LOGINLampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima, memantulkan cahaya keemasan yang berkilau di permukaan lantai marmer. Musik jazz lembut mengalun, dimainkan oleh band kecil di sudut ruangan, menciptakan atmosfer elegan yang dipenuhi gelas sampanye beradu, tawa pura-pura, dan obrolan basa-basi yang penuh kepentingan.
Acara malam itu adalah pesta tahunan Pradana Group, sebuah ajang yang selalu ditunggu oleh para pebisnis, pejabat tinggi, dan sosialita yang ingin terlihat penting. Di sanalah kekuasaan dipertontonkan, diukur, dan dibicarakan dalam senyum ramah yang seringkali palsu.
Di tengah kerumunan, berdiri seorang pria muda yang menjadi pusat perhatian: Alvaro.
Jas hitam Armani membungkus tubuhnya dengan presisi sempurna, dasi sutra abu-abu terikat rapi di leher, sementara sepatu kulitnya berkilau tanpa cela. Ia berdiri dengan postur tegak, penuh percaya diri, seperti seorang raja muda yang tahu betul bahwa seluruh ruangan ada dalam genggamannya.
Para pengusaha berdesakan untuk menyalami dan memuji.
Alvaro hanya menanggapi dengan senyum tipis dan anggukan singkat. Matanya yang dingin seakan berkata: aku tidak butuh validasi kalian.
Senyum itu, meski tipis, mampu membuat mereka semakin tunduk. Mereka tertawa lebih keras, menyanjung lebih tinggi, berusaha memastikan diri tetap berada di lingkaran pengaruhnya.
Namun, di balik semua itu, mata Alvaro tampak bosan. Ia sudah terlalu sering menghadapi orang-orang seperti ini, penuh kepura-puraan, haus keuntungan, mengelilinginya hanya karena nama Pradana.
Di sisi lain ballroom, Lyssa melangkah pelan, tubuhnya agak kaku. Ia mengenakan dress biru tua sederhana dengan potongan rapi, jauh berbeda dari gaun-gaun mahal para tamu wanita lain. Sepatu hak rendah yang ia kenakan tidak memantulkan cahaya semegah sepatu para sosialita, namun langkahnya mantap.
Di tangan kirinya tergenggam sebuah buku catatan kecil dan pena, senjata andalannya sebagai jurnalis lepas. Kesempatan menghadiri acara ini ia dapatkan dengan susah payah, melalui rekomendasi temannya yang bekerja di media lokal. Baginya, malam ini bukan sekadar pesta, melainkan medan pertempuran.
Matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang sudah lama ia incar. Dan ketika menemukannya, napasnya nyaris tercekat.
Di sana. Tepat di tengah pusat cahaya dan perhatian, pria itu berdiri. Alvaro Pradana.
Tampak lebih nyata, lebih hidup daripada foto-foto yang pernah ia lihat di internet. Lebih dingin, lebih arogan.
Lyssa menggertakkan gigi. Pria ini… yang merasa dunia ada di bawah kakinya. Yang kata-katanya sudah menghina banyak orang. Yang sudah kubongkar dalam artikel.
Rasa takut sempat menyelinap, tapi Lyssa menekannya dengan keras. Aku tidak boleh gentar. Aku sudah menulis kebenaran tentangnya. Dan kebenaran tidak akan pernah bisa dipatahkan hanya dengan tatapan tajam.
Seolah mendengar suara hatinya, Alvaro tiba-tiba menoleh. Pandangannya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada Lyssa.
Waktu seperti berhenti.
Tatapan mata itu menembus, tajam, dan penuh penguasaan. Lyssa merasa jantungnya berdegup terlalu kencang, namun ia menolak mengalihkan pandangan.
Senyum tipis menyungging di bibir Alvaro. Bukan senyum hangat, melainkan senyum yang penuh ironi seakan ia menemukan sesuatu yang akan menghiburnya malam itu.
Tanpa ragu, ia meninggalkan kerumunan orang yang masih berusaha mengajaknya bicara. Langkahnya panjang, mantap, membuat orang-orang otomatis menyingkir. Aura kekuasaan itu begitu nyata hingga Lyssa merasa udara di sekitarnya ikut berubah saat pria itu mendekat.
Dan akhirnya, mereka berdiri hanya berjarak satu langkah.
Alvaro menundukkan kepala sedikit, menatap Lyssa dengan sorot mata tajam.
Lyssa mengangkat dagunya, meski jantungnya masih berdebar hebat. “Jika Anda merasa tersinggung, mungkin karena kata-kata saya benar.”
Sekilas, keheningan meliputi mereka. Beberapa tamu di sekitar mencuri pandang, mencoba memahami siapa wanita muda yang berani bicara begitu lantang kepada Alvaro.
Alvaro tersenyum kecil, lalu tertawa lirih, nada suaranya penuh sindiran. “Benar? Kau pikir kau bisa menilai siapa aku hanya dari beberapa paragraf tulisan? Dunia ini, Arabella, tidak sesederhana opini murahan yang kau ketik di layar laptopmu.”
