LOGINAshton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.
“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”
Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”
“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”
Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.
Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.
“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”
Ashton terdiam sejenak.
Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehilangan koneksiku.
“Hahaha, sama sekali tidak lucu.”
Setelah beberapa saat, Ashton menoleh ke arah Deckard dan Bastian.
“Aku ingin memperlihatkan penampilan yang terbaikku saat mengantar mereka.”
Deckard dan Bastian lalu mengantarkan Ashton keluar ruangan, menuju ruang ganti.
Ashton mengamati sosok di hadapannya. Pada pantulan cermin, ada seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan. Rambutnya coklat mendekati hitam dan matanya gelap seperti malam.
Dia memakai jas hitam yang dipinjamkan oleh Bastian dengan ‘senang hati’. Wajahnya yang kurus sudah bersih dan cerah, tapi terlihat pucat dan tidak bertenaga.
“Penampilanmu bagus. Ayo, jangan sampai Profesor Nicolaus dan keluarganya menunggu.”
Bastian mengisyaratkan Ashton untuk mengikutinya. Ashton mengangguk. Setelah memakai kalung dengan medali serigala, Ashton bergerak mengikuti Bastian. Deckard mengikuti mereka dari belakang.
“Kalung ini membuatku tidak terlihat kan? Bagaimana dengan Vessel lain, apa mereka bisa mendeteksiku?”
“Tidak,” ujar Bastian. “Kalung itu semacam jimat tingkat tinggi, Vessel selain dari Wolf Brigade akan kesulitan mendeteksimu.”
“Hm.”
Ashton berjalan sendiri melewati tangga-tangga yang sangat tinggi. Dia masih merasa belum fit sehingga mudah kelelahan. Tapi dia tetap naik tangga sendiri meskipun Bastian dan Deckard memberi isyarat kalau dia boleh minta bantuan mereka.
Ashton tidak peduli. Dia ingin melangkah sendiri. Ini adalah prosesinya sendiri.
“Ashton…” Deckard mencoba membujuk Ashton, tapi tidak digubris. Deckard melihat
Bastian yang hanya menggelengkan kepalanya.Ketika sampai di luar, Ashton melihat pemandangan yang mirip beberapa hari sebelumnya. Sekarang sudah banyak api unggun di mana-mana dan gerobak yang bolak-balik membawa jenazah.
Ashton sudah beberapa kali melihat pendeta dan akolit dari berbagai gereja dan katedral.
“…banyak sekali orang-orang di bawah puing…”
Pengikut dari Dewi Kematian menggunakan warna hitam atau ungu. Pengikut dari Kaisar Tujuh Laut menggunakan baju warna biru. Warna merah tua adalah warna Kerajaan Riomes sekaligus warna dari pengikut Dewa Perang.
Mereka dibantu oleh relawan dan tentara Kerajaan Riomes. Para relawan dan tentara akan membantu membersihkan puing-puing, sementara para pendeta dan akolit akan membantu melaksanakan doa dan penguburan.
“Mungkin butuh waktu lama untuk membersihkan puing-puing dan menguburkan semua korban.”
Ashton merasa mual dan beberapa kali ingin muntah ketika melihat jasad dari para korban yang berhasil diangkut. Musibah menyerang tanpa diskriminasi. Setiap gender, setiap umur, tidak ada yang selamat.
Wajahnya memucat. Dia baru saja melihat jasad wanita dan anak-anak yang sudah tidak utuh, dengan boneka beruang di samping mereka.
Tubuh-tubuh manusia bertebaran di mana-mana. Bau busuk menyengat hidungnya. Dan masih banyak tentara, polisi, dan relawan yang terus berusaha melakukan evakuasi.
“Minum ini.”
Sesekali, Deckard memberikan minuman pada Ashton. Ashton merasa lebih segar dan rasa lelahnya hilang ketika meminumnya. Deckard membatasi hanya beberapa tetes sekali minum.
Setelah beberapa lama berjalan, mereka sampai di dekat puing-puing yang sepertinya dikenali oleh Ashton. Beberapa hari sebelumnya, dia sempat makan malam di sini.
