Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 9 Sayembara bagian 1

Share

Bab 9 Sayembara bagian 1

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-18 19:52:52

Alun-alun kerajaan Bunisora kini sesak dipenuhi para penonton sayembara.

Di sana sudah terdapat jalur pacuan kuda dan panggung arena untuk pertarungan.

Para penduduk serta pegawai kerajaan berbaris rapi mengelilingi alun-alun, mereka dibatasi oleh pagar bambu agar tidak ada yang masuk ke dalam jalur pacuan karena akan sangat berbahaya.

Sementara keluarga kerajaan duduk di atas panggung khusus beratap ilalang sebagai tempat kehormatan.

Di tempat itu sudah terdapat Raja Balwa Sora dan permaisuri.

Kemudian di sisi raja, berbaris rapi ke empat putri kerajaan termasuk putri Anandya. Mereka duduk di atas bangkunya masing-masing.

Dan di bawah panggung terdapat 200 punggawa sakti berbaris menjaga keluarga kerajaan, sementara patih Taruma Jati berdiri di atas arena pertarungan sebagai pembawa acara.

“Baiklah, untuk para peserta yang ingin mengikuti sayembara, silakan masuk kelapangan alun-alun!” seru patih Taruma Jati.

Dia berbicara menggunakan tenaga dalam sehingga suaranya mampu didengar jelas semua orang.

400 orang peserta berlompatan masuk melewati pagar pembatas menggunakan ilmu meringankan tubuh, di mana semua peserta merupakan seorang pendekar.

Itu mereka lakukan sebagai pembuktian bahwa mereka benar-benar memiliki ilmu kanuragan.

“Hahaha, aku terkesan dengan kemampuan kalian, baiklah! Sekarang dengarkan penjelasan dan aturan sayembara ini,” patih Taruma Jati tertawa senang.

Begitu juga dengan raja Balwa, dia tersenyum bahagia karena banyak penduduknya yang mengikuti sayembara, tidak disangka ternyata penduduk kerajaan Bunisora banyak yang menjadi pendekar.

“Aturan pertama sayembara ini adalah setiap peserta wajib penduduk asli Bunisora! Jika ada di antara kalian yang berasal dari kerajaan tetangga, maka silakan keluar meninggalkan lapangan,” seru patih Taruma Jati.

Mendengar itu semua peserta saling pandang satu sama lain, tetapi satu pun tidak ada dari mereka yang keluar lapangan.

Membuat patih Taruma Jati seketika menyeringai menyaksikannya, “Siapa pun yang berani berbohong tentang identitasnya, maka akan berakhir di tiang gantungan! Jadi sekali lagi aku beri kesempatan, bagi yang bukan warga asli Bunisora silakan keluar meninggalkan lapangan,” seru patih Taruma Jati.

Tetapi tetap tiada peserta yang meninggalkan lapangan, sehingga patih Taruma Jati sangat yakin bahwa mereka memang penduduk asli kerajaan.

Mendapati itu, patih Taruma Jati langsung mengumumkan aturan sayembara selanjutnya.

Selain harus penduduk asli Bunisora, peserta juga harus memiliki kemampuan berkuda yang mumpuni karena sayembara ini diadakan untuk mencari seorang kusir, kemampuan kanuragan hanyalah penunjang saja, tetapi juga sangat penting karena selain kusir, mereka juga bertugas menjaga keselamatan putri raja.

Sayembara akan dilakukan dalam dua tahap, pertama menilai kemampuan berkuda dengan cara melakukan pacuan, 30 orang tercepat akan menjadi pemenang dan berhak masuk ke tahap kedua.

Tahap kedua ini adalah penilaian kanuragan, mereka akan ditarungkan dengan cara turnamen.

Setiap peserta akan melakukan pertarungan dengan peserta lain hingga mendapatkan satu pemenang, kemudian pemenang tersebut akan bertarung lagi dengan pemenang lain hingga tersisa 3 pemenang terakhir.

