LOGINBeberapa saat kemudian, Bagas menarik napas panjang dan sengaja memecah suasana yang menekan itu. "Baiklah, sekarang bukan saatnya membahas masalah ini."Ia menoleh ke arah pria berjubah hitam dengan sikap yang tampak sopan, meski nada suaranya menyiratkan desakan yang tidak bisa diabaikan."Prioritas kita saat ini adalah memusnahkan Keluarga Mahesa sampai tuntas. Selama mereka masih ada, stabilitas wilayah di Zona Selatan tidak akan pernah benar-benar terwujud."Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan penekanan khusus, seolah menyembunyikan maksud lain di balik istilah stabilitas tersebut.Pria berjubah hitam itu perlahan mengalihkan pandangan ke arah aula utama yang masih bertahan di tengah kepungan."Memang sudah waktunya menyelesaikan masalah itu." Ia mengangkat tangan dan membuat isyarat sederhana. "Selesaikan secepatnya!"Perintah itu singkat, tetapi efeknya langsung terasa.Mata Bagas langsung berbinar. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak kepada seluruh pasukan
Langkahnya tenang dan nyaris tanpa suara. Mayat yang bergelimpangan di tanah bahkan tidak cukup menarik perhatiannya untuk sekadar dilirik. Pandangannya hanya menyapu Bagas dan Rama sebelum akhirnya berhenti pada tubuh Prajurit Kage yang telah terbujur tak bernyawa."Orang-orang ini..." ucapnya perlahan dengan suara serak yang terdengar seperti logam bergesekan. "Sudah terlalu lama mencari keberadaan kita." Ia berhenti sejenak.Di bawah tudung hitam itu, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang justru membuat suasana terasa semakin dingin."Sekarang aku bisa memberi mereka jawaban." Tatapannya kembali jatuh pada mayat-mayat anggota Klan Bulan Hitam. "Inilah kuburan mereka."Nada bicaranya tetap datar. "Mereka datang bersama, dan sekarang mereka mati bersama."Jika Arka berada di tempat itu, ia pasti akan segera memahami arti sebenarnya dari semua yang terjadi malam ini.Klan Bulan Hitam dan Sindikat Noctis tidak pernah menjadi sekutu. Sebaliknya, kedua organisasi t
Suaranya memang tidak keras, tetapi di tengah halaman yang sempat hening setelah rentetan tembakan berhenti, setiap kata terdengar sangat jelas.Di sampingnya, Rama, pemimpin Sindikat Taring Ular, memperlihatkan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi kekuningannya. Ia berjalan santai menuju seorang anggota Klan Bulan Hitam yang masih tergeletak sambil kejang-kejang di tanah, lalu mengangkat kaki dan menginjak kepalanya tanpa belas kasihan.Dor!Tembakan terakhir dilepaskan dari jarak dekat.Darah dan serpihan tulang langsung menyebar ke segala arah."Prajurit Kage?" Rama mendengus sinis sebelum melangkah menuju mayat berikutnya. "Seorang tawanan yang bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri masih berani memakai gelar sebesar itu. Klan Bulan Hitam benar-benar terlalu percaya diri."Sambil berbicara, ia terus melepaskan tembakan ke tubuh para anggota Klan Bulan Hitam yang sudah tumbang. Gerakannya santai seolah sedang berjalan-jalan setelah makan, bukan berada di tengah meda
