LOGINYuna menatap Kai dengan mata membelalak, napanya tercekat. Kata-kata ‘partner di ranjang selama satu bulan’ masih bergema di telinganya seperti tamparan keras.
Kepalanya terasa kosong beberapa detik. Ia benar-benar tidak menyangka. Pria itu … bisa mengucapkan hal seperti itu dengan wajah yang tenang, seolah sedang membicarakan kontrak kerja biasa. Ia merasakan emosinya bercampur aduk. Antara marah, malu, dan tidak percaya. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang seperti Kai yang dikenal dingin, elegan dan profesional bisa blak-blak meminta hal seperti itu?! Bahkan tak ada sedikitpun terlihat ragu di kedua matanya. Yuna menggeram dalam hati. Pria ini … benar-benar bajingan. Dia sudah menginjak harga dirinya sebagai perempuan. “Ti–tidak, Pak. Maaf, tapi saya bukan orang yang bisa Bapak perlakukan seperti itu.” Suara Yuna sempat tersendat, tapi ia memaksa dirinya menatap Kai. “Saya menolak. Saya tetap akan resign.” Suaranya kali ini lebih tegas, bahkan sedikit bergetar oleh kemarahan. “Terima kasih atas tawaran Bapak, tapi saya tidak bisa—dan tidak akan—menerima syarat seperti itu.” Yuna mengepalkan tangannya. Kai tidak langsung bereaksi. Dia hanya menatap Yuna lama. Lalu, senyum tipis itu muncul lagi—senyum orang yang sudah tahu dia menang. “Baik. Kamu boleh resign,” katanya santai, seolah tawaran tadi cuma obrolan ringan. “Tapi ingat, surat resign kamu akan saya proses dengan catatan khusus. ‘Mengundurkan diri mendadak tanpa pemberitahuan cukup, performa di bawah standar, dan potensi pelanggaran etika di kantor.’” Yuna tercekat. “A–apa …?” Kai sedikit mengangkat dagunya, sikapnya tetap tenang namun terasa menekan. “Yuna, dunia hukum kecil. Satu catatan buruk dari Verazo & Associates, dan kamu bakal susah dapat kerja di firma mana pun di kota ini, atau bahkan di luar kota.” Yuna merasa darahnya membeku. “Itu … ancaman, Pak?” “Bukan ancaman. Tapi fakta.” Kai condong ke depan, suaranya rendah. “Kamu punya waktu tiga hari untuk mempertimbangkan lagi.” Kai menoleh ke samping, buang muka. “Sekarang keluar. Kerjakan tugas yang ada di meja kamu. Jangan buang waktu.” Yuna bangkit dengan kaki lemas. Dia keluar dari ruangan Kai tanpa kata lagi sambil menutup pintu di belakangnya. Begitu keluar, suasana kantor langsung berubah. Beberapa pasang mata langsung menoleh, bisik-bisik mulai terdengar seperti angin ribut kecil. “Wah, Yuna dipanggil lagi. Pasti lagi modusin Pak Kai nih.” “Udah berapa kali sih dalam seminggu? Kayaknya dia emang sengaja cari perhatian.” “Pasti lagi nawarin ‘jasa ekstra’ biar naik jabatan.” Yuna berhenti di tengah lorong. Kali ini, dia tidak menunduk. Dia menoleh tajam ke arah sumber suara. Tatapannya dingin, tajam, bukan tatapan Yuna yang biasanya merasa jadi korban. Sekelompok karyawan di pantry langsung diam, mata saling pandang canggung, lalu pura-pura sibuk lagi. Tapi Rosie, yang berdiri di dekat meja kopi, malah menyeringai. Dia sengaja menaikkan suara bisiknya. “Eh, liat tuh. Baru keluar ruangan bos, mukanya merah. Pasti abis menjilat, nawarin service, tapi nggak berhasil?” disambut cekikikan pelan dari dua temannya. Yuna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa muak itu masih berputar di dadanya. Terhadap situasi ini, terhadap plot cerita yang seolah sudah mengunci nasibnya. Namun ia memaksa dirinya menelan semua emosi itu. Baginya, melawan sekarang tidak akan mengubah apa pun. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah fokus pada hal yang ada di depan mata. Dan tiga hari lagi … ia harus mengambil keputusan tentang tawaran sialan dari Kai, si Bos toxic Red Flag level dewa! Dia kembali ke mejanya, membuka laptop, dan mulai menyelesaikan riset kasus yang dilempar Rosie tadi. Setiap ketikan terasa seperti menghitung waktu mundur. Saat Yuna menyadari layar laptopnya sudah menunjukkan pukul 21:03, hampir seluruh kantor sudah kosong. Yuna langsung menuju Rumah Sakit Cardio Center Permata. Begitu memasuki lorong lantai lima, ia membuka pintu pelan-pelan. Di tangannya ada kantong plastik berisi beberapa buah apel dan jeruk yang sempat ia beli di perjalanan. Yuna membeku di ambang pintu. Di dalam kamar, Dokter Firas Adiyaksa