ホーム / Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 114. Suara dari Tanah

共有

Bab 114. Suara dari Tanah

last update 最終更新日: 2025-12-26 10:01:43

Pagi itu, langit Bandung tampak berbeda.

Langitnya lebih bersih dari biasanya, tapi bukan karena cuaca. Ada cahaya lembut yang seolah datang dari dalam bumi, cahaya yang tidak bisa diukur, namun bisa dirasakan.

Di jalan-jalan kota, orang-orang berjalan dengan langkah pelan. Tidak ada yang sadar sepenuhnya, tapi setiap orang seolah menahan napas sejenak sebelum bicara, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang datang dari bawah tanah.

Di bawah gedung-gedung kaca dan aspal panas, getaran halus menjalar perlahan.

Bukan gempa, bukan mesin, tapi sesuatu yang lebih lembut, layaknya denyut bumi yang mulai hidup lagi.

Di lantai tertinggi Gedung Riset Geologi ITB, seorang peneliti muda menatap layar monitornya dengan dahi berkerut.

“Pak, lihat ini…” katanya kepada atasannya. “Sensor magnetik menangkap getaran berulang dari bawah kota. Pola getarannya mirip... detak jantung?”

Sang profesor mendekat. “Tidak mungkin. Itu pasti interferensi alat.”

“Tapi, Pak,” jawab si peneliti, “getarannya seragam
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 130. Cahaya yang Kembali

    Senja turun di lembah Rakata dan cahaya lembayung menyelimuti Pohon Layung seperti jubah suci. Daun-daunnya bergetar pelan, mengeluarkan suara lembut seperti kidung purba.Larisa berdiri di tepi danau seraya menatap permukaan air yang berkilau lembut seperti cermin niskala.Di sampingnya, Nagara duduk bersila dengan mata terpejam. Sementara Raksa dan Ratih menjaga di belakang dalam hening penuh hormat.Hari itu terasa berbeda. Udara lebih padat,suara burung berhenti dan cahaya matahari tak lagi jatuh lurus — ia berputar di langit seperti sedang mencari pusatnya sendiri.Larisa berbisik pelan, “Nagara… kau merasakannya?”Nagara membuka matanya perlahan. “Ya, Kak Larisa. Bumi sedang memanggil seseorang pulang.”Larisa menatap langit dan di kejauhan, awan membentuk lingkaran besar yang berputar di atas puncak gunung. Dari tengah pusaran itu, cahaya keemasan turun perlahan lalu menyentuh tanah seperti air hujan suci.Raksa melangkah maju. “Itu… cahaya dari masa lalu.”Ratih menunduk, mat

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 129. Kitab Layung

    Ketika itu sore turun perlahan di lembah Rakata. Langit tampak membentang seperti kain batik tua, berwarna lembayung dan keemasan dengan garis cahaya menari lembut di cakrawala.Nagara duduk di bawah Pohon Layung,di hadapannya terbuka sebuah kitab besar dari kulit pohon tua, lembarannya berwarna gading lembut dan di ujung setiap halaman, terlihat garis halus yang tampak seperti urat nadi.Ia menatap kitab itu lama, menyentuh halamannya dengan ujung jari. Setiap kali ia menyentuhnya, halaman itu bergetar lembut seolah hidup.Larisa datang mendekat. Ia membawa dupa kecil dan kendi berisi air dari sumber Rakata.“Air ini,” katanya pelan, “masih memantulkan cahaya seperti dulu. Sepertinya waktu tidak benar-benar berlalu.”Nagara menatapnya lembut. “Waktu tidak pernah berlalu, Kak Larisa. Ia hanya berputar di dalam rasa yang mengingat.”Larisa tersenyum. “Lalu apa yang akan kau tulis di dalam Kitab Layung?”Nagara menatapnya dalam. “Bukan aku yang akan menulisnya. Kitab ini akan menulis d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 128. Sang Pewaris Waktu

