Masuk
Bab 01. Pengkhianatan.
“Senior Tang, apa maksud semua ini?!” Tian Zhi meronta, berusaha melepaskan kuncian tangan dari rekan-rekan Tang Bohu. Matanya menatap tajam penuh kekesalan ke arah Tang Bohu. Namun, pemuda yang dipanggilnya itu hanya membalas dengan pandangan meremehkan, seolah tak peduli melihat murid luar di sektenya itu diperlakukan seperti itu. Mereka mengerumuni Tian Zhi, menahannya di tanah, lalu mengikatnya dengan kuat menggunakan tali pengekang jiwa. Setelah itu, keempat rekan Tang Bohu melemparkan sisa tali ke atas batang pohon yang tinggi, lalu menariknya hingga Tian Zhi tergantung di bawahnya. Melihat Tian Zhi kini terikat di sana, Tang Bohu melangkah mendekat. Keempat rekannya yang sebelumnya menindas Tian Zhi kini berdiri di sisi kiri dan kanan Tang Bohu. “Apa maksudmu melakukan ini padaku?” seru Tian Zhi dengan amarah, tanpa lagi menunjukkan sikap sopan kepada senior di sektenya itu. Tang Bohu menjawab dengan nada datar, “Seperti yang kau tahu, misi kami saat ini adalah mendapatkan inti Beast Harimau Merah, Beast tingkat tiga.” “Untuk memancing Beast itu keluar dan datang ke sini, tentu saja kami butuh umpan. Dan kau adalah umpannya!” jawabnya dengan acuh. Tian Zhi terbelalak, matanya melebar tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan. Jawaban Tang Bohu benar-benar melukai harapannya, membuat segala kebaikan yang selama ini ia pikir tulus ternyata hanyalah tipu daya belaka. “Jadi… jadi alasan sebenarnya kau mengajakku bergabung bukan untuk membantumu?” suaranya bergetar, mencoba menggali kepastian dari sang murid terbaik Sekte Naga Api itu. Tang Bohu bersama empat temannya meledak dalam tawa, suara mereka menggema penuh ejekan, menertawakan kebodohan Tian Zhi yang begitu mudah termakan omongan mereka. Tubuh Tian Zhi membeku seketika, napasnya memburu, dan amarah menyembur panas sampai ke ubun-ubun. Di tengah keheningan yang menyakitkan itu, bayangan masa lalu yang kelam tiba-tiba kembali menghantui, merangsek masuk menambah beban luka di hatinya. Kenangan itu tiba-tiba saja menghantam benaknya, suasana Sekte Naga Api, saat Tang Bohu dan tiga sahabatnya datang mendekat dengan senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya. Mereka menawarkan bantuan mengumpulkan tanaman herbal, mengulang-ulang tujuan yang sama, menuju pinggiran Hutan Bencana. Tian Zhi percaya, mereka adalah teman sejati, pikirnya waktu itu. Tapi kini, getar pengkhianatan menyergap setiap sudut dadanya. Ia teringat saat-saat terakhir bersama mereka, ketika Qin Shi, Liu Ran, dan Fei Fei dengan ringan mendorongnya bergabung dalam kelompok Tang Bohu. Sekarang bayangan ketiganya menerima sesuatu di belakangnya mata mereka samar menyembunyikan maksud yang kelam, muncul di benaknya tanpa henti. Bibirnya menutup rapat, nafasnya tercekat. “Qin Shi… Liu Ran… Fei Fei… kalian menjebakku!” keluhnya dalam hati, getir. Pengkhianatan itu terasa tajam, seperti pisau yang ditebas pelan-pelan di punggung. Mereka bukan hanya menipunya, tapi mengorbankan dirinya tanpa ragu. Hatinya pecah dalam sunyi, tumpukan rasa sakit yang selama ini ia bungkam kini menggelegak menuntut jawaban. Semua alibi dan asumsi yang berputar di kepalanya semakin menguat, apalagi selama perjalanan menuju Hutan Bencana, sikap Tang Bohu dan kelompoknya mulai berubah padanya. Tang Bohu tidak lagi dengan mudah memberikan bantuan. Sebagai balas jasa, ia meminta dirinya untuk membawakan barang-barang anggota kelompoknya. Ia pun tak menolak, karena bagi dirinya itu sepadan, apalagi mengingat posisi Tang Bohu dan keempat rekannya sebagai murid inti Sekte Naga Api. Namun ternyata, selama