Beranda / Fantasi / Sang Kusir / Bab 91 Bantuan Arga

Share

Bab 91 Bantuan Arga

Penulis: Pujangga
last update Tanggal publikasi: 2026-09-12 19:29:39

“Apa dia mati?” gumam Nuri melebarkan mata.

“A-a—aku tidak tahu,” jawab Tika terbata.

Dia masih terkejut karena dirinya hampir saja tergigit mahluk itu.

“Pedang ini!” Jambang mengenali pedang besar yang masih menancap di tanah.

“Benar, itu punyaku,” terdengar suara Arga yang baru saja muncul dari kegelapan.

Di belakangnya juga muncul Ariani dan Jantaka yang sedari tadi terus memperhatikan pertarungan.

“Kau?”

“Kau?”

“Kau?”

Nuri, Kamala, Bopeng, Apud, dan Buki menyipitkan mata melihat Arga. Panda
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Kusir   Bab 92 Hutan Lengkung

    Pagi hari menjelang siang, Arga, Jantaka, Ariani dan rombongan pendekar cenayang keluar dari penginapan untuk mengantar gadis kecil yang semalam mereka selamatkan.Sapto juga ikut bersama rombongan mereka karena setelah mengantarkan gadis kecil, Arga rencananya akan langsung menemui adik dari korban yang pertama kali membawa wabah mayat hidup ke desa.Mereka berjalan beriringan melalui jalanan besar yang menuju ke pusat dusun, sementara mentari di atas langit sudah mulai naik sepenggalah.“Ini karena kau kesiangan Arga,” keluh Jantaka karena tadi Arga sulit sekali dibangunkan.“Hahaha, maaf, itu karena aku sedang mimpi buruk tadi,” jawab Arga sembari tersenyum kecil.“Mana ada orang mimpi buruk susah bangun, biasanya yang bermimpi buruk akan mudah sekali bangun,” sergah Jantaka masih tidak terima.Keduanya terus berdebat hanya karena sebuah mimpi, Arga tetap dengan pendiriannya, sementara Jantaka tetap dengan keluhannya.Sapto dan Jambang yang berada di dekat mereka beberapa kali meng

  • Sang Kusir   Bab 91 Bantuan Arga

    “Apa dia mati?” gumam Nuri melebarkan mata.“A-a—aku tidak tahu,” jawab Tika terbata.Dia masih terkejut karena dirinya hampir saja tergigit mahluk itu.“Pedang ini!” Jambang mengenali pedang besar yang masih menancap di tanah.“Benar, itu punyaku,” terdengar suara Arga yang baru saja muncul dari kegelapan.Di belakangnya juga muncul Ariani dan Jantaka yang sedari tadi terus memperhatikan pertarungan.“Kau?”“Kau?”“Kau?”Nuri, Kamala, Bopeng, Apud, dan Buki menyipitkan mata melihat Arga. Pandangan mereka masih saja sinis seperti tidak suka kelompok Arga ada di sana.Arga tidak menggubris mereka, dia terus berjalan menghampiri Tika untuk mengambil pedangnya kembali.Sriing!Pedang hitam berukuran besar dicabut dari tanah untuk kemudian di tenteng dengan satu tangan seakan pedang itu sangat ringan.“Terima kasih kau telah menyelamatkan teman kami,” ungkap Jambang.“Sama-sama, itu hanya bantuan kecil,” jawab Arga.“Aku tidak menyukai mereka,” bisik Ariani.“Aku juga sama,” jawab Jantaka

  • Sang Kusir   Bab 90 Perburuan Mayat Bagian 2

    Jambang langsung keluar dari formasi, dia melesat menebaskan pedang memotong salah satu lengan mayat hidup untuk melepaskan Dirman.Sring! Cruat!Satu lengan mayat hidup terlepas terkena tebasan pedang Jambang membuat dekapan mahluk itu kepada Dirman terlepas.Dirman yang memiliki kesempatan langsung melompat melepaskan diri, dia memegangi pundaknya yang terasa amat sakit serta mengucurkan banyak darah hitam.Selesai menyelamatkan Dirman, Jambang kembali melakukan tebasan mencabik tubuh mayat hidup menggunakan pedang, memotongnya menjadi beberapa bagian. Kemudian dia melesat ke arah Dirman untuk memastikan keadaan.Tika yang sudah melepaskan mantera rantai energi segera melesat menyelamatkan anak perempuan yang tergeletak tidak jauh dari mayat hidup.Sementara Kamala melesat menghampiri tubuh Nuri untuk menenangkannya.Buki, Apud, dan Bopeng menghampiri Jambang memeriksa keadaan Dirman.“Bagaimana?” tanya Buki.“Ini panas sekali, aku tidak bisa meredakan rasa sakitnya meski menggunaka

