MasukBab 02. Master.
Tian Zhi membuka matanya perlahan, pandangannya yang kabur mulai berangsur jelas. Matanya terpaku pada deretan bambu merah yang menyangga dedaunan besar sebagai atap pelindung. Aroma obat tradisional bercampur bau darah menusuk hidungnya, membuatnya meringis. Ia mengangkat kepalanya pelan, memperhatikan luka menganga di dada dan perutnya yang kini tertutup oleh serbuk herbal halus.Tersebar di seluruh tubuhnya, tanda-tanda perawatan terlihat jelas, seperti jari-jari tak terlihat yang berjuang menyembuhkan. Suara tumbukan ritmis membuatnya menoleh ke kiri. Seorang pria tua berusia sekitar lima puluh tahun duduk di pojok ruangan, serius menghaluskan ramuan herbal dengan alu kayu sederhana. Matanya yang tajam dan fokus tak pernah lepas dari pekerjaan itu, seolah nyawanya ikut tercurah di setiap tumbukan. “Tuan tua… terima kasih sudah menyelamatkan diriku,” suara Tian Zhi serak, napasnya masih tersengal. Matanya menatap lemah ke depan, namun pria tua itu sama sekali tak menoleh. Dengan suara pelan tapi tegas, sang pria berkata, “Aku tidak menyelamatkanmu, anak muda. Keinginan dan tekadmu sendiri yang membuatmu bertahan sampai sekarang.” “Tugasku hanya mengobati lukamu,” lanjutnya tanpa ragu, tangan keriput itu meraba perlahan ramuan yang dibuatnya. Tian Zhi menarik napas panjang, merasa kagum sekaligus tersentuh. Pria tua itu menghampiri Tian Zhi, duduk di sebelahnya sambil memeriksa luka di tubuh Tian Zhi. “Tuan sangat rendah hati. Namun tanpa bantuan Tuan, aku, Tian Zhi… mungkin sudah jadi korban Beast itu.” Ia menunduk sedikit, lalu menatap dalam mata pria tua itu. “Terima kasih.” Pria tua itu berhenti merawat luka, matanya yang tajam akhirnya menatap penuh arti ke arah Tian Zhi. Ada keheningan sejenak, seperti menyimpan banyak kata tak terucap. Lalu perlahan, pria itu bangkit, melangkah mendekat, dan duduk di kursi kayu yang berdiri di samping ranjang bambu tempat Tian Zhi berbaring. Suasana menjadi hangat walau tanpa sepatah kata baru terucap. “Siapa namamu tadi, anak muda… Tian Zhi? Apa kau berasal dari Klan Tian yang ada di ibukota?” tanya pria itu dengan suara berat, matanya menelusuri wajah Tian Zhi penuh arti. Tian Zhi terdiam sesaat, dadanya berdebar tak terduga. Pertanyaan itu seperti cambuk yang membangkitkan luka lama, tapi ia tidak berani menaruh curiga pada orang yang telah menyelamatkannya. “Aku memang dari Klan Tian, Tuan…” jawabnya pelan, nada suaranya bergetar antara canggung dan ragu.Pria tua itu lalu tersenyum tipis, tetapi matanya yang menyipit penuh rahasia. Tatapan itu menusuk ke dalam jiwa Tian Zhi, membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus waspada. Tian Zhi menelan ludah, mencoba mengartikan maksud senyum itu yang seolah menyimpan cerita lebih dari yang diungkapkan. Pria tua itu menatap tajam ke arah Tian Zhi, kerutan di dahinya makin dalam ketika suaranya mengalun dengan nada sinis. "Seorang dari klan terkemuka, tapi tinggal di negeri timur yang jauh, di mana segala sumber daya berbeda jauh dengan ibukota." Matanya menyorot tajam. "Dengan kondisi seperti itu, kau pasti cuma dianggap sampah oleh klanmu, bukan?" Tian Zhi mendengarkan dengan bibir yang mengerut pelan. Senyum pahit