Share

Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik
Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik
Penulis: Zayn Z

Bab 01. Pengkhianatan.

Penulis: Zayn Z
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-09 23:02:29

Bab 01. Pengkhianatan.

“Senior Tang, apa maksud semua ini?!” 

Tian Zhi meronta, berusaha melepaskan kuncian tangan dari rekan-rekan Tang Bohu. Matanya menatap tajam penuh kekesalan ke arah Tang Bohu. 

Namun, pemuda yang dipanggilnya itu hanya membalas dengan pandangan meremehkan, seolah tak peduli melihat murid luar di sektenya itu diperlakukan seperti itu. 

Mereka mengerumuni Tian Zhi, menahannya di tanah, lalu mengikatnya dengan kuat menggunakan tali pengekang jiwa.

Setelah itu, keempat rekan Tang Bohu melemparkan sisa tali ke atas batang pohon yang tinggi, lalu menariknya hingga Tian Zhi tergantung di bawahnya. 

Melihat Tian Zhi kini terikat di sana, Tang Bohu melangkah mendekat. Keempat rekannya yang sebelumnya menindas Tian Zhi kini berdiri di sisi kiri dan kanan Tang Bohu.

 “Apa maksudmu melakukan ini padaku?” seru Tian Zhi dengan amarah, tanpa lagi menunjukkan sikap sopan kepada senior di sektenya itu. 

Tang Bohu menjawab dengan nada datar, “Seperti yang kau tahu, misi kami saat ini adalah mendapatkan inti Beast Harimau Merah, Beast tingkat tiga.” 

“Untuk memancing Beast itu keluar dan datang ke sini, tentu saja kami butuh umpan. Dan kau adalah umpannya!” jawabnya dengan acuh.

Tian Zhi terbelalak, matanya melebar tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan. Jawaban Tang Bohu benar-benar melukai harapannya, membuat segala kebaikan yang selama ini ia pikir tulus ternyata hanyalah tipu daya belaka. 

“Jadi… jadi alasan sebenarnya kau mengajakku bergabung bukan untuk membantumu?” suaranya bergetar, mencoba menggali kepastian dari sang murid terbaik Sekte Naga Api itu. 

Tang Bohu bersama empat temannya meledak dalam tawa, suara mereka menggema penuh ejekan, menertawakan kebodohan Tian Zhi yang begitu mudah termakan omongan mereka.

Tubuh Tian Zhi membeku seketika, napasnya memburu, dan amarah menyembur panas sampai ke ubun-ubun. Di tengah keheningan yang menyakitkan itu, bayangan masa lalu yang kelam tiba-tiba kembali menghantui, merangsek masuk menambah beban luka di hatinya.

Kenangan itu tiba-tiba saja menghantam benaknya, suasana Sekte Naga Api, saat Tang Bohu dan tiga sahabatnya datang mendekat dengan senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya. Mereka menawarkan bantuan mengumpulkan tanaman herbal, mengulang-ulang tujuan yang sama, menuju pinggiran Hutan Bencana. 

Tian Zhi percaya, mereka adalah teman sejati, pikirnya waktu itu. Tapi kini, getar pengkhianatan menyergap setiap sudut dadanya. Ia teringat saat-saat terakhir bersama mereka, ketika Qin Shi, Liu Ran, dan Fei Fei dengan ringan mendorongnya bergabung dalam kelompok Tang Bohu. 

Sekarang bayangan ketiganya menerima sesuatu di belakangnya  mata mereka samar menyembunyikan maksud yang kelam, muncul di benaknya tanpa henti. 

Bibirnya menutup rapat, nafasnya tercekat. “Qin Shi… Liu Ran… Fei Fei… kalian menjebakku!” keluhnya dalam hati, getir. 

Pengkhianatan itu terasa tajam, seperti pisau yang ditebas pelan-pelan di punggung. Mereka bukan hanya menipunya, tapi mengorbankan dirinya tanpa ragu. 