“Dan dunia juga tidak akan berubah,” balas Lyssa cepat, matanya menyala, “jika orang-orang seperti Anda terus merasa berada di atas segalanya.”
Senyum Alvaro perlahan memudar. Sorot matanya berganti tajam, menusuk, seolah ingin menguliti keberanian gadis di hadapannya. Ia melangkah setengah langkah lebih dekat, cukup untuk membuat Lyssa bisa merasakan hawa dingin dari tubuhnya.
“Aku penasaran,” suaranya menurun, hampir berbisik, namun cukup jelas, “apakah kau masih bisa berkata begitu… setelah benar-benar mengenalku.”
Lyssa menahan napas. Tubuhnya ingin mundur, tapi hatinya menolak. Ia memaksa bibirnya membentuk senyum tipis. “Saya tidak takut pada Anda, Tuan Pradana.”
Alvaro memandanginya beberapa detik, lama, seolah sedang menilai keteguhan hatinya. Lalu senyum miring muncul di wajahnya, senyum yang lebih menyerupai ancaman daripada persetujuan.
“Kau seharusnya takut, Lyssa. Karena mulai malam ini…” ia menunduk sedikit, menatap langsung ke dalam mata Lyssa, “…kau sudah masuk ke dalam dunia yang tidak pernah kau pahami.”
Lyssa menggenggam erat buku catatannya. Tangannya dingin, tapi ia tidak goyah. Ia tahu pria di depannya bukan lawan yang mudah. Namun ia juga tahu, jika ia mundur malam ini, maka seluruh perjuangan dan keberaniannya akan sia-sia.
Sementara itu, bagi Alvaro, pertemuan ini adalah titik balik. Wanita yang tadinya hanya ia kenal sebagai pengganggu di dunia maya, kini hadir di hadapannya dengan keberanian yang tak biasa. Itu membuatnya… tertarik.
Bukan tertarik dengan cara yang manis, melainkan tertarik untuk bermain.
Karena bagi Alvaro Pradana, hidup adalah permainan kekuasaan. Dan Lyssa Arabella baru saja masuk ke dalam papan catur yang ia kuasai.
Malam itu, di antara gemerlap pesta dan denting gelas sampanye, dua dunia yang bertolak belakang saling beradu pandang.
Yang satu, pewaris arogan yang hidup dengan nama dan kekuasaan.
Dan permainan baru pun dimulai.
Alvaro akhirnya tertidur lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya yang kelelahan, pikiran yang tercabik masa lalu, dan perasaan bersalah yang menumpuk seolah memaksa dirinya menyerah pada tidur yang gelap dan tidak tenang.Lyssa memandangi wajahnya dalam remang lampu kamar. Napas Alvaro terdengar berat, tidak teratur, seperti seseorang yang terus berlari tanpa henti dalam mimpi buruk yang tidak kunjung selesai. Sesekali jari-jarinya bergerak, seolah menggenggam sesuatu yang tidak ada. Entah rasa sakit, entah kenangan.Lyssa menyentuh pipinya perlahan.“Alvaro…” bisiknya, meski tahu laki-laki itu tidak akan mendengar.Dadanya terasa penuh. Berat. Sakit yang ia sembunyikan sejak tadi meledak perlahan, bukan dalam bentuk teriakan… tapi keheningan yang menusuk.Air matanya jatuh perlahan, satu tetes… lalu dua… lalu tiga, merembes tanpa ia pernah bermaksud menangis.Ia tidak ingin menyulitkan Alvaro. Ia tidak ingin menambah beban. Ia hanya ingin dicintai dengan setulus yang ia berikan. Ia ingin
Lyssa duduk di sofa ruang tamu sambil menatap layar laptop yang memantulkan cahaya kebiruan ke wajahnya. Halaman kosong itu seperti mengejeknya, menunjukkan seberapa kacau pikirannya hingga ia bahkan tak mampu menulis satu kata pun. Tangannya tergeletak di atas keyboard, tapi tidak bergerak. Tubuhnya ada di sini, tetapi pikirannya melayang jauh.Lima hari lagi.Ia memejamkan mata, mengulang kata-kata itu untuk kesekian kali. Lima hari lagi, orang tuanya akan dibebaskan dari penjara. Lima hari lagi, seharusnya menjadi hari bahagia, hari yang dulu pernah Alvaro janjikan. Hari ketika Alvaro akan melamarnya di hadapan kedua orang tuanya, janji yang membuat Lyssa mampu bertahan di salah satu masa paling gelap dalam hidupnya.Tapi hingga detik ini, tidak ada pembicaraan apa pun. Tidak ada cincin. Tidak ada rencana. Bahkan tidak ada tanda-tanda Alvaro mengingat janjinya.Lyssa menggenggam jemarinya sendiri. Dinginnya menembus kulit, menggetarkan seluruh tubuhnya."Apakah Alvaro… lupa?"Perta