terbentuk di wajahnya, tanpa sedikitpun kemarahan. Ia tahu, itu memang kenyataan yang harus dia terima. Di usianya yang hampir sembilan belas, dia masih terjebak di ranah petarung awal.Sementara teman sebayanya sudah berlari jauh ke ranah tubuh emas. Di tengah kesunyian, Tian Zhi menghela napas dalam-dalam. Matanya memandang kosong, menerima hinaan itu sebagai cermin dari kegagalannya selama ini. Tidak ada benci, hanya rasa penyesalan yang sulit ia tutupi. Adapun tingkat cultivator sendiri di Kekaisaran Huo terbagi menjadi sembilan tingkat ranah, di mana ranah pertama berada di ranah petarung, lalu ranah tubuh emas, ranah bumi, ranah rajabumi, ranah langit, ranah raja langit, ranah pertapa sakti, ranah saint, dan terakhir ranah immortal. Puncak dari kekuatan tertinggi seorang kultivator. Pria tua itu menatap wajah Tian Zhi lama, matanya yang tajam seolah mencoba membaca segala luka yang tersembunyi di balik senyum pahit pemuda itu. “Dari raut dan senyummu, aku tahu kau sudah sering menerima hinaan seperti itu. Tampaknya kau sudah terbiasa sampai kebal dengan itu semua, benar bukan?” suaranya mengalun, penuh arti. Tian Zhi hanya membalas dengan senyuman tipis, tanpa kata-kata, seakan sengaja menyimpan beban itu jauh dalam hatinya. “Jika langit sudah berkehendak, aku hanya bisa menjalani,” jawabnya tenang, pandangannya tak teralihkan. “Namun manusia punya nasib, dan nasib pun punya cara merubah takdir itu semua kembali pada kemauan dan kesungguhan yang dimiliki orang yang menjalaninya.” Mendengar itu, pria tua itu tersenyum lebar, terkagum oleh kedewasaan pemuda yang kurus itu, jauh melampaui usianya. Dengan gerakan perlahan, pria itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari cincin penyimpanannya, lalu membuka dan memperlihatkan pil berwarna emas dengan garis perak di tengahnya pada Tian Zhi, seperti sebuah janji misterius yang menunggu untuk diambil. Pria tua itu mengangkat botol kecil berisi pil berwarna cerah sambil berkata, “Ini pil penyembuh terbaik milikku. Dengan satu pil ini, lukamu bisa langsung sembuh.” Matanya tajam menatap Tian Zhi, “Tapi pil ini berharga mahal, jadi kau harus menggantinya dengan sesuatu yang sepadan.” Tian Zhi menarik napas panjang, senyum kecut tersungging di bibirnya. Tatapannya kosong, menyiratkan beban yang sulit ia ungkapkan. Ia memalingkan wajahnya sebentar, menatap luka-luka yang mulai diramu pria tua itu dengan cairan beraroma aneh. “Tuan Tua, terima kasih atas kebaikanmu,” suaranya lirih, namun ada getar keputusasaan yang terselip.“Tapi… meski aku membelinya, pil ini tak akan berpengaruh padaku. Tubuhku sudah tidak menyerap esensi apapun lagi.” Tian Zhi menutup matanya sebentar, menahan rasa sakit sekaligus rasa hampa yang makin menyesakkan dada.Pria tua itu menyela sebelum Tian Zhi menyelesaikan kalimatnya, matanya tajam menatap luka yang menganga di tubuh sang anak muda. "Tubuhmu bermasalah, itu jelas. Ditambah meridianmu tersumbat karena sesuatu yang spesifik, bukan?" katanya dengan suara berat, membuat Tian Zhi terdiam terpaku. Wajahnya berubah antara terkejut dan tidak percaya. "Tuan, bagaimana Anda bisa tahu?" tanyanya pelan, nadanya penuh keraguan. Sang pria tua hanya tersenyum misterius, lalu menarik napas dalam."Anak muda, kau terlalu meremehkan aku. Aku ini seorang alkemis. Aku paham betul apa yang terjadi di dalam dirimu." Matanya berkilat menandakan pengalaman dan pengetahuan yang mendalam. "Kadang, apa yang menimpa kita di masa lalu dan sekarang, adalah bagian dari takdir yang saling terkait." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara penuh arti, "Dan luka yang kau derita... bisa jadi itu adalah berkah tersembunyi di balik musibahmu." Tian Zhi menatap pria tua itu dengan mata terbuka lebar, dadanya berdebar tak menentu. Rasa aneh merayapi pikirannya saat kata-kata yang terlontar belum sepenuhnya bisa ia cerna.Pria tua itu tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan suara tenang, "Luka yang dibuat oleh Beast Harimau Merah itu rupanya menyelesaikan sebagian masalahmu. Bahkan, saat kau bergumul di tanah, darah harimau itu tanpa sengaja membasuh tubuhmu dan menetralkan racun yang bersemayam di dantian serta meridianmu." Tian Zhi terpaku, alisnya berkerut bingung. Dadanya seolah sesak oleh kebingungan dan kekagetan yang bercampur. "Apa... darah Beast Harimau itu benar-benar memberikan manfaat?" gumamnya pelan, matanya menatap jauh ke dalam diri sendiri. "Racun… racun apa yang Tuan Tua maksud?" suaranya bergetar antara penasaran dan ragu. Pria tua itu tersenyum tipis, sorot matanya penuh teka-teki yang membuat Tian Zhi semakin penasaran. “Kau penasaran? Aku bisa berikan jawabannya, tapi ada syaratnya,” ucap sang pria tua pelan, seolah menyimpan rahasia besar. Tian Zhi menatapnya tanpa ragu, suaranya menggelegar sedikit serius. “Baiklah, apa syaratnya?” Sang pria tua mengangguk pelan. “Kau harus menjadi muridku.” Mata Tian Zhi membelalak, tak menyangka syarat itu sesederhana tapi juga sebesar itu. Ia terdiam, pikirannya berputar cepat, mencoba mencerna tawaran yang sekaligus beban itu. Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh merayapi seluruh tubuhnya. Rasa sakit lama yang pernah menggerogoti dirinya terasa menyesakkan, namun ada juga getaran hangat yang baru dan asing mengalir dalam jiwa dan raganya. Dalam hati, Tian Zhi bergumam, “Benar-benar seperti yang dikatakan pria tua ini… meski terluka, tubuh dan jiwaku bereaksi berbeda.” Ia teringat pada racun yang katanya meracuni dantian dan meridiannya. Pikiran Tian Zhi melayang pada masa lalu, memikirkan luka dan penderitaan yang belum pernah terjawab. “Jika aku tahu siapa dalangnya… mungkin aku bisa tahu juga siapa yang sudah membuatku begitu menderita.” Kehadiran pria tua itu, dengan tawaran tak terduga, kini membuka pintu bagi Tian Zhi untuk mencari jawaban yang selama ini terkubur dalam bayang-bayang kelam. Tian Zhi terbaring di lantai, napasnya tersengal, dan matanya menatap kosong ke arah langit-langit. Hatinya pun berkecamuk masa depan yang tak pasti, bayangan Sekte Naga Api yang kini terasa sangat jauh. Pengkhianatan dari sahabat dan orang-orang terdekatnya seperti beban berat yang menekan dada. Semua itu membuatnya ragu, apakah dia pantas dan mampu kembali.Dengan susah payah, Tian Zhi mengangkat tubuhnya, perlahan duduk sambil menatap pria tua di depannya dengan pandangan yang penuh arti dan sedikit getir. Tangannya ia satukan rapi di depan dada. “Tuan, murid Tian Zhi memberi hormat pada Master!” suaranya rendah namun tegas, terpancar rasa hormat yang tulus. Pria tua itu tersenyum lebar, matanya berkilat semangat. “Bagus sekali! Sekarang kau menjadi muridku!” katanya dengan suara penuh semangat yang menghangatkan suasana. “Mulai sekarang, panggil aku Master Fan!” tegas pria tua itu. Tian Zhi mengangguk mantap, suaranya nyaring tanpa keraguan, “Baik, Master Fan!”Bab 162. Alkemis penempa.