LOGINHari yang selama empat tahun ini dihindari akhirnya tiba. Ruang utama Jakarta Convention Center sudah dipenuhi oleh ratusan tenaga medis, akademisi, dan awak media. Andin berdiri di balik tirai panggung, merapikan jas dokternya yang berwarna putih gading. Tangannya dingin, tapi dia berusaha mengatur napas dengan teknik yang sering dia ajarkan pada pasiennya yang mengalami serangan panik. "Dokter Andin, tiga menit lagi," bisik seorang panitia dengan headset di telinga. Andin mengangguk. Dia melirik ke arah kursi barisan terdepan melalui celah tirai. Di sana, di tengah-tengah jajaran pejabat kesehatan, duduk seorang pria yang wajahnya telah menghantui mimpinya. Bayu. Dari kejauhan, pria itu tampak persis seperti dalam mimpinya di Zurich. Dia terlihat lebih kurus dibandingkan empat tahun lalu. Jas hitamnya tampak sedikit lebih longgar di bagian bahu, dan guratan di wajahnya menceritakan sebuah kelelahan yang tidak bisa ditutupi oleh kekuasaan. Bayu tidak berbincang deng
Setelah belasan jam berada di dalam kabin pesawat yang kedap suara dan dingin, bunyi denting tanda sabuk pengaman dilepaskan terasa seperti sebuah gong pembuka. Andin menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang mulai tidak beraturan sejak pesawat mulai menurunkan ketinggian di atas langit Jawa yang berkabut.Begitu pintu pesawat terbuka dan dia melangkah keluar menuju garbarata, Jakarta langsung menyambutnya dengan cara yang sangat akrab, suhu udara yang lembap dan panas yang seolah langsung menempel di kulit."Selamat datang kembali, Dokter Andin," gumamnya pelan pada diri sendiri, sambil menyesuaikan letak tas kulit di bahunya....Andin sengaja memilih penerbangan komersial biasa, bukan jet pribadi milik Axel atau fasilitas jemputan dari panitia. Dia ingin merasakan menjadi orang biasa lagi di kota ini. Saat melewati bagian imigrasi, petugas hanya menatap paspornya, lalu menatap wajahnya sekilas sebelum memberikan stempel
Seminggu setelah mimpi yang mengganggu itu, Andin berusaha keras mengembalikan ritme hidupnya. Dia sengaja mengambil jam jaga tambahan di rumah sakit, berharap kelelahan fisik bisa membungkam suara-suara di kepalanya. Tapi, takdir sepertinya punya cara sendiri untuk menariknya kembali. Siang itu, Andin baru saja selesai melakukan visitasi pasien ketika Heidi, perawat senior, menghampirinya di ruang staf. "Dokter Andin, ada paket untukmu di meja depan. Sepertinya dari luar negeri, dokumen resmi," kata Heidi sambil memberikan senyum hangatnya yang biasa. Andin mengernyit. Paket dari luar negeri biasanya hanya jurnal medis atau korespondensi riset dari universitas mitra. Dia berjalan menuju meja resepsionis, mengambil amplop tebal berwarna putih tulang dengan segel emas yang tampak sangat formal. Begitu dia membuka amplop itu di dalam ruangannya, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana tertera tulisan"World Medical Summit – Jakarta: Inovasi dalam Imunologi Klinis.
Suara alarm dari ponsel di atas nakas terdengar nyaring, memecah keheningan kamar yang masih remang-remang. Andin tersentak, napasnya memburu, dan jantungnya berdegup tidak karuan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap langit-langit kamar yang berwarna krem pucat. Ada sisa rasa sesak di dadanya, sisa dari bau asap knalpot dan aroma lembap Jakarta yang tadi baru saja dia hirup. Dia menoleh ke samping. Tidak ada kemacetan Menteng. Tidak ada gerobak tukang bunga. Yang ada hanyalah jendela besar yang sedikit terbuka, memperlihatkan pemandangan pucuk-pucuk pohon pinus yang mulai tertutup salju tipis di Zürichberg. "Cuma mimpi..Aku pasti sudah gila." gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Andin menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, mencoba menata pikirannya. Tangan kanannya meraba lehernya yang sedikit berkeringat. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dia bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasanya berdiri di balik pohon besar, melihat Bayu yang tampak be
Andin menarik napas panjang begitu pintu otomatis terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta terbuka. Bau khas Jakarta, campuran aroma aspal panas, polusi, dan kelembapan yang mencekik langsung menyerbu paru-parunya. Anehnya, setelah sekian lama menghirup udara Zurich yang bersih dan dingin, bau ini justru membuatnya merasa benar-benar sudah sampai di rumah.Dia tidak memberi tahu siapa-siapa soal kepulangannya. Bahkan Axel pun dia minta untuk tetap di New York beberapa hari lagi. Andin butuh waktu untuk dirinya sendiri sebelum hiruk-pikuk konferensi medis itu dimulai.Penampilannya sekarang jauh berbeda. Dia memakai kemeja linen longgar, celana denim yang nyaman, dan kacamata hitam yang menutupi matanya yang sedikit lelah karena penerbangan panjang. Rambutnya diikat asal, tapi dia tetap terlihat mencolok. Ada aura tenang dan dewasa yang terpancar dari wajahnya, sesuatu yang tidak bisa dia miliki empat tahun lalu."Taksi, Mbak?" tawar seorang sopir.Andin tersenyum
Bayu Andarsono, jika di kantor ia adalah sosok pemimpin sempurna, dengan wajah tampan paripurna, walaupun minus di sifatnya yang dingin, penuh intimidasi dan gila kerja. Maka, ketika pulang ke rumah, ia hanyalah seorang suami yang ditinggal pergi sang istri. Setiap malam, lelaki itu selalu konsisten untuk meninggalkan kantor pada pukul 11.30. Sebab ketika pulang ke apartemennya yang mewah, ia akan disuguhi kesunyian dan sepi tak bertepi. Apartemen mewahnya, tidak bisa sedikitpun memberikan obat bagi hatinya yang dipaksa patah. Bunga indah di hatinya yang sudah tumbuh, kini layu dan perlahan mati kekeringan. Bayu dan kesepian adalah dua hal kontras, yang dipaksa menerima satu sama lain Apartemen itu masih sama. Sama seperti yang pernah ditinggalkan Andin. Tata letak dari benda sekecil apapun, tidak diubah olehnya. Di kamar mandi, ia masih membiarkan sikat gigi Andin berada di tempatnya, meski bulu-bulunya sudah mulai kaku. Di lemari, ia secara rutin mencuci dan menyetrik