perjalanan menuju Hutan Bencana, ia juga menjadi pesuruh bagi Tang Bohu dan keempat rekannya. Mengingat hal itu, ia sadar bahwa dirinya benar-benar dimanfaatkan oleh kelima murid inti Sekte Naga Api itu. Ditambah dengan kejadian yang dialaminya saat ini, jelas sekali bahwa mereka sama sekali tidak menganggapnya. Bukk…serrr…. Suara kantong kulit yang pecah menyambar lamunan Tian Zhi. Seketika tubuhnya basah oleh darah segar Beast Rusa yang tadi diburu Tang Bohu dan kawan-kawannya. Cairan itu mengalir ke wajah dan bajunya, dingin dan lengket. Tang Bohu menatapnya dengan senyum sinis, suaranya menusuk, “Kau harus bangga, Bisa dikatakan kau mendapat kehormatan membantu kami. Aku bahkan akan ceritakan jasamu itu pada Sekte. Tentu saja, kalau kau berhasil kembali dengan selamat.” Tian Zhi tetap diam, matanya memerah menahan amarah yang menggunung. Kata-kata Tang Bohu itu jelas omong kosong, lebih seperti hinaan terselubung. Dadanya naik turun cepat, nafasnya tersengal. “Dasar sampah! Kau itu bukan manusia!” lontarnya dengan suara serak penuh emosi. Tang Bohu menyipitkan mata, bibirnya berkerut tanda tak suka. Salah satu rekannya menyelak bahunya, lalu menimpali dengan nada mengejek. “Hmm, sepertinya rumor tentang dia sebagai Tuan Muda dari Klan besar cuma cerita buat menipu saja.” Tian Zhi membeku, darah di tubuhnya seperti membakar setiap inci kulit, tapi yang lebih menyakitkan adalah hinaan yang melukai harga dirinya lebih dalam dari apa pun. “Selain aku tidak pernah mendengar kabar apa pun tentang Klan Tian di kota Huo, aku juga ragu dengan statusnya.” Tang Bohu menyipitkan mata, pandangannya merendah ke arah Tian Zhi yang berdiri di depannya. “Jika benar dia dari Klan Tian Ibukota Kekaisaran, kenapa harus belajar di Sekte Naga Api kita? Itu jelas tidak masuk akal!” Tian Zhi mengatupkan rahang, nafasnya sedikit memburu, tapi belum sempat dia bicara, Tang Bohu sudah menyahut keras. “Masih percaya rumor yang dikatakan pengajar kita? Menyedihkan, itu hanya omong kosong! Sangat bodoh kalau kau masih percaya.” Tang Bohu melangkah mendekat, tatapannya menantang. “Dengar! Aku mendapatkan kabar yang lebih akurat dan lebih jelas. Sebenarnya, dia hanya anak yatim tak jelas asal-usulnya. Beruntung saja patriark cabang Klan Tian merawat dan membesarkannya.” Kata-kata itu seperti cambukan yang langsung menyambar hati Tian Zhi. Dadanya sesak, amarah membara di dalam. Klan dan keluarganya, yang baru saja dibahas, membuka kembali luka lama yang belum sembuh, menyisakan bara dendam yang semakin panas membakar. Kenangan kelam itu kembali menghantui pikirannya. Bayangan tubuh kecilnya yang diseret paksa keluar dari kamar oleh para pelayan. Tangannya terkepal erat saat mengingat karung kasar yang melilit tubuhnya, udara pengap di dalamnya. Suara perintah kasar menghujani telinganya, disusul dentuman pukulan brutal yang mendarat tanpa ampun di tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat, darah panas bergejolak memenuhi nadinya, menyebarkan luka yang hampir mengaburkan kesadarannya. Di balik samar teriakan yang terus bergema, hatinya menjerit putus asa. “Kenapa mereka membuangku? Karena aku tak bisa berkultivasi?” “Kenapa aku diperlakukan seperti sampah, dikurung dan dibuang sejauh ini?” batinnya. Amarah membakar dadanya, mengguncang seluruh tubuhnya sampai gemetar tak tertahankan. Rekan Tang Bohu menyipitkan mata, merasakan ada yang aneh pada Tian Zhi. Ia hendak bersuara, tapi tiba-tiba suara geraman berat dari arah Hutan Bencana menggema, memaksa kelima orang itu bersiaga. “Ternyata buruan kita sudah mulai mencium bau umpannya. Pengetahuan si rendahan itu ternyata benar,” gumam salah satu rekan Tang Bohu sambil melirik tajam ke arah Tian Zhi. Tang Bohu tersenyum sinis, menatap Tian Zhi dengan rasa takjub sekaligus meremehkan. “Beast Harimau Merah memang hanya tertarik pada mangsa yang masih hidup. Sungguh tak terduga, bukan?” ujarnya angkuh, matanya penuh tantangan. Tian Zhi hanya diam, membalas tatapan itu dengan sorot mata membunuh yang menusuk, membuat udara di sekitarnya seolah ikut membeku. Tang Bohu mendengus, wajahnya memerah karena kesal. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Berani sekali orang rendahan sepertimu melotot padaku!” suaranya meninggi, penuh kemarahan yang hampir tak terkontrol. Sebelum Tang Bohu melepaskan amarahnya, seorang rekannya cepat-cepat merangkul pundaknya, menahannya dengan tegas. “Sudahlah, biarkan saja. Kau bisa hajar dia nanti. Sekarang, fokus pada tujuan utama kita,” ucap rekannya, suaranya tegas tapi penuh peringatan. Tang Bohu mendecih kesal. Mereka berlima tanpa sepatah kata langsung menyelinap ke balik semak, napas tertahan sambil mematung menunggu mangsa. Tak lama, dari dalam kegelapan hutan muncul sosok beast tinggi menjulang, setinggi dua meter, tubuhnya dipenuhi belang merah menyala, sementara dua taring perak tajam menggantung di sisi mulutnya. Beast itu melesat dengan kecepatan mematikan menuju Tian Zhi. Dari gaya larinya, jelas Beast tersebut akan memberikan satu serangan cakaran yang menghancurkan. Tali pengikat jiwa yang membelit tubuh Tian Zhi membatasi geraknya, membuatnya seperti terjebak dalam sangkar yang tak terlihat. Tidak memiliki ranah membuatnya tak berdaya melawan cengkeraman alat magis itu. Matanya terbelalak, mengunci pandangan pada kematian yang sudah menghampiri. Dalam hening pikirannya, terulang kembali ingatan akan semua penindasan dan derita yang selama ini ia tanggung. Detik-detik itu terasa berat, seolah dunia melayangkan hinaan terakhir sebelum menghilang. Tian Zhi menarik napas berat, dadanya bergemuruh seolah dipenuhi bara api yang membakar seluruh luka hatinya. “Aku... dibuang keluarga seperti sampah...,” gumamnya pelan, suara seraknya mengiringi mata yang berkaca-kaca. Tangannya yang terikat bergetar, berusaha meronta, meski nyeri menjalar ke setiap jari. “Aku dikhianati oleh sahabat yang kupercaya,” batinnya dengan pedih, kepala yang tadinya terkulai mulai menggeliat, menahan amarah yang membara. “Tidak…tidak akan kubiarkan ini jadi akhir... aku harus hidup! Aku harus membalas ini semua!” Dengan sisa tenaga, Tian Zhi mengguncang tubuhnya, sedikit demi sedikit menggerakan tali yang mengikat dan menahannya. Rasa sakit meremukkan tubuhnya, tapi semangatnya lebih kuat. Dia menolak mati dalam kehinaan ini. Beast Harimau Merah melompat ke arahnya dengan cakarnya yang terbuka lebar, siap mengoyak dada dan perutnya. Namun, saat cakarnya melayang, Tian Zhi menangkap sesuatu dari sosok Beast Harimau Merah tersebut. Di matanya sosok Beast itu berubah menjadi sosok Tang Bohu, teman satu kelompoknya, sahabat-sahabatnya, bahkan anggota keluarganya sendiri. Wajah-wajah itu, yang dulu dikenalnya baik, kini tertawa miring dengan penuh ejekan, seolah menikmati penderitaannya. Seketika, tawa mereka berubah menjadi seringai dan mata mereka berubah merah seperti iblis yang mengintai nyawanya. Dadanya sesak, amarah membara menggerus setiap ingatan akan pengkhianatan, penindasan, dan ketidakadilan yang mereka lakukan padanya. Nafasnya terengah. “Aku tidak akan mati di sini!” teriaknya, suaranya pecah tapi penuh tekad. “Kalian akan menanggung akibat dari semua ini!” Srakkk. Tubuh Tian Zhi melenting mundur tepat satu jengkal, menghindar dari cakaran ganas