“Hei bocah cepat bangkit dan pergi menuju arah timur! Sekarang!”Tian Zhi tertegun untuk beberapa saat mencerna suara yang menggema di kepalanya.“Sesepuh Azura? Kau yang mengirim telepati padaku?” “Memang ada apa di sebelah timur dari tempat ini?” tanya Tian Zhi pada Azura, sang naga hitam yang berbicara melalui telepati tersebut.“Kau akan tau nanti!” Jawab Azura dengan acuh.Tian Zhi kemudian segera bangkit dan bergegas menuju arah yang Azura minta.Tian Zhi kemudian segera bergegas menuju arah yang Azura minta.Tak lama, Tian Zhi segera sampai di sebuah tempat yang berupa tebing tinggi “Ternyata benar memang ini tempatnya, Aku merasakan aura familiar dari tempat ini!” ujar Azura melalui telepatinya.“Sesepuh, tolong jelaskan padaku ada apa ini?” tanya Tian Zhi penasaran.“Tempat ini… makam ini… adalah dunia kecil yang ditinggalkan oleh tuanku yang pertama, sekaligus pembuka jalan ke dunia ini.”“Bocah, aku pinjam tubuhmu sebentar!” ujar Azura tak sab
Bab 161. Pentingnya seorang dokter. Setelah memulihkan kekuatan masing masing, Tian Zhi dan yang lainnya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kuil tersembunyi tersebut. Tang Bin yang sangat bersemangat segera maju pertama kali memasuki halaman kuil tanpa memberitahu Tian Zhi terlebih dulu. "Klik." "Eh." Salah satu kaki Tang Bin menginjak sebuah batu yang ada di halaman depan kuil tersembunyi yang mengaktifkan jebakan di tempat tersebut. "Swing swing swing swing." Ratusan panah meluncur deras ke arah Tang Bin, ia yang dalam kondisi tidak siap hanya bisa tertegun melihat ratusan anak panah yang mengarah padanya dengan kecepatan tinggi itu. "Jlebb jlebb jleb!” “Ughhh." "Sraakk sraaakk sraak!" Tian Zhi melompat cepat dan berdiri di depan Tang Bin, ia memutarkan pedangnya dengan kecepatan tinggi guna menghalau ratusan panah yang mengarah pada Tang Bin. Setelah berhasil menghalau seluruh panah, ia segera beralih ke arah Tang Bin yang melihat ke arah tubuhnya sendiri, t
Bab 160. Kuil.Semua orang sumringah dengan apa yang Tian Zhi sampaikan,bagaimana tidak? Hal yang sebelumnya masih ambigu kini menjadi jelas dengan jawabannya. Dengan beberapa pengaturan dari Tian Zhi, akhirnya mereka pun sepakat untuk pergi mencari Kuil tersembunyi.Namun kali ini yang berangkat hanya Tian Zhi dan para jenius dari sekte saja yang berangkat melanjutkan perjalanan, selebihnya diminta menunggu dan mencari peruntungannya masing masing di dalam makam kuno tersebut.Bukan tanpa sebab Tian Zhi mengatur seperti itu, ia enggan membawa terlalu banyak orang karena dari catatan yang pernah dia buat dari petunjuk peninggalan ayah dan ibunya sedikit banyaknya memberikan gambaran berbahayanya rute menuju kuil tersembunyi tersebut Maka dari itu ia lebih memilih untuk bepergian dengan sedikit orang saja, mereka yang pergi adalah yang memiliki ranah langit saja.Tian Zhi dan kesepuluh jenius dari sekte,klan dan keluarga kuno itu melesat berlari ke arah Barat, berlawanan arah dengan