Siapa pun yang menjadi 3 pemenang terakhir akan langsung menjadi kusir putri raja, mereka akan mendapatkan 1000 koin emas dan kediaman khusus di wilayah istana kerajaan, membuat semua peserta semakin semangat mendengarnya.

Bukan tanpa alasan mereka berani bertaruh nyawa dalam sayembara ini di mana satu koin emas setara dengan 6 ekor sapi, jadi mereka melakukannya tiada lain hanya untuk meraih kejayaan hidup dan kekayaan.

Aturan sayembara memang tidak diperkenankan untuk saling membunuh, tetapi kecelakaan bisa saja terjadi, membuat nyawa para peserta kapan pun dapat melayang dalam sayembara ini.

“Tunggu paman patih, boleh aku menambahkan satu tes lagi untuk mereka?”

Tiba-tiba terdengar seruan dari putri Ardani membuat patih Taruma Jati seketika berbalik ke arahnya.

Begitu juga dengan raja Balwa dan permaisuri, mereka tidak mengerti entah apa maksud dari ucapan putrinya.

“Apa yang ingin kau lakukan putri Ardani?” tanya Raja Balwa mengerutkan kening.

“Aku hanya ingin menjaga keselamatan adik-adikku ayahanda, tidak lebih,” terang Putri Ardani sopan, namun jauh di dalam hatinya, dia memiliki niat busuk untuk putri Anandya.

“Perjalanan menuju gunung Lawu merupakan perjalanan panjang, terlebih mereka nanti akan menggunakan kereta, aku hanya ingin para peserta yang menang melakukan tes keahlian seorang kusir bukan hanya sekedar keahlian berkuda. Tentu itu sangat penting dalam menentukan keselamatan para putri, hanya saja tidak semua penunggang kuda ahli dalam mengendalikan kereta,” tambah putri Ardani menjelaskan.

“Itu benar kanda, kita luput memikirkannya, beruntung kita memiliki putri yang cerdas,” ungkap permaisuri membantu meyakinkan raja.

Membuat raja Balwa langsung merenung dalam beberapa saat.

Sementara patih Taruma Jati tidak berani berkomentar karena semua keputusan ada di tangan raja.

“Tes seperti apa yang ingin kau lakukan putri Ardani?” tanya raja Balwa memastikan.

“Aku ingin mereka diuji membawa kereta perang yang langsung ditumpangi para putri di atasnya,” ungkap putri Ardani.

“Tidak mungkin! Itu sangat berbahaya, jika terjadi kecelakaan, maka nyawa adik-adikmu bisa saja melayang dalam sayembara ini,” sergah raja Balwa cepat.

“Tidak apa ayahanda, kami siap melakukannya,” seru putri Damayanti.

“Benar Ayahanda, jika di sini saja mereka gagal melindungi kami, maka bagaimana dengan perjalanan menuju gunung Lawu yang penuh bahaya? Kami lebih tenang jika tes ini dilakukan. Dengan begitu, keselamatan kami dalam menjalani upacara kedewasaan akan semakin terjamin,” Putri Kanaya ikut meyakinkan.

Ke tiga putri raja itu memang sudah merencanakan ini sebelumnya, di mana mereka berniat mencelakai putri Anandya dalam sayembara.

Memiliki paras sangat cantik layaknya seorang dewi tentu saja membuat siapa pun akan iri memandangnya, termasuk ke 3 kakaknya.

Mereka sangat khawatir jika kecantikan putri Anandya akan menjadi bumerang bagi rencana perebutan takhta di kemudian hari.

Apalagi sikap raja Balwa yang kian hari semakin tampak lebih menyayangi putri Anandya dari pada mereka. Membuat ketiga putri yang lain tidak bisa membiarkannya.

Mendengar kedua putrinya menyanggupi usulan putri Ardani, raja kembali berpikir tentang tes tersebut.

Dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya melirik ke arah putri Anandya untuk bertanya apa dia sanggup mengikuti tes tersebut atau tidak.

