INICIAR SESIÓNMendengar ucapan Pramudya dan melihat kesombongan seorang pemenang kembali muncul di wajahnya, kegelisahan Adelina justru semakin kuat.Menang dalam pertempuran ini bukan berarti semuanya sudah terkendali. Bramantyo memang terpukul, tetapi dia belum mati dan fondasi Keluarga Wijaksana masih utuh. Keluarga Nirvana juga telah membangun kekuatannya selama bertahun-tahun. Pertempuran ini belum cukup untuk membuat mereka runtuh begitu saja.Dan yang paling membuatnya waspada adalah Arka Mahendra. Benarkah pria itu hanya seorang mitra yang kebetulan ikut menikmati hasil perang?"Sudah." Suara Adelina yang tenang langsung menghentikan Pramudya. "Situasi belum stabil, jangan menganggap remeh musuh dan jangan bertindak gegabah. Perintahkan pasukan di garis depan untuk memperkuat posisi yang sudah dikuasai. Jangan melakukan pengejaran atau memperluas wilayah tanpa perintah."Ia menatap peta sebelum melanjutkan. "Awasi pergerakan Keluarga Wijaksana dan Keluarga Nirvana. Kalau ada perubahan, sege
Sementara itu, suasana di pos komando garis depan Keluarga Mahardika nyaris meledak oleh kegembiraan.“Kita menang! Patriark, kita menang! Ini kemenangan besar!”Pramudya menendang pintu pos komando hingga terbuka dan menerobos masuk. Wajahnya penuh jelaga, seragamnya berlumuran darah kering dan lumpur, tetapi matanya menyala penuh kegembiraan.“Pasukan kita sudah menerobos garis pertahanan kedua yang dibangun terburu-buru oleh Keluarga Nirvana! Mereka bahkan tidak mampu bertahan dan langsung runtuh!”Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. “Pasukan terdepan sekarang sedang membangun benteng untuk memperkuat posisi. Wilayah kita juga sudah meluas jauh!”Pramudya segera mendekati meja peta besar dan menunjuk wilayah yang baru saja mereka kuasai dengan wajah penuh semangat."Kak, lihat! Sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai Keluarga Montara sekarang sudah menjadi milik kita. Bahkan beberapa wilayah yang sebelumnya dikuasai bersama Keluarga Nirvana dan Keluarga Wijaksana j
Pengemudi dan kepala keamanan terhempas ke depan akibat pengereman mendadak sebelum sabuk pengaman menarik mereka kembali. Petugas keamanan di kursi depan segera menarik pistol dan hendak berbalik untuk memeriksa keadaan.Namun, tubuhnya membeku. Wiranata masih duduk di kursi belakang. Hanya saja, sebagian besar sisi kiri kepalanya telah hancur akibat tembakan tersebut, meninggalkan luka fatal yang membuat seluruh kabin seketika dipenuhi kepanikan.Para pengawal menatap tanpa suara, darah mereka terasa membeku melihat kepala keluarga yang selama ini dikenal karena perhitungan dan ketenangannya telah tewas dalam satu tembakan.Cairan hangat berbau logam menyiprat ke jok kulit, atap kabin, jendela, bahkan mengenai bagian belakang kursi depan dan wajah para pengawal yang masih terpaku.Kepala pria yang selama ini mengendalikan Zona Bayangan dengan perhitungan panjang kini terkulai tanpa daya. Salah satu matanya masih setengah terbuka, tetapi tidak lagi menyimpan sedikit pun kehidupan."P
Pemandangan di luar jendela bergerak cepat. Kobaran api yang menandai kekalahan dan kekacauan perlahan tertinggal di belakang, di dalam kendaraan hanya terdengar dengungan mesin dan bunyi radio yang sesekali berbunyi.Wiranata tetap memejamkan mata tanpa ekspresi. Seperti seseorang yang terpaksa memotong lengannya sendiri demi menyelamatkan nyawa, Wiranata sang rubah tua yang sepanjang hidupnya mengandalkan perhitungan dan intrik, akhirnya mengambil keputusan paling pahit yang pernah dibuatnya.Ia meninggalkan para prajurit yang masih bertempur di garis depan, bahkan melepaskan sebagian perwira menengah dan petinggi keluarganya, lalu diam-diam membawa dirinya kembali ke wilayah inti Keluarga Nirvana.Namun, ada satu hal yang tidak diketahuinya. Bahkan dalam pelariannya, seseorang masih mengawasinya dari balik bayangan.***Matahari sore menyinari Zona Bayangan melalui celah awan tipis, menghadirkan pemandangan yang terasa ironis di tengah medan perang yang masih berlumuran darah. Angi
