Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 137 Jiwa Kesatria

Share

Bab 137 Jiwa Kesatria

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-10-03 19:28:13

Semakin mengenal Arga, Ki Karmadapa semakin menyesal atas perlakuan-nya terhadap pemuda itu.

Selain sakti, Arga ternyata memiliki budi yang baik. Dia begitu hormat kepada gurunya meski Ki Elang Sakti belum pernah menurunkan jurus.

Ki Karmadapa terpana menyaksikan Arga mengendalikan pedang hitam ke arah Ki Jongol untuk menyelamatkan kakek bungkuk tersebut.

Hanya dengan menjentikan jari, pedang hitam mampu melayang sendiri ke manapun keinginan Arga.

“A-a—apa itu sebuah jurus?” tanya Ki Karmadapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 153 Wadah Kegelapan

    Setelah menyelesaikan latihannya, Arga memutuskan kembali ke gubuk milik Zufu karena dia pikir mereka pasti berada di sana.“Lompatan langit!” seru Arga.Sosoknya melesat bagai bayangan melompat dari satu dahanan pohon ke dahanan lain.Terkadang Arga juga melompat dengan menendang angin membuatnya seperti terbang di udara.Meski semua jurus Arga telah kembali, dia tetap tidak bisa terbang karena energi tubuhnya di alam kehampaan masih terbatas.Arga hanya bisa terbang jika menggunakan jurus elang merajai langit, tetapi jurus itu tidak bisa digunakan sembarangan karena akan sangat menguras energi.Untuk bisa terbang tanpa bantuan sayap di alam kehampaan membutuhkan latihan yang lama. Dengan bakat Arga, kemungkinan dia membutuhkan waktu sekitar 100 tahun latihan baru bisa terbang.Tetapi sayangnya Arga tidak memiliki waktu selama itu, dia harus mengejar janji yang harus ditepati.Tap!Arga mendarat di dalam gubuk, tetapi orang yang ingin dia temui ternyata tidak berada di sana.“Ke mana

  • Sang Kusir   Bab 152 Menantang Kematian

    Esok harinya, Arga pergi sendiri menuju wilayah timur hutan kematian. Sebuah tempat yang tempo hari pernah akan merenggut nyawanya hanya karena seekor ular.Sementara Mutiara Sendayu di puncak gunung sekarang tengah menangis tersedu-sedu.Dia berusaha menghalangi Arga supaya tidak berangkat namun pemuda itu sungguh keras kepala.Bukan tanpa alasan gadis itu menangis di mana latihan Arga saat ini adalah menantang kematian.Zufu juga tidak bisa berbuat banyak karena ini adalah keinginan Arga sendiri.“Sudahlah kau jangan menangisinya Dayu,” ucap Zufu menenangkan.“Ta-tapi tuan,” Mutiara Sendayu memandang Zufu dengan tatapan sedih membuat lelaki tampan tersebut menjadi serba salah.“Percayalah! Aku yakin Arga akan bisa melewatinya,” ungkap Zufu.Tetapi Mutiara Sendayu masih tetap menangis meratapi kepergian Arga membuat Zufu tidak memiliki pilihan lain selain membiarkannya meluapkan kesedihan.Zufu segera terbang melesat menuju permukaan batuan besar, kemudian dia duduk bersila melakukan

  • Sang Kusir   Bab 151 Latihan bagian 2

    Hari demi hari Arga jalani dengan keras, dia tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang mendapAt banyak luka, yang terpenting sekarang adalah mendapatkan 500.000 lingkaran tenaga dalam.Awalnya Zufu mengira Arga akan menyerah dan berhenti latihan di hari ke 7 karena sampai saat itu, Arga masih saja bergulat dalam 10 putaran.Setiap tiba di putaran ke 10, tubuh Arga akan langsung pingsan tidak tahan dengan hawa panas yang dipancarkan oleh lahar.Tetapi di hari ke 8, tubuh Arga mendapatkan peningkatan yang signifikan di mana dia mampu berlari 20 putaran.Kegigihan Arga benar-benar tidak bisa diremehkan kerena pemuda itu pantang menyerah.Zufu tidak tahu bahwa sedari kecil, Arga memang sudah terkenal sebagai anak keras kepala. Dan sifat itu terus berkembang sampai mendarah daging menjadi sebuah karakter.Selama nyawanya masih belum terpisah dengan tubuh, Arga tidak akan berhenti.Minggu demi minggu tidak terasa telah terlewati, saat ini Arga telah berlatih di cincin kawah selama 4 bulan.Dan