Bab 159. Gambar.Zhao Ze kalap dan bersiap menyerang Tian Zhi, namun para pengawal elit yang tersisa menahannya, karena meski Zhao Ze dan dua pengawal yang tersisa menyerang Tian Zhi, mereka ragu untuk bisa memenangkan pertarungan, apalagi saat ini jumlah kelompok Tian Zhi lebih besar dibanding dengan kelompok mereka, belum lagi dengan membelotnya Zi Han dan Tang Bin bersama dua rekan yang lainnya otomatis makin melemahkan mereka.Akhirnya Zhao Ze dan yang lainnya memilih untuk pergi dari situ setelah para pengawal elit Zhao Ze berbicara kepada Zhao Ze.“Aku akan melepaskanmu dulu kali ini, setidaknya sampai aku akan mengacaukan rencana Klan mu dahulu dengan tempat ini! gumam Tian Zhi dalam hati Setelah kepergian kelompok Zhao Ze Tian Zhi dan para jenius di kelompoknya mengambil tanaman spirit balakacida yang berada di padang rumput dengan sukacita, tanaman spirit yang didapat pun mereka bagikan sama rata, tak ada yang berusaha curang dalam proses memanen tanaman spirit tersebut.Ta
Bab 158. Unjuk kebolehan.Kelompok Zhao Ze akhirnya terpaksa melawan beast lipan dan ratusan beast lebah hitam tersebut, dan seperti yang Tian Zhi duga, ternyata Zhao Ze dan tim elitnya memiliki senjata khusus melawan kawanan beast beast yang berjumlah ratusan tersebut.Mereka pun terpaksa masuk menerobos ke dalam hutan hitam untuk mencapai tujuan pertamanya itu, Tian Zhi dan yang lainnya tersenyum kecut dengan apa yang mereka lihat, jelas disini jika sedari awal Zhao Ze dan yang lainnya berniat mencelakakan mereka."Ayo kita bergerak! Jangan sia siakan usaha Tuan muda Zhao yang telah membukakan jalan untuk kita!" ujar Tian Zhi penuh arti Perkataan Tian Zhi tentunya langsung disambut dengan senyum seringai semua orang, mereka pun bergegas mengekor di belakang kelompok Zhao.Semua tampak kontras terasa, kelompok Zhao dalam usahanya kali ini kehilangan banyak pengawal dan cultivator sewaannya, hanya tim inti dan elit dari ketiga klan saja yang selamat dari serbuan dan serangan beast b
Bab 157. Makam kuno (3)Tian Zhi sendiri tetap tenang dan tak terpengaruh sama sekali dengan tatapan semua orang, dengan santainya Tian Zhi hanya tersenyum kecil dengan apa yang dilakukan Zi Han."Ucapanku adalah dari diriku sendiri, bukan perwakilan dari saudara Tian Tse, aku berbicara disini karena berbicara sesuai dengan kenyataan! " "Justru aku berbicara seperti ini karena menghargai saudara Tian Tse dan rekan rekannya, selain itu karena aku tak mengenal kalian dan merekalah disini yang menjadi temanku! Meski aku hanya orang baru disini tapi aku juga memiliki pemikiran dan logika, dan utamanya aku memiliki bukti!" "Entah apa yang kau rencanakan pada orang orang ini,tapi sepertinya kau salah orang jika kau berusaha membodohiku!" seru Tian Zhi dengan nada sinis pada Zi Han" Syuuuuutt." Tian Zhi melemparkan pil pil peledaknya ke arah hutan hitam tersebut." Baaamm baammmm bammmm." Ledakan seketika terdengar keras membahana akibat pil yang Tian Zhi lemparkan, semua orang terkeju







