LOGINYuna menatap pria itu, mulutnya kering. Darren hanya mengangguk sopan sambil tersenyum tipis.
“Wah, saya nggak tahu ini sial atau beruntung, tabrakan dengan perempuan cantik seperti kamu,” katanya dengan nada santai. Yuna menelan ludah berat. “B–bisa aja. Tapi saya yang salah. Maaf—” “Tidak apa-apa,” potong pria itu tenang. “Kecelakaannya juga ringan. Yang penting kamu tidak terluka.” Yuna memaksakan senyum kaku. “Terima kasih. Tapi tetap saja saya—” “Sudah,” katanya lembut sambil mengangkat tangan sedikit, menghentikan permintaan maaf itu. “Mobil bisa diperbaiki. Yang penting kamu selamat.” Kalimat sederhana itu membuat Yuna terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya—tenang, hangat—yang anehnya membuat jantungnya kembali berdegup cepat. Yuna mengumpat dalam hati. Ini gawat, benar-benar gawat. Darren Mahesa, aslinya adalah pewaris keluarga konglomerat yang namanya sering muncul di berita bisnis. Ia dikenal ramah dan santai, seolah tidak pernah benar-benar terikat pada apa pun. Tapi, Darren juga terkenal cerdas … dan sedikit manipulatif saat menginginkan sesuatu. Di dalam novel asli, ia adalah teman lama Alya Reizka sejak di kampus. Pria yang selalu berada di sisi sang tokoh utama dengan cara yang terlihat santai, tapi sebenarnya sangat menyukai Alya. Sekarang masalahnya, salah satu pusat plot yang seharusnya berputar di sekitar Alya, harusnya bukan dirinya. Tapi kenapa justru dia yang bertemu Darren lebih dulu?! “Kalau begitu, saya pamit dulu,” lanjut Darren setelah memastikan tidak ada kerusakan serius. Ia menatap Yuna sejenak, senyum tipis kembali muncul di wajahnya. “Hati-hati di jalan, ya.” Yuna hanya bisa mengangguk cepat. “Iya. Terima kasih.” Darren berbalik menuju SUV-nya. Sebelum masuk, ia sempat melirik sekali lagi ke arah Yuna, seolah memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja. Lalu pintu mobil tertutup. Saat SUV hitam itu melaju pergi, Yuna masih duduk diam di mobilnya, memegang kartu nama dengan tangan dingin. “Ke–kenapa …,” gumam Yuna terbata. “Kenapa semua tokoh utama malah datang ke arahku satu per satu? Aku cuma pengen menghindar!” Dia menarik napas panjang, menyalakan mesin lagi, dan melaju pelan ke rumah dengan pikiran yang semakin kacau. Tiga hari lagi. Tawaran Kai masih menggantung. Dan sekarang, Darren Mahesa sudah muncul. *** Pagi berlalu tanpa terasa. Yuna menunduk di meja kerjanya, menelan komentar sinis dan menyelesaikan tumpukan riset. Meski lelah, ia bekerja cepat—sekaligus menahan emosi. Pikiran tentang Darren, tawaran Kai, utang-utang, dan kondisi ibu masih membuat dadanya sesak. Ia tahu hidupnya sedang berada di persimpangan yang berbahaya. Dan yang paling membuatnya gelisah, ia tak yakin apakah semua ini masih bisa ia kendalikan. Di tengah hari, tiba-tiba suasana kantor berubah. Bisik-bisik mulai terdengar dari arah pantry. “Eh, anak baru udah datang belum?” “Katanya sih hari ini mulai. Cantik banget katanya, lulusan baru dari Universitas ternama di luar Negeri!” “Wah, pasti langsung dilirik Pak Kai. Junior cantik gitu mah langsung jadi incaran.” Yuna yang sedang mengetik berhenti. Jantungnya seperti jatuh ke perut. Anak baru. Cantik. Lulusan baru. Kata-kata itu seperti alarm merah di kepalanya. Ingatan dari novel asli mengalir deras seperti banjir. Di bab pertama novel asli, Alya Reizka masuk sebagai junior baru di Verazo & Associates. Dia ditempatkan di meja dekat pantry, dan hari pertamanya langsung jadi pusat perhatian. Para senior pria berebut bantu, Rosie dan gengnya langsung dekati Alya dengan akrab, dan Yuna yang asli langsung merasa terancam. Dalam novel asli, Yuna mulai melakukan hal-hal kecil yang licik—memberi dokumen salah, sengaja tidak mengingatkan deadline, hingga menyebarkan rumor bahwa Alya hanya “modal cantik”. Rasa Iri hati itu perlahan berubah menjadi obsesi yang menghancurkan hidupnya sendiri. Suatu hari, ada peristiwa besar yang menghancurkan reputasinya. Yuna yang asli dipecat dari pekerjaannya, ditinggalkan semua orang, dan kisahnya berakhir tragis setelah diracun, tak lama setelah usahanya menjebak dan memfitnah Alya terbongkar. Apa alur utama ceritanya sudah bergerak? Yuna tidak begitu tahu pastinya kapan saat cerita dimulai, yakni saat Alya memulai hari pertama kerjanya di firma ini. Menyadari