LOGINMalam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.
Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.
“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”
Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.
Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.
“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”
Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.
Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.
Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di dunia ini bisa berkomunikasi langsung dengan Dewa mereka.
Tidak heran nyaris seluruh penduduk di dunia ini adalah orang yang religius. Hanya ada perbedaan pada Dewa yang mereka sembah.
Ashton terkekeh mengingat beberapa Dewa yang disembah secara ortodoks di dunia ini.
“Hehe, Profesor, aku benar. Manusia selalu mencari tempat bernaung yang sesuai dengan sifat mereka.”
Ashton sempat terdiam karena tidak sengaja memikirkan Profesor Nicolaus lagi, tapi dia segera pulih.
Dia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berpikir keras tentang kitab Dewi Kematian di hadapannya.
Dewi Kematian sendiri termasuk Dewa sekunder di Kerajaan Riomes. Jumlah pengikut Dewi Kematian di kerajaan ini menempati peringkat keempat, setelah Dewa Perang—dewa utama yang diikuti Riomes, Kaisar Tujuh Lautan, dan Dewi Panen.
“Teks terkait Dewi Kematian milik Riomes tidak begitu lengkap. Mungkin aku bisa minta tolong Kapten Arthur atau pergi ke Castillan—”
Saat sedang memikirkan gereja pusat Dewi Kematian, tiba-tiba pintu sel Ashton dibuka paksa. Ashton tersentak kaget melihat dua orang yang masuk terburu-buru.
“Hei, ada apa?!”
Kedua orang yang masuk paksa itu, Bastian dan Deckard, sekarang melihat isi sel Ashton dengan panik di mata mereka.
Ketika Ashton hendak bertanya lagi, Deckard langsung menyambar dan mengangkat Ashton di pundaknya. Deckard lalu memegang kedua kaki Ashton dan menggendongnya.
“…oh, hei! Apa ini?!”
Bastian hanya diam dan merogoh sakunya. Dia mengambil revolver perak dan memeriksa selongsong pelurunya.
“Tidak ada waktu. Ashton, jangan berisik. Kita akan lari ke gereja Dewi Kematian!”
“Huh? Kenapa—”
Ashton akhirnya tersadar. Sesuatu telah terjadi di markas ini. Kemungkinan besar, ada teroris yang mengincar Ashton!
“Para teroris berhasil menemukan tempat ini?”
Deckard mengangguk pelan mendengar pertanyaan Ashton. Ashton sendiri hanya melongo.
Bukannya dalam cerita musuh akan menunggu protagonis menjadi kuat dulu baru menyerang? Aku masih sangat lemah! Tolong, tunggu aku menjadi kuat!
Bastian mengarahkan kepalanya ke langit-langit dan mulai mengendus dengan hidungnya. Beberapa detik kemudian, dia menatap Deckard dan Ashton dengan serius.
“Tidak ada waktu. Ke ruang B3. Kapten sepertinya masih ada di sana.”
Deckard mengangguk dan berlari keluar ruangan. Bastian berlari di belakang mereka, sambil menimbang-nimbang revolver yang dia pegang.
Tanpa ada peringatan, ada getaran hebat di tempat mereka berlari. Ashton kaget dan hanya bisa berteriak kecil.
“Ah! Apa itu?!”
Deckard hanya berdecak. Tanpa keraguan, Deckard kembali berlari, disusul oleh Bastian.
“Mereka menjebol paksa gedung ini. Jelas mereka punya Rank 3!”
“Tidak apa! Kita berempat di sini!”
Deckard nyaris mau mengangguk, tapi dia memiringkan kepalanya ketika mendengar Bastian.
“Apa Ashton dihitung?”
Bastian hanya melihat Deckard layaknya orang waras melihat seseorang yang sudah gila.
“Tidak! Aku menghitung Florence!”
“Oh, begitu,” angguk Deckard. “Kalau begitu di mana Florence sekarang?”
“Hah, apa maksud—”
Seperti menyadari sesuatu, Bastian mengendus dengan hidungnya lagi. Ashton menengok ke arah Bastian dan melihat alisnya berkedut.
“Florence tidak ada di tempat ini! Sial, di mana dia?!”
“Tidak ada waktu, cepat ke tempat Kapten!”
Tidak lama, mereka bertiga sampai di depan pintu dengan papan kusam bertuliskan B3. Bastian langsung mendobrak pintu itu dengan keras.
“Kapten! Florence tidak ada!”
“Oh, aku tidak menyadarinya.”
Kapten Arthur menjawab Bastian dengan santai, sambil memakan sesuatu yang menurut Ashton berbau sangat sedap.
Terdiam sejenak, Kapten Arthur akhirnya berbicara lagi. “…tidak apa. Florence. bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Oh, oke.”
Perhatian Bastian sekarang tertuju pada makanan yang dipegang Kapten.
“Pai daging? Masih ada, Kapten?”
Kapten Arthur hanya mengangguk dan melemparkan potongan pai ke Bastian. Bastian tidak menunggu lama dan langsung melahap pai itu.
Ashton terdiam sesaat, lalu bertanya pada Deckard.
“Kita sedang situasi gawat kan? Kenapa mereka malah makan?”
“Kadang keinginan itu muncul tiba-tiba. Tenang, ini sudah biasa.”
Apanya yang biasa?!
Kapten Arthur menghentikan mulutnya sebentar dan memandang Ashton dalam-dalam. Kapten lalu memberi isyarat dengan kepalanya pada Bastian.
“Beri Ashton revolvermu.”
Bastian yang mulutnya masih penuh, segera mengeluarkan revolver miliknya dan melemparkannya pada Ashton. Ashton gelagapan menerimanya, tapi Deckard membantu menangkap revolver itu.
“Formasi tombak terbalik. Aku dan Bastian di depan.”
Sambil menjilat jarinya, Kapten Arthur keluar ruangan dengan hati-hati. Bastian dan Deckard mengikutinya. Ashton hanya diam di punggung Deckard.
Kapten Arthur tiba-tiba saja berhenti dan menepuk keningnya. Dia berlari ke ruangan lagi dengan tergesa-gesa. Tidak lama, dia keluar dengan membawa kantong kulit berwarna hitam dengan simbol-simbol yang tidak asing bagi Ashton.
Itu, tulisan bahasa Tharos! Kenapa ada di kantong itu?
Deckard menyipitkan matanya ketika melihat kantong yang dibawa Kapten Arthur.
“Kapten, itu…”
Kapten Arthur hanya menggelengkan kepalanya. “Pesanan Uskup Lilliard. Maaf, jadi terlambat. Ayo bergerak.”
Mereka semua kembali bergerak. Ashton sendiri belum bisa melepaskan pikirannya dari kantong yang dibawa oleh Kapten. Seakan ada sesuatu di kantong itu yang menarik dirinya untuk mendekat.
Ashton teringat pesan dengan bahasa Tharos yang masih menghantui pikirannya.
“Hei, jangan bengong, Ashton.”
Deckard menggoyang kaki Ashton untuk menyadarkannya. Ashton terkesiap dan mencubit pipinya sendiri.
Sementara itu, Kapten Arthur dan Bastian terus bergerak maju sambil memakan pai daging, sementara Deckard menggendong Ashton dalam diam.
“Bau makanan ini membuat penciuman kita melemah, Kapten.”
Bastian melayangkan protes, tapi dia tidak berhenti memasukkan makanan ke mulutnya sambil berjalan cepat.
“Tenang, masih ada Deck—”
“Aku sedang menggendong orang,” Deckard langsung memotong kata-kata Kapten Arthur.
“Oh ya. Kamu harus menggunakan tanganmu ya? Tidak apa, penciumanku tidak mendeteksi apa pun.”
Kapten Arthur tidak berhenti makan dan minum sambil berjalan. Ashton hanya mengernyitkan dahinya melihat semua ini.
Kenapa mereka bertingkah seperti ini? Keadaan sedang gawat, tapi seolah makanan itu sangat penting bagi Kapten dan Bastian. Apa alasannya?
“Kita hanya harus keluar lewat pintu di akhir koridor ini, lalu lari secepat mungkin ke arah gereja—”
Rombongan Wolf Brigade tiba-tiba berhenti setelah berbelok dari koridor. Di depan mereka, ada sekumpulan orang asing yang tidak pernah mereka lihat.
