LOGINPengalamannya selama 4 tahun bertahan hidup di kerajaan Bunisora membuat Arga mampu menyatu dengan alam.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi dia menangkap ikan, Arga dapat berenang cepat dan menangkap ikan menggunakan jari-jemarinya.
“Sepertinya ini sudah cukup,” gumam Arga seraya menggenggam dua ikan besar di tangannya.
Pemuda itu kemudian naik ke permukaan berniat membakar ikan, tetapi alangkah terkejutnya Arga mendapati seorang gadis sudah berdiri menunggunya di sisi Liwa.
Dia mengenakan pakaian mewah berwarna ungu muda dengan sebuah pedang terselip di pinggangnya.
Wajahnya sungguh cantik tetapi tidak secantik putri Anandya. Meski begitu, bisa dibilang dia memiliki kecantikan sempurna melebihi gadis lain pada umumnya.
Tubuhnya tinggi dengan dada berisi, memiliki rambut panjang berwarna hitam sedikit bergelombang. Rambut itu terurai ke belakang dengan poni depan pendek menutupi keningnya yang mulus.
“Si-si—siapa kau? Mengapa berada di sini?” tanya Arga sedikit terbata.
Arga mengenali gadis itu adalah salah satu peserta lomba yang tadi dia perhatikan.
Tidak disangka, sepertinya gadis itu memang mengikuti Arga sampai ke hutan kerajaan.
“Mmmm! Siapa aku tidak penting, tapi aku sangat tertarik denganmu tuan muda,” sapa gadis itu seraya tersenyum lembut membuat Arga semakin takut mendapatinya.
“Jangan bercanda! Aku hanya seorang pegawai rendahan saja, tidak mungkin kau tertarik padaku. Dan satu lagi jangan panggil aku tuan muda,” tanggap Arga tidak percaya.
Arga tidak berani naik lebih jauh ke permukaan karena tubuhnya sedang dalam keadaan telanjang. Terlebih yang ada di hadapannya adalah seorang gadis, tidak mungkin Arga menampakkan tubuhnya.
“Hahaha, apa aku terlihat peduli dengan statusmu? Kau jangan salah sangka tuan muda. Aku hanya peduli pada kemampuan berkudamu,” ungkap gadis itu membuat Arga malu tidak terkira mendengarnya.
“A-a—aku tidak bermaksud begitu, ak—aku hanya …,”
“Sudahlah! Cepat naik, kau akan mati kedinginan jika terus di dalam air, sekarang sudah masuk musim dingin, mungkin tiga hari lagi akan turun salju,” seru gadis itu sembari membalikkan badan.
Sementara jauh di dalam hatinya dia tersenyum bahagia mendengar Arga, namun tentu saja tidak akan diungkapkan karena malu.
Mendapati itu, dengan ragu Arga perlahan berjalan ke daratan. Setelah memastikan gadis tersebut benar-benar tidak berbalik, Arga dengan cepat mengambil pakaian lusuhnya dan langsung mengenakannya.
“Sekarang jelaskan padaku mengapa kau mengejarku sampai kemari,” ucap Arga memulai pembicaraan, membuat gadis pendekar di depannya segera berbalik dan berjalan mendekatinya.
Meski sedikit merinding, Arga mencoba tegar membiarkan gadis itu duduk di atas batu yang ada di sisinya.
“Bukankah sudah kubilang aku tertarik padamu.”
“Itu …? Itu tidak membantu menjelaskan alasanmu. Aku menonton sayembara dan pergi ke sini secara diam-diam, mengapa kau mengetahuinya?”
“Hahaha, sungguh pintar! Tidak salah aku tertarik padamu. Baiklah aku akan jujur,” ungkap sang gadis.
“Aku merasakan ada aura aneh yang tidak mungkin dirasakan oleh orang lain dari tubuhmu, itulah mengapa aku bisa menemukanmu di sini,” sambung sang gadis membuat Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak mengerti maksudmu, jika yang kau maksud aura itu adalah bau kotoran kuda, aku memang memilikinya karena aku seorang pengurus kuda,” sergah Arga yang memang tidak mengerti.
Hampir saja sang gadis pendekar muntah darah mendengar itu, dia terbatuk sebanyak dua kali sebelum akhirnya menutup mulut menahan tawa.
“Sudahlah! Percuma saja aku jelaskan, untuk sekarang tuan muda memang tidak akan mengerti.” Kata sang gadis kemudian.
Selanjutnya dia mengenalkan diri bernama Ariani, cucu dari sesepuh padepokan Melati sakti. Dia berangkat menuju kerajaan tiada lain hanya untuk menemani 2 kakak seperguruannya mengikuti sayembara.
