Se connecterJantaka yang melihat Arga bertarung seorang diri merasa malu dan ingin membantunya. Tetapi mengingat kanuragannya masih lemah, dia kembali mengurungkan niatnya.Arga bertarung di atas langit melawan 4 makhluk setinggi 5 meter. Kekuatan mereka tidak main-main karena berada di tingkat kanuragan kependekaran langit.Cahaya benturan senjata terus memercik menciptakan bunga api besar yang cukup terang membuat Jantaka bisa menyaksikan semuanya.“Sial! Mengapa aku begitu lemah,” keluh Jantaka kesal kepada dirinya sendiri.Tidak lama dari belakang datang seekor kuda yang tiada lain adalah Liwa.“Oak, Oak!” ucap Liwa kepada Jantaka, tetapi pemuda itu hanya bisa mengerutkan kening karena tidak mengerti bahasa Liwa.“Mengapa kau ke sini? Kembali bersama kuda lain, di sini berbahaya,” ujar Jantaka meminta Liwa pergi.Liwa awalnya diikat bersama kuda Jantaka dan Ariani di pinggir hutan bambu untuk beristirahat.Tetapi entah mengapa dia bisa lepas padahal Jantaka sendiri yang mengikatnya dengan kua
“Tunggu dulu! Di mana senjata Ariani, kita tidak bisa meninggalkannya karena itu adalah senjata pusaka dari pedepokan Melati Sakti,” sergah Jantaka.“Bukankah itu hanya senjata, kita bisa mendapatkan senjata lain nanti,” jawab Arga tergesa-gesa.“Kau tidak mengerti, senjata sama halnya dengan anggota tubuh. Jika dia kehilangan senjatanya, mungkin Ariani akan bersedih,” tutur Jantaka.Mendengar itu Arga melirik ke arah pedang hitamnya, “Benar juga, kau adalah anggota tubuhku,” ucap Arga berbicara kepada pedang hitam.“Baiklah, aku akan mengambilkannya,” ungkap Arga membuat Jantaka senang.Arga segera mengangkat salah satu kepalan tangannya ke atas langit, memancarkan cahaya merah terang yang menyebar ke seluruh wilayah.Tidak lama dari itu sebuah pedang indah lengkap dengan sarungnya melesat dari arah goa kaum Kumbolo dan mendarat mulus di tangan Arga.“Sial! Kemampuanmu itu sungguh luar biasa, apa aku bisa mempelajarinya?” tanya Jantaka berdecak kagum.“Hahaha, tidak bisa. Ini kemampu
Ruangan yang luas seperti istana di dalam goa ternyata bukanlah akhir perjalanan Arga di mana di depan mereka masih terdapat ruangan lain yang lebih besar lagi.“Sial! Apa di sana akan mengadakan pesta? Mengapa banyak sekali makhluk jelek,” tanya Jantaka berbisik.“Benar, aku tadi mendengar di sini akan ada pernikahan,” jawab Arga singkat, mata tetap tajam memperhatikan gerak-gerik semua orang di dalam ruangan sangat besar.Terdapat sekitar 3000 prajurit makhluk berkulit merah yang membawa senjata, selebihnya adalah para tamu undangan dari berbagai makhluk yang wujudnya sama-sama mengerikan.“Aku tidak bisa membaca kanuragan mereka, setingkat apa kanuragan makhluk-makhluk itu,” tanya Jantaka.“Prajurit berkulit merah berada di antara awal tanding dan bergelar tahap akhir, sementara yang duduk di barisan paling depan sudah ada yang mencapai pendekar pilih tanding dan pendekar langit,” jawab Arga menjelaskan.“Sial! Mereka pasukan yang kuat, kita bisa mati jika ketahuan,” umpat Jantaka.
Dua pemuda tampan berjalan kaki menyusuri jalanan besar yang membentang menuju sebuah wilayah antah berantah.Kanan kiri jalanan adalah sebuah hutan lebat dengan tumbuhan aneh sangat besar berpohon lebar.Satu pemuda mengenakan pakaian mewah seperti seragam elit sebuah perguruan sementara pemuda lain mengenakan pakaian lusuh layaknya pegawai rendahan di sebuah kerajaan.“Apa kita sedang di hutan kapas? Pohon itu mirip sekali dengan pohon kapas tetapi bedanya tidak memiliki duri di batangnya,” tanya Jantaka.“Apa yang kau maksud pohon kapas itu adalah pohon Randu?” Arga balik bertanya.“Benar, memang apalagi jika bukan pohon Randu,” jawab Jantaka.“Itu bukan pohon kapas bodoh! Lihatlah buahnya, buahnya mirip sekali dengan kelapa, mungkin ini adalah anak pohon hasil kawinan Randu dan Kelapa,” tutur Arga.“Jangan bercanda! Mana ada pohon kawin. Sudahlah, apa jalan yang kita lewati ini sudah benar,” tanya Jantaka.“Ya, aku merasakan ada jejak makhluk halus di jalan ini,” jawab Arga.“Sial
Sebelum mencapai lembah Batu Situng, rombongan Arga harus melewati danau Panenjoan terlebih dahulu.Danau itu membentang sangat luas sehingga mau tidak mau mereka harus membangun rakit dari batang-batang bambu yang disatukan.“Aku tidak mengerti entah bagaimana cara dirimu berangkat ke Bunisora seorang diri Jantaka?” tanya Arga mengerutkan kening sembari menatap jauh ke sebrang danau Panenjoan yang begitu luas.Jika dilintasi dengan terbang mungkin hanya akan memakan waktu satu hari untuk menyebranginya. Tetapi jika menggunakan rakit, Arga tidak tahu entah akan berapa hari tinggal di atas rakit.“Saat berangkat aku menggunakan jalur selatan yang lebih dekat dan tidak melewati danau ini, tetapi karena kita memulai pejalanan dari dusun Pandira, maka terpaksa aku membawa kalian menggunakan jalur utara,” ungkap Jantaka sembari menyeringai bodoh.“Mengapa tidak menggunakan jalur selatan saja? Bukankah akan lebih dekat,” kembali Arga bertanya cepat.“Hahaha dasar bodoh! Dekat jika dari kera
“Kakek tua?” Arga menghentikan serangannya.“Sudah cukup, beri dia kesempatan,” ujar Resi Gamadharma.“Baiklah, aku serahkan sisanya padamu,” ucap Arga.Hampir seluruh wilayah perguruan Kuil Batara hancur oleh Arga, jika tidak ada Resi Gamadharma, kemungkinan sesepuh perguruan tersebut juga ikut lenyap dimusnahkan pemuda itu.“Ro-ro-romo, maafkan aku,” ungkap Anggadharma lirih.Air matanya terus meniti dengan tubuh terbaring lemas tanpa daya. Dia hanya bisa pasrah menerima nasib, andai Arga membunuhnya-pun Anggadharma akan menerimanya dengan suka rela.“Kau telah terlalu jauh keluar dari jalur tujuan awal kita Angga, semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga untukmu,” ujar sang kakek tua.Tidak hanya Resi Gamadharma saja yang datang ke sana, tetapi 13 pilar Kuil Batara juga ikut datang.Mereka sengaja tidak membantu Anggadharma supaya orang tua itu sadar akan kesalahannya.Itu juga merupakan alasan mengapa Resi Gamadharma meminta Arga tinggal diperguruan selama beberapa hari karena h







