Home / Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 113. Candi Rahyang

Share

Bab 113. Candi Rahyang

last update Huling Na-update: 2025-12-26 09:56:23

Perjalanan menuju Candi Rahyang memakan waktu tiga hari. Jalan setapak yang mereka lalui melintasi lembah-lembah sunyi, menyusuri sungai yang airnya jernih seperti kaca dan menembus hutan yang daunnya berbisik dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati yang hening.

Arjuna berjalan di depan, langkahnya tampak ringan meski medan curam. Larisa mengikutinya, membawa catatan dan perangkat kecil di tangannya,

namun setiap kali ia mencoba mengukur sesuatu, baik suhu, arah angin, getaran tanah, angka-angka yang tertera di layar berubah tanpa logika.

“Juna,” katanya sambil berhenti di antara pepohonan tinggi, “semua alatku… seperti kehilangan pegangan. Sinyal hilang, arah magnet berubah. Ini bukan anomali biasa.”

Arjuna menatapnya lembut. “Candi Rahyang tidak berada di dunia yang sama dengan peta kita, Larisa. Ia berada di antara napas.”

Larisa mengernyit. “Di antara napas?”

“Ya,” jawab Arjuna. “Di sela antara hidup dan diam, antara langkah dan hening,

di sanalah dunia Rahyang berada.”

La
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 130. Cahaya yang Kembali

    Senja turun di lembah Rakata dan cahaya lembayung menyelimuti Pohon Layung seperti jubah suci. Daun-daunnya bergetar pelan, mengeluarkan suara lembut seperti kidung purba.Larisa berdiri di tepi danau seraya menatap permukaan air yang berkilau lembut seperti cermin niskala.Di sampingnya, Nagara duduk bersila dengan mata terpejam. Sementara Raksa dan Ratih menjaga di belakang dalam hening penuh hormat.Hari itu terasa berbeda. Udara lebih padat,suara burung berhenti dan cahaya matahari tak lagi jatuh lurus — ia berputar di langit seperti sedang mencari pusatnya sendiri.Larisa berbisik pelan, “Nagara… kau merasakannya?”Nagara membuka matanya perlahan. “Ya, Kak Larisa. Bumi sedang memanggil seseorang pulang.”Larisa menatap langit dan di kejauhan, awan membentuk lingkaran besar yang berputar di atas puncak gunung. Dari tengah pusaran itu, cahaya keemasan turun perlahan lalu menyentuh tanah seperti air hujan suci.Raksa melangkah maju. “Itu… cahaya dari masa lalu.”Ratih menunduk, mat

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 129. Kitab Layung

    Ketika itu sore turun perlahan di lembah Rakata. Langit tampak membentang seperti kain batik tua, berwarna lembayung dan keemasan dengan garis cahaya menari lembut di cakrawala.Nagara duduk di bawah Pohon Layung,di hadapannya terbuka sebuah kitab besar dari kulit pohon tua, lembarannya berwarna gading lembut dan di ujung setiap halaman, terlihat garis halus yang tampak seperti urat nadi.Ia menatap kitab itu lama, menyentuh halamannya dengan ujung jari. Setiap kali ia menyentuhnya, halaman itu bergetar lembut seolah hidup.Larisa datang mendekat. Ia membawa dupa kecil dan kendi berisi air dari sumber Rakata.“Air ini,” katanya pelan, “masih memantulkan cahaya seperti dulu. Sepertinya waktu tidak benar-benar berlalu.”Nagara menatapnya lembut. “Waktu tidak pernah berlalu, Kak Larisa. Ia hanya berputar di dalam rasa yang mengingat.”Larisa tersenyum. “Lalu apa yang akan kau tulis di dalam Kitab Layung?”Nagara menatapnya dalam. “Bukan aku yang akan menulisnya. Kitab ini akan menulis d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 128. Sang Pewaris Waktu

