LOGINSayembara pencarian kusir terbaik untuk upacara kedewasaan diadakan sore hari.
Arga membersihkan kandang kuda dengan semangat karena dia ingin menyaksikan jalannya sayembara.
Selepas mengumpulkan kotoran, dia lantas memasukkannya pada gerobak khusus agar dapat langsung dibuang ke tempat pembuangan.
“Ayo Liwa, kita harus cepat! Atau kita akan melewatkan sayembara,” seru Arga.
“Oak, oak,” Liwa meringkik sembari menghentakkan kaki, selanjutnya dia melesat menarik gerobak kotoran menuju tempat pembuangan di belakang istana.
Dengan kecepatan Liwa, tidak membutuhkan waktu lama untuk Arga tiba di tempat itu, dia segera memisahkan gerobak dari punggung Liwa, kemudian memiringkannya menuju lubang pembuangan, membuat semua kotoran yang ada di dalam gerobak langsung turun meluncur memasuki lubang pembuangan.
Selesai dengan kotoran kuda, Arga kembali memasang gerobak ke tubuh Liwa agar dapat segera pulang untuk kemudian pergi ke alun-alun kerajaan menyaksikan sayembara.
Tetapi baru saja Arga akan melesat menuju kandang kuda, 6 orang yang dia kenal menghadangnya di tengah jalan.
“Berhenti di sana kau pecundang dan lekas turun dari kereta!” bentak Ahim.
Bersama ke 5 temannya, dia merupakan pegawai rendahan yang tempo hari menggantikan tugas Arga saat pemuda itu terluka akibat serangan 5 Senopati jahat.
“Ahim, Akri, Juhri, Murdi, Mehdi, Rumin! Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa menghalangi jalanku,” seru Arga mengerutkan kening.
“Jangan banyak bacot! Cepat turun!” bentak Murdi dengan tatapan dingin.
Karena tidak ingin berdebat, Arga pun segera turun memenuhi panggilan mereka.
“Hahaha, bocah pintar! sekarang kami akan membuat perhitungan denganmu, majulah, lawan aku!” teriak Rumin telah mengepalkan tangan.
“Tunggu dulu! Membuat perhitungan? Apa salahku pada kalian?” tanya Arga.
Sejak bangun dari komanya, entah mengapa hati Arga jadi tidak memiliki rasa takut, dia menatap tenang ke 6 pegawai rendahan itu seakan mereka bukan apa-apa.
“Cih! Kau jangan pura-pura tidak tahu sialan! Karena dirimu kami mengalami hari yang berat, dan perjudian kami kalah telak. Tentu saja itu semua salahmu!” bentak Juhri.
“Cepat maju kemari Arga! Jangan biarkan aku bosan menunggu, jika tidak, maka kami semua yang akan maju ke sana!” teriak Rumin.
“Oak, Oak!” Liwa melarang Arga, dia mengatakan segera kembali ke gerobak agar bisa melarikan diri.
“Tidak Liwa, aku sudah bosan dengan tingkah mereka,” ucap Arga tenang.
“Oak, Oak!” teriak Liwa, katanya “kau jangan sok jadi jagoan atau dirimu akan berakhir babak belur lagi oleh mereka.”
Tapi Arga tidak peduli, dia mulai melangkahkan kakinya menuju tempat ke 6 pegawai rendahan tersebut.
Melihat sikap Arga yang tenang, Ahim entah mengapa memiliki firasat buruk, tetapi perasaan itu segera di tepisnya karena Arga bukan kali ini saja mereka hajar.
“Sepertinya ada yang salah dengan pemuda itu? Apa otaknya sudah tidak ada karena kondisinya tempo hari?” ungkap Juhri yang juga merasa curiga.
“Apa yang kau katakatan Juhri! Kau jangan tertipu dengan sikap tenangnya, bisa saja dia hanya menggertak kita,” sergah Mudri.
“Benar! Persetan dengan sikapnya, bukankah kita sudah menghajar pemuda itu lebih dari 10 kali, dan hari ini akan jadi yang ke 11,” Rumin semakin mengepalkan tangan.
