Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 11 Ariani

Share

Bab 11 Ariani

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-19 20:30:35

Pengalamannya selama 4 tahun bertahan hidup di kerajaan Bunisora membuat Arga mampu menyatu dengan alam.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi dia menangkap ikan, Arga dapat berenang cepat dan menangkap ikan menggunakan jari-jemarinya.

“Sepertinya ini sudah cukup,” gumam Arga seraya menggenggam dua ikan besar di tangannya.

Pemuda itu kemudian naik ke permukaan berniat membakar ikan, tetapi alangkah terkejutnya Arga mendapati seorang gadis sudah berdiri menunggunya di sisi Liwa.

Dia mengenakan pakaian mewah berwarna ungu muda dengan sebuah pedang terselip di pinggangnya.

Wajahnya sungguh cantik tetapi tidak secantik putri Anandya. Meski begitu, bisa dibilang dia memiliki kecantikan sempurna melebihi gadis lain pada umumnya.

Tubuhnya tinggi dengan dada berisi, memiliki rambut panjang berwarna hitam sedikit bergelombang. Rambut itu terurai ke belakang dengan poni depan pendek menutupi keningnya yang mulus.

“Si-si—siapa kau? Mengapa berada di sini?” tanya Arga sedikit terbata.

Arga mengenali gadis itu adalah salah satu peserta lomba yang tadi dia perhatikan.

Tidak disangka, sepertinya gadis itu memang mengikuti Arga sampai ke hutan kerajaan.

“Mmmm! Siapa aku tidak penting, tapi aku sangat tertarik denganmu tuan muda,” sapa gadis itu seraya tersenyum lembut membuat Arga semakin takut mendapatinya.

“Jangan bercanda! Aku hanya seorang pegawai rendahan saja, tidak mungkin kau tertarik padaku. Dan satu lagi jangan panggil aku tuan muda,” tanggap Arga tidak percaya.

Arga tidak berani naik lebih jauh ke permukaan karena tubuhnya sedang dalam keadaan telanjang. Terlebih yang ada di hadapannya adalah seorang gadis, tidak mungkin Arga menampakkan tubuhnya.

“Hahaha, apa aku terlihat peduli dengan statusmu? Kau jangan salah sangka tuan muda. Aku hanya peduli pada kemampuan berkudamu,” ungkap gadis itu membuat Arga malu tidak terkira mendengarnya.

“A-a—aku tidak bermaksud begitu, ak—aku hanya …,”

“Sudahlah! Cepat naik, kau akan mati kedinginan jika terus di dalam air, sekarang sudah masuk musim dingin, mungkin tiga hari lagi akan turun salju,” seru gadis itu sembari membalikkan badan.

Sementara jauh di dalam hatinya dia tersenyum bahagia mendengar Arga, namun tentu saja tidak akan diungkapkan karena malu.

Mendapati itu, dengan ragu Arga perlahan berjalan ke daratan. Setelah memastikan gadis tersebut benar-benar tidak berbalik, Arga dengan cepat mengambil pakaian lusuhnya dan langsung mengenakannya.

“Sekarang jelaskan padaku mengapa kau mengejarku sampai kemari,” ucap Arga memulai pembicaraan, membuat gadis pendekar di depannya segera berbalik dan berjalan mendekatinya.

Meski sedikit merinding, Arga mencoba tegar membiarkan gadis itu duduk di atas batu yang ada di sisinya.

“Bukankah sudah kubilang aku tertarik padamu.”

“Itu …? Itu tidak membantu menjelaskan alasanmu. Aku menonton sayembara dan pergi ke sini secara diam-diam, mengapa kau mengetahuinya?”

“Hahaha, sungguh pintar! Tidak salah aku tertarik padamu. Baiklah aku akan jujur,” ungkap sang gadis.

“Aku merasakan ada aura aneh yang tidak mungkin dirasakan oleh orang lain dari tubuhmu, itulah mengapa aku bisa menemukanmu di sini,” sambung sang gadis membuat Arga mengerutkan kening.