Pintu aula utama terbuka sedikit dari dalam. Melalui celah itu, Adhyaksa dapat melihat seluruh kejadian yang sedang berlangsung di luar, dan dalam sekejap matanya memerah ketika menyadari apa yang sedang dilakukan adiknya."Jalan."Bramanta mengucapkan satu kata singkat sambil melirik ke arah Adhyaksa. Pada saat yang sama, ia menggelengkan kepala pelan, seolah ingin menyampaikan pesan yang tidak perlu diucapkan.Jangan pedulikan aku. Bawa mereka pergi.Rahang Adhyaksa mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia ingin maju, ingin menyeret adiknya kembali ke dalam aula, tetapi ia juga memahami bahwa kesempatan yang diperjuangkan Bramanta dengan nyawanya sendiri mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.Setelah menarik napas berat, Adhyaksa akhirnya berbalik dan berteriak ke arah semua orang yang masih berada di dalam aula. "Masuk ke lorong rahasia sekarang juga! Cepat!"Perintah itu langsung membuat para korban luka dan anggota Keluarga Mahesa yang tersisa bergerak menuju ja
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Adhyaksa dengan wajah berubah drastis.Namun Bramanta tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang sebelum menghantam pintu samping aula yang terhubung ke dapur hingga terbuka lebar.Brak!Di balik pintu itu terbentang halaman dalam yang kini telah dipenuhi musuh.Pasukan yang sedang bersiap mendobrak aula utama jelas tidak menyangka seseorang akan keluar dari arah tersebut. Sesaat mereka terpaku karena terkejut, dan celah sepersekian detik itu langsung dimanfaatkan Bramanta untuk menerjang ke depan seperti harimau yang lepas dari kandang.Dor! Dor! Dor!Senapan di tangannya memuntahkan rentetan peluru dari jarak dekat. Tiga anggota Keluarga Mahardika yang berada paling depan langsung terpental dan roboh sebelum sempat bereaksi.Pada saat yang sama, seorang anggota Klan Bulan Hitam melompat dari sisi samping dengan bilah pendek yang mengarah lurus ke tulang rusuknya. Bramanta sama sekali tidak menghindar. Ia membiarkan senjata itu menembus tubuhny
Mata Adhyaksa memerah hingga urat-urat di bagian putih matanya tampak jelas. Ia terus menarik pelatuk pistol di tangannya tanpa henti, dan hampir setiap tembakan berhasil merobohkan musuh yang berada di barisan terdepan.Namun jumlah lawan terlalu banyak. Setiap satu orang yang tumbang segera digantikan oleh dua orang lainnya. Sementara gelombang berikutnya terus berdatangan tanpa memberi kesempatan bagi pertahanan Celah Mahesa untuk bernapas."Kakak! Kita sudah tidak bisa bertahan lagi!"Bramanta mundur dari arah pertahanan timur sambil menyeret seorang penjaga muda yang tertembak di bagian perut. Luka di bahu kanannya kembali terbuka akibat pertempuran sengit, membuat darah membasahi hampir separuh tubuhnya, tetapi ia tetap memaksa diri untuk bergerak."Masuk ke aula utama! Kita harus menggunakan lorong rahasia sekarang!"Adhyaksa menyapu medan perang dengan tatapan berat.Kurang dari dua puluh penjaga yang masih mampu berdiri, dan semuanya berada dalam kondisi terluka dengan amunis
Romi tersenyum tipis. “Orang yang menyelamatkan putriku,” jawabnya pelan, “Adalah orangku.”Tatapannya mengeras. “Dan orangku… aku ambil kembali.”Ia mengangkat tangan sedikit. Anak buahnya langsung bergerak, membentuk formasi dengan tegang. Mereka siap bentrok kapan saja. Situasi berada di ujung l
Garuda Hitam dan Taring Baja melangkah masuk tanpa ragu. Aura mereka yang dingin dan menekan langsung bertabrakan dengan atmosfer glamor di sekitarnya, menciptakan kontras yang membuat beberapa petugas keamanan di pintu langsung waspada.
Lampu bedah menyala terang, menyorot luka mengerikan di punggung Arka.Vanessa mengenakan sarung tangan steril, pikirannya sepenuhnya bersih dari gangguan. Instruksinya jelas, cepat, dan presisi saat ia memimpin tim.
Mireya menoleh sekilas, mengangguk singkat. Untuk sesaat, semua konflik di antara mereka menghilang, digantikan satu tujuan yang sama.Namun tepat ketika pintu ambulans hampir tertutup—