“Kalian benar, ayo Rumin hajar dia! Setelah dirimu, kami semua nanti akan bergabung,” Juhri membuang perasaannya.
Arga berhenti melangkah tepat saat jaraknya tinggal 5 langkah lagi dengan mereka.
Liwa di belakang sudah sedari tadi menghentakkan kakinya beberapa kali mencegah Arga, tetapi dia tetap tidak peduli.
“Baiklah, siapa yang akan maju duluan?” ungkap Arga menyeringai lembut, membuat amarah Rumin semakin memuncak.
Tanpa banyak bicara lagi Rumin langsung melesat dengan kepalan tangan kanan sudah melayang menuju wajah Arga.
Dia sangat percaya dengan kemampuannya, di mana Rumin pernah belajar dasar ilmu bela diri.
Tidak hanya Rumin, tetapi ke lima temannya juga merupakan pendekar tingkat dasar karena pernah mengenyam pendidikan di perguruan kanuragan.
Hanya saja ke 6 lelaki itu di keluarkan dari perguruan karena kerap melanggar aturan dengan senang mabuk dan melakukan perjudian.
Bagi Rumin, Arga tidak lebih dari seorang pecundang yang menumpang hidup di kerajaan, dia bekerja di kerajaan tanpa melalui seleksi membuat semua pegawai tidak menyukainya.
“Mampus kau pecundang!” teriak Rumin dengan sangat geram.
Kepalan tangannya melesat sangat cepat hampir menghantam wajah Arga, sehingga Rumin menyeringai puas.
Tetapi seringai itu seketika lenyap berganti keterkejutan tatkala kepalan tangan miliknya berhenti ditahan Arga menggunakan sebelah tangan.
“Ini …? Tidak mungkin!” gumam Rumin membelalakkan mata.
Dia segera menarik kembali kepalan tangannya dan mundur ke belakang.
Ke Lima pegawai rendahan lain-pun di belakang sama terkejutnya dengan Rumin.
Bahkan Ahim dan Juhri sampai menahan nafas menyaksikannya.
“Bangsat! Ternyata dari dulu kau sengaja menyembunyikan kemampuanmu Arga?” teriak Rumin tidak terima.
“Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kalian, hanya saja aku sudah muak dengan sikap kalian yang suka menindasku tanpa alasan,” jawab Arga dingin.
Sosok Arga kali ini berubah 180 derajat layaknya seorang pendekar, membuat ke 6 pegawai rendahan di hadapannya serentak mengerutkan kening tidak mengerti.
Jangankan mereka, Arga sendiri pun tidak paham. Dia bertindak seperti itu tiada lain hanya mengikuti apa kata hatinya saja.
Siapa sangka ternyata Arga mampu menahan serangan Rumin.
Liwa masih belum bisa menguasai diri, kuda kumal itu melongo dengan mulut terbuka, dia tidak percaya Arga mampu menahan serangan dari orang yang suka menyiksanya padahal Arga hanya seorang manusia biasa.
“Cih, jangan sombong kau sialan! Boleh saja dirimu mampu menahan serangan Rumin, tetapi aku tidak yakin kau mampu menahan serangan kami berenam,” Mehdi berteriak geram.
“Aku tidak menginginkan bertarung dengan kalian, tapi jika kalian bersikeras, maka maaf jika aku melawan,” ujar Arga tidak peduli.
“Bedebah! Serang dia!” seru Mehdi yang sudah tidak sabar ingin menghajar Arga.
Mendengar itu, Ahim, Akri, juhri, Murdi dan Rumin pun segera berlompatan mengepung Arga dari segala arah.
“Oak, Oak!” si kuda kerdil meringkik memperingati Arga.
“Kau tenang saja Liwa, aku akan baik-baik saja,” seru Arga.
Tentu saja seruan itu membuat ke 6 pegawai rendahan naik pitam, secara serentak mereka melayangkan serangan ke arah Arga.
Pukulan dan tendangan berlesatan dari berbagai sisi mengincar titik vital tubuh Arga.
