LOGINAlun-alun kerajaan Bunisora kini sesak dipenuhi para penonton sayembara.
Di sana sudah terdapat jalur pacuan kuda dan panggung arena untuk pertarungan.
Para penduduk serta pegawai kerajaan berbaris rapi mengelilingi alun-alun, mereka dibatasi oleh pagar bambu agar tidak ada yang masuk ke dalam jalur pacuan karena akan sangat berbahaya.
Sementara keluarga kerajaan duduk di atas panggung khusus beratap ilalang sebagai tempat kehormatan.
Di tempat itu sudah terdapat Raja Balwa Sora dan permaisuri.
Kemudian di sisi raja, berbaris rapi ke empat putri kerajaan termasuk putri Anandya. Mereka duduk di atas bangkunya masing-masing.
Dan di bawah panggung terdapat 200 punggawa sakti berbaris menjaga keluarga kerajaan, sementara patih Taruma Jati berdiri di atas arena pertarungan sebagai pembawa acara.
“Baiklah, untuk para peserta yang ingin mengikuti sayembara, silakan masuk kelapangan alun-alun!” seru patih Taruma Jati.
Dia berbicara menggunakan tenaga dalam sehingga suaranya mampu didengar jelas semua orang.
400 orang peserta berlompatan masuk melewati pagar pembatas menggunakan ilmu meringankan tubuh, di mana semua peserta merupakan seorang pendekar.
Itu mereka lakukan sebagai pembuktian bahwa mereka benar-benar memiliki ilmu kanuragan.
“Hahaha, aku terkesan dengan kemampuan kalian, baiklah! Sekarang dengarkan penjelasan dan aturan sayembara ini,” patih Taruma Jati tertawa senang.
Begitu juga dengan raja Balwa, dia tersenyum bahagia karena banyak penduduknya yang mengikuti sayembara, tidak disangka ternyata penduduk kerajaan Bunisora banyak yang menjadi pendekar.
“Aturan pertama sayembara ini adalah setiap peserta wajib penduduk asli Bunisora! Jika ada di antara kalian yang berasal dari kerajaan tetangga, maka silakan keluar meninggalkan lapangan,” seru patih Taruma Jati.
Mendengar itu semua peserta saling pandang satu sama lain, tetapi satu pun tidak ada dari mereka yang keluar lapangan.
Membuat patih Taruma Jati seketika menyeringai menyaksikannya, “Siapa pun yang berani berbohong tentang identitasnya, maka akan berakhir di tiang gantungan! Jadi sekali lagi aku beri kesempatan, bagi yang bukan warga asli Bunisora silakan keluar meninggalkan lapangan,” seru patih Taruma Jati.
Tetapi tetap tiada peserta yang meninggalkan lapangan, sehingga patih Taruma Jati sangat yakin bahwa mereka memang penduduk asli kerajaan.
Mendapati itu, patih Taruma Jati langsung mengumumkan aturan sayembara selanjutnya.
Selain harus penduduk asli Bunisora, peserta juga harus memiliki kemampuan berkuda yang mumpuni karena sayembara ini diadakan untuk mencari seorang kusir, kemampuan kanuragan hanyalah penunjang saja, tetapi juga sangat penting karena selain kusir, mereka juga bertugas menjaga keselamatan putri raja.
Sayembara akan dilakukan dalam dua tahap, pertama menilai kemampuan berkuda dengan cara melakukan pacuan, 30 orang tercepat akan menjadi pemenang dan berhak masuk ke tahap kedua.
Tahap kedua ini adalah penilaian kanuragan, mereka akan ditarungkan dengan cara turnamen.
Setiap peserta akan melakukan pertarungan dengan peserta lain hingga mendapatkan satu pemenang, kemudian pemenang tersebut akan bertarung lagi dengan pemenang lain hingga tersisa 3 pemenang terakhir.
Siapa pun yang menjadi 3 pemenang terakhir akan langsung menjadi kusir putri raja, mereka akan mendapatkan 1000 koin emas dan kediaman khusus di wilayah istana kerajaan, membuat semua peserta semakin semangat mendengarnya.
Bukan tanpa alasan mereka berani bertaruh nyawa dalam sayembara ini di mana satu koin emas setara dengan 6 ekor sapi, jadi mereka melakukannya tiada lain hanya untuk meraih kejayaan hidup dan kekayaan.
Aturan sayembara memang tidak diperkenankan untuk saling membunuh, tetapi kecelakaan bisa saja terjadi, membuat nyawa para peserta kapan pun dapat melayang dalam sayembara ini.
“Tunggu paman patih, boleh aku menambahkan satu tes lagi untuk mereka?”
Tiba-tiba terdengar seruan dari putri Ardani membuat patih Taruma Jati seketika berbalik ke arahnya.
Begitu juga dengan raja Balwa dan permaisuri, mereka tidak mengerti entah apa maksud dari ucapan putrinya.
“Apa yang ingin kau lakukan putri Ardani?” tanya Raja Balwa mengerutkan kening.
“Aku hanya ingin menjaga keselamatan adik-adikku ayahanda, tidak lebih,” terang Putri Ardani sopan, namun jauh di dalam hatinya, dia memiliki niat busuk untuk putri Anandya.
“Perjalanan menuju gunung Lawu merupakan perjalanan panjang, terlebih mereka nanti akan menggunakan kereta, aku hanya ingin para peserta yang menang melakukan tes keahlian seorang kusir bukan hanya sekedar keahlian berkuda. Tentu itu sangat penting dalam menentukan keselamatan para putri, hanya saja tidak semua penunggang kuda ahli dalam mengendalikan kereta,” tambah putri Ardani menjelaskan.
“Itu benar kanda, kita luput memikirkannya, beruntung kita memiliki putri yang cerdas,” ungkap permaisuri membantu meyakinkan raja.
Membuat raja Balwa langsung merenung dalam beberapa saat.
Sementara patih Taruma Jati tidak berani berkomentar karena semua keputusan ada di tangan raja.
“Tes seperti apa yang ingin kau lakukan putri Ardani?” tanya raja Balwa memastikan.
“Aku ingin mereka diuji membawa kereta perang yang langsung ditumpangi para putri di atasnya,” ungkap putri Ardani.
“Tidak mungkin! Itu sangat berbahaya, jika terjadi kecelakaan, maka nyawa adik-adikmu bisa saja melayang dalam sayembara ini,” sergah raja Balwa cepat.
“Tidak apa ayahanda, kami siap melakukannya,” seru putri Damayanti.
“Benar Ayahanda, jika di sini saja mereka gagal melindungi kami, maka bagaimana dengan perjalanan menuju gunung Lawu yang penuh bahaya? Kami lebih tenang jika tes ini dilakukan. Dengan begitu, keselamatan kami dalam menjalani upacara kedewasaan akan semakin terjamin,” Putri Kanaya ikut meyakinkan.
Ke tiga putri raja itu memang sudah merencanakan ini sebelumnya, di mana mereka berniat mencelakai putri Anandya dalam sayembara.
Memiliki paras sangat cantik layaknya seorang dewi tentu saja membuat siapa pun akan iri memandangnya, termasuk ke 3 kakaknya.
Mereka sangat khawatir jika kecantikan putri Anandya akan menjadi bumerang bagi rencana perebutan takhta di kemudian hari.
Apalagi sikap raja Balwa yang kian hari semakin tampak lebih menyayangi putri Anandya dari pada mereka. Membuat ketiga putri yang lain tidak bisa membiarkannya.
Mendengar kedua putrinya menyanggupi usulan putri Ardani, raja kembali berpikir tentang tes tersebut.
Dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya melirik ke arah putri Anandya untuk bertanya apa dia sanggup mengikuti tes tersebut atau tidak.
“Jika kakak Damayanti bersama kakak Kanaya Citra sanggup, maka hamba-pun sanggup ayahanda,” jawab putri Anandya sangat sopan.
