Share

Bab 489

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-08-26 21:46:50

Mendengar seruan itu, Para staf langsung panik.

"Patriark, jangan!"

"Garis depan terlalu berbahaya! Situasinya sudah kacau dan peluru nyasar bisa datang dari mana saja!"

"Mohon tetap di pusat komando. Anda harus mengendalikan situasi dari sini!"

Wiranata tidak bergeming. "Aku sudah memutuskan."

Ia mengambil pistol dari meja dan memasukkannya ke sarung, lalu meraih pedang komando bergagang gading yang sudah lama tergantung di dinding. "Kalian tetap di sini, pertahankan garis pertahanan kedua sam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 490

    Pemandangan di luar jendela bergerak cepat. Kobaran api yang menandai kekalahan dan kekacauan perlahan tertinggal di belakang, di dalam kendaraan hanya terdengar dengungan mesin dan bunyi radio yang sesekali berbunyi.Wiranata tetap memejamkan mata tanpa ekspresi. Seperti seseorang yang terpaksa memotong lengannya sendiri demi menyelamatkan nyawa, Wiranata sang rubah tua yang sepanjang hidupnya mengandalkan perhitungan dan intrik, akhirnya mengambil keputusan paling pahit yang pernah dibuatnya.Ia meninggalkan para prajurit yang masih bertempur di garis depan, bahkan melepaskan sebagian perwira menengah dan petinggi keluarganya, lalu diam-diam membawa dirinya kembali ke wilayah inti Keluarga Nirvana.Namun, ada satu hal yang tidak diketahuinya. Bahkan dalam pelariannya, seseorang masih mengawasinya dari balik bayangan.***Matahari sore menyinari Zona Bayangan melalui celah awan tipis, menghadirkan pemandangan yang terasa ironis di tengah medan perang yang masih berlumuran darah. Angi

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 489

    Mendengar seruan itu, Para staf langsung panik."Patriark, jangan!""Garis depan terlalu berbahaya! Situasinya sudah kacau dan peluru nyasar bisa datang dari mana saja!""Mohon tetap di pusat komando. Anda harus mengendalikan situasi dari sini!"Wiranata tidak bergeming. "Aku sudah memutuskan."Ia mengambil pistol dari meja dan memasukkannya ke sarung, lalu meraih pedang komando bergagang gading yang sudah lama tergantung di dinding. "Kalian tetap di sini, pertahankan garis pertahanan kedua sampai titik darah terakhir sesuai rencana. Aku akan memimpin langsung di garis depan."Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Laksanakan!"Tanpa memberi kesempatan untuk membantah, Wiranata berbalik dan berjalan menuju pintu. Para pengawal elitnya segera mengikuti dari belakang.Langkah kaki mereka perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan pos komando dalam keheningan tegang sebelum suara bisikan dan diskusi cemas kembali memenuhi ruangan.Mereka segera menaiki kendaraan off-road lapis baja dan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 488

    BRAKK!Untuk ketiga kalinya, pintu pos komando terbuka keras hingga membentur dinding. Suara itu membuat seluruh perwira yang berada di dalam ruangan tersentak.Perwira kepercayaan yang sama kembali berlari masuk. Wajahnya pucat, tubuhnya basah oleh keringat, dan bibirnya gemetar hingga nyaris tak mampu berbicara. Ia hanya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan penuh ketakutan."Patriark... ini... ini buruk—"Klik!Suara logam yang tajam langsung memotong ucapannya.Wiranata berbalik dengan gerakan cepat. Wajahnya begitu muram, sementara sisa kewarasan di matanya seakan telah terkikis oleh rentetan kabar buruk. Ia menarik pistol dari pinggang dan mengokang senjata itu sebelum mengarahkannya tepat ke perwira di hadapannya."Sialan!" Suaranya serak dan penuh amarah. "Kalau laporanmu kali ini tidak memuaskanku, aku akan menembakmu. Katakan, apa lagi yang terjadi?!"Laras pistol itu sedikit bergetar, tetapi tidak seorang pun meragukan keseriusannya. Kaki sang perwira langsung lemas, namun

