Beranda / Romansa / Sang Pewaris Arogan / Wawancara atau Interogasi?

Share

Wawancara atau Interogasi?

Penulis: Aetheris
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-03 15:48:11

Langkah Lyssa berhenti tepat di ambang pintu.

Ruang kerja itu jauh dari kata sederhana. Meja besar dari kayu hitam mengilap, rak buku menjulang dengan punggung-punggung berlapis kulit, dan jendela kaca raksasa yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Lampu gantung modern memancarkan cahaya hangat keemasan, memantulkan bayangan maskulin dari pria yang berdiri membelakanginya.

Alvaro Pradana.

Ia berbalik pelan, seolah sengaja memperpanjang detik demi detik hingga menambah tekanan di dada Lyssa. Senyum miring yang selalu tampak congkak itu terbit di wajahnya.

“Arabella,” sapanya.

Nada suaranya tenang, namun ada sesuatu di balik ketenangan itu yang terasa berbahaya.

Lyssa menarik napas panjang, mencoba menahan getar pada tubuhnya. “Saya di sini hanya untuk wawancara. Tidak lebih.”

Alvaro terkekeh ringan, melangkah mendekat. “Wawancara? Kau yakin ini sekadar wawancara?”

Lyssa membuka tas, mengeluarkan buku catatan kecil dan pena. “Begitulah yang tertulis di email resmi perusahaan Anda.”

“Ah,” ia mendengus singkat, kemudian duduk di kursinya. Sikapnya seperti raja di singgasananya, menunggu rakyat jelata yang berani menentang. “Kalau begitu, silakan mulai. Tanyakan apa pun. Aku akan menjawab… sesuai keinginanku.”

Lyssa mengangkat dagu, menolak untuk tunduk. Ia membuka catatan. “Baik. Pertama, bagaimana rasanya memikul nama besar Pradana Group di usia semuda ini?”

Mata Alvaro menyipit, senyum di bibirnya makin tajam.

“Pertanyaan yang aman sekali. Kau bisa membaca jawabannya di ratusan artikel tentangku. Aku bosan dengan basa-basi seperti itu.”

“Tapi saya tidak mencari jawaban yang sudah dipoles humas Anda,” balas Lyssa cepat. “Saya mencari sisi yang belum pernah diketahui orang lain.”

Alvaro menyandarkan tubuhnya, jemarinya mengetuk-ngetuk meja. “Sisi yang belum diketahui orang lain… atau sisi yang bisa kau jadikan peluru untuk tulisanmu?”

Ucapan itu membuat Lyssa tercekat, namun ia menolak mundur. “Mungkin keduanya.”

Sejenak, hening. Lalu, tawa rendah Alvaro memenuhi ruangan. “Kau menarik, Arabella.”

Wawancara berlanjut, tapi setiap pertanyaan yang Lyssa lontarkan selalu berbalik menjadi semacam ujian.

Ketika ia bertanya soal ambisi Alvaro, pria itu menjawab dengan metafora licin.

Ketika ia bertanya soal tekanan sebagai pewaris, Alvaro malah menantangnya balik: “Kau sendiri, apa yang kau warisi selain opini tajammu?”

Lyssa mulai frustrasi. Pria ini seperti dinding baja, tapi pada saat yang sama, ia juga seperti cermin yang memantulkan balik setiap serangan.

Sampai akhirnya, Lyssa memberanikan diri. Ia membuka catatan, menatap lurus ke arahnya.

“Tuan Pradana,” suaranya bergetar sedikit tapi jelas, “apakah Anda lebih suka dipanggil Alvaro… atau Reynanda?”

Keheningan mendadak jatuh.

Alvaro terdiam, tubuhnya sedikit menegang. Tatapan matanya berubah dingin, menusuk, seolah ruangan kehilangan udara.

Lyssa menelan ludah, tapi ia melanjutkan. “Nama Reynanda ada di dokumen resmi keluarga. Namun hampir semua orang hanya mengenal Anda sebagai Alvaro. Kenapa?”

Detik berikutnya, kursi Alvaro berdecit saat ia berdiri. Langkah kakinya terdengar berat saat mendekat, hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Lyssa.

Ia membungkuk sedikit, menatap lurus ke mata Lyssa dengan sorot berbahaya.

“Siapa yang memberitahumu?” suaranya rendah, hampir seperti geraman.

Lyssa berusaha tidak bergeming. “Nama itu… ada di catatan publik. Aku hanya penasaran kenapa kau menyembunyikannya.”

Alvaro tersenyum miring, tapi senyum itu tidak lagi angkuh, melainkan getir. “Reynanda adalah luka. Nama yang mengingatkanku pada sisi yang ingin kulenyapkan. Dan aku benci ketika seseorang mencoba menggali apa yang seharusnya terkubur.”