Hatinya pecah dalam sunyi, tumpukan rasa sakit yang selama ini ia bungkam kini menggelegak menuntut jawaban.

Semua alibi dan asumsi yang berputar di kepalanya semakin menguat, apalagi selama perjalanan menuju Hutan Bencana, sikap Tang Bohu dan kelompoknya mulai berubah padanya. 

Tang Bohu tidak lagi dengan mudah memberikan bantuan. Sebagai balas jasa, ia meminta dirinya untuk membawakan barang-barang anggota kelompoknya. 

Ia pun tak menolak, karena bagi dirinya itu sepadan, apalagi mengingat posisi Tang Bohu dan keempat rekannya sebagai murid inti Sekte Naga Api. 

Namun ternyata, selama perjalanan menuju Hutan Bencana, ia juga menjadi pesuruh bagi Tang Bohu dan keempat rekannya. Mengingat hal itu, ia sadar bahwa dirinya benar-benar dimanfaatkan oleh kelima murid inti Sekte Naga Api itu. Ditambah dengan kejadian yang dialaminya saat ini, jelas sekali bahwa mereka sama sekali tidak menganggapnya.

Bukk…serrr….

Suara kantong kulit yang pecah menyambar lamunan Tian Zhi. Seketika tubuhnya basah oleh darah segar Beast Rusa yang tadi diburu Tang Bohu dan kawan-kawannya. 

Cairan itu mengalir ke wajah dan bajunya, dingin dan lengket. Tang Bohu menatapnya dengan senyum sinis, suaranya menusuk, “Kau harus bangga,  Bisa dikatakan kau mendapat kehormatan membantu kami. Aku bahkan akan ceritakan jasamu itu pada Sekte. Tentu saja, kalau kau berhasil kembali dengan selamat.” 

Tian Zhi tetap diam, matanya memerah menahan amarah yang menggunung. Kata-kata Tang Bohu itu jelas omong kosong, lebih seperti hinaan terselubung. Dadanya naik turun cepat, nafasnya tersengal. 

“Dasar sampah! Kau itu bukan manusia!” lontarnya dengan suara serak penuh emosi. Tang Bohu menyipitkan mata, bibirnya berkerut tanda tak suka. Salah satu rekannya menyelak bahunya, lalu menimpali dengan nada mengejek.

“Hmm, sepertinya rumor tentang dia sebagai Tuan Muda dari Klan besar cuma cerita buat menipu saja.” 

Tian Zhi membeku, darah di tubuhnya seperti membakar setiap inci kulit, tapi yang lebih menyakitkan adalah hinaan yang melukai harga dirinya lebih dalam dari apa pun.

“Selain aku tidak pernah mendengar kabar apa pun tentang Klan Tian di kota Huo, aku juga ragu dengan statusnya.” Tang Bohu menyipitkan mata, pandangannya merendah ke arah Tian Zhi yang berdiri di depannya. 

“Jika benar dia dari Klan Tian Ibukota Kekaisaran, kenapa harus belajar di Sekte Naga Api kita? Itu jelas tidak masuk akal!” 

Tian Zhi mengatupkan rahang, nafasnya sedikit memburu, tapi belum sempat dia bicara, Tang Bohu sudah menyahut keras. 

“Masih percaya rumor yang dikatakan pengajar kita? Menyedihkan, itu hanya omong kosong! Sangat bodoh kalau kau masih percaya.” 

Tang Bohu melangkah mendekat, tatapannya menantang. “Dengar! Aku mendapatkan kabar yang lebih akurat dan  lebih jelas. Sebenarnya, dia hanya anak yatim tak jelas asal-usulnya. Beruntung saja patriark cabang Klan Tian merawat dan membesarkannya.” 

Kata-kata itu seperti cambukan yang langsung menyambar hati Tian Zhi. Dadanya sesak, amarah membara di dalam. Klan dan keluarganya, yang baru saja dibahas, membuka kembali luka lama yang belum sembuh, menyisakan bara dendam yang semakin panas membakar.