“Jika kakak Damayanti bersama kakak Kanaya Citra sanggup, maka hamba-pun sanggup ayahanda,” jawab putri Anandya sangat sopan.

“Baiklah, jika begitu akan kuputuskan sayembara ini menjadi tiga tahap, bagi mereka yang berhasil melalui 2 tahap sebelumnya, dia tetap akan mendapatkan hadiah 1000 koin emas tetapi tidak dengan kediaman di wilayah istana,” seru raja Balwa kepada semua orang.

Mendengar itu tentu saja tumbuh rasa kecewa di hati para peserta, namun mereka tidak berani mengungkapkannya karena keputusan raja adalah mutlak.

Siapa pun yang berani menentangnya maka sudah pasti akan berakhir tragis di tiang gantungan, membuat para peserta mau tidak mau harus menyanggupi aturan tersebut. Setidaknya bagi para pemenang, mereka masih mendapatkan hadiah 1000 koin emas.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 143 Kekalahan Telak

    Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam

  • Sang Kusir   Bab 142 Bantuan Binatang Siluman

    “Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter

  • Sang Kusir   Bab 141 Arga Vs Petinggi Walet Darah bagian 2

    “Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah

  • Sang Kusir   Bab 140 Taktik Cerdik

    “Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi

  • Sang Kusir   Bab 139 Arga Vs Petinggi Walet Darah

    “Lepaskan aku! apa yang ingin kau lakukan dasar cabul?” Mutiara Sendayu terus meronta ingin terlepas dari pegangan Arga.“Dasar bodoh! Berhenti memanggilku cabul, semua yang terjadi di antara kita adalah ketidak sengajaan,” ketus Arga.Dia masih melesat menyusuri langit menghindari kejaran Kala Hitam dan kelompoknya.“Cih! Aku tidak percaya, buktinya ini kau sedang merangkul tubuhku,” Mutiara Sendayu masih meronta.“Sial! Menyesal aku membebaskan totokannya,” umpat Arga di dalam hati.Karena Mutiara Sendayu tidak bisa diam, Arga-pun berhenti, “Lihatlah! Jika kau kulepaskan, maka mereka akan kembali menangkapmu. Apa kau ingin berakhir dijadikan tumbal?” ungkap Arga sembari menunjuk kelompok Kala Hitam dengan pedangnya, membuat Mutiara Sendayu sontak membelalakan mata.Sedari tadi gadis itu baru sadar bahwa Arga telah menolongnya, sehingga setelah mengetahui itu, Mutiara Sendayu langsung tertunduk malu.“Ma-ma—maaf,” ungkap Mutiara Sendayu lemas.“Sekarang sudah telambat, mereka telah k

  • Sang Kusir   138 Misi Penyelamatan

    Dengan pedang hitam di pundaknya, Arga melesat menyusuri langit mengejar kelompok pendekar Walet Darah yang membawa Mutiara Sendayu.Beruntung Arga pernah bersentuhan bibir dengan gadis itu sehingga meski sudah jauh, Arga masih dapat merasakan hawa energinya, di mana saat itu, secara tidak sengaja mereka telah bertukar energi.“Ternyata mereka pergi ke arah barat,” gumam Arga.Langit senja mulai gelap berganti malam, tetapi semua itu bukan halangan bagi Arga karena matanya mampu menembus kegelapan.Arga memacu tubuhnya agar dapat melesat lebih cepat, dia bahkan menggabungkan teknik lompatan langit dengan ilmu terbang yang pernah dirinya pelajari dari Resi Satya Raga.Belajar sembari menyeimbangkan tubuh dalam kecepatan tinggi sungguh sulit membuat Arga beberapa kali mengalami kegagalan.Tetapi karena kegigihannya, Arga akhirnya mampu menggabungkan dua jurus tersebut sehingga kecepatan terbang Arga bertambah beberapa kali lipat.Wuuussss!Arga melesat bagai cahaya menembus pekatnya mal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status