공유

Chapter 5.

작가: Amaleo
last update 게시일: 2026-03-11 17:08:41

Yuna menatap Kai dengan mata membelalak, napanya tercekat. Kata-kata ‘partner di ranjang selama satu bulan’ masih bergema di telinganya seperti tamparan keras.

Kepalanya terasa kosong beberapa detik.

Ia benar-benar tidak menyangka. Pria itu … bisa mengucapkan hal seperti itu dengan wajah yang tenang, seolah sedang membicarakan kontrak kerja biasa.

Ia merasakan emosinya bercampur aduk. Antara marah, malu, dan tidak percaya.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang seperti Kai yang dikenal dingin, elegan dan profesional bisa blak-blak meminta hal seperti itu?! Bahkan tak ada sedikitpun terlihat ragu di kedua matanya.

Yuna menggeram dalam hati. Pria ini … benar-benar bajingan. Dia sudah menginjak harga dirinya sebagai perempuan.

“Ti–tidak, Pak. Maaf, tapi saya bukan orang yang bisa Bapak perlakukan seperti itu.”

Suara Yuna sempat tersendat, tapi ia memaksa dirinya menatap Kai.

“Saya menolak. Saya tetap akan resign.” Suaranya kali ini lebih tegas, bahkan sedikit bergetar oleh kemarahan. “Terima kasih atas tawaran Bapak, tapi saya tidak bisa—dan tidak akan—menerima syarat seperti itu.”

Yuna mengepalkan tangannya.

Kai tidak langsung bereaksi. Dia hanya menatap Yuna lama. Lalu, senyum tipis itu muncul lagi—senyum orang yang sudah tahu dia menang.

“Baik. Kamu boleh resign,” katanya santai, seolah tawaran tadi cuma obrolan ringan.

“Tapi ingat, surat resign kamu akan saya proses dengan catatan khusus. ‘Mengundurkan diri mendadak tanpa pemberitahuan cukup, performa di bawah standar, dan potensi pelanggaran etika di kantor.’”

Yuna tercekat. “A–apa …?”

Kai sedikit mengangkat dagunya, sikapnya tetap tenang namun terasa menekan.

“Yuna, dunia hukum kecil. Satu catatan buruk dari Verazo & Associates, dan kamu bakal susah dapat kerja di firma mana pun di kota ini, atau bahkan di luar kota.”

Yuna merasa darahnya membeku. “Itu … ancaman, Pak?”

“Bukan ancaman. Tapi fakta.” Kai condong ke depan, suaranya rendah. “Kamu punya waktu tiga hari untuk mempertimbangkan lagi.”

Kai menoleh ke samping, buang muka. “Sekarang keluar. Kerjakan tugas yang ada di meja kamu. Jangan buang waktu.”

Yuna bangkit dengan kaki lemas. Dia keluar dari ruangan Kai tanpa kata lagi sambil menutup pintu di belakangnya.

Begitu keluar, suasana kantor langsung berubah. Beberapa pasang mata langsung menoleh, bisik-bisik mulai terdengar seperti angin ribut kecil.

“Wah, Yuna dipanggil lagi. Pasti lagi modusin Pak Kai nih.”

“Udah berapa kali sih dalam seminggu? Kayaknya dia emang sengaja cari perhatian.”

“Pasti lagi nawarin ‘jasa ekstra’ biar naik jabatan.”

Yuna berhenti di tengah lorong. Kali ini, dia tidak menunduk. Dia menoleh tajam ke arah sumber suara. Tatapannya dingin, tajam, bukan tatapan Yuna yang biasanya merasa jadi korban.

Sekelompok karyawan di pantry langsung diam, mata saling pandang canggung, lalu pura-pura sibuk lagi.

Tapi Rosie, yang berdiri di dekat meja kopi, malah menyeringai. Dia sengaja menaikkan suara bisiknya.

“Eh, liat tuh. Baru keluar ruangan bos, mukanya merah. Pasti abis menjilat, nawarin service, tapi nggak berhasil?” disambut cekikikan pelan dari dua temannya.

Yuna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa muak itu masih berputar di dadanya. Terhadap situasi ini, terhadap plot cerita yang seolah sudah mengunci nasibnya.

Namun ia memaksa dirinya menelan semua emosi itu. Baginya, melawan sekarang tidak akan mengubah apa pun.

Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah fokus pada hal yang ada di depan mata.

Dan tiga hari lagi … ia harus mengambil keputusan tentang tawaran sialan dari Kai, si Bos toxic Red Flag level dewa!

Dia kembali ke mejanya, membuka laptop, dan mulai menyelesaikan riset kasus yang dilempar Rosie tadi. Setiap ketikan terasa seperti menghitung waktu mundur.

