Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 8 Pendekar Taruna

Share

Bab 8 Pendekar Taruna

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-16 20:09:39

Sayembara pencarian kusir terbaik untuk upacara kedewasaan diadakan sore hari.

Arga membersihkan kandang kuda dengan semangat karena dia ingin menyaksikan jalannya sayembara.

Selepas mengumpulkan kotoran, dia lantas memasukkannya pada gerobak khusus agar dapat langsung dibuang ke tempat pembuangan.

“Ayo Liwa, kita harus cepat! Atau kita akan melewatkan sayembara,” seru Arga.

“Oak, oak,” Liwa meringkik sembari menghentakkan kaki, selanjutnya dia melesat menarik gerobak kotoran menuju tempat pembuangan di belakang istana.

Dengan kecepatan Liwa, tidak membutuhkan waktu lama untuk Arga tiba di tempat itu, dia segera memisahkan gerobak dari punggung Liwa, kemudian memiringkannya menuju lubang pembuangan, membuat semua kotoran yang ada di dalam gerobak langsung turun meluncur memasuki lubang pembuangan.

Selesai dengan kotoran kuda, Arga kembali memasang gerobak ke tubuh Liwa agar dapat segera pulang untuk kemudian pergi ke alun-alun kerajaan menyaksikan sayembara.

Tetapi baru saja Arga akan melesat menuju kandang kuda, 6 orang yang dia kenal menghadangnya di tengah jalan.

“Berhenti di sana kau pecundang dan lekas turun dari kereta!” bentak Ahim.

Bersama ke 5 temannya, dia merupakan pegawai rendahan yang tempo hari menggantikan tugas Arga saat pemuda itu terluka akibat serangan 5 Senopati jahat.

“Ahim, Akri, Juhri, Murdi, Mehdi, Rumin! Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa menghalangi jalanku,” seru Arga mengerutkan kening.

“Jangan banyak bacot! Cepat turun!” bentak Murdi dengan tatapan dingin.

Karena tidak ingin berdebat, Arga pun segera turun memenuhi panggilan mereka.

“Hahaha, bocah pintar! sekarang kami akan membuat perhitungan denganmu, majulah, lawan aku!” teriak Rumin telah mengepalkan tangan.

“Tunggu dulu! Membuat perhitungan? Apa salahku pada kalian?” tanya Arga.

Sejak bangun dari komanya, entah mengapa hati Arga jadi tidak memiliki rasa takut, dia menatap tenang ke 6 pegawai rendahan itu seakan mereka bukan apa-apa.

“Cih! Kau jangan pura-pura tidak tahu sialan! Karena dirimu kami mengalami hari yang berat, dan perjudian kami kalah telak. Tentu saja itu semua salahmu!” bentak Juhri.

“Cepat maju kemari Arga! Jangan biarkan aku bosan menunggu, jika tidak, maka kami semua yang akan maju ke sana!” teriak Rumin.

“Oak, Oak!” Liwa melarang Arga, dia mengatakan segera kembali ke gerobak agar bisa melarikan diri.

“Tidak Liwa, aku sudah bosan dengan tingkah mereka,” ucap Arga tenang.

“Oak, Oak!” teriak Liwa, katanya “kau jangan sok jadi jagoan atau dirimu akan berakhir babak belur lagi oleh mereka.”

Tapi Arga tidak peduli, dia mulai melangkahkan kakinya menuju tempat ke 6 pegawai rendahan tersebut.

Melihat sikap Arga yang tenang, Ahim entah mengapa memiliki firasat buruk, tetapi perasaan itu segera di tepisnya karena Arga bukan kali ini saja mereka hajar.

“Sepertinya ada yang salah dengan pemuda itu? Apa otaknya sudah tidak ada karena kondisinya tempo hari?” ungkap Juhri yang juga merasa curiga.

“Apa yang kau katakatan Juhri! Kau jangan tertipu dengan sikap tenangnya, bisa saja dia hanya menggertak kita,” sergah Mudri.

“Benar! Persetan dengan sikapnya, bukankah kita sudah menghajar pemuda itu lebih dari 10 kali, dan hari ini akan jadi yang ke 11,” Rumin semakin mengepalkan tangan.

“Kalian benar, ayo Rumin hajar dia! Setelah dirimu, kami semua nanti akan bergabung,” Juhri membuang perasaannya.

Arga berhenti melangkah tepat saat jaraknya tinggal 5 langkah lagi dengan mereka.

Liwa di belakang sudah sedari tadi menghentakkan kakinya beberapa kali mencegah Arga, tetapi dia tetap tidak peduli.

“Baiklah, siapa yang akan maju duluan?” ungkap Arga menyeringai lembut, membuat amarah Rumin semakin memuncak.

Tanpa banyak bicara lagi Rumin langsung melesat dengan kepalan tangan kanan sudah melayang menuju wajah Arga.