Kenangan kelam itu kembali menghantui pikirannya.

Bayangan tubuh kecilnya yang diseret paksa keluar dari kamar oleh para pelayan. Tangannya terkepal erat saat mengingat karung kasar yang melilit tubuhnya, udara pengap di dalamnya. Suara perintah kasar menghujani telinganya, disusul dentuman pukulan brutal yang mendarat tanpa ampun di tubuhnya. 

Tubuhnya gemetar hebat, darah panas bergejolak memenuhi nadinya, menyebarkan luka yang hampir mengaburkan kesadarannya. Di balik samar teriakan yang terus bergema, hatinya menjerit putus asa.

“Kenapa mereka  membuangku? Karena aku tak bisa berkultivasi?”

“Kenapa aku diperlakukan seperti sampah, dikurung dan dibuang sejauh ini?” batinnya.

Amarah membakar dadanya, mengguncang seluruh tubuhnya sampai gemetar tak tertahankan.

Rekan Tang Bohu menyipitkan mata, merasakan ada yang aneh pada Tian Zhi. Ia hendak bersuara, tapi tiba-tiba suara geraman berat dari arah Hutan Bencana menggema, memaksa kelima orang itu bersiaga.

“Ternyata buruan kita sudah mulai mencium bau umpannya. Pengetahuan si rendahan itu ternyata benar,” gumam salah satu rekan Tang Bohu sambil melirik tajam ke arah Tian Zhi. 

Tang Bohu tersenyum sinis, menatap Tian Zhi dengan rasa takjub sekaligus meremehkan. 

“Beast Harimau Merah memang hanya tertarik pada mangsa yang masih hidup. Sungguh tak terduga, bukan?” ujarnya angkuh, matanya penuh tantangan. Tian Zhi hanya diam, membalas tatapan itu dengan sorot mata membunuh yang menusuk, membuat udara di sekitarnya seolah ikut membeku. 

Tang Bohu mendengus, wajahnya memerah karena kesal. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Berani sekali orang rendahan sepertimu melotot padaku!” suaranya meninggi, penuh kemarahan yang hampir tak terkontrol. 

Sebelum Tang Bohu melepaskan amarahnya, seorang rekannya cepat-cepat merangkul pundaknya, menahannya dengan tegas. “Sudahlah, biarkan saja. Kau bisa hajar dia nanti. Sekarang, fokus pada tujuan utama kita,” ucap rekannya, suaranya tegas tapi penuh peringatan.

Tang Bohu mendecih kesal.

Mereka berlima tanpa sepatah kata langsung menyelinap ke balik semak, napas tertahan sambil mematung menunggu mangsa. Tak lama, dari dalam kegelapan hutan muncul sosok beast tinggi menjulang, setinggi dua meter, tubuhnya dipenuhi belang merah menyala, sementara dua taring perak tajam menggantung di sisi mulutnya. Beast itu melesat dengan kecepatan mematikan menuju Tian Zhi.

Dari gaya larinya, jelas Beast tersebut akan memberikan satu serangan cakaran yang menghancurkan. 

Tali pengikat jiwa yang membelit tubuh Tian Zhi membatasi geraknya, membuatnya seperti terjebak dalam sangkar yang tak terlihat. Tidak memiliki ranah membuatnya tak berdaya melawan cengkeraman alat magis itu. 

Matanya terbelalak, mengunci pandangan pada kematian yang sudah menghampiri. Dalam hening pikirannya, terulang kembali ingatan akan semua penindasan dan derita yang selama ini ia tanggung. Detik-detik itu terasa berat, seolah dunia melayangkan hinaan terakhir sebelum menghilang.

Tian Zhi menarik napas berat, dadanya bergemuruh seolah dipenuhi bara api yang membakar seluruh luka hatinya. 

