INICIAR SESIÓNKeberadaan Siluman Garuda akhirnya mulai terungkap. Meski masih diselimuti banyak misteri, setidaknya kini ada kepastian bahwa wanita itu pernah muncul dan sempat jatuh ke tangan sebuah kekuatan gelap yang sangat kuat. Dan pemimpin Sindikat Noctis, sosok yang dikenal sebagai pemimpin Sindikat Noctis, jelas merupakan salah satu tokoh kunci dalam kejadian tersebut.Lalu, di mana pemimpin Sindikat Noctis itu sekarang?Terlebih lagi, melihat kemampuan Siluman Garuda, sulit dipercaya wanita itu bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti.Seberapa kuat lawan yang mampu mengalahkannya dalam satu gerakan?Semua pertanyaan itu terus berputar di benak Arka. Tekanan yang tiba-tiba membesar membuatnya menghembuskan napas perlahan."Musang, panggil Arga dan Garuda Hitam. Setelah itu, kita bertemu di ruang konferensi." Arka Mahendra mempercepat langkahnya. "Kita akan menemui penguasa baru Keluarga Wijaksana."Udara di Zona Bayangan masih sarat bau mesiu dan ketegangan, tetapi jauh di dalam benteng Kel
Nocthar tampak kebingungan. Justru kondisi wanita itulah yang menurutnya paling aneh dari seluruh kejadian tersebut. "Dia... terlihat baik-baik saja. Setidaknya selama aku melihatnya sampai membawanya ke markas dan menahannya di sana, tidak ada luka yang terlihat jelas di tubuhnya. Tidak ada bekas pemukulan atau penyiksaan. Pakaiannya memang kotor dan sedikit berantakan, tetapi masih utuh."Nocthar berhenti sebentar untuk memperhatikan wajah Arka sebelum kembali melanjutkan. "Selain itu, Bos... Sindikat Noctis memberikan perintah yang sangat tegas. Tak seorang pun dari kami boleh menyentuh wanita itu, bahkan sehelai rambutnya sekalipun. Kami juga dilarang menghinanya dengan ucapan apa pun. Katanya... siapa pun yang berani menyentuhnya dan melanggar aturan itu akan mati. Waktu itu kami semua merasa aneh. Sindikat Noctis sudah lama merajalela di Zona Selatan, kapan kami pernah takut kepada siapa pun? Tapi tak ada seorang pun yang berani menentang perintah Bos."Tak boleh menyentuhnya? B
Udara di dalam sel yang remang-remang terasa dingin dan lembap. Bau darah yang samar bercampur dengan aroma disinfektan memenuhi ruangan, sebuah lampu tunggal yang menggantung dari langit-langit menerangi kursi besi yang tertanam kuat di lantai.Di sanalah Nocthar duduk terikat, tubuhnya dibalut perban, wajahnya pucat, dan sorot matanya kosong. Sosok itu sudah jauh berbeda dari keganasan dan kesombongan yang dulu melekat pada seorang anggota Sindikat Noctis.Berhari-hari menderita karena luka dan siksaan telah menghancurkan pertahanan mental Nocthar. Terlebih lagi, ia masih dihantui adegan ketika Arka mengeksekusi Uryu dengan kejam hingga kepalanya hancur berkeping-keping.Begitu Arka memasuki ruangan, tubuh Nocthar langsung gemetar hebat seperti daun yang diterpa angin dingin. Tatapannya dipenuhi ketakutan, pikirannya kembali pada tanah berlumuran darah di luar gua, seolah-olah ia masih bisa melihat genangan merah dan putih yang mengerikan di hadapannya.Itulah otak dan serpihan teng
Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Belati pendek berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya dan langsung melesat menuju tenggorokan Bramantyo."Kau—!"Bramantyo hanya sempat mengeluarkan suara pendek sebelum bilah itu menembus lehernya. Rasa sakit dan sesak langsung menyergap, tetapi tangan Dipta yang lain telah mencengkram bahunya dan menahannya kuat di kursi. Darah mengalir deras membasahi meja, lantai, dan pakaian Dipta.Mata Bramantyo membelalak. Ia tidak pernah membayangkan kematiannya akan datang dari orang yang selama puluhan tahun dianggapnya sebagai saudara sendiri.Dipta tetap tenang, ia hanya memperhatikan tatapan Bramantyo yang perlahan kehilangan cahaya hingga tubuhnya benar-benar lemas.Setelah memastikan targetnya tewas, Dipta melepaskan cengkramannya. Ia menyeka darah dari belati dan wajahnya menggunakan kain putih, lalu menyentuh alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik kerah."Target pertama telah dieliminasi."Kalimat itu menjadi tanda dimu