“Baiklah, jika begitu akan kuputuskan sayembara ini menjadi tiga tahap, bagi mereka yang berhasil melalui 2 tahap sebelumnya, dia tetap akan mendapatkan hadiah 1000 koin emas tetapi tidak dengan kediaman di wilayah istana,” seru raja Balwa kepada semua orang.
Mendengar itu tentu saja tumbuh rasa kecewa di hati para peserta, namun mereka tidak berani mengungkapkannya karena keputusan raja adalah mutlak.
Siapa pun yang berani menentangnya maka sudah pasti akan berakhir tragis di tiang gantungan, membuat para peserta mau tidak mau harus menyanggupi aturan tersebut. Setidaknya bagi para pemenang, mereka masih mendapatkan hadiah 1000 koin emas.
**
“Ma-ma—maaf tuan putri, semalam anda yang …,” Plak!Arga terkena tamparan keras dari putri Anandya, membuat Jantaka melebarkan mata menyaksikannya.Tidak bisa menjelaskan apa-apa, Arga hanya dapat tertunduk lemas menerima kemarahan gadis itu.“Jangan mentang-mentang telah beberapa kali menyelamatkanku kau bisa berbuat se-enaknya, dasar pemuda cabul!” teriak putri Anandya.“Maaf tuan putri, itu bukan kesalahan Arga, semalam Anda sendiri yang memeluknya dan bahkan anda tidur di atas tubuh Arga tanpa bisa di lepaskan,” jelas Jantaka tidak tega melihat temannya terus dimaki.“Kau juga sama saja tuan pendekar! Mana mungkin aku …,” teriakan putri Anandya terhenti saat samar-samar mengingat kejadian semalam.Bersamaan dengan itu wajahnya langsung memucat merasa malu karena telah menampar Arga.“Apa yang aku lakukan?” gumam putri Anandya di dalam hati.Beberapa kali dia mengumpati dirinya sendiri karena telah tega menampar orang yang menolongnya.Gadis itu kini masih menunduk tidak berani men
Malam di hutan kabut sangat lah dingin terlebih saat ini sedang musim bersalju membuat udara di sana dapat membekukan siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak terkecuali pohon, ranting bahkan bebatuan pun ikut membeku terlapisi es, sementara dedaunan di atas pohon tertimbun butiran salju.hutan itu juga senantiasa di tutupi kabut tipis setiap waktu sehingga jarak pandang di sana sangat terbatas.Meski telah mengenakan selimut, tubuh putri Anandya menggigil di atas kereta, dia mengalami hipotermia berat akibat suhu yang terlalu ekstrem.Sementara Arga saat itu tengah membuat perapian di bawah pohon berukuran besar.“Apa sudah selesai Arga? Cepatlah! Tubuh tuan putri semakin memprihatinkan,” teriak Jantaka di atas kereta panik.Wajah putri Anandya memang telah memucat, bibir merahnya memutih serta terdapat banyak retakan.Jantaka terus mengalirkan energi tenaga dalam tetapi entah mengapa di tubuh sang putri energi itu seakan tidak berguna.“Sebentar lagi!” teriak Arga terburu-buru.“Sia
“Sama-sama, kau tidak usah sungkan,” jawab Arga sembari berlalu menuju tempat Liwa.Begitu pun dengan Jantaka, dia berlari menuju kereta kuda.Tetapi ketika pemuda itu akan naik ke atas kereta, tiba-tiba saja dirinya ingat bagaimana cara Arga bisa ke sana? Dan apa tujuannya? Bukankah tadi dia bilang hari ini baru saja dari kerajaan?Dipenuhi berbagai pertanyaan di kepalanya membuat Jantaka langsung kembali berbalik ke arah Arga.“Ar …? Ke mana dia?” gumam Jantaka heran mendapati Arga dan kuda putih sudah lenyap dari pandangan.“Dirimu mencari siapa teman?” tanya Arga yang tiba-tiba sudah berada di dekat kereta, sehingga Jantaka kembali membalikkan badan.“Bagaimana? Ah … sial, kau memang aneh layaknya hantu yang gentayangan,” umpat Jantaka tidak mengerti.Arga baginya memang sebuah misteri, selain sosoknya yang penuh tanda tanya, tingkat kanuragan pemuda itu juga berubah-ubah.Pertama Jantaka bertemu dengannya, Arga masih belum memiliki kanuragan sehingga dia menganggapnya hanya manus