Tetapi sama seperti tadi, entah mengapa tangan Arga bergerak sendiri menangkis semua serangan itu dengan sangat mudah.
Seakan waktu berjalan lambat, Arga dapat melihat semua serangan mereka dengan jelas, membuatnya tahu bagaimana cara mengatasinya.
Satu persatu orang yang mengeroyok Arga terpental terkena serangan balik darinya.
Membuat mereka sungguh terkejut tidak percaya dengan semua ini.
Bagaimana tidak di mana Arga sekarang tiba-tiba memiliki kekuatan setara dengan pendekar tingkat taruna, satu tingkat berada di atas mereka, membuat Ahim dan kelompoknya hanya bisa pasrah terkapar oleh Arga.
Satu pukulan dari Arga sama dengan tendangan 2 ekor kuda secara bersamaan, sehingga mereka langsung terbaring tidak berdaya.
Rumin mengucurkan banyak darah dari hidung dan mulutnya, seumur hidup, baru kali ini dia kalah bertarung dari seseorang, membuatnya seketika memiliki pandangan lain kepada Arga.
Begitu juga dengan Murdi, Juhri, Mehdi, Akri dan Ahim, mereka terkapar tidak berdaya dengan luka serius di tubuhnya.
“Ampun Arga, kami mengaku kalah,” ungkap Rumin sembari berusaha bangkit sekuat tenaga.
Dia berlutut di depan Arga tidak ingin melanjutkan pertarungan.
Melihat itu, ke 5 temannya juga melakukan hal yang sama, keberanian mereka tiba-tiba saja lenyap berganti ketakutan menatap Arga.
**
“Ini …?” Arga terkejut mendapati tubuhnya tidak bisa berdiri.Bukan karena luka atau tulang Arga pernah patah, tetapi sama seperti di bukit terlarang, di sana terdapat suatu energi yang menarik tubuh Arga hingga terasa sangat berat.“Ini bahkan jauh lebih berat ratusan kali lipat dari energi bukit terlarang,” gumam Arga.Beberapa kali Arga mencoba bangkit, tetapi selalu saja gagal, dia kembali terjatuh dan terjatuh lagi, sampai pada akhirnya, Arga memilih pasrah berbaring di lantai ranting.“Tempat macam apa ini? Mengapa tekanan di sini begitu sangat berat,” gumam Arga.Selanjutnya dia memandangi wajah Mutiara Sendayu yang amat teramat cantik, Arga tersenyum sembari menggeleng.Pemuda itu tidak menyangka akan terjebak di tempat seperti ini bersama gadis yang pernah merepotkannya.Kemudian dia teringat janjinya kepada Karnia saat gadis itu akan meninggal, membuat Arga segera kembali bangkit.Dia tidak bisa menyerah pada alam, janji adalah janji, sesuatu yang harus Arga penuhi.“Benar!
Di atas sebuah pohon setinggi 300 meter terdapat sebuah gubuk kayu yang cukup besar.Dinding dan atapnya terbuat dari kulit pohon yang sangat lebar, semetara lantainya terbentuk dari tumpukan ranting kering.Arga dan Mutiara Sendayu dibaringkan secara berdampingan, sementara seluruh tubuh mereka dibalut dengan tanah liat hingga menyerupai kepongpong.Tidak jauh dari tempat mereka, seorang pria tampan bertelinga runcing tengah asyik menyantap daging tikus mentah dari hasil buruannya.Ternyata Arga dan Mutiara Sendayu dibawa ke sana untuk diobati, tetapi entah mengapa cara mereka dibawa dan diobati sungguh sangat aneh.Setelah selesai menyantap daging tikus mentah, sang pria tampan lantas menghampiri tubuh Arga dan Mutiara Sendayu.“Siapa kalian? Mengapa bisa sampai ke tempat seperti ini?” gumam pria tampan.Beberapa kali dia mengerutkan kening merasa heran memikirkan Arga dan Mutiara Sendayu.Selama ribuan tahun, tidak pernah ada satupun manusia yang bisa mencapai tempat ini.Hutan kem
Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam
“Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter
“Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah
“Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi







