แชร์

Bab 338

ผู้เขียน: Skyy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-18 22:31:26

Suaranya memang tidak keras, tetapi di tengah halaman yang sempat hening setelah rentetan tembakan berhenti, setiap kata terdengar sangat jelas.

Di sampingnya, Rama, pemimpin Sindikat Taring Ular, memperlihatkan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi kekuningannya. Ia berjalan santai menuju seorang anggota Klan Bulan Hitam yang masih tergeletak sambil kejang-kejang di tanah, lalu mengangkat kaki dan menginjak kepalanya tanpa belas kasihan.

Dor!

Tembakan terakhir dilepaskan dari jarak dekat.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 472

    Rahang Baja meneguk birnya sebelum mengusap sudut mulut dengan punggung tangan. "Menurutku, Keluarga Mahardika akan tumbang."Ia meletakkan botol bir di atas meja dan melanjutkan dengan nada yakin, "Setelah Sindikat Noctis kehilangan salah satu kartu terkuatnya, Adelina pada dasarnya kehilangan satu lengannya. Menghadapi serangan langsung Bramantyo saja akan sulit, belum lagi Wiranata yang diam-diam menunggu kesempatan. Kalau melihat situasinya sekarang, Keluarga Nirvana dan Keluarga Wijaksana justru berada di posisi terbaik."Rahang Baja berhenti sejenak. Ada sedikit penyesalan di wajah kasarnya ketika ia menambahkan, "Keluarga Mahesa terlalu cepat menghancurkan Sindikat Noctis. Mereka seharusnya menunggu lebih lama dan membiarkan tiga keluarga besar itu saling melemahkan. Sekarang kesempatan tersebut sudah hilang. Begitu Keluarga Mahardika jatuh, Keluarga Nirvana dan Keluarga Wijaksana bisa dengan mudah mengarahkan kekuatan mereka kepada Keluarga Mahesa.""Meski Keluarga Mahesa berh

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 471

    Ia bangkit dan berjalan menuju peta strategi yang terbentang di meja. Ujung jarinya menyusuri garis pertahanan Keluarga Mahardika yang berkelok-kelok sebelum berhenti di beberapa titik penting."Adelina adalah wanita pemberani, tetapi keberuntungannya sedang buruk. Sindikat Noctis hancur tepat ketika dia mulai terbiasa menggunakannya. Sekarang, kartu yang bisa dia mainkan sudah tidak banyak."Nada Wiranata tetap tenang, seolah seluruh perang di hadapannya hanyalah permainan strategi. "Jika Keluarga Wijaksana benar-benar melancarkan serangan besar, Keluarga Mahardika pasti akan mengerahkan pasukan terbaik mereka untuk menahan garis depan. Itulah yang kita butuhkan."Ia menoleh kepada kepala staf dengan tatapan dalam. "Perintahkan pasukan di front timur tetap bertahan. Bahkan, mundurlah sedikit demi sedikit agar mereka terlihat seolah kesulitan mempertahankan wilayah. Namun secara diam-diam, pindahkan Batalyon Independen dan Pasukan Ujung Tombak ke front barat."Mata kepala staf langsun

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 470

    Adhyaksa duduk seorang diri di atas batu tanpa bergerak sedikit pun. Punggungnya tetap tegak, tetapi sosoknya tampak jauh lebih tua dibandingkan sehari sebelumnya. Jubah abu-abu gelap yang dikenakannya masih sama, hanya saja rambut yang sebelumnya baru diselingi beberapa helai putih kini hampir seluruhnya berubah menjadi perak, seolah satu malam telah merenggut bertahun-tahun dari hidupnya.Sejak menerima kabar kematian Serena, melihat jasad putrinya, hingga mengurus sendiri pemakaman dan memasukkannya ke dalam peti, Adhyaksa tidak pernah meneteskan air mata. Lelaki yang telah melewati puluhan tahun pertempuran di Zona Bayangan itu hanya duduk dalam diam, dengan wajah tenang dan mata yang kehilangan ketajamannya, seakan sebagian jiwanya ikut terkubur bersama putrinya.Sesekali tenggorokannya bergerak, seperti sedang menelan kepahitan yang terlalu berat untuk diucapkan. Bibirnya tetap terkatup rapat, sementara tatapannya kosong tertuju pada satu titik di hadapannya, seolah masih mencar