sedang berdiri di samping ranjang Yuvita, memeriksa monitor detak jantung dengan serius. Jas putihnya rapi, rambut hitamnya sedikit acak-acakan seolah baru saja melewati hari panjang, tapi auranya tetap hangat. Yuvita langsung menoleh, senyum lemah tapi cerah muncul di wajahnya. “Yuna! Akhirnya datang juga. Ibu lagi ngobrol sama Dokter Firas nih. Beliau baik banget, loh. Sudah jelasin semuanya dengan sabar.” Firas menoleh, mata cokelatnya langsung tertuju pada Yuna. Senyum tipis muncul di wajahnya. Jantung Yuna langsung berdegup tak karuan. Ia sama sekali tidak siap bertemu pria itu malam ini! Terlebih lagi, ia dalam kondisi lelah seperti sekarang. Yuna mencoba tersenyum, tapi wajahnya pasti kelihatan pucat dan lelah setelah seharian di kantor, ditambah lagi drama dengan Kai. “Selamat malam, Dok. Bu ... ini buahnya. Aku beli yang segar.” Firas mengamati Yuna sebentar, alisnya sedikit berkerut. “Selamat malam, Mbak Yuna. Anda kelihatan capek sekali. Kerja lembur lagi?” Yuvita terkekeh pelan, suaranya lemah tapi penuh gurau. “Yuna, Dokter Firas ini perhatian banget. Kamu single kan? Dokter juga katanya belum punya pacar. Cocok deh, kalian berdua pintar dan baik hati. Ibu dukung kalau kalian deketan!” Yuna tersedak udara sendiri, wajahnya langsung merah. “Bu! Apa sih ... jangan gitu dong.” Firas tertawa kecil, suaranya lembut. “Ibu Yuvita ini lucu ya. Tapi tenang saja, Mba Yuna, kondisi Ibu stabil malam ini. Tapi kita perlu bicara sebentar soal rencana operasi. Mau ke luar dulu? Biar Ibu istirahat.” Yuna mengangguk pelan, meski kepanikan mulai merayap di dalam hatinya. Ia berusaha menjaga jarak, tidak ingin suasana di antara mereka terasa terlalu dekat. Mereka berjalan keluar ke koridor yang sepi. Firas berdiri dekat Yuna, tangannya memegang map catatan medis. “Jadi, untuk operasi bypass, kita bisa jadwalkan minggu depan kalau kondisi Ibu membaik. Biayanya sekitar 400 juta, tapi ada opsi cicilan atau bantuan dari yayasan rumah sakit kalau Anda ajukan.” Yuna mendengarkan, tapi matanya menghindari tatapan Firas. Tiba-tiba, Firas mendekat sedikit, tangannya naik pelan menyentuh kening Yuna dengan punggung tangan. “Ah. Permisi, tapi Anda kelihatan pucat sekali. Jangan sampai Anda ikut sakit. Bu Yuvita masih butuh Anda dalam keadaan sehat.” Sentuhan itu hangat, membuat Yuna kaku seperti patung. Panas naik ke pipi, jantung berdegup lebih kencang. Ia langsung menarik kesimpulan yang membuatnya semakin gelisah. Situasi seperti ini terasa intim. Tapi perlakuan lembut ini seharusnya bukan diterima karakter antagonis seperti dirinya. Padahal ia sama sekali tidak menginginkannya. Firas seharusnya menjadi bagian dari cerita Alya, bukan dirinya! Yuna mundur setengah langkah, buru-buru geleng kepala. “Ng–nggak apa-apa, Dok! Ini … ini cuma capek kerja. Terima kasih ya infonya. Saya ... masuk lagi ke kamar Ibu.” Firas menahan Yuna sambil menarik pergelangan tangannya. Senyumnya tetap hangat, mata seperti memahami lebih dalam. “Oke. Kalo butuh apa-apa, telepon aja. Saya kasih nomor pribadi saya ya? Biar lebih cepat.” Yuna mengangguk terpaksa. Di balik ekspresi tenangnya, pikirannya berteriak panik. Setelah berbincang ringan dengan Yuvita di ruang rawat, waktu terasa berlalu cepat. Pukul 22.30, jam besuk pun berakhir. Yuna mencium kening ibunya sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, ia berjalan keluar menuju area parkir dengan langkah yang terasa berat karena kelelahan. Di perjalanan pulang, mobil sedan murahnya melaju pelan di jalan malam yang sepi. Yuna menguap lebar, setelah beberapa hari ini lembur ditambah harus menjaga ibunya, ia jadi kurang tidur. Yuna mulai mengomel pelan. “Kenapa sih aku harus masuk ke dunia novel absurd ini? Di dunia asli aku cuma pembaca biasa. Kerja dan gajiku emang pas-pasan, tapi setidaknya nggak ada drama mati tragis.” Ia menghela napas panjang, rasa lelah tiba-tiba menumpuk di dadanya. Lampu lalu lintas di depan berubah kuning, hampir merah. Yuna sebenarnya bisa berhenti, tapi otaknya sudah lelah. Dia tancap gas pelan, berharap bisa lewat sebelum merah total. Tiba-tiba, dari persimpangan kanan, sebuah mobil SUV hitam muncul cepat. Yuna telat