  • Sang Kusir   Bab 89 Perburuan Mayat

    Arga bersama Ariani dan Jantaka berjalan mengendap-ngendap mengikuti kelompok cenayang yang sedang berburu hantu.Dari arah jalannya, mereka seperti akan menuju pusat dusun karena di sanalah tempat paling banyak rumah penduduk.“Perasaanku sungguh tidak enak, sebaiknya kita kembali dan biarkan urusan mayat hidup ini kepada mereka sebagai ahlinya,” ungkap Jantaka dengan berbisik.“Sebagai pria dirimu memang penakut Taka,” sahut Ariani menanggapi.“Bu—bukan penakut Ariani, tetapi perbuatan mencampuri urusan orang lain itu sungguh tidak baik,” kilah Jantaka tidak terima.“Sudah ikuti saja mereka, tapi jika dirimu takut, kau boleh kembali sendiri kepenginapan,” ujar Arga sembari tersenyum licik.“A—apa kau bercanda? A—aku tidak takut, baik kita ikuti saja mereka,” Jantaka sedikit terbata.Pulang sendiri ke penginapan dari jarak sejauh itu sama saja dengan menyerahkan diri kepada mayat hidup, makanya Jantaka menolak dan memilih mengikuti Arga.“Hahaha, sudah kuduga. Sekarang diamlah dan pe

  • Sang Kusir   Bab 88 Cenayang

    Malam semakin larut di dusun Pandira, sementara Arga dan kedua temannya masih asik menikmati hidangan ayam bakar dan wedang jahe yang di sediakan oleh pihak penginapan.“Teror ini terjadi sekitar 2 minggu yang lalu tepat ketika di atas langit terjadi purnama merah,” jelas pria kurus yang belakangan dikenal dengan nama Sapto.Dia adalah pemilik penginapan sekaligus pelayan di sana karena sejak terjadi teror, semua pekerja penginapan mengundurkan diri karena takut.Sapto kerap bekerja bersama adiknya yang bernama Kuswan, sang adik berperan sebagai juru masak di penginapan ini.“2 minggu? Mengapa paman tidak melaporkannya ke pihak kerajaan?” tanya Jantaka.“Sudah pernah kami lakukan, tetapi tidak membuahkan hasil. Kepala dusun yang berangkat ke sana bahkan pulang tinggal nama entah kenapa,” jawab Sapto.“Berapa banyak penduduk yang tewas karena wabah ini paman?” tanya Arga.“Pertama hanya satu orang yang terkena penyakit aneh tuan, kemudian tanpa di duga saat malam hari dia berubah menja

  • Sang Kusir   Bab 87 Teror Mayat

    Hari telah memasuki malam, tiga kuda beriringan melewati beberapa kediaman penduduk yang terlihat sangat sepi seperti tidak ada orang di dalamnya.Mereka terus berjalan dengan mata tajam memperhatikan segala arah.“Apa mungkin pemukiman ini sudah ditinggalkan?” tanya Ariani.“Sepertinya memang benar ini karena wabah itu,” ungkap Jantaka.“Kita tidak bisa menyimpulkan jika belum memeriksa seluruh dusun, bukankah ini baru luarnya saja,” ujar Arga.“Tuan muda benar, kita harus memeriksanya lebih dalam,” kata Ariani.“Perasaanku sudah mulai buruk,” ungkap Jantaka.Entah mengapa dari sejak memasuki dusun Pandira, bulu kuduk Jantaka terus berdiri seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu.“Hahaha, itu karena dirimu penakut Jantaka,” Arga tertawa kecil.Para kuda berjalan pelan karena pandangan mereka terbatas oleh pekatnya malam.“Jangan asal bicara kau Arga, mana mungkin ada pendekar yang penakut,” sergah Jantaka tidak terima.“Tentu saja ada, dia sedang berkuda di depanku,” ujar Arga mengg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status