  • Sang Kusir   Bab 150 Latihan pertama

    7 hari berlalu begitu cepat, saat ini Mutiara Sendayu sudah bisa berjalan setelah diajarkan cara menyerap energi oleh Zufu.Tetapi untuk berlari tetap saja Mutiara Sendayu tidak bisa karena kualitas tulangnnya masih sangat rendah.Untuk meningkatkan kualitas tulang, Mutiara Sendayu terpaksa harus mengonsumsi daging tikus mentah seperti yang sering dilakukan oleh Zufu.Meski terasa menjijikkan dan tidak enak, gadis itu rela melakukannya karena tidak ingin selalu bergantung pada Arga dan Zufu.Terlebih dirinya merupakan seorang perempuan, Mutiara Sendayu sangat malu jika ingin buang air kecil atau hajat, dia harus meminta bantuan Arga untuk membawanya turun dari gubuk.Ternyata benar, selain untuk mengganjal rasa lapar, daging tikus mentah juga dapat meningkatkan kualitas tulang.Terbukti pada Mutiara Sendayu, di mana dalam beberapa hari ini, dia telah mendapatkan peningkatan yang signifikan.Menyaksikan perubahan pada tulang gadis itu, membuat Arga juga ikut memakan daging tikus mentah

  • Sang Kusir   Bab 149 Mutiara Sendayu tersadar

    Dalam kegelapan yang pekat di gubuk kayu milik Zufu, Mutiara Sendayu berteriak histeris mendapati matanya tidak bisa melihat.Tetapi tidak berlangsung lama karena saat Mutiara Sendayu kehilangan napas, teriakannya lenyap berganti kepanikan.Haaaaaa! haaaaaa! haaaa!Gadis itu berusaha mengambil napas, namun udara di sana begitu berat hingga sulit dihirup.Alih-alih bisa mengambil udara, Mutiara Sendayu malah mengalami muntah darah.Beruntung ada Arga yang langsung menenangkan kepanikannya, Arga mengatakan mereka belum mati dan ini bukan di alam baka.Selanjutnya Arga memberi tahu Mutiara Sendayu bagaimana cara menyerap udara.Mendengar Arga berada di sisinya, Mutiara Sendayu berangsur tenang. Dia tidak lagi mencoba menghirup udara tetapi mulai konsentrasi memahami sifat udara agar bisa diserap oleh paru-parunya.Setelah beberapa lama, gadis itu akhirnya bisa bernapas, tetapi masalah kali ini adalah tekanan daya tarik bumi dan penglihatan. Selain tidak bisa berdiri, Mutiara Sendayu juga

  • Sang Kusir   Bab 148 Jadikan Aku Murid

    “Maaf aku selalu menyusahkanmu,” Arga menunduk merasa bersalah.“Tidak apa, itu salahku karena aku tidak memberitahumu tujuanku berburu,” ujar Zufu sembari tersenyum.“Tapi untuk apa kau mencariku? Bukankah kau bisa menungguku pulang?” tanya Zufu merasa aneh.Arga tersenyum malu sebelum menjawab, “Waktu itu aku terlalu bersemangat ingin menanyakan pedang milikku, siapa tahu dirimu pernah menemukannya,” ungkap Arga.“Apa pedang besar yang mirip batu dengan gagang berwarna merah?” tanya Zufu membuat Arga melebarkan mata.“Benar, benar itu pedangku, dimana dia sekarang?” tanya Arga penuh semangat.“Hahaha, ternyata itu pedangmu. Aku menguburnya di bawah pohon ini karena kukira itu hanya sekedar sampah yang tidak sengaja terbawa kemari,” Zufu tertawa terbahak-bahak.“Di-di—dikubur? Apa kau bisa mengangkat pedangku?” tanya Arga sulit percaya di mana di alam manusia, tidak ada seorangpun yang bisa mengangkat pedang itu selain dirinya.“Hahaha, mengapa tidak bisa, itu hanya sekedar pedang, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status