mengerem, dan... BRAK! Sesuatu menabrak mobil Yuna di sisi depan. Mobil berhenti mendadak. Yuna terlonjak, tangannya memegang setir erat. Bumper depan mobilnya penyok parah, lampu sein pecah. Pintu SUV terbuka. Seorang pria tinggi keluar, berjas abu-abu gelap, rambut hitam pendek rapi, wajah tegas tapi tenang. Dia mendekat ke jendela Yuna yang turun setengah. “Kamu nggak apa-apa?” suaranya dalam, tenang, tapi ada nada khawatir. Yuna mengangguk lemah, masih shock. “Ngg … nggak apa-apa. Maaf, saya yang salah. Lampu kuning tadi.” Pria itu memeriksa bumper kedua mobil. SUV-nya cuma lecet kecil. Dia kembali, mengeluarkan buku cek dari dompet kulit, lalu menulis sesuatu dengan cepat. “Ini untuk ganti rugi,” katanya sambil menyerahkan cek dan kartu nama. “Jangan khawatir soal asuransi. Hubungi saya kalau ada masalah ya?” Yuna menerima dengan tangan gemetar. Matanya jatuh ke kartu nama itu. Darren Mahesa. Yuna membeku. Nama itu langsung terngiang di kepalanya seperti alarm bahaya. Tokoh pria ketiga. Pria terakhir dalam trio yang mengelilingi Alya di novel asli. Dan sekarang … pria itu berdiri tepat di depan Yuna.Beberapa orang bertepuk tangan pelan, senyum ramah terpasang. Rosie memperhatikan Alya dengan mata berbinar dengan rasa tertarik yang jelas. Dan Alya… matanya bergerak pelan, menyapu ruangan. Sampai akhirnya berhenti tepat di arah Yuna. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tapi bagi Yuna, rasanya seperti waktu berhenti. Alya tersenyum kecil, sopan, tak tahu apa-apa. Senyum yang di novel asli selalu bikin hati para pria alpha meleleh—dan hati Yuna asli terbakar iri. Yuna buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk membuka map di depannya. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di telinga. ‘Jangan … jangan dekati aku. Jangan bicara denganku. Jangan buat aku jadi bagian dari ceritamu.’ Pikirnya panik yang terus berulang. Tapi dalam hati, dia tahu: pertemuan pertama ini sudah terjadi. Dan di dunia novel, pertemuan pertama selalu jadi awal dari segalanya. Yuna menarik napas pendek. Tangannya gemetar. Perasaan terancam itu menekan dadanya. Lalu entah sejak kapan, suara lembut dan
Yuna menatap pria itu, mulutnya kering. Darren hanya mengangguk sopan sambil tersenyum tipis. “Wah, saya nggak tahu ini sial atau beruntung, tabrakan dengan perempuan cantik seperti Anda,” katanya dengan nada santai. Yuna menelan ludah berat. “B–bisa aja, Pak. Tapi saya yang salah. Maaf—” “Tidak apa-apa,” potong pria itu tenang. “Kecelakaannya juga ringan. Yang penting Anda tidak terluka.” Yuna memaksakan senyum kaku. “Terima kasih. Tapi tetap saja saya—” “Sudah,” katanya lembut sambil mengangkat tangan sedikit, menghentikan permintaan maaf itu. “Mobil bisa diperbaiki. Yang penting Anda selamat.” Kalimat sederhana itu membuat Yuna terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya—tenang, hangat—yang anehnya membuat jantungnya kembali berdegup cepat. Yuna mengumpat dalam hati. Ini gawat, benar-benar gawat. Darren Mahesa, aslinya adalah pewaris keluarga konglomerat yang namanya sering muncul di berita bisnis. Ia dikenal ramah dan santai, seolah tidak pernah benar-benar terikat pada apa
Yuna menatap Kai dengan mata membelalak, napanya tercekat. Kata-kata ‘partner di ranjang selama satu bulan’ masih bergema di telinganya seperti tamparan keras.Kepalanya terasa kosong beberapa detik.Ia benar-benar tidak menyangka. Pria itu … bisa mengucapkan hal seperti itu dengan wajah yang tenang, seolah sedang membicarakan kontrak kerja biasa.Ia merasakan emosinya bercampur aduk. Antara marah, malu, dan tidak percaya.Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang seperti Kai yang dikenal dingin, elegan dan profesional bisa blak-blak meminta hal seperti itu?! Bahkan tak ada sedikitpun terlihat ragu di kedua matanya.Yuna menggeram dalam hati. Pria ini … benar-benar bajingan. Dia sudah menginjak harga dirinya sebagai perempuan.“Ti–tidak, Pak. Maaf, tapi saya bukan orang yang bisa Bapak perlakukan seperti itu.”Suara Yuna sempat tersendat, tapi ia memaksa dirinya menatap Kai. “Saya menolak. Saya tetap akan resign.” Suaranya kali ini lebih tegas, bahkan sedikit bergetar oleh kemarahan.