itu, Yuna langsung bangkit dari kursinya, tangannya gemetar pelan. Ia harus pergi sekarang. Jika Alya benar-benar datang ke kantor ini, berarti titik awal plot utama bisa saja dimulai dari sini. Ia tidak boleh terlibat. Tidak boleh terlihat. Tidak boleh masuk ke dalam lingkaran cerita itu. Langkahnya sudah hampir bergerak menuju pintu. Namun tiba-tiba suara salah satu karyawan menggema di ruangan kantor yang terbuka. “Eh, itu dia!” Yuna refleks menghentikan langkahnya dan menoleh cepat ke arah pintu. Di pintu masuk kantor, seorang gadis muda baru saja berjalan masuk. Sosoknya langsung menarik perhatian beberapa karyawan di ruangan itu. Rambut hitam panjang bergelombang, blazer krem rapi, rok pensil selutut, dan senyum tipis yang polos tapi memikat. Dia membawa tas kerja kecil, mata besarnya menyapu ruangan dengan sedikit gugup tapi antusias. Alya Reizka. Sang tokoh utama sudah ada disini. Magnet para pria alpha. Dan dalam novel asli, dia alasan utama Yuna Rein berubah jadi villainess penuh dendam. Yuna merasa darahnya membeku. Tubuhnya menegang di tempat. Alya berhenti di tengah ruangan, lalu memperkenalkan diri dengan senyum ceria. “Halo, semuanya! Saya Alya Reizka. Mulai hari ini saya akan bergabung dengan tim di firma hukum ini. Mohon bantuan dan kerjasamanya ya!”Hari pernikahan telah tiba.Langit sore di The Orchid Garden berwarna keemasan. Ribuan bunga putih dan baby’s breath menghiasi altar sederhana namun elegan sesuai permintaan Yuna. Undangan dibatasi hanya keluarga dan orang-orang terdekat, menciptakan suasana intim yang hangat.Yuna berjalan menyusuri aisle dengan gaun A-line ber-detail lace yang dipilihnya bersama ibunya. Tangannya gemetar ringan di lengan Yuvita yang mengantarnya.Di ujung altar, Kai berdiri tegap dengan tuksedo hitam. Tatapannya tidak pernah lepas dari Yuna sedetik pun. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak lembut, bahkan sedikit tegang menahan emosi.Saat Yuna sampai di hadapannya, Kai mengulurkan tangan. Yuna meletakkan tangannya di atas telapak Kai yang hangat.“Kamu cantik sekali,” bisik Kai pelan, hanya untuk mereka berdua.Yuna tersenyum malu. “Kamu juga tampan.”Upacara berlangsung singkat, namun sarat khidmat. Saat mengucapkan janji pernikahan, suara Yuna sempat bergetar, menahan haru yang memenuhi dadan
“Jadi, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?” Pertanyaan Kendrik yang lugas itu membuat Yuna hampir tersedak air putihnya. Matanya membulat dan jantungnya berdegup kencang. “Eh? Sekarang?” tanyanya tanpa sadar. Kai yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. Ia menjawab dengan tenang, seolah sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. “Tanggal 18 Oktober. Venue utama di The Orchid Garden, kapasitas 300 orang. Resepsi malam hari. Saya sudah pesan tanggalnya dua minggu lalu.” Yuna menoleh cepat ke arah Kai. Yang benar saja, pria ini malah bergerak cepat dari yang ia kira?! “Kamu … sudah pesan?!” Kai mengangguk santai, seolah itu hal biasa. “Saya tidak suka menunda hal penting.” Ah, benar. Memang begitulah Kai. Begitu sudah mengambil keputusan, ia tak pernah suka menunda atau mengulur waktu. Yuvita langsung berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. “Wah, tanggalnya bagus! Ibu setuju. Kita harus pilih gaun secepatnya, Yuna! Ibu bayangkan yang model A-line denga
Beberapa hari setelah malam itu, Yuna akhirnya mengambil keputusan. Dengan langkah mantap, ia masuk ke ruangan Kai di lantai Firma Hukum Verazo & Associates dan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja pria itu. Sejak terbangun di dunia novel ini, Yuna selalu berusaha menghindari alur yang telah ditentukan sambil berharap bisa lolos dari akhir tragis yang menanti sang antagonis. Namun kini, saat memutuskan meninggalkan firma itu, Yuna menyadari sesuatu. Tanpa pernah ia rencanakan, ia telah melangkah begitu jauh hingga tak lagi sibuk melarikan diri dari takdir. Kai membaca surat itu sekilas. Sudut bibirnya perlahan terangkat, lalu berubah menjadi senyum lebar yang begitu puas—ekspresi yang nyaris tak pernah ia perlihatkan di kantor. Yuna mendengus pelan dan menyilangkan tangan di depan dada. “Udah puas, kan? Saya sudah menurut apa kata kamu.” Kai tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, mengitari meja kerja dengan langkah santai namun penuh kuas