Saat Yuna menyadari layar laptopnya sudah menunjukkan pukul 21:03, hampir seluruh kantor sudah kosong. Yuna langsung menuju Rumah Sakit Cardio Center Permata.

Begitu memasuki lorong lantai lima, ia membuka pintu pelan-pelan. Di tangannya ada kantong plastik berisi beberapa buah apel dan jeruk yang sempat ia beli di perjalanan.

Yuna membeku di ambang pintu. Di dalam kamar, Dokter Firas Adiyaksa sedang berdiri di samping ranjang Yuvita, memeriksa monitor detak jantung dengan serius.

Jas putihnya rapi, rambut hitamnya sedikit acak-acakan seolah baru saja melewati hari panjang, tapi auranya tetap hangat.

Yuvita langsung menoleh, senyum lemah tapi cerah muncul di wajahnya.

“Yuna! Akhirnya datang juga. Ibu lagi ngobrol sama Dokter Firas nih. Beliau baik banget, loh. Sudah jelasin semuanya dengan sabar.”

Firas menoleh, mata cokelatnya langsung tertuju pada Yuna. Senyum tipis muncul di wajahnya.

Jantung Yuna langsung berdegup tak karuan. Ia sama sekali tidak siap bertemu pria itu malam ini! Terlebih lagi, ia dalam kondisi lelah seperti sekarang.

Yuna mencoba tersenyum, tapi wajahnya pasti kelihatan pucat dan lelah setelah seharian di kantor, ditambah lagi drama dengan Kai.

“Selamat malam, Dok. Bu ... ini buahnya. Aku beli yang segar.”

Firas mengamati Yuna sebentar, alisnya sedikit berkerut. “Selamat malam, Yuna. Kamu kelihatan capek sekali. Kerja lembur lagi?”

Yuvita terkekeh pelan, suaranya lemah tapi penuh gurau.

“Yuna, Dokter Firas ini perhatian banget. Kamu single kan? Dokter juga katanya belum punya pacar. Cocok deh, kalian berdua pintar dan baik hati. Ibu dukung kalau kalian deketan!”

Yuna tersedak udara sendiri, wajahnya langsung merah. “Bu! Apa sih ... jangan gitu dong.”

Firas tertawa kecil, suaranya lembut. “Ibu Yuvita ini lucu ya. Tapi tenang saja, Yuna, kondisi Ibu stabil malam ini. Tapi kita perlu bicara sebentar soal rencana operasi. Mau ke luar dulu? Biar Ibu istirahat.”

Yuna mengangguk pelan, meski kepanikan mulai merayap di dalam hatinya. Ia berusaha menjaga jarak, tidak ingin suasana di antara mereka terasa terlalu dekat.

Mereka berjalan keluar ke koridor yang sepi. Firas berdiri dekat Yuna, tangannya memegang map catatan medis.

“Jadi, untuk operasi bypass, kita bisa jadwalkan minggu depan kalau kondisi Ibu membaik. Biayanya sekitar 400 juta, tapi ada opsi cicilan atau bantuan dari yayasan rumah sakit kalau kamu ajukan.”

Yuna mendengarkan, tapi matanya menghindari tatapan Firas.

Tiba-tiba, Firas mendekat sedikit, tangannya naik pelan menyentuh kening Yuna dengan punggung tangan.

“Ah. Permisi, tapi kamu kelihatan pucat sekali. Jangan sampai kamu ikut sakit. Bu Yuvita masih butuh kamu dalam keadaan sehat.”

Sentuhan itu hangat, membuat Yuna kaku seperti patung. Panas naik ke pipi, jantung berdegup lebih kencang. Ia langsung menarik kesimpulan yang membuatnya semakin gelisah.

Situasi seperti ini terasa intim. Tapi perlakuan lembut ini seharusnya bukan diterima karakter antagonis seperti dirinya.

Padahal ia sama sekali tidak menginginkannya. Firas seharusnya menjadi bagian dari cerita Alya, bukan dirinya!

Yuna mundur setengah langkah, buru-buru geleng kepala.

“Ng–nggak apa-apa, Dok! Ini … ini cuma capek kerja. Terima kasih ya infonya. Saya ... masuk lagi ke kamar Ibu.”

Firas menahan Yuna sambil menarik pergelangan tangannya. Senyumnya tetap hangat, mata seperti memahami lebih dalam.

“Oke. Kalo butuh apa-apa, telepon aja. Saya kasih nomor pribadi saya ya? Biar lebih cepat.”

Yuna mengangguk terpaksa. Di balik ekspresi tenangnya, pikirannya berteriak panik.

Setelah berbincang ringan dengan Yuvita di ruang rawat, waktu terasa berlalu cepat. Pukul 22.30, jam besuk pun berakhir.

Yuna mencium kening ibunya sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, ia berjalan keluar menuju area parkir dengan langkah yang terasa berat karena kelelahan.