“Aku... dibuang keluarga seperti sampah...,” gumamnya pelan, suara seraknya mengiringi mata yang berkaca-kaca. Tangannya yang terikat bergetar, berusaha meronta, meski nyeri menjalar ke setiap jari.

“Aku dikhianati oleh sahabat yang kupercaya,” batinnya dengan pedih, kepala yang tadinya terkulai mulai menggeliat, menahan amarah yang membara.

“Tidak…tidak akan kubiarkan ini jadi akhir... aku harus hidup! Aku harus membalas ini semua!” 

Dengan sisa tenaga, Tian Zhi mengguncang tubuhnya, sedikit demi sedikit menggerakan tali yang mengikat  dan menahannya. Rasa sakit meremukkan tubuhnya, tapi semangatnya lebih kuat. Dia menolak mati dalam kehinaan ini.

Beast Harimau Merah melompat ke arahnya dengan cakarnya yang terbuka lebar, siap mengoyak dada dan perutnya. 

Namun, saat cakarnya melayang, Tian Zhi menangkap  sesuatu dari sosok Beast Harimau Merah tersebut.

Di matanya sosok Beast itu berubah menjadi sosok Tang Bohu, teman satu kelompoknya, sahabat-sahabatnya, bahkan anggota keluarganya sendiri. Wajah-wajah itu, yang dulu dikenalnya baik, kini tertawa miring dengan penuh ejekan, seolah menikmati penderitaannya. 

Seketika, tawa mereka berubah menjadi seringai dan mata mereka berubah merah seperti iblis yang mengintai nyawanya. Dadanya sesak, amarah membara menggerus setiap ingatan akan pengkhianatan, penindasan, dan ketidakadilan yang mereka lakukan padanya. 

Nafasnya terengah. “Aku tidak akan mati di sini!” teriaknya, suaranya pecah tapi penuh tekad. “Kalian akan menanggung akibat dari semua ini!”

Srakkk.

Tubuh Tian Zhi melenting mundur tepat satu jengkal, menghindar dari cakaran ganas sang Beast yang hampir merobek dadanya. Namun, kulitnya tetap tergores; tiga luka panjang membentang dari dada atas hingga perut, darah mulai menetes deras. 

Tubuhnya terhempas keras ke batang pohon, tempat ia tergantung tadi, dan tali jiwa yang mengikatnya putus seketika oleh cakaran tajam itu. 

Tubuh Tian Zhi bersandar di batang pohon yang telah retak, luka di dadanya lebih  dari sekedar goresan, beruntung, berkat kekuatan magis tali pengekang jiwa yang menyelimutinya, mencegah cakaran Beast menembus sampai organ vitalnya.

Beast Harimau merah itu kembali mengamuk, cakar siap melibas, tapi sebelum menyentuh Tian Zhi, jebakan tali yang tersembunyi di tanah tiba-tiba melesat naik, menjaring Beast dengan cepat. Napas Tian Zhi tersengal, matanya melebar menatap perangkap yang menyelamatkannya saat itu juga.

Beast Harimau Merah membeku sejenak, matanya yang merah menyala membidik sekeliling. Dalam sekejap, Tang Bohu dan lima rekannya muncul dari persembunyian dengan napas tertahan. 

Tanpa aba-aba, mereka melepaskan serangan terkuat dari lima penjuru. Bola-bola energi bergemuruh di udara, berpadu dengan gelombang elemen yang meluncur deras dari senjata mereka. 

Serangan itu liar, tak terkontrol, menebar kehancuran tanpa peduli siapa yang berada di antara mereka dan Beast Harimau Merah. Di dekatnya, Tian Zhi yang tubuhnya tersandar lemah pada batang pohon, menatap dengan pandangan kosong. Tubuhnya lemah, tak berdaya, seolah terlupakan oleh mereka. 