Adelina masih berdiri diam dengan alat komunikasi di tangannya. Cahaya lampu ruang komando menerangi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang belum sepenuhnya menghilang.Beberapa saat kemudian, ia menurunkan alat komunikasi itu dan menghembuskan napas panjang. "Sampaikan perintahku."Adelina berbalik menghadap para perwira staf. "Seluruh pasukan, personel logistik, dan staf administrasi yang telah memasuki bekas wilayah Keluarga Montara harus ditarik kembali ke garis kendali semula dalam waktu tiga hari. Jangan menunda dan jangan membawa peralatan berat maupun persediaan yang tidak bisa dipindahkan dengan cepat."Tatapannya mengeras. "Utamakan keselamatan personel. Siapa pun yang berani melanggar akan dikenai hukum militer."Perintah itu seketika memicu kegaduhan di pusat komando. Namun, begitu melihat wajah Adelina yang serius dan pucat, tak seorang pun berani mempertanyakan keputusan tersebut.Adelina tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya
"Oh? Berita apa?" Nada Arka terdengar sedikit tertarik, tetapi tetap tenang.Adelina menggenggam alat komunikasinya lebih erat. "Wiranata telah meninggal."Ia sengaja mengucapkannya perlahan sambil memasang seluruh perhatiannya pada suara di seberang. Ia ingin menangkap sekecil apa pun perubahan dari lawan bicaranya, entah jeda napas, perubahan intonasi, atau keterkejutan.Hening selama dua detik.Kemudian suara Arka terdengar kembali. "Aku tahu."Ucaoan sederhana itu membuat dada Adelina terasa sesak.Arka tidak terkejut, tidak bertanya bagaimana ia bisa mati. Bahkan tidak berusaha menyembunyikan bahwa dirinya sudah mengetahui kabar tersebut.Bagaimana mungkin?Bahkan Keluarga Mahardika yang memiliki jaringan informasi kuat baru saja menerima berita itu, sementara Arka sudah mengetahuinya lebih dahulu.Tenggorokan Adelina terasa kering. Ia menahan debar jantungnya sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya."Tuan Arka... Anda tahu siapa pelakunya?" Ia menahan
Melihat itu, Arka mundur setengah langkah dan memberi ruang di tengah pintu agar para penembak keluarga Mahesa bisa mengambil posisi terbaik.Brama segera mendekat ke sampingnya, suaranya lebih rendah kali ini. “Tuan Arka… sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapannya tidak lagi hanya berisi kewaspadaan
“Kalau aku tidak salah…” gumamnya santai, “Orang-orang keluarga Mahesa seharusnya sudah—.”Belum selesai kalimat itu—BRAKK!Pintu kayu berat itu dihantam dari luar dan terbuka paksa, engselnya berderit keras hingga sebagian panel terlepas dan jatuh miring ke samping.“Jangan bergerak!”“Tangan ke
Satu kata itu jatuh ringan, namun beratnya menghantam seluruh ruangan.Bar langsung sunyi.Tubuh Gavira menegang. Sensasi dingin menjalar dari telapak kaki hingga ke tengkuknya, seperti sedang diincar sesuatu yang mematikan. Tatapannya terkunci pada Valen, penuh ketidakpercayaan, sebelum tanpa sada
Arka berhenti di depan meja itu. Tatapannya turun perlahan, menekan tanpa suara.“Aku harus memanggilmu apa?” ucapnya ringan, namun dingin.Sedikit jeda, lalu sudut bibirnya bergerak tipis. “Atau… cukup ‘Bayangan Rawa’?”Pria yang disebut Arka sebagai Bayangan Rawa duduk sendirian di sudut paling g