Saat pria bungkuk melepaskan serangan energi golok hantu, Arga waktu itu tidak memiliki pilihan lain untuk menghindar selain mengeluarkan jurus pedang kebalikan tahap ke 2.Meski belum sempurna dan akan melukai dirinya sendiri, Arga tetap melakukannya karena terdesak keadaan.“Jurus pedang kebalikan tahap 2, pertukaran gelombang!” teriak Arga.Dia menyilangkan sarung tangan dewa perang sembari melesat ke depan menyambut serangan lawan.Membuat sinar energi merah dengan telak menghantamnya.Tetapi aneh sinar merah tersebut tidak beraksi apa -apa sehingga Arga masih berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun.Namun sesaat kemudian, terdengar teriakan melengking dari pria bungkuk yang hendak meregang nyawa.Aaaaaaa! Tidak mungkin! Bagaima …. Buum!Tubuh pria bungkuk meledak menjadi serpihan tanpa tahu siapa yang menyerangnya.“Aku berhasil menguasainya,” gumam Arga senang.Tetapi beberapa tarikan nafas berikutnya, Ukhuk! Arga memuntahkan darah segar terkena luka dalam karena memaksakan jur
Sore hari di dalam hutan kabut.SRIING!“Celaka! Kita terkepung tuan putri,” Jantaka mencabut pedangnya.“Tetap di atas kereta! Aku akan melindungi anda,” teriak Jantaka seraya melompat menahan dua serangan musuh.Trang! Trang!Dua pedang berbenturan dengan pedang Jantaka, membuat musuh terpundur beberapa langkah, sementara Jantaka kembali mendarat di kereta.Ada sekitar 20 pria berpakaian hitam yang menghadangnya, mereka menggunakan penutup wajah dari kain yang juga berwarna hitam sehingga Jantaka tidak dapat memastikan entah siapa mereka.“Tuan pendekar,” putri Anandya gemetar ketakutan.“Tuan putri tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu,” ujar Jantaka sembari menggenggam kuat gagang pedangnya.“Siapa kalian? Mengapa menghadang kami? Jika yang kalian cari adalah harta rampokan, maka mohon maaf, kami tidak membawanya,” teriak Jantaka ingin memastikan.“Hahaha, persetan dengan harta, yang aku butuhkan cuma gadis cantik yang kau bawa, serahkan dia maka dirimu akan
Kyah! Kyah! Khyah!Arga terus memacu kuda putih menuju hutan kabut, jejaknya tertinggal jelas di atas permukaan salju.Hihihik! Hihihik! Wueher!Liwa menghentakkan kaki depannya kuat ke tanah membuat tubuhnya merunduk menghindari lemparan pisau dari seseorang.“Siapa yang menyerang kita Liwa?” seru Arga sedikit panik.Beruntung dia sudah terbiasa berkuda dalam kecepatan tinggi sehingga Arga masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.Wueeheeer!Liwa berdehem sembari menggelengkan kepalanya.“Tunggu di sini Liwa, biar aku saja yang memastikan,” pinta Arga, dia segera turun dari atas punggung kuda dan mendarat mulus di atas permukaan salju.Tetapi baru saja Arga menginjakkan kaki-nya, lemparan pisau kedua datang hampir mengenai dada pemuda itu.Wuusss! Sleeep!Beruntung Arga sempat merasakan arah serangan sehingga tangannya secara refleks bergerak menangkap pisau lempar tersebut.“Siapa yang melempar pisau ini padaku? Cepat keluar?” seru Arga, “pengecut!” umpatnya kemudian.“Hihihihi, aku