sang Beast yang hampir merobek dadanya. Namun, kulitnya tetap tergores; tiga luka panjang membentang dari dada atas hingga perut, darah mulai menetes deras. Tubuhnya terhempas keras ke batang pohon, tempat ia tergantung tadi, dan tali jiwa yang mengikatnya putus seketika oleh cakaran tajam itu. Tubuh Tian Zhi bersandar di batang pohon yang telah retak, luka di dadanya lebih dari sekedar goresan, beruntung, berkat kekuatan magis tali pengekang jiwa yang menyelimutinya, mencegah cakaran Beast menembus sampai organ vitalnya. Beast Harimau merah itu kembali mengamuk, cakar siap melibas, tapi sebelum menyentuh Tian Zhi, jebakan tali yang tersembunyi di tanah tiba-tiba melesat naik, menjaring Beast dengan cepat. Napas Tian Zhi tersengal, matanya melebar menatap perangkap yang menyelamatkannya saat itu juga. Beast Harimau Merah membeku sejenak, matanya yang merah menyala membidik sekeliling. Dalam sekejap, Tang Bohu dan lima rekannya muncul dari persembunyian dengan napas tertahan. Tanpa aba-aba, mereka melepaskan serangan terkuat dari lima penjuru. Bola-bola energi bergemuruh di udara, berpadu dengan gelombang elemen yang meluncur deras dari senjata mereka. Serangan itu liar, tak terkontrol, menebar kehancuran tanpa peduli siapa yang berada di antara mereka dan Beast Harimau Merah. Di dekatnya, Tian Zhi yang tubuhnya tersandar lemah pada batang pohon, menatap dengan pandangan kosong. Tubuhnya lemah, tak berdaya, seolah terlupakan oleh mereka. Gelombang serangan menyapu tubuh Tian Zhi tanpa ampun. Ia terhempas ke belakang, luka sayatan dan bakar bergaris di sekujur badannya. Suara nafasnya yang tersengal menyatu dengan raungan pertarungan yang semakin sengit, menambah rasa perih yang tak terelakkan. Tian Zhi terhempas ke tanah dengan tubuh lemas, darah mengalir deras dari lukanya, merembes dan menghitamkan tanah di bawahnya. Ia terbaring telungkup, pandangannya samar tertuju pada Beast Harimau Merah yang kini juga terkapar sekarat, darahnya bercampur menutupi sepetak tanah di sekitar mereka. Dalam dua helaan nafas yang tersisa, tubuh Tian Zhi mulai terendam oleh darah makhluk yang sama-sama terluka itu. Di kejauhan, sorak sorai Tang Bohu dan teman-temannya terdengar, merayakan kemenangan tanpa peduli akan tubuh Tian Zhi yang rapuh dan terkapar itu. Perih dan amarah berputar di dada, membara kuat,dia tidak rela mati dalam keadaan setengah mati, tak berdaya seperti ini. Titik-titik air mata bergelayut di sudut mata Tian Zhi saat suaranya tercekat, “Aku… aku… aku tak mau mati seperti ini!” Nafasnya tersengal, dada naik turun berat. Matanya berkeliling, mencari-cari sesuatu. Di dekatnya, kantong kulit lusuh tergeletak tak jauh darinya. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, tapi Tian Zhi tak peduli. Perlahan, ia merayap, jari-jarinya gemetar meraih kantong itu. Dalam kantong itu terdapat pil penyembuh luka, secercah harapan di tengah kegelapan. Ia tahu, pil itu mungkin tak bisa menyembuhkannya karena pil itu khusus untuk seorang kultivator, tapi di pikirannya saat ini hanya itulah yang bisa memberikannya kesempatan untuk hidup. Tubuhnya membasahi tanah yang berlumuran darah binatang buas. Matanya mulai buram, tanda kesadaran menipis. Namun di kedalaman hatinya, keinginan untuk hidup tetap menyala, menolak kalah pada nasib yang menggerogoti tubuhnya. Tian Zhi menggenggam erat kantong itu, berjuang sekuat tenaga untuk tetap bertahan.Tian Zhi merayap dengan sisa tenaga, tubuhnya yang penuh luka bergeser perlahan di atas tanah keras. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh kantong kulit yang tergeletak di dekatnya. Nafasnya tersengal, tapi dengan susah payah ia merogoh, berusaha mengambil sebuah botol kecil di dalam kantong itu. Tangannya hampir lepas kendali ketika botol pil itu berhasil diangkat, namun sesaat sebelum pil itu sempat dia telan, pandangannya mulai mengabur. Pil itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke genangan darah merah pekat yang mengalir dari luka Beast harimau merah yang melekat di tubuhnya dan di tanah. Tiba-tiba, sesuatu terjadi. Pil yang tercebur di genangan darah itu berkilau aneh, mengeluarkan kilatan cahaya lembut. Secara perlahan, luka-lukanya yang menganga mulai menutup, rasa perih yang menusuk pun mereda sedikit demi sedikit. Di balik cabang besar sebuah pohon di tepi hutan bencana, sosok pria tua mengamati dengan senyum tipis menyiratkan rahasia. “Pil penyembuh tingkat rendah, bercampur darah Beast harimau merah... efeknya malah muncul padanya. Sungguh menarik.” ucapnya pelan, penuh arti. “Hal ini tidak biasa, hanya pemilik darah istimewa yang bisa membuat hal seperti ini terjadi!” suara pria tua itu bergetar penuh kekaguman, matanya menyipit menatap anak muda di kejauhan. “Tekad pemuda itu luar biasa. Semangat hidupnya membara sampai ia bisa bertahan sejauh ini.” Ia menghela napas panjang. “Anak muda ini pantas mendapatkannya… ia benar-benar layak.”Bab 162. Alkemis penempa.“Hei bocah cepat bangkit dan pergi menuju arah timur! Sekarang!”Tian Zhi tertegun untuk beberapa saat mencerna suara yang menggema di kepalanya.“Sesepuh Azura? Kau yang mengirim telepati padaku?” “Memang ada apa di sebelah timur dari tempat ini?” tanya Tian Zhi pada Azura, sang naga hitam yang berbicara melalui telepati tersebut.“Kau akan tau nanti!” Jawab Azura dengan acuh.Tian Zhi kemudian segera bangkit dan bergegas menuju arah yang Azura minta.Tian Zhi kemudian segera bergegas menuju arah yang Azura minta.Tak lama, Tian Zhi segera sampai di sebuah tempat yang berupa tebing tinggi “Ternyata benar memang ini tempatnya, Aku merasakan aura familiar dari tempat ini!” ujar Azura melalui telepatinya.“Sesepuh, tolong jelaskan padaku ada apa ini?” tanya Tian Zhi penasaran.“Tempat ini… makam ini… adalah dunia kecil yang ditinggalkan oleh tuanku yang pertama, sekaligus pembuka jalan ke dunia ini.”“Bocah, aku pinjam tubuhmu sebentar!” ujar Azura tak sab
Bab 161. Pentingnya seorang dokter. Setelah memulihkan kekuatan masing masing, Tian Zhi dan yang lainnya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kuil tersembunyi tersebut. Tang Bin yang sangat bersemangat segera maju pertama kali memasuki halaman kuil tanpa memberitahu Tian Zhi terlebih dulu. "Klik." "Eh." Salah satu kaki Tang Bin menginjak sebuah batu yang ada di halaman depan kuil tersembunyi yang mengaktifkan jebakan di tempat tersebut. "Swing swing swing swing." Ratusan panah meluncur deras ke arah Tang Bin, ia yang dalam kondisi tidak siap hanya bisa tertegun melihat ratusan anak panah yang mengarah padanya dengan kecepatan tinggi itu. "Jlebb jlebb jleb!” “Ughhh." "Sraakk sraaakk sraak!" Tian Zhi melompat cepat dan berdiri di depan Tang Bin, ia memutarkan pedangnya dengan kecepatan tinggi guna menghalau ratusan panah yang mengarah pada Tang Bin. Setelah berhasil menghalau seluruh panah, ia segera beralih ke arah Tang Bin yang melihat ke arah tubuhnya sendiri, t