Pagi itu masih samar ketika Reina dan Sofia duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela, cahaya matahari baru menyisir tirai tipis apartemen sederhana itu. Reina memegang segelas air hangat, mencoba menenangkan perutnya yang masih mual sisa alkohol.Sementara Sofia menatapnya dengan ekspresi teduh, wajah yang tampak begitu lembut namun menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.“Masih pusing?” tanya Sofia dengan nada lembut, hampir seperti kakak yang menenangkan adiknya.“Sedikit…” Reina memijat pelipisnya. “Maaf sudah merepotkanmu. Seharusnya aku tidak-”“Tidak apa-apa,” sela Sofia cepat, tersenyum kecil. “Aku tidak tega membiarkanmu terduduk di pinggir jalan begitu saja. Kau bisa saja diseret orang tak dikenal. Dunia tidak seaman yang terlihat.”Reina menelan ludah. Ada sesuatu dalam cara bicara Sofia yang membuatnya merasa dianggap. Diperhatikan. Hal yang akhir-akhir ini jarang ia rasakan bahkan dari teman sendiri.“Aku tidak tahu bagaimana membalas ini,” gumam Reina, agak kikuk.“Kau t
Langit sore tampak berat, menekan kota dengan warna kelabu yang pekat. Hujan tipis turun, menetes di kaca jendela ruang kerja Alvaro yang sepi. Lelaki itu duduk di kursinya, wajahnya menunduk dalam bayangan redup.Beberapa hari terakhir, dunia di sekelilingnya terasa seperti mimpi buruk yang belum berakhir. Foto itu, foto masa kecilnya yang berdarah masih menghantui di balik kelopak matanya setiap kali ia menutup mata.Pintu diketuk.“Masuk,” suaranya parau, lemah.Damar muncul di ambang pintu. Wajahnya terlihat letih, mata merah seperti habis begadang. Sesuatu dalam dirinya retak, antara keberanian untuk bicara dan rasa takut ditolak.“Alvaro,” panggilnya pelan.Alvaro mendongak perlahan, tatapannya tajam namun penuh luka. “Ada apa lagi?” katanya datar.Nada suaranya di sana terdengar dingin. Damar menelan ludah, tahu betapa jauhnya jarak di antara mereka kini.“Aku… ingin bicara. Tentang Sofia.”Alvaro mendengus pelan. “Kau baru sadar sekarang, setelah semuanya berantakan? Setelah d
Reina melangkah gontai di antara mobil-mobil yang melintas, tubuhnya limbung, langkahnya tak tentu arah.Alkohol masih menguasai darahnya. Setiap langkah terasa berat, setiap napas terasa seperti diambil dari seseorang yang lain. Ia tertawa kecil sendiri, tawa yang getir, tak ada bahagia di sana.Satu-satunya yang ia tahu hanyalah ia ingin pulang. Tapi entah ke mana. Rumahnya tak lagi terasa seperti rumah. Teman-temannya? Ia terlalu malu. Dunia sudah menertawakannya cukup keras."Lucu... ya," gumamnya miring, suaranya nyaris tertelan bising lalu lintas. "Aku bahkan nggak tahu ke mana aku harus pulang..."Ia melangkah tanpa memperhatikan arah. Lampu merah berubah hijau. Suara klakson menyambar. Reina kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ketika seseorang tiba-tiba menarik lengannya.Tubuhnya bertubrukan keras dengan seseorang.“Awas!” seru suara perempuan itu.Tubuh Reina terhempas ringan ke pelukan asing, lembut tapi tegas. Saat Reina mengangkat wajahnya, pandangannya kabur, matany
Lampu-lampu neon menari liar di langit-langit klub malam, memantul di lantai yang licin oleh sisa minuman dan bayangan tubuh-tubuh yang bergerak tanpa arah.Bass berdentum keras, seolah ingin menenggelamkan semua pikiran yang masih waras. Di sudut bar, Reina menatap pantulan dirinya di gelas koktail, mata sayu, bibir merah, tapi tanpa cahaya.Ia sudah tak tahu berapa kali minuman itu berganti. Vodka, lalu gin, lalu entah apa lagi. Semua terasa sama, pahit, menusuk, tapi menenangkan dalam cara yang aneh.Lea tertawa di sampingnya, mencondongkan tubuh ke arah pacarnya yang duduk di kursi sebelah, tangan mereka saling menelusuri tanpa malu. Ana juga tak kalah riang, berdansa di tengah kerumunan bersama dua pria yang baru ia kenal malam itu. Reina hanya menatap mereka, iri, tapi juga muak."Rei! Ayo, jangan bengong. Ini malam kita!" seru Lea, wajahnya sudah memerah karena alkohol.Reina tersenyum hambar, lalu meneguk lagi minumannya. “Ya, malam kita,” gumamnya pelan, seolah ingin meyakink