    Langit Bandung pagi itu berwarna lembayung keperakan. Udara mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan daun muda.Di lembah Rakata, tempat dimana Pohon Layung berdiri, dunia seolah bernafas lebih dalam.Nagara duduk bersila di tepi danau kecil,menatap permukaan air yang berkilau seperti kaca hidup. Bayangannya terpantul jelas, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, bayangan itu tersenyum padanya lebih dulu.Ia menatapnya lama. “Apakah ini masa depan… atau masa laluku sendiri?”Suara lembut datang dari belakangnya.“Kadang masa depan hanya masa lalu yang menunggu untuk diingat.”Nagara menoleh. Ia kemudian melihat Arjuna berdiri di sana, wajahnya terlihat teduh dengan cahaya mata lembut seperti sinar matahari pertama.“Guru…” bisik Nagara, “aku bisa merasakan sesuatu dari air ini. Seolah setiap tetesnya menyimpan waktu.”Arjuna mendekat dan duduk di sampingnya. “Itulah sebabnya kau disebut pewaris waktu, Nak. Karena kau bukan hanya mengingat masa lalu, tapi juga menyadarkan masa d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 127. Nyanyian Tanah dan Langit

    Ketika itu fajar datang seperti tarikan napas panjang. Langit tampak berwarna keperakan, dan dari cakrawala, cahaya lembut turun perlahan kemudian menyentuh pucuk-pucuk pohon yang bergoyang pelan.Di bawah Pohon Layung, Nagara terlihat serang duduk bersila dengan mata terpejam. Dari telapak tangannya, mengalir cahaya biru yang merambat ke tanah dan dari tanah itu, muncul semburat keemasan yang melingkar ke udara.Raksa dan Ratih berdiri di belakangnya,menatap fenomena itu dengan kekaguman yang tak bisa diucapkan.Larisa berjalan mendekat, rambutnya tertiup angin lembut yang datang dari arah gunung. Ia berhenti di samping Arjuna,yang sedang berdiri memandangi pemandangan itu dengan tenang.“Juna,” katanya pelan, “ini... bukan hanya cahaya biasa. Aku bisa mendengarnya.”Arjuna tersenyum lembut. “Ya, Larisa. Itu nyanyian tanah dan langit.”Larisa menatapnya bingung. “Nyanyian?”“Dulu, sebelum manusia datang,” ujar Arjuna, “bumi bernyanyi untuk langit,dan langit menjawab dengan hujan

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 126. Mereka yang Menutup Hati

    Ketika itu fajar datang dengan cahaya lembut yang anehnya terasa jauh. Udara di atas Bandung tidak lagi sehangat seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang menekan, halus tapi nyata.Disaat yang sama, Larisa terbangun lebih awal. Dari jendela laboratorium, ia melihat kabut berwarna abu menutupi sebagian kota. Namun Ia yakin bahwa ini bukan kabut biasa, tampak tidak berpendar jingga seperti biasnya cahaya bumi,melainkan kusam, seperti bayangan yang kehilangan gema.“Juna…” panggilnya.Arjuna yang berdiri di ujung ruangan, tampak memandangi langit pagi itu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya dalam.“Arus rasa melemah di sini,” katanya pelan.Larisa menatap layar hologram di depannya. Beberapa area di dunia kini berwarna gelap, bahkan zona di mana resonansi rasa menghilang sepenuhnya.“Itu... pusat kota-kota besar,” katanya khawatir. “Jakarta, Tokyo, Berlin, Chicago... semua menurun drastis dalam 24 jam terakhir.”Arjuna menunduk, berbisik lirih,“Manusia mulai menutup hatinya lagi.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 125. Arus Rasa

    Langit di atas Bandung pagi itu terlihat berwarna biru muda, kendati demikian ada sesuatu yang berbeda, yakni warna itu seolah hidup, tampak berdenyut lembut seperti napas.Udara pun berubah, terdengar lebih hening, tapi juga lebih penuh. Seolah setiap hembusan angin mengandung cerita.Larisa berdiri di balkon laboratoriumnya,menatap kota yang perlahan bersinar dalam kabut jingga.Sejak Getar Waktu terjadi, semua jam masih berhenti. Namun kehidupan tidak berhenti, ia justru bergerak dengan ritme yang lebih dalam, seperti sebuah lagu yang tidak lagi diputar, tetapi dapat dirasakan di dalam dada.“Juna,” panggilnya pelan, “kau bisa merasakannya?”Arjuna yang sedang duduk di bawah jendela menatapnya tenang. “Ya, Larisa. Dunia kini bernafas dengan rasa.”Larisa menatap ujung cakrawala, “Rasanya seperti semuanya terhubung.Ketika aku menatap langit, aku bisa merasakan detak jantung bumi.”Arjuna berdiri perlahan, mendekatinya.“Itulah Arus Rasa. Dunia kini hidup dalam satu napas bersama.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status