“Aku tidak mengerti maksudmu, jika yang kau maksud aura itu adalah bau kotoran kuda, aku memang memilikinya karena aku seorang pengurus kuda,” sergah Arga yang memang tidak mengerti.

Hampir saja sang gadis pendekar muntah darah mendengar itu, dia terbatuk sebanyak dua kali sebelum akhirnya menutup mulut menahan tawa.

“Sudahlah! Percuma saja aku jelaskan, untuk sekarang tuan muda memang tidak akan mengerti.” Kata sang gadis kemudian.

Selanjutnya dia mengenalkan diri bernama Ariani, cucu dari sesepuh padepokan Melati sakti. Dia berangkat menuju kerajaan tiada lain hanya untuk menemani 2 kakak seperguruannya mengikuti sayembara.

Namun tidak disangka, kedua kakaknya itu malah mendaftarkan Ariani, membuat dia terpaksa mengikuti sayembara.

Mereka mengikuti sayembara untuk mendapatkan koin emas karena padepokannya sedang membutuhkan banyak biaya dalam membangun gedung baru.

“Sekarang siapa namamu tuan muda? Tanya Ariani pada Arga.

“Aku tidak tahu siapa namaku, kau bisa memanggilku Arga, pengurus kuda kerajaan,” jawab Arga.

Ariani hanya tersenyum mendengar itu, dia penasaran mengapa Arga mengatakan tidak tahu namanya. Namun sayang, Ariani tidak bisa berbincang lebih lama karena waktu pertarungan sayembara sebentar lagi akan dimulai.

“Senang berbicara denganmu tuan muda, tapi aku harus segera kembali,” ungkap Ariani menutup pembicaraan.

“Sudah kukatakan jangan panggil aku tuan muda, kau akan membuat orang lain salah paham terhadapku,” sergah Arga.

“Hahaha, aku tidak peduli, ini makanlah! Tuan muda tidak akan memiliki waktu membakar ikan-ikan itu,” Ariani tertawa sembari menyerahkan sepotong roti dari balik pakaiannya.

“Ini …?” Arga membelalakkan mata melihat roti tersebut, di mana dalam 3 tahun terakhir, dia tidak pernah memakan makanan mewah selain ikan dan daging bakar. Itu-pun Arga masak tanpa garam karena dia tidak memiliki uang untuk membelinya.

“Benar, terimalah! Jangan khawatir, ini adalah bekalku dari padepokan, jadi tidak mungkin beracun,” ucap Ariani tersenyum lembut membuat Arga sedikit malu menerimanya.

Karena Arga terlihat ragu, Ariani meraih tangan Arga dan memberikan roti itu, kemudian dia melesat cepat meninggalkan hutan menggunakan ilmu meringankan tubuh.

“Te-te—terima kasih,” gumam Arga menatap punggung Ariani yang kini hilang di balik kerimbunan hutan.

“Oak, oak,” Liwa bersuara mengagetkan lamunan Arga.

“Dasar tidak setia kawan, mengapa kau tidak memberitahuku Liwa,” tanya Arga kesal.

“Oak.” Jawab Liwa yang tidak ingin kemampuannya diketahui oleh orang lain.

“Sudahlah, lain kali kau segera beritahu aku, bagaimana jika dia adalah orang jahat? Apa kau ingin aku mati dibunuhnya?” ketus Arga.

“Oak, aok,” kuda dekil menyeringai penuh makna, membuat Arga dua kali terbatuk mendengarnya.

Arga tidak lagi membahas kedatangan Ariani, dia segera menikmati roti pemberian gadis itu.

Dalam suapan pertama, matanya seketika berkaca-kaca merasakan kenikmatan makanan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Arga menghabiskan roti tersebut dengan lahap, dia sangat berterima kasih kepada Ariani, tanpa sadar mulutnya bergumam mendoakan Ariani berharap dia dapat memenangkan sayembara.

“Oak, oak,” seru Liwa.

“Sial, kau benar Liwa, aku lupa! roti dari Ariani sungguh enak sehingga aku tidak sadar tentang sayembara, ayo cepat! kita harus segera tiba di sana,” Arga langsung melompat ke atas punggung Liwa.