Jantung Lyssa berdetak cepat. Ada kerapuhan yang samar di balik kata-katanya, tapi segera tertutup kembali oleh topeng arogan yang ia kenakan.

“Jadi,” lanjut Alvaro, kembali berdiri tegak, “kau menulis tentangku. Kau bahkan berani menyebutku pewaris arogan. Tapi kau harus tahu satu hal, Arabella.”

Ia menunduk sedikit, berbisik di telinga Lyssa.

“Kesombongan itu… satu-satunya yang menjaga namaku tetap hidup. Tanpanya, aku hanya akan kembali menjadi bocah bernama Reynanda yang kau sebutkan tadi. Dan aku lebih rela mati daripada kembali menjadi dia.”

Lyssa terdiam, hatinya bergejolak. Ia datang untuk mencari kebenaran, tapi kini ia merasa justru yang terperangkap dalam jebakan emosional pria ini adalah dirinya.

Sesi wawancara berakhir dengan catatan penuh, tapi bukan jawaban yang bisa ia tulis dengan mudah. Ia mendapat sesuatu yang lebih berbahaya: rahasia tentang nama Alvaro, sesuatu yang bisa menjadi senjata atau bumerang.

Saat ia hendak pergi, suara Alvaro menghentikannya.

“Arabella.”

Lyssa menoleh.

Senyum congkak itu kembali di wajahnya. “Tulislah apa pun yang kau mau. Tapi ingat… semakin keras kau menuliskannya, semakin erat kau terikat padaku.”

Lyssa keluar dengan dada sesak. Ia sadar, pertemuan ini bukan sekadar wawancara. Itu interogasi, itu permainan psikologis, dan ia kini sudah menjadi bagian dari papan catur milik Alvaro.

Dan yang lebih menakutkan, entah kenapa, ia tidak yakin ingin keluar dari permainan itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Pewaris Arogan   Badai

    Alvaro akhirnya tertidur lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya yang kelelahan, pikiran yang tercabik masa lalu, dan perasaan bersalah yang menumpuk seolah memaksa dirinya menyerah pada tidur yang gelap dan tidak tenang.Lyssa memandangi wajahnya dalam remang lampu kamar. Napas Alvaro terdengar berat, tidak teratur, seperti seseorang yang terus berlari tanpa henti dalam mimpi buruk yang tidak kunjung selesai. Sesekali jari-jarinya bergerak, seolah menggenggam sesuatu yang tidak ada. Entah rasa sakit, entah kenangan.Lyssa menyentuh pipinya perlahan.“Alvaro…” bisiknya, meski tahu laki-laki itu tidak akan mendengar.Dadanya terasa penuh. Berat. Sakit yang ia sembunyikan sejak tadi meledak perlahan, bukan dalam bentuk teriakan… tapi keheningan yang menusuk.Air matanya jatuh perlahan, satu tetes… lalu dua… lalu tiga, merembes tanpa ia pernah bermaksud menangis.Ia tidak ingin menyulitkan Alvaro. Ia tidak ingin menambah beban. Ia hanya ingin dicintai dengan setulus yang ia berikan. Ia ingin

  • Sang Pewaris Arogan   Keraguan Cinta

    Lyssa duduk di sofa ruang tamu sambil menatap layar laptop yang memantulkan cahaya kebiruan ke wajahnya. Halaman kosong itu seperti mengejeknya, menunjukkan seberapa kacau pikirannya hingga ia bahkan tak mampu menulis satu kata pun. Tangannya tergeletak di atas keyboard, tapi tidak bergerak. Tubuhnya ada di sini, tetapi pikirannya melayang jauh.Lima hari lagi.Ia memejamkan mata, mengulang kata-kata itu untuk kesekian kali. Lima hari lagi, orang tuanya akan dibebaskan dari penjara. Lima hari lagi, seharusnya menjadi hari bahagia, hari yang dulu pernah Alvaro janjikan. Hari ketika Alvaro akan melamarnya di hadapan kedua orang tuanya, janji yang membuat Lyssa mampu bertahan di salah satu masa paling gelap dalam hidupnya.Tapi hingga detik ini, tidak ada pembicaraan apa pun. Tidak ada cincin. Tidak ada rencana. Bahkan tidak ada tanda-tanda Alvaro mengingat janjinya.Lyssa menggenggam jemarinya sendiri. Dinginnya menembus kulit, menggetarkan seluruh tubuhnya."Apakah Alvaro… lupa?"Perta