Ashton melihat ke arah seseorang dengan rambut yang dikuncir, berdiri di tempat terdekat di mana puing-puing bangunan sudah dibereskan.
“Kemarilah,” ujar Florence. “Aku sudah menyiapkan semuanya.”
Di samping Florence, ada sesuatu yang ditutupi oleh kain yang besar dan panjang. Benda itu memiliki enam pasang kaki. Ashton menelan ludah.
Profesor…
Dengan berat hati, Ashton mendekat ke arah Florence. Florence memberikan jalan, dan Ashton pun mendekati kain besar itu. Ashton perlahan membuka kainnya.
Ashton melihat tiga orang yang sebelumnya tertawa bersamanya ketika makan malam. Profesor Nicolaus dengan rambutnya yang menipis dan kharismanya sebagai pendidik, kehilangan tangan kanan dan rahang bawahnya.
Istri Nicolaus wajahnya tidak bisa dikenali lagi, tapi Ashton tahu dari baju yang dikenakan. Putri Nicolaus, Anna, tidak memiliki luka dan kerusakan di wajahnya. Tetapi bagian tubuh atasnya nyaris terputus pada pinggangnya.
“Kami akan menunggumu sampai selesai.”
Tiba-tiba saja Arthur muncul di samping Ashton dan menepuk pundaknya. Ashton tidak kaget, pandangannya masih terkunci pada ketiga jenazah itu.
Setelah beberapa saat, Ashton mengangguk. Arthur lalu memberikan air dalam wadah dan seikat bunga lili putih pada Ashton.
Ashton menerimanya dan berjalan mengelilingi ketiga jenazah itu sambil menyipratkan air menggunakan bunga lili. Bunga lili merupakan bunga yang dianggap sakral oleh pengikut Dewi Kematian.
“Lindungi mereka para pengikut-Mu, bimbinglah mereka menuju pelukan-Mu, wahai penguasa kematian, jagalah mereka dalam tidur abadi…”
Ashton mengelilingi jenazah sebanyak tujuh kali, lalu menaruh sebuah bunga lili di masing-masing dada jenazah. Dia lalu duduk berlutut dan berdoa sambil memejamkan matanya.
Pengikut Dewi Kematian biasanya akan dikuburkan setelah prosesi ritual, tapi Profesor Nicolaus dan keluarganya akan dikremasi untuk mencegah wabah penyakit.
Ashton berdoa dengan khidmat, sama seperti ketika dia berada di ruang tahanan bawah tanah. Dia merasakan kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
“Ashton…”
Ashton terkesiap ketika mendengar suara itu. Profesor?
“Maafkan aku, aku harus pergi lebih dahulu dan meninggalkan beban untukmu. Maafkan aku…”
Ashton tidak mengerti apa yang Profesor bicarakan. Tapi dia merasakan kesedihan yang amat sangat dan ada air mata yang menetes pada pipinya.
“…tapi aku akan mengatakan, tetaplah hidup, Ashton. Tetaplah maju. Maafkan aku, tapi tetaplah hidup. Kami akan menunggumu di pelukan Dewi Kematian. Selamat tinggal, anakku.”
Saat itu, Ashton merasakan seperti ada jiwanya yang perlahan-lahan pergi. Perasaannya yang campur aduk dari kemarin, lama-kelamaan menjadi setenang telaga.
Apakah ini seperti pengakhiran untuk Profesor dan Ashton?
“Ini, apa yang terjadi?” Ashton tanpa sadar berbicara dengan cukup keras.
“Resonansi spiritual. ” Florence menjawab dengan singkat. Ashton menoleh ke arah Florence yang raut wajahnya seperti menyimpan kesedihan.
“Hah?”
Nona Florence sepertinya mendengarkanku.
“Proses itu,” Florence melanjutkan, “hanya terjadi jika seseorang memiliki bakat spiritual yang tinggi. Dan juga, orang yang pergi sangat menyayangi dirimu.”
“…begitukah?”
Ashton melihat ke arah jenazah Profesor Nicolaus dan keluarganya.