Di perjalanan pulang, mobil sedan murahnya melaju pelan di jalan malam yang sepi. Yuna menguap lebar, setelah beberapa hari ini lembur ditambah harus menjaga ibunya, ia jadi kurang tidur.

Yuna mulai mengomel pelan.

“Kenapa sih aku harus masuk ke dunia novel absurd ini? Di dunia asli aku cuma pembaca biasa. Kerja dan gajiku emang pas-pasan, tapi setidaknya nggak ada drama mati tragis.”

Ia menghela napas panjang, rasa lelah tiba-tiba menumpuk di dadanya.

Lampu lalu lintas di depan berubah kuning, hampir merah. Yuna sebenarnya bisa berhenti, tapi otaknya sudah lelah. Dia tancap gas pelan, berharap bisa lewat sebelum merah total.

Tiba-tiba, dari persimpangan kanan, sebuah mobil SUV hitam muncul cepat. Yuna telat mengerem, dan...

BRAK!

Sesuatu menabrak mobil Yuna di sisi depan.

Mobil berhenti mendadak. Yuna terlonjak, tangannya memegang setir erat. Bumper depan mobilnya penyok parah, lampu sein pecah.

Pintu SUV terbuka. Seorang pria tinggi keluar, berjas abu-abu gelap, rambut hitam pendek rapi, wajah tegas tapi tenang. Dia mendekat ke jendela Yuna yang turun setengah.

“Kamu nggak apa-apa?” suaranya dalam, tenang, tapi ada nada khawatir.

Yuna mengangguk lemah, masih shock. “Ngg … nggak apa-apa. Maaf, saya yang salah. Lampu kuning tadi.”

Pria itu memeriksa bumper kedua mobil. SUV-nya cuma lecet kecil. Dia kembali, mengeluarkan buku cek dari dompet kulit, lalu menulis sesuatu dengan cepat.

“Ini untuk ganti rugi,” katanya sambil menyerahkan cek dan kartu nama. “Jangan khawatir soal asuransi. Hubungi saya kalau ada masalah ya?”

Yuna menerima dengan tangan gemetar. Matanya jatuh ke kartu nama itu.

Darren Mahesa.

Yuna membeku.

Nama itu langsung terngiang di kepalanya seperti alarm bahaya.

Tokoh pria ketiga. Pria terakhir dalam trio yang mengelilingi Alya di novel asli.

Dan sekarang … pria itu berdiri tepat di depan Yuna.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 214.

    “Firas?” suara Yuna terdengar kaku dan terkejut. “K-kenapa kamu di sini?” Pertemuan ini benar-benar datang di waktu yang salah. Firas berjalan mendekat dengan napas masih sedikit tidak beraturan seolah ia memang datang terburu-buru. “Tadi kamu menutup telepon terlalu cepat,” jawabnya. “Saya jadi khawatir.” Yuna langsung merasa bersalah. “Ah, maaf, Firas. Tadi ada sesuatu yang buat saya harus putusin panggilannya lebih dulu.” Firas terdiam sebelum matanya bergeser ke Kai di samping Yuna. Saat tatapannya langsung jatuh ke sudut bibir Kai yang masih berdarah, ekspresinya berubah. Firas memicingkan mata dan terkekeh pelan—suara tawa yang sarkastik dan tajam, sangat berbeda dari nada lembutnya yang biasa. “Bekas pukulan itu …” gumamnya sambil menatap Kai. “Saya nggak nyangka ternyata Anda malah terlibat masalah lagi di rumah sakit ini.” Yuna menegang keras di tempat dengan perasaan gelisah. “Firas, tolong … jangan bilang seperti itu,” ucap Yuna pelan. Firas menoleh ke Y

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 213.

    Jantung Yuna terasa diremas pelan. Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu tanpa kata-kata. Karena Kai Verazo bukan tipe orang yang mudah meminta maaf, bahkan mungkin terlalu jarang. Namun kali ini, tidak ada kesombongan dan tidak ada pembelaan diri. Hanya penyesalan yang sederhana dan jujur. Yuna menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Langkah kaki Yuna terasa jauh lebih berat dibanding saat ia keluar dari kamar rawat inap tadi. Pikirannya berputar tanpa henti tentang Kai, kontrak yang tersisa delapan hari dan tentang dirinya sendiri, bahkan juga Firas yang mau menunggunya sampai kontrak selesai. Awalnya semua terasa sederhana. Ia tinggal menjalani kontrak tersebut, bertahan di roller coaster kehidupan yang tak ada habisnya. Asal bisa menyelamatkan ibunya dan dirinya sendiri, maka semuanya akan berakhir begitu saja. Tapi sekarang, semakin lama, semakin banyak hal yang bergerak keluar dari jalur cerita yang pe

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 212.