Kai membeku di tempat. Tatapannya yang biasanya tajam dan penuh kendali, kali ini dipenuhi kejutan yang tak bisa disembunyikan. Detik berikutnya, tangannya bergerak cepat. Ia menarik kepala Yuna ke dadanya dan memeluknya erat di koridor luar penthouse. “Terima kasih …” bisik Kai dengan suara berat, hampir parau. “Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan.” Pelukannya begitu kuat, seolah ia takut Yuna akan menghilang jika dilepaskan. Yuna terkubur dalam pelukan itu, menghirup aroma Kai yang sudah sangat familiar. Yuna tersenyum kecil di dada pria itu. “Terima kasih juga … karena sudah membuat hidup saya seperti roller coaster sejak kenal Anda.” Kai terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa di dada Yuna. Ia melepas pelukan sedikit, cukup untuk menatap wajah Yuna, lalu mengambil cincin dari kotak itu. Kai mengangkat tangan Yuna dengan hati-hati. Tanpa terburu-buru, ia menyematkan cincin itu ke jari manis gadis itu. Saat cincin itu melingkar sempurna, keduanya hanya saling menat
Yuna membeku dengan jantung berdegup cepat, sampai rasanya terasa sakit. Wajahnya mendadak panas dan malu setengah mati. Karena pertama kali dalam hidupnya, ia dilamar oleh dua pria yang berbeda dalam satu malam.Yuna tergagap sambil tangannya bergerak ke mana-mana tanpa arah."Tu-tunggu, Kai! Ini ... ini terlalu tiba-tiba! Sa-saya ....”“Saya tahu, Yuna. Saya benar-benar tahu,” potong Kai rendah. “Awalnya saya pikir ... saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Tapi ternyata tidak.”Kai tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh keyakinan."Semakin saya mencoba melepaskanmu, semakin saya sadar, saya memang tidak ingin kehilanganmu.” Kai menunduk sekilas ke cincin di tangannya, lalu kembali menatap Yuna. "Saya belum tahu apakah ini yang orang-orang sebut cinta. Yang saya tahu … saya sudah memutuskan."Yuna menahan napas sejenak, dadanya semakin sakit karena debaran jantung yang semakin kacau."Kalau kamu bersedia ...." Kai mengangkat kotak cincin itu sedikit lebih tinggi. "Hab
Yuna terdiam. Angin malam kembali berhembus membawa dingin yang menyelip di antara keduanya. Dada Yuna terasa sesak oleh rasa bersalah yang mulai menghantuinya. “Apa karena kamu sudah menduga kalau ini bakal terjadi, Firas?” Yuna mengangkat wajahnya menatap pria itu. “Kamu bakal pergi karena … saya menolakmu?” Firas diam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Tidak." Suaranya tenang. "Tawaran itu sudah ada beberapa hari yang lalu. Saya hanya … belum memutuskan." "Berarti kamu sudah memutuskannya?" "Sekarang sudah," jawabnya pelan. Yuna menunduk. Jemarinya meremas ujung blazer tanpa sadar. "Firas, saya—" "Yuna." Suara Firas memotong lembut. "Kamu tidak perlu merasa bersalah." "Tapi saya memang merasa bersalah, Firas. Selama ini kamu sudah sangat baik sama saya." Firas menghela napas pelan. Ia menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang berkelip tenang. "Saya pergi bukan karena kamu menolak saya," ucapnya akhirnya. "Tapi karena … mungkin memang sudah waktunya saya m
Yuna seketika membeku di tempat. Napasnya tertahan. Firas menghela napas pelan dengan tatapan masih khawatir. Ia melanjutkan dengan nada lebih hati-hati. “Kalau benar begitu … saya ingin tahu. Karena saya tidak mau jadi orang yang tanpa sadar menambah luka kamu.” Yuna menunduk. Angin malam semaki
Yuna menelan ludah. Ia berusaha menata ekspresi secepat mungkin agar Firas tidak curiga. “Iya,” jawabnya singkat. “Mau pulang.” Namun, mata Firas membesar sepersekian detik. Tatapannya turun sebentar seperti memperhatikan mata Yuna yang sembab. Bahkan, wajah Yuna yang terlalu tegang untuk disebut
Yuna langsung tersentak. Matanya melebar sesaat dan tangannya yang memegang setir sedikit menegang.Ah, Dwina. Ibu dari Darren sekarang menghubunginya di saat seperti ini. Tapi … ada apa?“Ibu Darren?” ulang Yuna pelan dengan suara campur antara terkejut dan canggung. “Iya … say
“Ini sudah kesalahan kedua kalinya dalam seminggu. Kamu harus lebih baik dari ini, Yuna. Atau saya akan pertimbangkan ulang posisi kamu di sini.” Suara Kai yang dingin dan tajam memecah keheningan ruang rapat Firma Hukum Verazo & Associates. Dia berdiri di depan meja konferensi panjang sambil t