Aku mengerti. Dengan proses transmigrasi, aku adalah Ashton sekaligus Tommy. Aku memiliki ingatan keduanya. Aku juga memiliki perasaan dan jiwa keduanya. Tidak ada yang salah pada diriku.
Ashton memejamkan mata lagi. Dia tidak bingung lagi. Dia tidak lagi hanya Tommy. Dia bukan hanya Ashton.
Dia adalah Ashton Gray, sang transmigrator yang sudah kehilangan seluruh ikatan dan koneksinya di dunia ini.
“Kurasa hari ini aku akan tidur tenang,” kata Ashton, tersenyum tipis.
Pikirannya membayangkan Profesor Nicolaus di dunia lain, menunggunya sambil memarahinya karena jurnal Ashton masih ada salah tulis.
Sayangnya, sesuatu memutuskan bahwa malam itu bukanlah malam yang tenang bagi Wolf Brigade.
Ashton berjalan tertatih-tatih keluar dari lorong rahasia milik grup Dane. Di tangan kanannya, ada kantong kulit berisi Relic yang diberikan Dane.Di tangan kirinya, topeng besi yang dia pakai sebelumnya.Ashton seperti memancarkan aura yang berbahaya, yang membuat orang-orang yang dia lewati tidak berani mendekatinya. Dia terus berjalan hingga sampai di gang tempat Tobias dan Florence berada.“…Ashton!”Tobias dan Florence bergegas menghampiri Ashton yang berjalan terhuyung mendekati mereka.Melihat kedua rekannya, Ashton menghembuskan napas lega dan duduk bersandar di dinding terdekat.“…yo,” ujar Ashton lemah sambil melambaikan tangannya.Florence segera menempatkan dirinya di samping Ashton dan menempelkan tangannya pada dada Ashton.Setelah mengalirkan aether ke tangannya, Florence mengernyitkan dahinya dan menatap Tobias.“Kondisinya tidak parah, tapi tubuhnya mengalami luka dalam. Kekuatan mentalnya terkuras habis. Bagian sekitar mata juga mengalami pendarahan hebat.”Tobias me
Dane mengisyaratkan Ashton untuk mengikutinya. Jack sempat ragu-ragu, tapi dia akhirnya juga mengikuti mereka.Di ruangan yang lebih dalam, terdapat kotak-kotak dan kantong kulit yang bertuliskan simbol bahasa Tharos, serta dua pintu dengan desain yang berbeda.Ashton menghitung ada sekitar tujuh barang berupa kotak dan lima yang berupa kantong kulit.“Kita coba Relic Rank 1 dulu?”Dane menengok dan melirik ke arah barang-barang itu sebelum mengambil salah satu kantong kulit yang dekat dengan pintu berwarna merah.Ashton bisa merasakan aura yang opresif dari pintu itu, menunjukkan adanya Relic dengan Rank yang lebih tinggi dari Ashton pada ruangan di balik pintu itu.Masuk akal. Mereka tentu punya juga Relic di atas Rank 1.Ashton melihat ke arah Dane yang sepertinya sedang berusaha membuka kantong kulit itu. Dane beberapa kali mengeluarkan suara seperti “aduh”, “ow”, “akh” dan sejenisnya.Bibir Ashton berkedut melihat tingkah Dane.…apa dia tidak bisa membuka segel kantong itu? Kenapa
Ashton menata pikirannya dan mengingat-ingat fakta serta informasi yang sudah dia dapatkan.Pertama, Jack menyebut Dane Coot adalah bagian dari kelompok mereka. Kalau Dane adalah teroris atau bawahan Jack, dia akan menyebut Dane sebagai anak buah atau rekan.Ini berarti kelompok Jack dan Dane Coot berbeda. Yang satu memang teroris, dan yang satu hanya penyelundup Relic serta Artifact. Kemungkinan besar mereka bergabung karena kepentingannya ada titik temu.Ashton berjalan lebih pelan dari sebelumnya sambil mengamati Jack, yang berdoa dengan khidmat sambil berjalan.“Oh Dewi, Sang Penggembala Jiwa yang Pergi…”Ashton menyipitkan matanya ketika mendengar doa dari Jack.Kedua, ada yang aneh di sini. Dia tidak terlihat seperti berpura-pura ketika berdoa pada Dewi Kematian. Jack adalah penyembah Dewi Kematian? Lalu kenapa dia memanggil orang yang ditolong Wolf Brigade—aku, sebagai penghujat?Kenapa kelompok teroris ini menganggap aku sebagai musuh Dewi Kematian?Karena Ashton tidak punya pe