    Kai terdiam cukup lama setelah pertanyaan Yuna meluncur. Gadis itu langsung menyesal. Mungkin seharusnya ia tidak bertanya sejauh itu. Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Kai hanya menatapnya tanpa berkedip. Lalu ia menghembuskan napas pelan dan menggeleng tipis. “Kalau kamu bertanya apakah saya menyukai kamu … atau bahkan mencintai kamu,” ucap Kai jujur, suaranya rendah, “saya tidak tahu. Saya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.” Ia terdiam sejenak, rahangnya menegang. “Yang saya tahu … saya tidak mau kehilangan kamu.” Tatapannya semakin dalam. “Saya tahu saya peduli. Saya tahu saya terus memikirkan kamu. Dan saya tahu … fakta bahwa kontrak ini tinggal delapan hari lagi berakhir, membuat saya jauh lebih terusik daripada seharusnya.” Kai menatap Yuna lekat. “Perasaan apa sebenarnya ini … saya sendiri belum punya jawabannya, Yuna.” Yuna berdiri membeku. Dadanya naik-turun tidak karuan. Ucapan Kai terlalu jujur, hingga

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 211.

    Dunia Yuna seolah berhenti berputar. Seluruh tubuhnya langsung membeku di tempat. Jadi itu alasan Kendrik memukul Kai? Kai ... sudah jujur soal kontrak satu bulan mereka? Bagaimana bisa? Dan … kenapa Kai justru memilih mengakui hal itu kepada Kendrik? Padahal pria itu selama ini selalu menutupi semuanya, meski kadang perhatiannya di depan beberapa orang memancing reaksi penasaran dan curiga pada mereka berdua. “Apa …?” “Ya,” ucap Kai dengan suara dalam. “Ayah saya sudah curiga sejak kita menginjakan kaki di sini, bahkan ketika beliau akhirnya tahu saya mengetahui kamu anak dari Tante Yuvita. Dan ditambah … saya bilang ‘tidak keberatan dijodohkan’ tadi.” Jantung Yuna terasa jatuh ke perutnya. Kendrik … benar-benar curiga? Memang tidak bisa dipungkiri, saat Kai tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ‘tidak keberatan dijodohkan’ dengan wajah serius di tengah candaan Yuvita tadi, ucapan itu pasti langsung menarik perhatian Kendrik. Apalagi bagi seorang ayah yang mengenal putran

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 210.

    Beberapa menit berlalu setelah Kendrik meninggalkan kamar rawat inap, Kai belum juga kembali masuk. Suasana yang tadi hangat kini berubah menjadi lebih tenang. Televisi masih menyala pelan di sudut ruangan, tapi perhatian Yuna dan Yuvita sama sekali tidak lagi tertuju ke sana. Yuvita menatap pintu kamar beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil. "Yuna, kenapa Kai belum juga masuk, ya?" Yuna terdiam. Ia sebenarnya memikirkan hal yang sama sejak tadi. Sejak Kendrik masuk seorang diri dengan wajah tegang dan berpamitan secara mendadak. Belum lagi, Kai sama sekali tidak muncul kembali setelah itu. "Aku nggak tahu, Bu." Yuvita mengernyit kecil. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi di luar tadi?" Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu." Namun bahkan saat mengucapkannya, perasaan tidak nyaman masih mengendap di dadanya. Karena firasatnya mengatakan bahwa sesuatu memang sedang terjadi yang berhubungan dengan percakapan Kai dan Kendrik tadi. Dan Yuna merasa dirinya harus

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 209.

    Yuna menelan ludah berat dan menjawab pelan."Firas, Bu."Yuvita lngsung tersenyum lebar seketika itu juga. “Angkat dong, Nak. Ibu kangen ngobrol sama Dokter Firas.”Yuna menelan ludah gelisah sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Layar menampilkan wajah Firas yang sedang duduk di kursi kemudi mobil. Wajahnya tersenyum lembut. Lampu jalan malam memantul samar di kaca jendela belakang."Halo."Yuna berusaha tersenyum normal."Halo. Firas, kamu lagi di jalan?""Iya, nih." Tatapan Firas lalu bergerak ke belakang Yuna. "Yuna, kamu lagi di mana? Kamu di rumah sakit?"Yuna mengangguk."Iya, lagi jenguk Ibu.""Oh,” ucap Firas mengerti.Lalu Yuna menggeser ponselnya ke arah Yuvita."Ibu juga di sini."Yuvita masuk ke frame layar ponsel, dan wajahnya langsung berbinar. "Halo, Dokter tampan."Firas langsung tertawa kecil."Halo, Ibu. Ibu terlihat makin sehat ya?"Senyum Yuvita semakin lebar. Mereka mulai mengobrol sambil Firas masih memperhatikan wajah Yuvita beberapa saat."Ada ke

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 36.

    Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 11.

    Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 29.

    Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 10.

    Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status