Ada yang memakai baju petugas pelabuhan, ada yang masih memakai baju seperti wartawan, dan masih banyak lagi.
Kedua rombongan terhenti ketika melihat satu sama lain. Kedua rombongan membuka mulutnya, menganga secara bersamaan.
Setelah beberapa detik saling menatap dan menganga, mereka sadar hampir bersamaan.
“Musuh!” “Ada musuh!”
Ashton sendiri hanya bisa menepuk jidatnya ketika melihat tingkah kedua belah pihak.
Ashton tidak menyadari dari gerombolan teroris itu ada yang melihatnya dengan kebencian yang amat sangat.
“Itu dia! Orang yang digendong itu!”
Ashton kembali melongo dan dia juga menunjuk wajahnya sendiri.
Aku? Apa salahku sekarang?!
Ashton, Bastian, dan Florence kembali menelusuri tangga menuju ke atas rumah itu.Mereka masih berhati-hati, tapi tidak sangat waspada seperti tadi. Pintu kamar Cellia masih terbuka.“Oh, kenapa tadi kau melompat?”Ashton bertanya dengan heran pada Bastian. Bastian hanya mengangkat bahunya.“Ilusi. Nyanyian banshee menyebabkan halusinasi.”“Oh.”Ketika mereka bertiga masuk, Cellia sedang duduk sambil memegangi lututnya. Tanpa penglihatan spiritual pun, kali ini ada sosok yang terlihat jelas di punggung Cellia.“…Nona Cellia, kita harus bicara.”Florence membuka pembicaraan. Dengan penglihatan spiritual, Ashton dapat melihat aliran aether pada Florence perlahan mendekati Cellia.Celiia perlahan mendongak ke arah Florence.Wajah Cellia terlihat pucat dan sedih. Terlihat bekas air mata di kedua pipinya.“…belum puas kalian mengganggu kami? Mama tidak ingin menyakiti kalian. Pergilah!”Aliran aether dari Florence perlahan sampai pada Cellia dan mengelilinginya. Cellia menangis sesenggukan
Sosok-sosok itu melihat ketiga anggota Wolf Brigade dengan beringas. Tanpa menunggu lagi, mereka semua menyerang Ashton!“Eh, lho, lho?!”Ashton terkejut, tapi latihannya dari beberapa minggu lalu membuahkan hasil. Dia langsung berlari ke arah pintu keluar kamar.”Earghhh!”Salah satu sosok yang paling dekat dengan Ashton berteriak. Dari tubuhnya, rantai yang melilitnya bergerak menuju pintu itu.Ashton menyadari apa yang mau dilakukan sosok hantu itu. Tapi Ashton tetap berlari ke arah pintu. Dia mengarahkan revolvernya ke arah pintu sambil mengaktifkan penglihatan Gagak Putih.Ketika Ashton melihat ada rantai yang sudah menempel di pintu, Ashton menarik pelatuk revolvernya.DOR! DOR!Ashton tidak yakin dengan akurasinya, jadi dia menembak beberapa kali. Beruntung dia menggunakan peluru perak, dan ada yang mengenai rantai itu. Pintu tidak berhasil tertutup total.“Bastian, Florence!”Ashton berteriak untuk memberi tahu rekannya. Dia berhasil keluar kamar!Sementara itu, sosok yang men
Ashton menuju pintu rumah dan mendorongnya. Pintu itu terasa berat seperti sudah bertahun-tahun tidak ditinggali.Di dalam, Ashton merasakan hawa dingin yang menusuk. Ashton memegang belakang lehernya dan merasakan bulu kuduknya berdiri.“Siang bolong dan ada aktivitas spiritual. Ini jelas bukan hantu biasa kan?”Pada kelas Miriam sebelumnya, Ashton diajari tentang spiritualisme dan pengetahuan mistis. Ashton tidak heran kalau ada hantu di dunia ini, karena adanya Relic dan Vessel.Tapi hantu biasa hanya bisa muncul di malam hari, di mana kekuatan spiritual mereka berada pada puncaknya.“Kau melewatkan sesuatu. Tadi lihat hantu di ruang atas kan?”Bastian memegang revolvernya dengan hati-hati dan masuk perlahan ke rumah besar itu.Setelah memeriksa aula besar di situ dan tidak menemukan apa-apa, Bastian memberi isyarat pada Ashton dan Florence untuk ikut masuk, menuju tangga besar di ruangan itu.“…oh benar juga.”Saat mulai menaiki tangga, Ashton menyadari sesuatu. Hantu yang dia lih
