Share

Chapter 38.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-03-24 17:05:38
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan.

‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin.

Sekejap, ingatannya langsung menyeruak. Potongan demi potongan cerita asli muncul begitu saja di kepalanya.

Di novel itu … operasi bypass Yuvita gagal.

Yuvita meninggal di meja operasi, dan kematian itu menjadi titik balik yang men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 165.

    Senin pagi di penthouse Kai terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Cahaya matahari pagi menembus jendela besar ruang makan sementara aroma roti panggang dan kopi hangat memenuhi udara. Namun meski suasana terlihat normal, tubuh Yuna sebenarnya belum benar-benar pulih sepenuhnya. Demamnya memang sudah turun, dan kepalanya juga tidak terlalu berat lagi. Tapi masih ada sisa lemas yang membuat tubuhnya terasa sedikit ringan saat bergerak terlalu cepat. Meski begitu, pagi ini Yuna tetap bersikeras untuk masuk kerja. Karena semakin lama ia tinggal diam di penthouse sambil terus diperhatikan Kai seperti pasien, semakin tidak nyaman perasaannya sendiri. Pria itu sudah terlalu banyak membantunya selama dua hari terakhir. Dan itu membuat Yuna mulai takut dirinya benar-benar terbiasa menerima perhatian Kai begitu saja. Yuna duduk di meja makan sambil memakan sarapan perlahan. Sesekali ia meniup teh hangat di tangannya sambil berusaha terlihat biasa saja. Di sebera

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 164.

    Yuna tidak tahu sudah berapa lama dirinya diam di dalam pelukan Kai. Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi setelah memeluknya dari belakang tadi. Hanya kehangatan tubuh Kai dan satu tangan besar yang sesekali mengusap pelan rambutnya, membuat sesak di dada Yuna perlahan sedikit mereda. Dan justru karena itu … air mata Yuna terasa semakin sulit berhenti. Kai Verazo benar-benar aneh. Pria itu bisa sedingin es di satu waktu, lalu beberapa saat kemudian berubah menjadi seseorang yang diam-diam menopangnya tepat saat dirinya hampir runtuh. Pelukan Kai terasa terlalu tenang dan terlalu nyaman. Dan itu justru berbahaya. Karena semakin lama … Yuna mulai takut dirinya akan benar-benar terbiasa merasa tenang saat berada di dekat pria itu. Kai akhirnya bergerak sedikit sambil menunduk pelan ke arah Yuna. “Sudah nangisnya?” Nada suaranya tetap rendah dan datar seperti biasa. Namun justru itu yang membuat Yuna buru-buru mengusap wajahnya malu. “S-saya nggak nangis.” Kai langsung berdeca

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 163.

    Suasana penthouse terasa jauh lebih tenang setelah Yuna selesai makan siang. Semangkuk sop daging hangat tadi benar-benar membuat tubuhnya terasa sedikit lebih baik dibanding pagi tadi. Setidaknya kepalanya tidak lagi terlalu berat, dan tubuhnya juga terasa lebih ringan setelah sesi reflexology tadi. Yuna perlahan membereskan meja makan sambil membawa mangkuk dan sendok bekasnya ke dapur. Air hangat mengalir pelan dari keran wastafel ketika Yuna mulai mencuci piring satu per satu dengan gerakan santai. Namun di tengah kegiatannya, matanya sempat melirik ke arah lorong ruang kerja Kai. Kai belum keluar lagi? Bukannya pria itu belum makan siang? Tanpa banyak berpikir, Yuna menyisakan sop daging yang tadi di pesan Kai ke dalam panci kecil. Ia menaruhnya di kompor agar mudah dipanaskan nanti. Beberapa menit kemudian, Yuna berjalan pelan menuju ruang tengah sambil membawa segelas air putih. Ia duduk santai di sofa besar penthouse sebelum mengambil obat yang sudah disiapkan Kai di ata

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 162.