  • Sang Pewaris Arogan   Manipulasi

    Pagi itu masih samar ketika Reina dan Sofia duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela, cahaya matahari baru menyisir tirai tipis apartemen sederhana itu. Reina memegang segelas air hangat, mencoba menenangkan perutnya yang masih mual sisa alkohol.Sementara Sofia menatapnya dengan ekspresi teduh, wajah yang tampak begitu lembut namun menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.“Masih pusing?” tanya Sofia dengan nada lembut, hampir seperti kakak yang menenangkan adiknya.“Sedikit…” Reina memijat pelipisnya. “Maaf sudah merepotkanmu. Seharusnya aku tidak-”“Tidak apa-apa,” sela Sofia cepat, tersenyum kecil. “Aku tidak tega membiarkanmu terduduk di pinggir jalan begitu saja. Kau bisa saja diseret orang tak dikenal. Dunia tidak seaman yang terlihat.”Reina menelan ludah. Ada sesuatu dalam cara bicara Sofia yang membuatnya merasa dianggap. Diperhatikan. Hal yang akhir-akhir ini jarang ia rasakan bahkan dari teman sendiri.“Aku tidak tahu bagaimana membalas ini,” gumam Reina, agak kikuk.“Kau t

  • Sang Pewaris Arogan   Bayangan dan Bidak

    Langit sore tampak berat, menekan kota dengan warna kelabu yang pekat. Hujan tipis turun, menetes di kaca jendela ruang kerja Alvaro yang sepi. Lelaki itu duduk di kursinya, wajahnya menunduk dalam bayangan redup.Beberapa hari terakhir, dunia di sekelilingnya terasa seperti mimpi buruk yang belum berakhir. Foto itu, foto masa kecilnya yang berdarah masih menghantui di balik kelopak matanya setiap kali ia menutup mata.Pintu diketuk.“Masuk,” suaranya parau, lemah.Damar muncul di ambang pintu. Wajahnya terlihat letih, mata merah seperti habis begadang. Sesuatu dalam dirinya retak, antara keberanian untuk bicara dan rasa takut ditolak.“Alvaro,” panggilnya pelan.Alvaro mendongak perlahan, tatapannya tajam namun penuh luka. “Ada apa lagi?” katanya datar.Nada suaranya di sana terdengar dingin. Damar menelan ludah, tahu betapa jauhnya jarak di antara mereka kini.“Aku… ingin bicara. Tentang Sofia.”Alvaro mendengus pelan. “Kau baru sadar sekarang, setelah semuanya berantakan? Setelah d

  • Sang Pewaris Arogan   Jatuh ke Pelukan Takdir

    Reina melangkah gontai di antara mobil-mobil yang melintas, tubuhnya limbung, langkahnya tak tentu arah.Alkohol masih menguasai darahnya. Setiap langkah terasa berat, setiap napas terasa seperti diambil dari seseorang yang lain. Ia tertawa kecil sendiri, tawa yang getir, tak ada bahagia di sana.Satu-satunya yang ia tahu hanyalah ia ingin pulang. Tapi entah ke mana. Rumahnya tak lagi terasa seperti rumah. Teman-temannya? Ia terlalu malu. Dunia sudah menertawakannya cukup keras."Lucu... ya," gumamnya miring, suaranya nyaris tertelan bising lalu lintas. "Aku bahkan nggak tahu ke mana aku harus pulang..."Ia melangkah tanpa memperhatikan arah. Lampu merah berubah hijau. Suara klakson menyambar. Reina kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ketika seseorang tiba-tiba menarik lengannya.Tubuhnya bertubrukan keras dengan seseorang.“Awas!” seru suara perempuan itu.Tubuh Reina terhempas ringan ke pelukan asing, lembut tapi tegas. Saat Reina mengangkat wajahnya, pandangannya kabur, matany

  • Sang Pewaris Arogan   Malam yang Terlalu Bising

    Lampu-lampu neon menari liar di langit-langit klub malam, memantul di lantai yang licin oleh sisa minuman dan bayangan tubuh-tubuh yang bergerak tanpa arah.Bass berdentum keras, seolah ingin menenggelamkan semua pikiran yang masih waras. Di sudut bar, Reina menatap pantulan dirinya di gelas koktail, mata sayu, bibir merah, tapi tanpa cahaya.Ia sudah tak tahu berapa kali minuman itu berganti. Vodka, lalu gin, lalu entah apa lagi. Semua terasa sama, pahit, menusuk, tapi menenangkan dalam cara yang aneh.Lea tertawa di sampingnya, mencondongkan tubuh ke arah pacarnya yang duduk di kursi sebelah, tangan mereka saling menelusuri tanpa malu. Ana juga tak kalah riang, berdansa di tengah kerumunan bersama dua pria yang baru ia kenal malam itu. Reina hanya menatap mereka, iri, tapi juga muak."Rei! Ayo, jangan bengong. Ini malam kita!" seru Lea, wajahnya sudah memerah karena alkohol.Reina tersenyum hambar, lalu meneguk lagi minumannya. “Ya, malam kita,” gumamnya pelan, seolah ingin meyakink

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status