Ashton mengernyitkan dahinya. Dia sepertinya ingin menarik cambang dari si kepala pelayan.“…apa kau yakin itu bukan Nona Cellia yang bernyanyi?”Bastian dan Florence nyaris tidak bisa menahan tawa.“Uh, tidak. Suara Nona Cellia tidak merdu—ahem, tidak mengerikan seperti itu.”Ashton menganggukkan kepalanya. Dia bertanya lagi pada Robert.“Kapan biasanya hal itu terjadi?”Robert memegang dagunya dan berpikir keras. Jalannya jadi sedikit melambat.“Hm, kalau tidak salah selalu setelah tengah malam, tepatnya sendiri—aduh!”Tiba-tiba saja rambut Robert seperti ditarik ke belakang. Kepalanya ikut tertarik dan dia hampir terjungkal ke belakang.Robert kebingungan dan menengok ke belakang. Dia melihat Ashton memegangi sesuatu yang seperti kumpulan daun dan bunga.“…maaf. Ada gangguan padamu tadi.”“…oh, begitu.”Robert merinding mendengarnya. Dia sekarang benar-benar berharap kalau para pengusir hantu ini mampu menghilangkan suara-suara aneh itu!Sementara itu, Ashton merasa aneh.Dia seben
Hari Kamis, 22 Septen Tahun Agung 1832.“Bangun, Ash, sudah pagi.”Suara William terdengar dari dekat. Ashton mulai membuka matanya.William sedang bersiap-siap dengan baju yang mirip seragam polisi. Dia bolak-balik melihat penampilannya di cermin besar.“Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat keren?”“Tidak setampan Bastian, tapi cukup oke.”William merengut. Bintik di mukanya seperti membentuk formasi serangan laut.“Jangan bandingkan dengan Bastian, mukanya memang disukai wanita. Kau harus—”William melihat Ashton dalam-dalam, dari atas ke bawah. Dia merengut lagi.“Semua orang tampan adalah musuhku!”“…”Ashton tidak mengerti maksud William. Dia menggelengkan kepalanya dan beranjak dari tempat tidur.Di kamar ini, Ashton dan William menggunakan kasur bertingkat. William tidur di kasur atas.Asrama gereja Dewi Kematian biasanya ditempati oleh akolit dan pendeta muda. Asrama ini gratis digunakan anggota Wolf Brigade.“Aku mau cuci muka. Kunci kamarnya.”Ashton mengambil baskom dan ha
10 Septen, tahun agung ke 1832.Ashton, Kapten Arthur, dan Deckard sekarang ada di area pelabuhan kota Erworne, pada Distrik Camellia.“Jangan menyerah Ash—Nathan!”Ashton sekarang menggunakan identitas atas nama Nathan Blackwood. Dia adalah keponakan jauh dari Arthur Blackwood yang berasal dari kota kecil bernama Donnol, perbatasan Kerajaan Riomes.Selama beraktivitas di luar, Ashton akan menggunakan nama itu dan juga mengenakan jimat kalung perak Wolf Brigade agar tidak terlihat orang lain.“Hoakkh!”Terdengar suara yang seperti berasal dari dunia lain. Tapi tidak ada orang di situ yang mendengarnya selain Kapten dan Deckard.Deckard sendiri sedang berlari mengejar seseorang dengan kecepatan penuh, sambil mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke orang itu.SHING!“Oagghhh!”Suara berdesing pelan membuat orang yang dikejar itu mengetahui arah datangnya serangan. Susah payah dia menghindar, lalu berusaha bangkit dan berlari lagi.Hal ini terulang beberapa kali hingga orang yang dikejar







