首頁 / Fantasi / Sang Kusir / Bab 112 Siluman Gajah

分享

Bab 112 Siluman Gajah

作者: Pujangga
last update publish date: 2026-09-22 19:43:22

Dua pemuda tampan berjalan kaki menyusuri jalanan besar yang membentang menuju sebuah wilayah antah berantah.

Kanan kiri jalanan adalah sebuah hutan lebat dengan tumbuhan aneh sangat besar berpohon lebar.

Satu pemuda mengenakan pakaian mewah seperti seragam elit sebuah perguruan sementara pemuda lain mengenakan pakaian lusuh layaknya pegawai rendahan di sebuah kerajaan.

“Apa kita sedang di hutan kapas? Pohon itu mirip sekali dengan pohon kapas tetapi bedanya tidak memiliki duri di batangnya,” t
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Sang Kusir   Bab 113 Pengantin Lelembut

    Ruangan yang luas seperti istana di dalam goa ternyata bukanlah akhir perjalanan Arga di mana di depan mereka masih terdapat ruangan lain yang lebih besar lagi.“Sial! Apa di sana akan mengadakan pesta? Mengapa banyak sekali makhluk jelek,” tanya Jantaka berbisik.“Benar, aku tadi mendengar di sini akan ada pernikahan,” jawab Arga singkat, mata tetap tajam memperhatikan gerak-gerik semua orang di dalam ruangan sangat besar.Terdapat sekitar 3000 prajurit makhluk berkulit merah yang membawa senjata, selebihnya adalah para tamu undangan dari berbagai makhluk yang wujudnya sama-sama mengerikan.“Aku tidak bisa membaca kanuragan mereka, setingkat apa kanuragan makhluk-makhluk itu,” tanya Jantaka.“Prajurit berkulit merah berada di antara awal tanding dan bergelar tahap akhir, sementara yang duduk di barisan paling depan sudah ada yang mencapai pendekar pilih tanding dan pendekar langit,” jawab Arga menjelaskan.“Sial! Mereka pasukan yang kuat, kita bisa mati jika ketahuan,” umpat Jantaka.

  • Sang Kusir   Bab 112 Siluman Gajah

    Dua pemuda tampan berjalan kaki menyusuri jalanan besar yang membentang menuju sebuah wilayah antah berantah.Kanan kiri jalanan adalah sebuah hutan lebat dengan tumbuhan aneh sangat besar berpohon lebar.Satu pemuda mengenakan pakaian mewah seperti seragam elit sebuah perguruan sementara pemuda lain mengenakan pakaian lusuh layaknya pegawai rendahan di sebuah kerajaan.“Apa kita sedang di hutan kapas? Pohon itu mirip sekali dengan pohon kapas tetapi bedanya tidak memiliki duri di batangnya,” tanya Jantaka.“Apa yang kau maksud pohon kapas itu adalah pohon Randu?” Arga balik bertanya.“Benar, memang apalagi jika bukan pohon Randu,” jawab Jantaka.“Itu bukan pohon kapas bodoh! Lihatlah buahnya, buahnya mirip sekali dengan kelapa, mungkin ini adalah anak pohon hasil kawinan Randu dan Kelapa,” tutur Arga.“Jangan bercanda! Mana ada pohon kawin. Sudahlah, apa jalan yang kita lewati ini sudah benar,” tanya Jantaka.“Ya, aku merasakan ada jejak makhluk halus di jalan ini,” jawab Arga.“Sial

  • Sang Kusir   Bab 111 Danau Panenjoan

    Sebelum mencapai lembah Batu Situng, rombongan Arga harus melewati danau Panenjoan terlebih dahulu.Danau itu membentang sangat luas sehingga mau tidak mau mereka harus membangun rakit dari batang-batang bambu yang disatukan.“Aku tidak mengerti entah bagaimana cara dirimu berangkat ke Bunisora seorang diri Jantaka?” tanya Arga mengerutkan kening sembari menatap jauh ke sebrang danau Panenjoan yang begitu luas.Jika dilintasi dengan terbang mungkin hanya akan memakan waktu satu hari untuk menyebranginya. Tetapi jika menggunakan rakit, Arga tidak tahu entah akan berapa hari tinggal di atas rakit.“Saat berangkat aku menggunakan jalur selatan yang lebih dekat dan tidak melewati danau ini, tetapi karena kita memulai pejalanan dari dusun Pandira, maka terpaksa aku membawa kalian menggunakan jalur utara,” ungkap Jantaka sembari menyeringai bodoh.“Mengapa tidak menggunakan jalur selatan saja? Bukankah akan lebih dekat,” kembali Arga bertanya cepat.“Hahaha dasar bodoh! Dekat jika dari kera

  • Sang Kusir   Bab 110 Penyesalan Anggadharma

    “Kakek tua?” Arga menghentikan serangannya.“Sudah cukup, beri dia kesempatan,” ujar Resi Gamadharma.“Baiklah, aku serahkan sisanya padamu,” ucap Arga.Hampir seluruh wilayah perguruan Kuil Batara hancur oleh Arga, jika tidak ada Resi Gamadharma, kemungkinan sesepuh perguruan tersebut juga ikut lenyap dimusnahkan pemuda itu.“Ro-ro-romo, maafkan aku,” ungkap Anggadharma lirih.Air matanya terus meniti dengan tubuh terbaring lemas tanpa daya. Dia hanya bisa pasrah menerima nasib, andai Arga membunuhnya-pun Anggadharma akan menerimanya dengan suka rela.“Kau telah terlalu jauh keluar dari jalur tujuan awal kita Angga, semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga untukmu,” ujar sang kakek tua.Tidak hanya Resi Gamadharma saja yang datang ke sana, tetapi 13 pilar Kuil Batara juga ikut datang.Mereka sengaja tidak membantu Anggadharma supaya orang tua itu sadar akan kesalahannya.Itu juga merupakan alasan mengapa Resi Gamadharma meminta Arga tinggal diperguruan selama beberapa hari karena h

  • Sang Kusir   Bab 109 Pembalasan Arga

    “Pedang Batara! Gelombang surgawi!” teriak Anggadharma sembari menebaskan pedang ke arah tempat para ketua.Selarik cahaya kuning berbentuk bulan sabit sangat besar melesat dari tebasan pedangnya menyapu 2000 pedang milik Arga membuat pedang-pedang tersebut seketika berhamburan ke sembarang arah.Tetapi naas, semua guru dan ketua sudah tergeletak bersimbah darah termasuk Nandu. Mereka lemas tidak berdaya sebelum akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.“Nandu!” teriak Anggadharma cemas, dia segera melesat menghampiri putranya.Melihat kondisi Nandu yang begitu mengenaskan, Anggadharma semakin murka tidak terkendali.Aura membunuh miliknya keluar menyeruak menekan tubuh siapa pun yang ada di sana.Termasuk semua murid perguruan, Jantaka, Ariani dan teman-teman Jambang.Tubuh mereka sulit berdiri seperti ditekan beban berat puluhan kuintal.Jantaka dan Ariani masih bisa bertahan karena mereka memiliki kualitas tulang di atas manusia rata-rata.Sementara semua murid perguruan Kuil Batara tu

  • Sang Kusir   Bab 108 Arga Vs Kuil Batara

    Jambang dan Bopeng tersenyum ke arah Arga, setelah itu keduanya langsung terkulai lemas tidak sadarkan diri membuat Arga semakin marah.Selesai membaringkan tubuh Jambang dan Bopeng, Arga langsung menebaskan punggung pedang hitamnya ke arah depan membuat 100 murid yang sedang maju ke sana langsung berhamburan terkena gelombang energi serangannya.100 murid itu seketika tidak sadarkan diri dengan tubuh membiru seperti terkena pukulan yang sangat keras.Buki dan Apud yang menyaksikan Arga tidak bisa tidak menelan ludah, seumur hidup, mereka baru menyaksikan ada serangan sedahsyat itu.“A-a—apa aku tidak bermimpi?” gumam Buki yang sedang terduduk lemas setelah bertarung melawan ratusan orang.“A—aku juga melihatnya,” ujar Apud kembali menelan ludah.Mereka tidak dapat membayangkan entah apa yang terjadi jika Arga melancarkan serangan menggunakan mata pedang. Kemungkinan 100 murid yang baru saja melayang berhamburan tidak akan memiliki kesempatan untuk hidup.Jika tubuh mereka tidak poton

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status