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 469

    Arka tetap memeluk Serena yang perlahan mendingin tanpa bergerak sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan betapa besar rasa sakit dan amarah yang sedang bergejolak di dalam dirinya.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah itu, Arka perlahan membaringkan tubuh Serena di tanah, melepas mantelnya, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan hati-hati hingga wajah pucat dan luka berdarah di dadanya tak lagi terlihat.Kemudian Arka berdiri, gerakannya begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. Tidak ada ledakan emosi di wajahnya, hanya ketenangan pekat yang menyimpan amarah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan kehancuran.Ia berbalik dan mengarahkan pandangan kepada Uryu dan Nocthar yang tergeletak tak jauh darinya. Tatapan Arka kini terasa seperti dua bilah pedang yang baru ditempa, dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun belas kasihan.Aura yang memancar dari tubuhnya telah berubah sepenuhnya. I

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 468

    "Serena! Aku di sini…"Suara Arka terdengar serak. Tangannya terulur hendak menyentuh Serena, tetapi berhenti di udara karena takut sentuhan sekecil apa pun justru memperparah lukanya. Jari-jarinya gemetar saat ia menatap wanita itu yang semakin kehilangan warna di wajahnya.Serena berusaha tersenyum. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi yang keluar justru darah dan busa tipis. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, "Arka... aku terlihat jelek sekarang?"Arka langsung menggeleng, matanya memerah. "Jangan bicara begitu, kau tetap cantik. Kau pasti akan baik-baik saja, kau dengar? Dokter! Di mana dokternya?!"Ia menggenggam tangan Serena yang mulai terasa dingin, lalu menoleh panik ke sekeliling. Niko, Arga, dan Garda yang baru tiba segera ikut mendekat, tetapi dalam kekacauan itu Arka seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Ia tahu pertolongan pertama, tahu apa yang harus dilakukan, tetapi rasa takut kehilangan Serena membuat semua pengetahuan itu seakan men

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 467

    DOR!Peluru melesat menembus udara dengan kecepatan mengerikan.KLANG!Pistol di tangan Uryu dihantam tepat di bagian tengah. Logamnya langsung remuk, pecahannya berhamburan, sementara hentakan peluru membuat tangan Uryu robek dan lengannya mati rasa. Sisa gagang pistol terlepas dari genggamannya.Tembakan itu berasal dari Garuda Hitam yang sedang mengambil posisi di kejauhan.Gerakan Uryu terlalu cepat, sementara keputusannya untuk menembak datang tanpa peringatan. Garuda Hitam hanya sempat mengoreksi arah bidikannya pada detik terakhir, tetapi sepersekian detik itu tetap tidak cukup untuk menghentikan peluru pertama yang sudah dilepaskan Uryu.Namun, ia tidak berhenti. Tangannya bergerak cepat menarik baut, mengeluarkan selongsong, memasukkan amunisi baru, mengangkat senjata, lalu kembali membidik. Seluruh rangkaian itu selesai dalam waktu kurang dari satu detik, begitu cepat dan lancar hingga nyaris seperti satu gerakan tanpa jeda.Tembakan kedua menyusul hampir tanpa jeda.DOR!Da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 207

    “Baik, baik… cukup.”Rama perlahan mengangkat kedua tangan sambil mundur setengah langkah. Cahaya lampu darurat yang berkedip membuat wajahnya tampak semakin gelap, sementara bekas luka di bawah mata kirinya memberi kesan jauh lebih mengancam.Ia memberi isyarat agar anak buahnya menahan diri sebel

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 203

    Nama itu langsung membuat mata Gavira sedikit berubah.“Di Zona Bayangan, Bayangan Rawa punya pengaruh besar,” lanjut Adhyaksa. “Terutama dalam bisnis intelijen dan perantara. Dia bisa berbicara dengan siapa saja. Sindikat, tentara bayaran, kartel, bahkan kelompok yang saling bermusuhan.”Nada suar

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 201

    “Tuan Arka,” ucapnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan, “Nama saya Serena. Kita pernah bertemu tujuh tahun lalu, meski waktu itu kondisi saya benar-benar berantakan.”Ia tersenyum kecil, berusaha meredakan rasa gugupnya sendiri. “Mungkin saat itu saya terlihat sangat memalukan.”Arka menatap

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 200

    Di dalam ruang makan utama kediaman Keluarga Mahesa, cahaya lampu kristal memantul hangat di atas meja panjang yang dipenuhi hidangan.Beberapa putaran minuman membuat suasana terlihat cair dan akrab, tetapi semua orang di meja itu jelas menyimpan pikiran masing-masing. Setelah merasa waktunya cuku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status