Gelombang serangan menyapu tubuh Tian Zhi tanpa ampun. Ia terhempas ke belakang, luka sayatan dan bakar bergaris di sekujur badannya. Suara nafasnya yang tersengal menyatu dengan raungan pertarungan yang semakin sengit, menambah rasa perih yang tak terelakkan.

Tian Zhi terhempas ke tanah dengan tubuh lemas, darah mengalir deras dari lukanya, merembes dan menghitamkan tanah di bawahnya. 

Ia terbaring telungkup, pandangannya samar tertuju pada Beast Harimau Merah yang kini juga terkapar sekarat, darahnya bercampur menutupi sepetak tanah di sekitar mereka. 

Dalam dua helaan nafas yang tersisa, tubuh Tian Zhi mulai terendam oleh darah makhluk yang sama-sama terluka itu. Di kejauhan, sorak sorai Tang Bohu dan teman-temannya terdengar, merayakan kemenangan tanpa peduli akan tubuh Tian Zhi yang rapuh dan terkapar itu. 

Perih dan amarah berputar di dada, membara kuat,dia tidak rela mati dalam keadaan setengah mati, tak berdaya seperti ini.

Titik-titik air mata bergelayut di sudut mata Tian Zhi saat suaranya tercekat, “Aku… aku… aku tak mau mati seperti ini!” 

Nafasnya tersengal, dada naik turun berat. Matanya berkeliling, mencari-cari sesuatu. Di dekatnya, kantong kulit lusuh tergeletak tak jauh darinya. 

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, tapi Tian Zhi tak peduli. Perlahan, ia merayap, jari-jarinya gemetar meraih kantong itu. 

Dalam kantong itu terdapat pil penyembuh luka, secercah harapan di tengah kegelapan. Ia tahu, pil itu mungkin tak bisa menyembuhkannya karena pil itu khusus untuk seorang kultivator,  tapi di pikirannya saat ini  hanya itulah yang bisa  memberikannya kesempatan untuk hidup. 

Tubuhnya membasahi tanah yang berlumuran darah binatang buas. Matanya mulai buram, tanda kesadaran menipis. Namun di kedalaman hatinya, keinginan untuk hidup tetap menyala, menolak kalah pada nasib yang menggerogoti tubuhnya. 

Tian Zhi menggenggam erat kantong itu, berjuang sekuat tenaga untuk tetap bertahan.Tian Zhi merayap dengan sisa tenaga, tubuhnya yang penuh luka bergeser perlahan di atas tanah keras. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh kantong kulit yang tergeletak di dekatnya. Nafasnya tersengal, tapi dengan susah payah ia merogoh, berusaha mengambil sebuah botol kecil di dalam kantong itu. 

Tangannya hampir lepas kendali ketika botol pil itu berhasil diangkat, namun sesaat sebelum pil itu sempat dia telan, pandangannya mulai mengabur. Pil itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke genangan darah merah pekat yang mengalir dari luka Beast harimau merah yang melekat di tubuhnya dan di tanah. 

Tiba-tiba, sesuatu terjadi. Pil yang tercebur di genangan darah itu berkilau aneh, mengeluarkan kilatan cahaya lembut. Secara perlahan, luka-lukanya yang menganga mulai menutup, rasa perih yang menusuk pun mereda sedikit demi sedikit. 

Di balik cabang besar sebuah pohon di tepi hutan bencana, sosok pria tua mengamati dengan senyum tipis menyiratkan rahasia. 

“Pil penyembuh tingkat rendah, bercampur darah Beast harimau merah... efeknya malah muncul padanya. Sungguh menarik.” ucapnya pelan, penuh arti.

“Hal ini tidak biasa, hanya pemilik darah istimewa yang bisa membuat hal seperti ini terjadi!” suara pria tua itu bergetar penuh kekaguman, matanya menyipit menatap anak muda di kejauhan.

“Tekad pemuda itu luar biasa. Semangat hidupnya membara sampai ia bisa bertahan sejauh ini.” Ia menghela napas panjang.