Mendengar seruan itu, Para staf langsung panik."Patriark, jangan!""Garis depan terlalu berbahaya! Situasinya sudah kacau dan peluru nyasar bisa datang dari mana saja!""Mohon tetap di pusat komando. Anda harus mengendalikan situasi dari sini!"Wiranata tidak bergeming. "Aku sudah memutuskan."Ia mengambil pistol dari meja dan memasukkannya ke sarung, lalu meraih pedang komando bergagang gading yang sudah lama tergantung di dinding. "Kalian tetap di sini, pertahankan garis pertahanan kedua sampai titik darah terakhir sesuai rencana. Aku akan memimpin langsung di garis depan."Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Laksanakan!"Tanpa memberi kesempatan untuk membantah, Wiranata berbalik dan berjalan menuju pintu. Para pengawal elitnya segera mengikuti dari belakang.Langkah kaki mereka perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan pos komando dalam keheningan tegang sebelum suara bisikan dan diskusi cemas kembali memenuhi ruangan.Mereka segera menaiki kendaraan off-road lapis baja dan
BRAKK!Untuk ketiga kalinya, pintu pos komando terbuka keras hingga membentur dinding. Suara itu membuat seluruh perwira yang berada di dalam ruangan tersentak.Perwira kepercayaan yang sama kembali berlari masuk. Wajahnya pucat, tubuhnya basah oleh keringat, dan bibirnya gemetar hingga nyaris tak mampu berbicara. Ia hanya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan penuh ketakutan."Patriark... ini... ini buruk—"Klik!Suara logam yang tajam langsung memotong ucapannya.Wiranata berbalik dengan gerakan cepat. Wajahnya begitu muram, sementara sisa kewarasan di matanya seakan telah terkikis oleh rentetan kabar buruk. Ia menarik pistol dari pinggang dan mengokang senjata itu sebelum mengarahkannya tepat ke perwira di hadapannya."Sialan!" Suaranya serak dan penuh amarah. "Kalau laporanmu kali ini tidak memuaskanku, aku akan menembakmu. Katakan, apa lagi yang terjadi?!"Laras pistol itu sedikit bergetar, tetapi tidak seorang pun meragukan keseriusannya. Kaki sang perwira langsung lemas, namun
“Nona Keira…” Arka berkata datar. “Jangan berlebihan. Percaya atau tidak, kalau kepalamu terbentur kaca mobil di sana, mungkin mobilnya yang akan pecah.”“Tidak! Tidak!” Keira langsung panik. “Turunkan aku! Aku tidak akan mencubitmu lagi.”Suara Keira tiba-tiba berubah sangat patuh.Mireya yang men
Wanita itu tampak kehilangan kesadaran. Langkahnya tidak stabil, rambutnya sedikit berantakan, gaunnya kusut.Leonard dengan gugup menggesek kartu kamar.Beep.Pintu terbuka.Wajah Leonard langsung dipenuhi kegembiraan yang hampir tak bisa disembunyikan. Ia menarik tubuh Keira masuk. Namun tepat sa
Seorang pria muda memasuki aula dengan langkah santai. Setelan putihnya begitu mencolok di tengah kerumunan tamu—Leonard Wijaya.Tuan muda keluarga konglomerat yang sedang naik daun itu langsung menangkap sosok yang ia cari—Keira.Tatapan Leonard berhenti di wajah wanita itu. Ada kilatan lapar yang
Arka tidak menjawab, ia langsung memasukkan wanita itu ke dalam bak mandi. Satu tangannya menahan bahu Keira agar tidak bangkit, sementara tangannya yang lain memutar keran air.Air dingin menyembur deras.“Ah—!”Keira menjerit keras. Air sedingin es langsung mengguyur tubuhnya, membuat seluruh tub