Namun tidak disangka, kedua kakaknya itu malah mendaftarkan Ariani, membuat dia terpaksa mengikuti sayembara.
Mereka mengikuti sayembara untuk mendapatkan koin emas karena padepokannya sedang membutuhkan banyak biaya dalam membangun gedung baru.
“Sekarang siapa namamu tuan muda? Tanya Ariani pada Arga.
“Aku tidak tahu siapa namaku, kau bisa memanggilku Arga, pengurus kuda kerajaan,” jawab Arga.
Ariani hanya tersenyum mendengar itu, dia penasaran mengapa Arga mengatakan tidak tahu namanya. Namun sayang, Ariani tidak bisa berbincang lebih lama karena waktu pertarungan sayembara sebentar lagi akan dimulai.
“Senang berbicara denganmu tuan muda, tapi aku harus segera kembali,” ungkap Ariani menutup pembicaraan.
“Sudah kukatakan jangan panggil aku tuan muda, kau akan membuat orang lain salah paham terhadapku,” sergah Arga.
“Hahaha, aku tidak peduli, ini makanlah! Tuan muda tidak akan memiliki waktu membakar ikan-ikan itu,” Ariani tertawa sembari menyerahkan sepotong roti dari balik pakaiannya.
“Ini …?” Arga membelalakkan mata melihat roti tersebut, di mana dalam 3 tahun terakhir, dia tidak pernah memakan makanan mewah selain ikan dan daging bakar. Itu-pun Arga masak tanpa garam karena dia tidak memiliki uang untuk membelinya.
“Benar, terimalah! Jangan khawatir, ini adalah bekalku dari padepokan, jadi tidak mungkin beracun,” ucap Ariani tersenyum lembut membuat Arga sedikit malu menerimanya.
Karena Arga terlihat ragu, Ariani meraih tangan Arga dan memberikan roti itu, kemudian dia melesat cepat meninggalkan hutan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
“Te-te—terima kasih,” gumam Arga menatap punggung Ariani yang kini hilang di balik kerimbunan hutan.
“Oak, oak,” Liwa bersuara mengagetkan lamunan Arga.
“Dasar tidak setia kawan, mengapa kau tidak memberitahuku Liwa,” tanya Arga kesal.
“Oak.” Jawab Liwa yang tidak ingin kemampuannya diketahui oleh orang lain.
“Sudahlah, lain kali kau segera beritahu aku, bagaimana jika dia adalah orang jahat? Apa kau ingin aku mati dibunuhnya?” ketus Arga.
“Oak, aok,” kuda dekil menyeringai penuh makna, membuat Arga dua kali terbatuk mendengarnya.
Arga tidak lagi membahas kedatangan Ariani, dia segera menikmati roti pemberian gadis itu.
Dalam suapan pertama, matanya seketika berkaca-kaca merasakan kenikmatan makanan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
Arga menghabiskan roti tersebut dengan lahap, dia sangat berterima kasih kepada Ariani, tanpa sadar mulutnya bergumam mendoakan Ariani berharap dia dapat memenangkan sayembara.
“Oak, oak,” seru Liwa.
“Sial, kau benar Liwa, aku lupa! roti dari Ariani sungguh enak sehingga aku tidak sadar tentang sayembara, ayo cepat! kita harus segera tiba di sana,” Arga langsung melompat ke atas punggung Liwa.
Tanpa digerakkan tali kekang, kuda dekil segera melesat menuju alun-alun kerajaan.
Sementara jauh di luar gerbang kerajaan, seorang pendekar secara diam-diam sedang menemui Senopati Rajo.
“Apa kau berhasil mendapatkannya, Genta?” tanya Senopati Rajo.
“Tentu saja tuan Rajo, ini!” pendekar yang bernama Genta tersebut langsung memberikan sebuah botol kecil dari keramik yang berisi cairan.
“Apa benar ini racunnya?” kembali Senopati Rajo memastikan.
“Benar tuan, ini adalah racun arwah, kuda yang meminumnya akan langsung menggila karena kerasukan banyak arwah siluman,” jawab Genta.
“Hahaha, racun arwah! Ternyata benar ada racun yang dapat mengundang arwah,” Senopati Rajo tersenyum senang.
Dia segera memberikan sekantung koin emas kepada Genta, kemudian mereka berpisah menuju arah yang berbeda.
Senopati Rajo melesat masuk ke dalam kerajaan, sementara Genta melesat menuju arah gunung Lawu, sosoknya dalam sekejap lenyap di telan jarak.
**
Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid
Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda
Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,
Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h
Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b
Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b