“Anak muda ini pantas mendapatkannya… ia  benar-benar layak.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Potlot
Keren suka sekali sama cerita nya min
goodnovel comment avatar
Wahyu Purnomo
selalu panjang tiap bab nyA
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik   Bab 208.Berbalik.

    Bab 208.Berbalik.Di lantai dua toko pil miliknya, Tian Zhi kembali memfokuskan dirinya untuk membuat beberapa penyesuaian dan juga pengaturan yang ada. Ia kemudian melanjutkan rencananya.Setelah setengah hari menyelesaikan pemurnian pilnya, ia pun mulai melakukan hal lain yang belum sempat ia lakukan.Tian Zhi menggunakan media formasi array dan juga array bola cahaya untuk menarik sesuatu yang terpasang di dalam dirinya.Formasi array segi enam yang dipadukan dengan formasi tiga api putih segera membentuk sebuah array tingkat dua yang membatasi area empat meter dengan dirinya sebagai pusat. Setelah array pertama terbentuk gegas ia membentuk segel tangan untuk membuat array bola cahaya di depannya.Satu bola cahaya dengan diameter satu mi kini terbentuk di depannya, ia kemudian menggambar mantra darah di udara untuk dipadukan pada bola cahaya yang ada di depannya."Teknik cermin jiwa!" seru Tian Zhi lantang.Bola cahaya yang bermandikan mantra darah di permukaannya kini mulai beruba

  • Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik   Bab 207. Muslihat.

    Bab 207. Muslihat.Semua orang meninggalkan toko pil Tian Zhi dengan wajah berbinar. Dengan aura yang berbeda dan juga rona wajah sumringah yang terlihat sontak membuat banyak kultivator yang berada di area tersebut menjadi semakin menggebu untuk mendapatkan pelayanan dan pil buatan Tian Zhi.Disisi lainnya, Qi Sha dan orang orangnya makin dibuat kecut dengan apa yang mereka lihat. Hari mereka semua benar benar bertambah buruk dengan tak ada satupun pelanggan yang membeli pil yang dijual di toko mereka.Kesialan Qi Sha semakin bertambah ketika empat klan yang diprovokasi oleh mereka kini telah mengetahui kecurangan yang mereka lakukan. Sontak hal itu semakin membuat nama klan Qi dan tentunya kelompok alkemis Zenzhu semakin buruk di seantero kota." Sial Sial Sial ! Kenapa bisa seperti ini ! " teriak Qi Sha dari dalam ruangannya. Kini ia menatap nyalang pada orang orang yang ada di hadapannya." Kakak, marah pun sekarang tak ada gunanya, yang harus kakak pikirkan sekarang adalah bagaim

  • Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik   Bab 206. Contoh.

    Bab 206. Contoh." Benar, sangat cantik ! Putri penguasa kota pun kalah jauh dengannya!" " Apa kau tak tahu ? Itu Xi Xi, putri dari patriark klan Xi, kudengar master alkemis yang membuka toko cahaya bintang inilah yang menyembuhkannya! Aku mendengar langsung hal ini dari para penjaga klan Xi!" "Begitu pula dengan Quon dan dua patriark lainnya. Kudengar master alkemis bintang hijau yang menyembuhkan mereka!" " Pantas saja mereka datang ! " " Dengan begini keuntungan pun akan kita dapatkan, adanya toko baru pasti membuat harga pil akan bersaing. Kini kita tak akan kesulitan lagi dalam membeli pil yang kita butuhkan!" Perbincangan dan pendapat pun mulai terjadi pada semua orang. Hal itu langsung membuat gempar seisi kota dengan kemunculan toko pil baru yang dibuat Tian Zhi. Ditambah dengan kabar fakta sembuhnya Xi Xi, Quon dan dua patriark makin membuat toko pil Xingguan mendapat tempat.Tian Zhi pun mulai menyambut para tamu yang datang tak diundang tersebut. Jelas ia paham jika

  • Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik   Bab 205. Tanda misterius.

