เข้าสู่ระบบ...
Suasana di dalam gua mendadak jadi hening dan terasa sangat dingin... Tuan Luo dan Bingfeng keduanya tampak waspada, mereka saling memandang satu sama lain. Di depan mereka, tampak sesosok praktisi kuat, Feiya. Feiya menatap ke arah Tuan luo dan bingfeng tatapannya tampak serius. "Hmm... Aku yakin kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup," ucap Feiyan dengan nada yang datar, seolah setiap kata yang keluar membuat ancaman besar untuk Tuan luo dan bingfeng. Bahkan suara dari Feiya membuat nyali para prajurit Organisasi Xuan langsung hilang seketika. Tangan mereka gemetaran, dan keringat dingin membasahi bagian dalam baju zirah para prajurit Organisasi Xuan. Feiyan melirik ke bawah, menatap salah satu bawahan kepercayaannya, seorang pria bertubuh gemuk. "Kau, cepatlah kejar semut-semut yang mencoba kabur itu." "Siap, Tuan," jawab si pria gemuk sambil menunduk hormat. Pria gemuk itu Tersenyum sinis, seolah ia sangat menikmati permainan berdarah ini. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Tuan Luo mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Seluruh pasukan, bersiap bertempur!" teriak Tuan Luo sembari memberi komando. Feiya tersenyum "Baiklah, silahkan kalian Buktikan jika kalian mampu menghadapiku!" tantang Feiyan, tampak meremehkan orang orang yang berada di depannya. Tak lama, Feiya mengangkat tangannya keatas lalu mengempaskannya ke bawah. Tanpa diduga, sebuah tekanan gravitasi yang sangat besar menimpa area pasukan Tuan Luo. BRUK! Seluruh prajurit serentak ambruk. Bahkan Bingfeng dan Tuan Luo yang sedang berdiri di udara langsung terhempas jatuh kebawah, hingga membuat mereka berlutut di tanah. Tekanan itu luar biasa berat, bagaikan ada gunung yang sengaja dijatuhkan di atas punggung mereka. Melihat Tuan Luo dan pasukannya tak berkutik, si pria gemuk tampak tertawa kegirangan. "Baiklah, sekarang giliranku!" Gumamnya dalam hati. Dengan aura yang membara, pria gemuk itu melesat sangat cepat keluar dari gua hanya untuk memburu mangsanya. ... Sementara itu di jalur pelarian, Xiang tiba-tiba merasakan tekanan kuat yang membuat tidak nyaman. "Percepat kudanya!" seru Xiang panik. Feng Lie yang merasakan firasat buruk, langsung melirik ke belakang. Ia memegang erat gagang pedangnya, Feng Lie tau sesuatu akan terjadi pada mereka. Feng Lie menatap Xiang yang bersebelahan di sampingnya, "Xiang, musuh makin mendekat! Bagaimana ini?!" “Aura yang sangat kuat!” batin Xiang tampak cemas. Benar saja... BUM! Sebuah kapak raksasa tiba-tiba melayang dari kegelapan, menghantam salah satu gerobak mereka hingga terjungkir balik dan hancur berkeping-keping. Semua tampak panik. "Xiang, lindungi yang lain!" teriak Feng Lie. Ia langsung melompat turun dan mengonversikan energi ke pedangnya, senjata yang di pegang oleh Feng Lie, memancarkan aura biru tua yang pekat. Namun, begitu melihat siapa yang datang, wajahnya langsung kesal. . "Ha?! Keparat, kenapa si gendut ini yang datang?!" "Ooh, ternyata cuma bocah ingusan," ejek si pria gemuk. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengayunkan kapak besarnya. SRUKK!! Kapak itu menghantam tanah dengan sangat keras. refleks Feng lie menghindar dengan cepat, membuat kapak itu tidak mengenai tubuh Feng lie. "Oho, bisa selamat ya?" Pria gemuk itu tersenyum tipis, Tak lama aura di tubuh pria gemuk itu makin Membesar, kekuatannya naik berkali-kali lipat. "Praktisi tingkat Raja sepertimu hanyalah sampah bagiku!" Pria gemuk itu langsung melancarkan serangan gelombang tebasan beruntun yang mengarah ke arah Feng Lie. "Serangan ini terlalu kuat...!" Feng Lie bersusah