Pria berambut pirang itu mengamati Ashton dengan seksama dari atas ke bawah.“Aneh,” gumam si pria berambut pirang itu. Ashton sendiri hanya diam, dia bahkan belum berani mengambil napas.“Aku merasa seperti pernah melihatmu. Tapi—hm, penampilan dan auramu sangat berbeda.”Si pria berambut pirang itu, yang Ashton kenali sebagai pemimpin teroris yang menyerangnya sebelumnya, memiringkan kepalanya.Dia mengamati Ashton lagi. Wajahnya sedikit mengerut. Setelah cukup lama, mata pria itu terbelalak.“Ah! Kau…!”…sial!Keringat dingin semakin deras mengalir di pipi Ashton. Ashton seperti tidak bergerak, tapi dia sudah mengarahkan telapak tangannya ke arah saku dalam mantelnya.Dengan Pull, Ashton bisa serta merta menarik revolver di sakunya.Dengan pandangan tajam yang tertutupi oleh topeng besi yang dia pakai, Ashton bersiap untuk bertarung.“…apa kau adalah Goggins dari luar kota?”Mendengar kata-kata absurd dari pria berambut pirang itu, Ashton kembali rileks. Dia mengambil napas panjang
Di ruangan milik Kapten Arthur, Ashton sedang duduk santai sambil memeriksa perlengkapannya.Sementara itu Kapten Arthur masih melihat koran kemarin dengan seksama.“Luar biasa. Jadi ini cara para penyelundup menyembunyikan kode pertemuan mereka.”Kapten Arthur mengangguk-angguk puas. Dia kembali melihat Ashton yang masih sibuk melakukan inspeksi pada perlengkapannya sendiri.“Tidak kusangka kalau toko bahan baku Cutler adalah milik penyelundup.”“Sebenarnya,” sahut Ashton sambil membersihkan kacamatanya, Blur Glasses, “mereka memiliki beberapa toko yang digunakan untuk membuat kode di koran.”Ashton melihat kacamata yang sudah dilap berulang kali. Merasa kurang bersih, dia melanjutkan untuk mengelapnya lagi.“Kali ini adalah Cutler. Masih banyak nama toko lain milik kelompok Dane Coot.”Kapten Arthur melihat kembali koran kemarin di depannya itu.“…menggunakan deret bilangan prima sebagai penanda koordinat? Setidaknya para penyelundup ini pernah bersekolah, atau bahkan kuliah.”Ashton
Ketika Ashton membuka matanya, hanya tampak langit-langit kelabu yang tidak asing baginya.Sambil menyipitkan matanya dan mengingat-ngingat, akhirnya dia menyadari kalau sedang berada di bangsal perawatan rahasia milik Gereja Dewi Kematian.“…ruang bawah tanah ini kelam dan suram sekali.”“Kau benar. Seharusnya, prajurit garis depan seperti kita dirawat di tempat yang hangat dan dikelilingi perawat yang cantik dan elegan.”Bibir Ashton berkedut. Dia menengok ke samping kanan dan melihat ada seseorang yang berambut hitam kebiruan dengan panjang sebahu sedang asyik membaca sebuah buku.“Diam kau, pesolek. Jangan bawa-bawa hobimu.”Bastian balas menengok ke arah Ashton sambil tersenyum lebar. Giginya yang rata dan terlihat putih menambah pesonanya sebagai ‘pria paling tampan di Erworne’.Sayangnya, itu hanya menambah rasa sebal Ashton pada Bastian.“Haha, hobiku jauh lebih baik dari hobimu. Mana ada orang waras yang belum sepenuhnya pulih dan langsung memaksa dirinya untuk berlatih?”“…”