    “NIKAH?!” Suara Yuna langsung memecah kamar tamu dengan nada panik setengah mati. Wanita terapis itu malah tertawa kecil geli melihat reaksinya. “Aduh, Nona lucu sekali.” Wanita itu masih tersenyum hangat sambil memijat pelan tubuh Yuna. “Memangnya salah kalau saya mendoakan hubungan kalian serius?” “S-salah besar!” bantah Yuna cepat dengan wajah memanas. “Kami benar-benar bukan pasangan!” Namun sebelum wanita itu sempat membalas lagi, Kai justru menanggapinya santai sambil masih memegang tablet kerjanya. “Saya tidak keberatan.” Yuna langsung membeku total hingga hening langsung menyergap di ruangan itu. Bahkan wanita terapis itu ikut terdiam sepersekian detik sebelum matanya langsung berbinar senang. “Nah kan!” serunya puas. “Pak Kai saja mengakuinya!” “KAI?!” Yuna langsung menoleh tidak percaya. Namun pria itu tetap terlihat tenang seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa. Sementara Yuna sendiri mulai benar-benar panik sekarang. Pernikahan?! Di novel asli,

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 161.

    Yuna langsung panik setengah mati Tunggu dulu …. Jangan-jangan wanita ini salah paham terlalu jauh?! Soalnya sejak tadi Kai memang mengantarnya sendiri, menyuruh fokus di bagian tubuh tertentu, sampai bicara seolah sudah sangat mengenal kondisi tubuh Yuna. Jangan bilang terapis ini mengira mereka pasangan sungguhan? “B-bukan!” bantahnya cepat sambil buru-buru menoleh. “Saya bukan pacarnya!” Wanita itu malah tertawa kecil geli. “Aduh, Nona langsung panik begitu.” “Saya serius,” desak Yuna cepat. “Hubungan kami bukan seperti itu!” Wanita terapis tersebut hanya tersenyum samar sambil kembali memijat area bahu Yuna dengan gerakan profesional dan nyaman. “Kalau begitu … saya malah lebih kaget lagi.” Yuna mengernyit bingung. “Maksudnya?” Wanita itu tertawa kecil sebelum berkata santai, “Karena selama ini Pak Kai terkenal dekat dengan banyak perempuan.” Yuna langsung diam. Ya, itu memang benar. Karena tidak ada yang lebih tahu soal itu selain dirinya sendiri.

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 160.

    “Hah?! Pijat tubuh?!” Yuna langsung menoleh tidak percaya ke arah Kai dengan mata melebar lebar. Sementara pria itu tetap duduk santai di kursinya sambil meminum kopi tanpa ekspresi. “Reflexology,” koreksi Kai datar. “Kamu pikir saya panggil siapa?” Yuna langsung tersedak udara sendiri. Sial, Yuna benar-benar salah paham! “B-bukan gitu maksud saya!” Kai melirik sekilas dengan tatapan tipis yang terasa sangat mencurigakan. Yuna buru-buru menggeleng kecil sambil mencoba mengalihkan pembicaraan. “Nggak usah panggil orang segala juga kali …” gumamnya pelan. “Saya cuma kecapekan sedikit kok. Lagian pasti repot buat Anda.” Kai langsung meletakkan cangkir kopinya pelan di meja. “Repot?” “Iya.” Yuna menggaruk pipinya canggung. “Anda sampe manggil terapis segala cuma karena saya sakit begini ….” Kai memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat sebelah alis tipis. “Kamu mau cepat sembuh, atau terus membiarkan badanmu sakit seperti ini?” Yuna langsung terdiam. Kai melanj

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 25.

    Di restoran mewah, Yuna duduk dengan postur sangat canggung, sendok dan garpu di depannya terasa asing hingga ia hanya berani mengambil sedikit salad dan daging panggang. Pikirannya berisik dan tatapannya kosong menatap piring. Dibenaknya, ia masih takut jika ia lupa siapa dirinya yang dulu, yang k

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 22.

    Yuna menoleh cepat, matanya membelalak. “Sa–salon?” Kai mengangguk sekali. “Kamu kelihatan seperti orang yang tidak merawat diri selama berminggu-minggu. Itu tidak boleh.” Yuna merasa darahnya naik ke wajah. Bukan karena malu, tapi karena kata-kata itu terdengar seperti perintah sekaligus pe

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 21.

    Yuna menatap Kai dengan mulut setengah terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa sakit di dada. “B–bukan siapa-siapa,” jawabnya pelan, hampir tak terdengar. Kai tidak berkedip. Tatapannya tetap tajam, seolah bisa melihat langsung ke da

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 19.

    Yuna menatap Alya dengan mata membelalak. Alya … kenapa? Kenapa dia malah bilang seolah ia yang tak suka dibela? Hati Yuna hancur lebur. Entah kenapa apa yang dikatakan sang tokoh utama itu membuat ia tambah merasa bersalah, bahkan merasa tak pantas dapat pembelaan darinya. Ruangan kembali he

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status