Yuna menegang di tempatnya, mata melebar menatap pria di depannya. Dokter Firas Adiyaksa. Pria yang seharusnya jadi magnet romansa untuk Alya, bukan untuknya. Di novel asli, Firas pertama kali muncul saat Alya mengalami kecelakaan kecil dan dirawat di rumah sakit ini, di mana dia jadi dokter yang menyelamatkan sang tokoh utama. Yuna Rein yang cuma figuran antagonis, hanya bertemu sekali-dua kali langsung dengannya selama plot utama berlangsung. Tapi sekarang ... dia sudah ketemu duluan. Di sini, di depan matanya, karena ibunya. Ya Tuhan, seharusnya Yuna belum bertemu dengan dia! Kalau Yuna jadi dekat dengan Firas, ia semakin terseret lebih dalam ke plot. Dan endingnya … benar-benar mengenaskan! Di novel, Yuna mati tragis setelah bikin skandal besar, ditinggal semua orang, bahkan ibunya sudah tidak ada. Ia bertekad tidak ingin berakhir tragis. Tujuannya sekarang cuma ingin berjuang, jauhi semua tokoh kunci. Yuna pun buru-buru geleng pelan, mundur setengah langkah. “Eh, ng
Yuvita tersenyum lemah, tapi matanya berkaca-kaca. “Maaf, Nak. Ibu bikin kamu repot terus.” Yuna menggeleng. “Nggak, Bu. Aku yang harus lebih sering jenguk. Cerita dong, Bu. Dokter bilang apa?” Yuvita menghela napas panjang. “Penyempitan arteri semakin parah. Kalau nggak operasi bypass segera, bisa ... fatal. Tapi biayanya ... Ibu nggak mau bebanin kamu.” Yuna menelan ludah. Dari ingatan tubuh ini, dia tahu latar belakangnya: Yuvita dulu pengacara yang tangguh, menangani kasus-kasus dan ia berintegritas tinggi. Ayah Yuna meninggal saat Yuna kecil karena kecelakaan, meninggalkan Yuvita sendirian membesarkan anak sambil berjuang dengan sakit jantung yang muncul belakangan. Sekarang semua tabungan habis untuk obat dan check-up, bahkan gaji Yuvita dulu dipakai untuk sekolah Yuna di fakultas hukum. Kini Yuna yang harus balas budi. Tapi sebagai junior, gajinya pas-pasan. “Aku bakal cari cara, Bu. Tenang aja,” kata Yuna, suaranya bergetar tapi berusaha tegas. Setelah mengo
Yuna membeku di tempat. Otaknya blank dan melongo.Wanita itu menarik Kai lebih dalam. Kai membalas dengan gerakan agresif, tangan besarnya naik ke dada besar wanita itu dan meremasnya dengan nafsu. Mobil itu sampai berguncang pelan akibat pergulatan panas mereka di dalam.Yuna tersentak, buru-buru mundur, tapi tumit sepatunya tersandung kabel listrik kecil di lantai. Suara klek pun terdengar.Kai mendongak tiba-tiba. Mata hitamnya langsung menangkap bayangan Yuna di kegelapan basement.Tatapannya dingin, tajam, tapi ada seringai tipis di sudut bibirnya. Seolah dia tahu Yuna sudah melihat semuanya. “Mampus aku!” desis Yuna, sebelum lari dengan tubuh gemetar hebat, jantungnya berdegup sampai terasa di telinga.Sudah terpaksa lembur, kini ia harus memergoki skandal malam bosnya dengan seorang wanita?!Mengenal Kai Verazo, tidak akan aneh jika hal kecil ini membuatnya dipecat!Sebelum menyaksikan lebih banyak, Yuna segera masuk mobil sedan murahnya, menyalakan mesin dengan tangan gemet