payah menahan serangan yang bertubi-tubi itu. "Aktifkan formasi pelindung!" teriak para prajurit pengawal serentak. Mereka merapatkan barisan dan menciptakan sebuah perisai energi berwarna biru pekat, Mencoba menangkis serangan mematikan yang tepat sebelum mengenai Feng Lie. "Hooo, kalian semut-semut kecil mau mau jadi korban selanjutnya ya ?" ucap pria gemuk, Tampak mencoba meremehkan pengawal pengawal itu. "Tuan Muda Feng Lie, kami siap membantu Anda!" Serentak para pengawal itu terus mengalirkan aura gabungan kekuatan untuk mempertahankan perisai. Feng Lie menoleh ke arah Xiang, di tengah kepanikannya, "Xiang, evakuasi semua orang sekarang!" Teriak Feng lie. "A-Ah... iya! Aku akan evakuasi para tahanan!" jawab Xiang tampak gugup. Kakinya bergetar hebat karena syok. "Maro, ayo cepat!" panggil Xiang pada singa roh peliharannya. "Ooh, berani-beraninya mau kabur!" Pria gendut itu menatap Xiang dengan tatapan penuh nafsu yang membara. "Akan kuhabisi kalian semua dulu, baru setelah itu gadis kecil itu akan jadi milikku! Hahaha!" Amarah Feng Lie langsung meledak. "Kau... Keparat!" Feng Lie mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menciptakan jurus angin hitam, Angin hitam itu berputar sangat dahsyat, dan menerjang ke arah pria gendut itu. "Kekuatan bocah sepertimu tidak akan pernah sepadan!" Pria gendut itu menghentakkan kakinya. Seketika, cahaya menyilaukan muncul di sekelilingnya dan bermanifestasi menjadi ribuan pisau kecil yang melesat sangat cepat, serangan itu mengarah ke angin hitam milik Feng lie. DUAAARR! Kedua kekuatan besar itu bertabrakan, menciptakan gelombang kejut yang luar biasa yang sangat dahsyat. Di sisi lain, Lun Ya hanya bisa terpaku menatap pertempuran itu dengan rasa tidak berdaya. Ia tahu posisinya sekarang tidak lagi sama seperti dulu. “Jika... jika saja aku berhasil mengembalikan kekuatanku...” batin Lun Ya sambil mengepalkan tangannya sangat erat. Sorot matanya menyala diliputi amarah dan dendam saat ia memandang pria gendut itu. ... Tabrakan energi tadi akhirnya meretakkan perisai biru para prajurit hingga pecah berkeping-keping. "AAAKHH!" Para prajurit terlempar akibat hempasan energi. "Owh, cuma segini kemampuan kalian?" ejek si pria gemuk. Ia menatap remeh ke arah Feng Lie yang kini berlutut sambil memegangi dadanya. Darah segar mengalir dari mulut Feng Lie, dan napasnya memburu hebat naik turun tidak beraturan. "Keparat..." desis Feng Lie kesal. Ia merutuki betapa lemahnya dirinya, tak berdaya menghadapi lawan yang berada di tingkatan yang jauh lebih tinggi darinya. "Sudah cukup main-mainnya, sekarang aku akan serius," ucap pria gemuk itu dengan senyum kejam. Dalam sekejap mata, ia melesat sangat cepat. Kapak besarnya terayun brutal, mencabik-cabik barisan prajurit dan melempar tubuh para prajurit ke udara. Setelah puas, ia melemparkan kapaknya ke langit. Secara ajaib, kapak itu berubah menjadi sebilah pedang hitam legam yang memancarkan hawa kematian. Ia menangkap gagangnya, lalu mengarahkannya langsung ke Feng Lie. SYUTT! Sebuah kilatan tebasan raksasa melesat cepat. Insting bertarung Feng Lie membuatnya berhasil menghindar di detik terakhir, namun malang, serangan itu tetap merobek lengannya hingga putus. "AAAKKKHHH!!" Raungan nyeri yang memuncak pecah dari mulutnya, darah segar menyembur deras membasahi tubuh Feng Lie. Xiang yang melihat hal itu langsung syok. "Feng Lie! FENG LIE...!" Air matanya tumpah seketika, dan tanpa memikirkan keselamatan sendiri, ia berlari menghampiri Feng Lie. "Lindungi Tuan Muda!" Teriak sisa-sisa prajurit yang masih mencoba melawan walau perbedaan kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi. "Hahaha! Aku suka kegigihan kalian!" Pria gemuk itu tertawa puas sambil terus menebas para prajurit yang menghadangnya. Tak lama kemudian, tatapan kejamnya beralih ke arah Xiang dan Feng Lie yang sudah tak berdaya sama sekali. "Owh, aku sudah muak melihat drama ini. Mari kita selesaikan dengan cepat." Ia mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi, siap memberikan tebasan terakhir. Melihat bahaya yang mengancam kedua orang itu, Lun Ya langsung berlari sekuat tenaga ke arah mereka. “Gawat! Aku harus menyelamatkan mereka, meskipun tubuh ini lemah!” "Hahaha, mati saja kalian!" teriak pria gemuk itu seraya mengempaskan pedangnya ke bawah. Tepat saat mata pedang itu nyaris merenggut nyawa mereka, sebuah kilatan cahaya biru muda melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal. SWITTT...! Setelah memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan, semuanya lenyap begitu saja dalam sekejap mata. Suasana berubah menjadi sunyi, pria gemuk itu pun tiba-tiba terdiam. "A-Apa ini... Perasaanku mendadak tidak enak..." gumam pria gemuk itu. Pria gemuk menyentuh lehernya yang tiba-tiba terasa perih seperti terkena goresan kecil. Tak lama, aura yang menyelimuti tubuhnya perlahan mulai redup. Pedang hitam yang dipegangnya terlepas dari genggamannya, lalu pria gemuk itu jatuh ke tanah. Sontak semua keheranan. “Si...siapa?!” batin Lun Ya tampak panik, Ia segera menoleh ke arah tepat pepohonan yang berada di belakangnya. Sendangkan Fenglie lie tampak mulai kehilangan kesadaran. "Feng Lie, bertahanlah!" Teriak Xiang yang mulai panik. Tak lama, Dari balik kegelapan hutan, sesosok pria misterius berjalan keluar. Ia mengenakan zirah armor biru muda yang lengkap. Di belakangnya, muncul ratusan prajurit berbaju zirah serupa yang berbaris rapi dari balik bayang-bayang pohon. "Si-siapa mereka, Xiang...?" tanya Feng Lie dengan pandangan yang semakin buram. "Tenang, Feng Lie. Kita selamat sekarang. Bantuan kita sudah datang… Mereka adalah Regu Naga Azura!" ucap Xiang meyakinkan sambil mengusap keringat di dahi Feng Lie. Di sisi lain, Lun Ya hanya menatap dingin ke arah rombongan pasukan tersebut. “Kekuatan yang lumayan,” puji Lun Ya di dalam hati. Sebagai mantan jenderal terkuat yang dulu memimpin pasukan besar, ada secercah rasa iri sekaligus perih di hatinya, mengingat sekarang ia terjebak di dalam tubuh pemuda lemah yang tidak berguna. Pemimpin berbaju zirah biru muda itu berjalan mendekat, lalu berlutut dengan penuh hormat di hadapan Xiang. "Hormat kepada Nona Xiang!" seru seluruh pasukannya serentak.Di tempat yang sangat jauh dari medan perang.sebuah rumah sederhana berdiri di tengah pegunungan.Kabut tipis menyelimuti pepohonan.Suasana di tempat itu sangat tenang.Di dalam rumah, seorang nenek sedang menyiapkan teh hangat.Rambutnya telah memutih, tetapi wajahnya masih terlihat tenang.Di sampingnya duduk seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun.Gadis itu sangat cantik.Rambut panjangnya terurai hingga melewati pinggang.Sambil menunggu teh selesai disiapkan, ia bernyanyi dengan suara lembut."Nenek, tehnya sudah siap?""Sebentar lagi."Nenek itu tersenyum.Ia kemudian mengangkat teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir.Namun...saat ia hendak membawa cangkir tersebut...Tangannya tiba-tiba berhenti.Matanya membesar.CLINK!Cangkir yang dipegangnya terlepas."Ah..."BRUK!Teh panas tumpah ke lantai.Gadis itu langsung berdiri."Nenek!"Namun sebelum gadis itu sempat mendekat.air teh yang tumpah di lantai tiba-tiba bergerak.Cairan tersebut tidak menyebar secara acak.