    Langit Bandung pagi itu berwarna lembayung keperakan. Udara mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan daun muda.Di lembah Rakata, tempat dimana Pohon Layung berdiri, dunia seolah bernafas lebih dalam.Nagara duduk bersila di tepi danau kecil,menatap permukaan air yang berkilau seperti kaca hidup. Bayangannya terpantul jelas, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, bayangan itu tersenyum padanya lebih dulu.Ia menatapnya lama. “Apakah ini masa depan… atau masa laluku sendiri?”Suara lembut datang dari belakangnya.“Kadang masa depan hanya masa lalu yang menunggu untuk diingat.”Nagara menoleh. Ia kemudian melihat Arjuna berdiri di sana, wajahnya terlihat teduh dengan cahaya mata lembut seperti sinar matahari pertama.“Guru…” bisik Nagara, “aku bisa merasakan sesuatu dari air ini. Seolah setiap tetesnya menyimpan waktu.”Arjuna mendekat dan duduk di sampingnya. “Itulah sebabnya kau disebut pewaris waktu, Nak. Karena kau bukan hanya mengingat masa lalu, tapi juga menyadarkan masa d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 127. Nyanyian Tanah dan Langit

    Ketika itu fajar datang seperti tarikan napas panjang. Langit tampak berwarna keperakan, dan dari cakrawala, cahaya lembut turun perlahan kemudian menyentuh pucuk-pucuk pohon yang bergoyang pelan.Di bawah Pohon Layung, Nagara terlihat serang duduk bersila dengan mata terpejam. Dari telapak tangannya, mengalir cahaya biru yang merambat ke tanah dan dari tanah itu, muncul semburat keemasan yang melingkar ke udara.Raksa dan Ratih berdiri di belakangnya,menatap fenomena itu dengan kekaguman yang tak bisa diucapkan.Larisa berjalan mendekat, rambutnya tertiup angin lembut yang datang dari arah gunung. Ia berhenti di samping Arjuna,yang sedang berdiri memandangi pemandangan itu dengan tenang.“Juna,” katanya pelan, “ini... bukan hanya cahaya biasa. Aku bisa mendengarnya.”Arjuna tersenyum lembut. “Ya, Larisa. Itu nyanyian tanah dan langit.”Larisa menatapnya bingung. “Nyanyian?”“Dulu, sebelum manusia datang,” ujar Arjuna, “bumi bernyanyi untuk langit,dan langit menjawab dengan hujan

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 126. Mereka yang Menutup Hati

    Ketika itu fajar datang dengan cahaya lembut yang anehnya terasa jauh. Udara di atas Bandung tidak lagi sehangat seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang menekan, halus tapi nyata.Disaat yang sama, Larisa terbangun lebih awal. Dari jendela laboratorium, ia melihat kabut berwarna abu menutupi sebagian kota. Namun Ia yakin bahwa ini bukan kabut biasa, tampak tidak berpendar jingga seperti biasnya cahaya bumi,melainkan kusam, seperti bayangan yang kehilangan gema.“Juna…” panggilnya.Arjuna yang berdiri di ujung ruangan, tampak memandangi langit pagi itu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya dalam.“Arus rasa melemah di sini,” katanya pelan.Larisa menatap layar hologram di depannya. Beberapa area di dunia kini berwarna gelap, bahkan zona di mana resonansi rasa menghilang sepenuhnya.“Itu... pusat kota-kota besar,” katanya khawatir. “Jakarta, Tokyo, Berlin, Chicago... semua menurun drastis dalam 24 jam terakhir.”Arjuna menunduk, berbisik lirih,“Manusia mulai menutup hatinya lagi.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 125. Arus Rasa

    Langit di atas Bandung pagi itu terlihat berwarna biru muda, kendati demikian ada sesuatu yang berbeda, yakni warna itu seolah hidup, tampak berdenyut lembut seperti napas.Udara pun berubah, terdengar lebih hening, tapi juga lebih penuh. Seolah setiap hembusan angin mengandung cerita.Larisa berdiri di balkon laboratoriumnya,menatap kota yang perlahan bersinar dalam kabut jingga.Sejak Getar Waktu terjadi, semua jam masih berhenti. Namun kehidupan tidak berhenti, ia justru bergerak dengan ritme yang lebih dalam, seperti sebuah lagu yang tidak lagi diputar, tetapi dapat dirasakan di dalam dada.“Juna,” panggilnya pelan, “kau bisa merasakannya?”Arjuna yang sedang duduk di bawah jendela menatapnya tenang. “Ya, Larisa. Dunia kini bernafas dengan rasa.”Larisa menatap ujung cakrawala, “Rasanya seperti semuanya terhubung.Ketika aku menatap langit, aku bisa merasakan detak jantung bumi.”Arjuna berdiri perlahan, mendekatinya.“Itulah Arus Rasa. Dunia kini hidup dalam satu napas bersama.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status