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 487

    Pos komando langsung berubah kacau. Telepon berdering tanpa henti, para petugas komunikasi berteriak menerima laporan dari garis depan, para perwira staf berusaha memperbarui peta secepat mungkin. Namun, laju kekalahan Keluarga Wijaksana dan pengejaran Keluarga Mahardika membuat situasi berubah lebih cepat daripada yang mampu mereka petakan.Seorang perwira senior mendekat dengan wajah pucat. "Patriark, apa yang harus kita lakukan? Jumlah mereka terlalu besar dan serangannya terlalu cepat. Pasukan kita bahkan tidak sempat membentuk pertahanan sebelum mereka menerobos!"Ia menelan ludah. "Haruskah kita mundur, atau...""Mundur? Kita harus mundur ke mana?"Begitu garis depan dihantam gelombang pasukan Keluarga Wijaksana yang melarikan diri, garis pertahanan kedua dan ketiga juga akan ikut terseret. Seluruh posisi Keluarga Nirvana bisa runtuh, Keluarga Mahardika yang mengejar dari belakang pasti memanfaatkan kekacauan untuk menerobos masuk.Namun, bertahan juga bukan pilihan mudah. Berte

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 486

    Wiranata menutup telepon dengan Bramantyo tanpa menunjukkan emosi. Tidak ada simpati terhadap keadaan Bramantyo, tetapi juga tidak ada kepuasan atas keberhasilan rencananya. Ia hanya berjalan tenang kembali ke meja dan mengamati posisi pasukan yang ditandai di atas peta.Keluarga Mahardika sedang melancarkan serangan balik, sementara Arka terus menghantam dari belakang. Bramantyo kini sudah berada dalam keadaan panik."Sampaikan perintah." Suaranya tidak keras, tetapi langsung membuat para perwira yang sejak tadi memperhatikan menjadi tegang. "Perintahkan pasukan di tebing untuk segera mundur."Jarinya berpindah ke wilayah pertahanan timur Keluarga Mahardika. "Setelah itu, tekan sayap timur mereka. Tidak perlu serangan penuh. Cukup buat mereka tidak berani menarik pasukan untuk membantu garis depan."Senyum tipis muncul di wajahnya. "Arka sudah menyerahkan tebing. Tidak ada alasan bagi kita terus berebut tempat itu."Tatapan Wiranata menyapu seluruh ruangan sebelum ia melanjutkan. "Ba

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 485

    Pos Pengamatan Garis Depan Keluarga Wijaksana.Bramantyo telah memecahkan gelas air ketiganya. Matanya merah dan bengkak ketika melihat pasukan lapis baja yang menjadi kebanggaannya terjebak dalam kekacauan melalui teropong.Serangan mereka bukan hanya berhenti, tetapi di beberapa sektor bahkan mulai dipukul mundur oleh serangan balik Keluarga Mahardika. Dari belakang, laporan buruk terus berdatangan: pos komando jatuh, jalur suplai terputus, dan posisi artileri hancur."Tidak berguna! Kalian semua tidak berguna!"Ia berteriak melalui walkie-talkie, tetapi yang menjawab hanya suara statis bercampur dentuman ledakan dari kejauhan. Keunggulan yang selama ini menjadi sumber kepercayaan dirinya perlahan runtuh, begitu pula keyakinan pasukannya terhadap kemenangan.Kepanikan menyebar di antara pasukan Keluarga Wijaksana. Kali ini bukan sekadar ketidaksiapan menghadapi serangan balik, melainkan ketakutan karena mereka mulai merasa terisolasi dan tidak berdaya menghadapi musuh yang tidak ter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 259

    Di garis paling depan, Adhyaksa melangkah keluar sambil mengangkat senjata di tangannya. Sorot matanya dipenuhi amarah dingin. Rumah keluarganya baru saja dihancurkan. Dan sekarang, orang-orang Mahardika mencoba memburu sisa keluarganya sampai habis.Di sampingnya, Bramanta membawa senapan mesin ri

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 247

    Sorot mata Lorenzo berubah lebih tajam. “Oh? Aku akan mendengarkan.”“Sejauh yang kutahu,” lanjut Wiranata tenang, “Rama dan anak buahnya memang bentrok dengan pasukan Levino di dekat Bar Mahkota. Namun konflik itu muncul karena kedua pihak sama-sama mencoba mengendalikan situasi.”“Dengan kata lain

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 245

    Lorenzo akhirnya membuka suara. “Ceritakan semuanya.”Nada bicaranya pelan dan tenang, namun setiap kata terasa seperti es tajam yang menghantam lantai. “Apa yang sebenarnya terjadi di Bar Mahkota? Bagaimana putraku bisa mati?”Tok. Tok. Tok.Jemarinya mengetuk-ngetuk ringan sandaran kursi.“Jelask

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 240

    Arka muncul di ambang pintu dengan ekspresi setenang biasanya. Hanya ada sedikit garis lelah samar di wajahnya setelah seluruh kekacauan malam tadi, tetapi itu sama sekali tidak mengurangi tekanan dingin yang masih melekat di tubuhnya.Namun perhatian semua orang langsung tertuju pada sosok wanita

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status