    Bab 205. Tanda misterius.Petir menyambar kediaman klan Xi, Tian Zhi hanya bisa tersenyum canggung saat petir penyucian Xi Xi meluluhlantakkan sebagian besar kediaman Patriark Xi tersebut.Meski begitu, tak ada wajah kecewa dari patriark Xi Dong dan istrinya. Dengan penjelasan istri patriark Dong sudah dipastikan jika Xi Xi telah sembuh dan mendapatkan keuntungan ganda dari Tian Zhi. Tanpa menunggu Xi Xi selesai dari kenaikan ranahnya, Tian Zhi keluar dari kediaman dengan mendapatkan seperempat kekayaan Patriark Xi sebagai hadiah atas apa yang dilakukannya."Benar benar diluar dugaan, meski hanya tiga misi yang diselesaikan tapi hasil yang kudapat setara dengan menyelesaikan dua puluh misi yang ada," ujarnya sambil melihat cincin penyimpanan yang diberikan padanya." Jika begini, aku bisa memulai membuka tokoku dalam dua hari kedepan! " ujar Tian Zhi dengan wajah sumringah.Sekembalinya ia ke penginapan awan, dua pelayan wanita yang dimintai bantuan olehnya ternyata telah menunggunya

  • Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik   Bab 204. Melanjutkan misi.

    Bab 204. Melanjutkan misi.Tian Zhi mengembalikan kondisi tubuhnya di kamarnya yang ada di Penginapan Awan Hitam. Sehari penuh waktu yang ia habiskan untuk tindakannya itu. Dalam sikap lotusnya itu juga ia memfokuskan diri untuk mencerna pil hitam arkais yang sebelumnya ia lahap.Meski begitu, ia belum menemukan petunjuk apapun mengenai pil arkais tersebut dan bola hitam yang sebelumnya masuk ke dalam tubuhnya.Tian Zhi membuka matanya perlahan lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.“Aku tidak menemukan petunjuk apapun tentang pil arkais itu, bahkan dalam pengetahuan yang ada di Pagoda Emas pun tidak ada yang mengatakan tentang pil tersebut!” ujarnya dengan sedikit frustasi.Tian Zhi bangkit dari sikap lotusnya, ia kemudian keluar dari ruangannya, tampak dua orang pelayan penginapan yang berdiri di depan pintu ruangannya segera menyambutnya." Pagi tuan muda, apa ada hal yang bisa kami lakukan untuk tuan muda ? " tanya seorang dari pelayan tersebut penuh hormat." Berapa lama aku b

  • Sang Pemilik Takdir Langit dan Tujuh Wanitanya yang Cantik   Bab 203. Pil hitam

    Bab 203. Pil hitam" Tak! " " Pecah ! " seru Tian Zhi lantang setelah membuat tiga segel tangan.Bersamaan dengan itu seluruh array yang ia buat dan ada di ruangan tersebut kini menghilang dengan sendirinya.Meski ia tidak merasakan efek dari proses yang baru saja dilaluinya, namun ia cukup yakin jika pil dan asap biru hitam tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesuatu yang ada di dalam tubuhnya.Setelah berpakaian kembali, Tian Zhi pun keluar dari ruangan tersebut, tampak Lady Fang dan tiga orang paruh baya yang ada di lorong kini menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.Tian Zhi mendekat ke arah keempatnya, pandangannya terarah pada wanita muda yang masih berada di dalam pangkuan sang pria paruh baya ketiga."Senior, bolehkah? " tanya Tian Zhi sopan sambil arah matanya melihat pada sang wanita muda yang masih tak sadarkan diri tersebut.Tahu apa yang dimaksud Tian Zhi, segera sang pria paruh baya ketiga pun angkat bicara."Kalau begitu tolong anak muda, ah…t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status