Bab 160. Kuil.Semua orang sumringah dengan apa yang Tian Zhi sampaikan,bagaimana tidak? Hal yang sebelumnya masih ambigu kini menjadi jelas dengan jawabannya. Dengan beberapa pengaturan dari Tian Zhi, akhirnya mereka pun sepakat untuk pergi mencari Kuil tersembunyi.Namun kali ini yang berangkat hanya Tian Zhi dan para jenius dari sekte saja yang berangkat melanjutkan perjalanan, selebihnya diminta menunggu dan mencari peruntungannya masing masing di dalam makam kuno tersebut.Bukan tanpa sebab Tian Zhi mengatur seperti itu, ia enggan membawa terlalu banyak orang karena dari catatan yang pernah dia buat dari petunjuk peninggalan ayah dan ibunya sedikit banyaknya memberikan gambaran berbahayanya rute menuju kuil tersembunyi tersebut Maka dari itu ia lebih memilih untuk bepergian dengan sedikit orang saja, mereka yang pergi adalah yang memiliki ranah langit saja.Tian Zhi dan kesepuluh jenius dari sekte,klan dan keluarga kuno itu melesat berlari ke arah Barat, berlawanan arah dengan
Bab 159. Gambar.Zhao Ze kalap dan bersiap menyerang Tian Zhi, namun para pengawal elit yang tersisa menahannya, karena meski Zhao Ze dan dua pengawal yang tersisa menyerang Tian Zhi, mereka ragu untuk bisa memenangkan pertarungan, apalagi saat ini jumlah kelompok Tian Zhi lebih besar dibanding dengan kelompok mereka, belum lagi dengan membelotnya Zi Han dan Tang Bin bersama dua rekan yang lainnya otomatis makin melemahkan mereka.Akhirnya Zhao Ze dan yang lainnya memilih untuk pergi dari situ setelah para pengawal elit Zhao Ze berbicara kepada Zhao Ze.“Aku akan melepaskanmu dulu kali ini, setidaknya sampai aku akan mengacaukan rencana Klan mu dahulu dengan tempat ini! gumam Tian Zhi dalam hati Setelah kepergian kelompok Zhao Ze Tian Zhi dan para jenius di kelompoknya mengambil tanaman spirit balakacida yang berada di padang rumput dengan sukacita, tanaman spirit yang didapat pun mereka bagikan sama rata, tak ada yang berusaha curang dalam proses memanen tanaman spirit tersebut.Ta
Bab 158. Unjuk kebolehan.Kelompok Zhao Ze akhirnya terpaksa melawan beast lipan dan ratusan beast lebah hitam tersebut, dan seperti yang Tian Zhi duga, ternyata Zhao Ze dan tim elitnya memiliki senjata khusus melawan kawanan beast beast yang berjumlah ratusan tersebut.Mereka pun terpaksa masuk menerobos ke dalam hutan hitam untuk mencapai tujuan pertamanya itu, Tian Zhi dan yang lainnya tersenyum kecut dengan apa yang mereka lihat, jelas disini jika sedari awal Zhao Ze dan yang lainnya berniat mencelakakan mereka."Ayo kita bergerak! Jangan sia siakan usaha Tuan muda Zhao yang telah membukakan jalan untuk kita!" ujar Tian Zhi penuh arti Perkataan Tian Zhi tentunya langsung disambut dengan senyum seringai semua orang, mereka pun bergegas mengekor di belakang kelompok Zhao.Semua tampak kontras terasa, kelompok Zhao dalam usahanya kali ini kehilangan banyak pengawal dan cultivator sewaannya, hanya tim inti dan elit dari ketiga klan saja yang selamat dari serbuan dan serangan beast b
Bab 157. Makam kuno (3)Tian Zhi sendiri tetap tenang dan tak terpengaruh sama sekali dengan tatapan semua orang, dengan santainya Tian Zhi hanya tersenyum kecil dengan apa yang dilakukan Zi Han."Ucapanku adalah dari diriku sendiri, bukan perwakilan dari saudara Tian Tse, aku berbicara disini karena berbicara sesuai dengan kenyataan! " "Justru aku berbicara seperti ini karena menghargai saudara Tian Tse dan rekan rekannya, selain itu karena aku tak mengenal kalian dan merekalah disini yang menjadi temanku! Meski aku hanya orang baru disini tapi aku juga memiliki pemikiran dan logika, dan utamanya aku memiliki bukti!" "Entah apa yang kau rencanakan pada orang orang ini,tapi sepertinya kau salah orang jika kau berusaha membodohiku!" seru Tian Zhi dengan nada sinis pada Zi Han" Syuuuuutt." Tian Zhi melemparkan pil pil peledaknya ke arah hutan hitam tersebut." Baaamm baammmm bammmm." Ledakan seketika terdengar keras membahana akibat pil yang Tian Zhi lemparkan, semua orang terkeju