Tanpa digerakkan tali kekang, kuda dekil segera melesat menuju alun-alun kerajaan.

Sementara jauh di luar gerbang kerajaan, seorang pendekar secara diam-diam sedang menemui Senopati Rajo.

“Apa kau berhasil mendapatkannya, Genta?” tanya Senopati Rajo.

“Tentu saja tuan Rajo, ini!” pendekar yang bernama Genta tersebut langsung memberikan sebuah botol kecil dari keramik yang berisi cairan.

“Apa benar ini racunnya?” kembali Senopati Rajo memastikan.

“Benar tuan, ini adalah racun arwah, kuda yang meminumnya akan langsung menggila karena kerasukan banyak arwah siluman,” jawab Genta.

“Hahaha, racun arwah! Ternyata benar ada racun yang dapat mengundang arwah,” Senopati Rajo tersenyum senang.

Dia segera memberikan sekantung koin emas kepada Genta, kemudian mereka berpisah menuju arah yang berbeda.

Senopati Rajo melesat masuk ke dalam kerajaan, sementara Genta melesat menuju arah gunung Lawu, sosoknya dalam sekejap lenyap di telan jarak.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 143 Kekalahan Telak

    Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam

  • Sang Kusir   Bab 142 Bantuan Binatang Siluman

    “Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter

  • Sang Kusir   Bab 141 Arga Vs Petinggi Walet Darah bagian 2

    “Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah

  • Sang Kusir   Bab 140 Taktik Cerdik

    “Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi

  • Sang Kusir   Bab 139 Arga Vs Petinggi Walet Darah

    “Lepaskan aku! apa yang ingin kau lakukan dasar cabul?” Mutiara Sendayu terus meronta ingin terlepas dari pegangan Arga.“Dasar bodoh! Berhenti memanggilku cabul, semua yang terjadi di antara kita adalah ketidak sengajaan,” ketus Arga.Dia masih melesat menyusuri langit menghindari kejaran Kala Hitam dan kelompoknya.“Cih! Aku tidak percaya, buktinya ini kau sedang merangkul tubuhku,” Mutiara Sendayu masih meronta.“Sial! Menyesal aku membebaskan totokannya,” umpat Arga di dalam hati.Karena Mutiara Sendayu tidak bisa diam, Arga-pun berhenti, “Lihatlah! Jika kau kulepaskan, maka mereka akan kembali menangkapmu. Apa kau ingin berakhir dijadikan tumbal?” ungkap Arga sembari menunjuk kelompok Kala Hitam dengan pedangnya, membuat Mutiara Sendayu sontak membelalakan mata.Sedari tadi gadis itu baru sadar bahwa Arga telah menolongnya, sehingga setelah mengetahui itu, Mutiara Sendayu langsung tertunduk malu.“Ma-ma—maaf,” ungkap Mutiara Sendayu lemas.“Sekarang sudah telambat, mereka telah k

  • Sang Kusir   138 Misi Penyelamatan

    Dengan pedang hitam di pundaknya, Arga melesat menyusuri langit mengejar kelompok pendekar Walet Darah yang membawa Mutiara Sendayu.Beruntung Arga pernah bersentuhan bibir dengan gadis itu sehingga meski sudah jauh, Arga masih dapat merasakan hawa energinya, di mana saat itu, secara tidak sengaja mereka telah bertukar energi.“Ternyata mereka pergi ke arah barat,” gumam Arga.Langit senja mulai gelap berganti malam, tetapi semua itu bukan halangan bagi Arga karena matanya mampu menembus kegelapan.Arga memacu tubuhnya agar dapat melesat lebih cepat, dia bahkan menggabungkan teknik lompatan langit dengan ilmu terbang yang pernah dirinya pelajari dari Resi Satya Raga.Belajar sembari menyeimbangkan tubuh dalam kecepatan tinggi sungguh sulit membuat Arga beberapa kali mengalami kegagalan.Tetapi karena kegigihannya, Arga akhirnya mampu menggabungkan dua jurus tersebut sehingga kecepatan terbang Arga bertambah beberapa kali lipat.Wuuussss!Arga melesat bagai cahaya menembus pekatnya mal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status