membalikkan badan.“Bagaimana? Ah … sial, kau memang aneh layaknya hantu yang gentayangan,” umpat Jantaka tidak mengerti.Arga baginya memang sebuah misteri, selain sosoknya yang penuh tanda tanya, tingkat kanuragan pemuda itu juga berubah-ubah.Pertama Jantaka bertemu dengannya, Arga masih belum memiliki kanuragan sehingga dia menganggapnya hanya manus

  • Sang Kusir   Bab 40 Jurus Pedang Kebalikan

    Saat pria bungkuk melepaskan serangan energi golok hantu, Arga waktu itu tidak memiliki pilihan lain untuk menghindar selain mengeluarkan jurus pedang kebalikan tahap ke 2.Meski belum sempurna dan akan melukai dirinya sendiri, Arga tetap melakukannya karena terdesak keadaan.“Jurus pedang kebalikan tahap 2, pertukaran gelombang!” teriak Arga.Dia menyilangkan sarung tangan dewa perang sembari melesat ke depan menyambut serangan lawan.Membuat sinar energi merah dengan telak menghantamnya.Tetapi aneh sinar merah tersebut tidak beraksi apa -apa sehingga Arga masih berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun.Namun sesaat kemudian, terdengar teriakan melengking dari pria bungkuk yang hendak meregang nyawa.Aaaaaaa! Tidak mungkin! Bagaima …. Buum!Tubuh pria bungkuk meledak menjadi serpihan tanpa tahu siapa yang menyerangnya.“Aku berhasil menguasainya,” gumam Arga senang.Tetapi beberapa tarikan nafas berikutnya, Ukhuk! Arga memuntahkan darah segar terkena luka dalam karena memaksakan jur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status