Dia sangat percaya dengan kemampuannya, di mana Rumin pernah belajar dasar ilmu bela diri.

Tidak hanya Rumin, tetapi ke lima temannya juga merupakan pendekar tingkat dasar karena pernah mengenyam pendidikan di perguruan kanuragan.

Hanya saja ke 6 lelaki itu di keluarkan dari perguruan karena kerap melanggar aturan dengan senang mabuk dan melakukan perjudian.

Bagi Rumin, Arga tidak lebih dari seorang pecundang yang menumpang hidup di kerajaan, dia bekerja di kerajaan tanpa melalui seleksi membuat semua pegawai tidak menyukainya.

“Mampus kau pecundang!” teriak Rumin dengan sangat geram.

Kepalan tangannya melesat sangat cepat hampir menghantam wajah Arga, sehingga Rumin menyeringai puas.

Tetapi seringai itu seketika lenyap berganti keterkejutan tatkala kepalan tangan miliknya berhenti ditahan Arga menggunakan sebelah tangan.

“Ini …? Tidak mungkin!” gumam Rumin membelalakkan mata.

Dia segera menarik kembali kepalan tangannya dan mundur ke belakang.

Ke Lima pegawai rendahan lain-pun di belakang sama terkejutnya dengan Rumin.

Bahkan Ahim dan Juhri sampai menahan nafas menyaksikannya.

“Bangsat! Ternyata dari dulu kau sengaja menyembunyikan kemampuanmu Arga?” teriak Rumin tidak terima.

“Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kalian, hanya saja aku sudah muak dengan sikap kalian yang suka menindasku tanpa alasan,” jawab Arga dingin.

Sosok Arga kali ini berubah 180 derajat layaknya seorang pendekar, membuat ke 6 pegawai rendahan di hadapannya serentak mengerutkan kening tidak mengerti.

Jangankan mereka, Arga sendiri pun tidak paham. Dia bertindak seperti itu tiada lain hanya mengikuti apa kata hatinya saja.

Siapa sangka ternyata Arga mampu menahan serangan Rumin.

Liwa masih belum bisa menguasai diri, kuda kumal itu melongo dengan mulut terbuka, dia tidak percaya Arga mampu menahan serangan dari orang yang suka menyiksanya padahal Arga hanya seorang manusia biasa.

“Cih, jangan sombong kau sialan! Boleh saja dirimu mampu menahan serangan Rumin, tetapi aku tidak yakin kau mampu menahan serangan kami berenam,” Mehdi berteriak geram.

“Aku tidak menginginkan bertarung dengan kalian, tapi jika kalian bersikeras, maka maaf jika aku melawan,” ujar Arga tidak peduli.

“Bedebah! Serang dia!” seru Mehdi yang sudah tidak sabar ingin menghajar Arga.

Mendengar itu, Ahim, Akri, juhri, Murdi dan Rumin pun segera berlompatan mengepung Arga dari segala arah.

“Oak, Oak!” si kuda kerdil meringkik memperingati Arga.

“Kau tenang saja Liwa, aku akan baik-baik saja,” seru Arga.

Tentu saja seruan itu membuat ke 6 pegawai rendahan naik pitam, secara serentak mereka melayangkan serangan ke arah Arga.

Pukulan dan tendangan berlesatan dari berbagai sisi mengincar titik vital tubuh Arga.

Tetapi sama seperti tadi, entah mengapa tangan Arga bergerak sendiri menangkis semua serangan itu dengan sangat mudah.

Seakan waktu berjalan lambat, Arga dapat melihat semua serangan mereka dengan jelas, membuatnya tahu bagaimana cara mengatasinya.

Satu persatu orang yang mengeroyok Arga terpental terkena serangan balik darinya.

Membuat mereka sungguh terkejut tidak percaya dengan semua ini.

Bagaimana tidak di mana Arga sekarang tiba-tiba memiliki kekuatan setara dengan pendekar tingkat taruna, satu tingkat berada di atas mereka, membuat Ahim dan kelompoknya hanya bisa pasrah terkapar oleh Arga.

Satu pukulan dari Arga sama dengan tendangan 2 ekor kuda secara bersamaan, sehingga mereka langsung terbaring tidak berdaya.

Rumin mengucurkan banyak darah dari hidung dan mulutnya, seumur hidup, baru kali ini dia kalah bertarung dari seseorang, membuatnya seketika memiliki pandangan lain kepada Arga.

Begitu juga dengan Murdi, Juhri, Mehdi, Akri dan Ahim, mereka terkapar tidak berdaya dengan luka serius di tubuhnya.

“Ampun Arga, kami mengaku kalah,” ungkap Rumin sembari berusaha bangkit sekuat tenaga.

Dia berlutut di depan Arga tidak ingin melanjutkan pertarungan.

Melihat itu, ke 5 temannya juga melakukan hal yang sama, keberanian mereka tiba-tiba saja lenyap berganti ketakutan menatap Arga.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status