Langit di atas camp militer tiba-tiba berubah.Awan hitam pekat memenuhi seluruh cakrawala.Di tengah pusaran awan tersebut, lingkaran formasi berwarna merah menyala berputar perlahan.Kemudian...ROOOOOAAAAARRRR!Auman naga mengguncang bumi.Semua orang yang berada di medan perang menghentikan gerakannya.Prajurit Zhen.Prajurit Lun Ya.Li Jia.Gu Wen.Mo Yuan.Bahkan mayat-mayat hidup yang sebelumnya menyerang tanpa rasa takut ikut berhenti selama beberapa detik.Semua mata tertuju ke atas.Dari dalam awan hitam, tubuh seekor naga merah kuno perlahan keluar.Sisiknya memancarkan cahaya merah.Matanya seperti dua matahari yang terbakar.Setiap kali naga itu bergerak, awan di sekitarnya bergulung dengan hebat.Mo Yuan menatap makhluk tersebut dengan wajah serius."Tekanan yang sangat kuat..."Gu Wen juga terdiam.Sementara pria pengguna ilmu mayat menatap naga itu dengan wajah yang mulai berubah."Apa sebenarnya benda itu?"Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai,ia merasa te
BOOOOM!Serangan hijau kehitaman kembali menghantam Lonceng Emas milik Mo Yuan.Namun kali ini.WUUUUSSHHH!Serangan tersebut justru terpental.Energi hijau kehitaman berbalik arah dan menghantam tanah beberapa puluh meter dari posisi Gu Wen.DUARRR!Tanah langsung meledak.Gu Wen terdiam sesaat.Ia menatap Lonceng Emas yang masih berdiri kokoh di hadapannya.Kemudian ia menoleh kepada Mo Yuan."Mo Yuan..."Mo Yuan masih mempertahankan kedua tangannya.Gu Wen segera mengepalkan tangan."Terima kasih!"Mo Yuan hanya mengangguk."Jangan berterima kasih dulu. Pertempuran belum selesai."Di kejauhan.Pria pengguna ilmu mayat melihat kejadian itu.Wajahnya langsung berubah muram.Ia mengerutkan dahinya.Giginya bergemeletuk karena marah."Berani sekali..."Tangannya perlahan terangkat.Aura hijau kehitaman mulai berkumpul di atas kepalanya.WUUUUMMM!Sebuah formasi raksasa muncul di udara.Formasi itu berputar dengan cepat.Simbol-simbol kuno memenuhi permukaannya.Kemudian...KRAAAAK!Dar
Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini
Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini
Di tengah wilayah pepohonan yang lebat, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan jatuh membentuk bayangan indah di atas tanah.Angin berhembus pelan.Namun sejak tadi, Lun Ya dan Li Jia masih terus mencari sesuatu di antara pepohonan.Lun Ya mengusap keringat di dahinya.Ia menatap Li Jia yang masih sibuk membuka semak-semak satu per satu.“Wakil Li Jia.”Li Jia tidak menoleh.“Hmm?”“Kurasa kelinci bulan itu nanti akan kembali sendiri.”Lun Ya menghela napas.“Ayo kita kembali ke camp.”Li Jia akhirnya menoleh.Tangannya perlahan terangkat.Kemudian mengepalkan tinjunya dengan erat.“Hm?”“Apa kau bilang?”Lun Ya menatap tinju Li Jia.Jantungnya seakan berhenti sesaat.Li Jia menunjuk ke arah semak-semak.“Pokoknya aku harus menemukan kelinci itu.”“Paham?”Lun Ya menelan ludah.“Paham...”Li Jia kembali mencari.Lun Ya berjalan beberapa langkah, lalu akhirnya bersandar pada sebuah pohon besar.Ia menghela napas panjang.“Hm... perempuan memang susah dimengerti.”Tanpa sadar ka







