LOGINYuna membeku saat membaca pesan singkat dari Kai. Jantungnya berdebar tak menentu, sementara emosinya bergolak tanpa arah. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Brengsek,” gumamnya mengumpat pelan sebelum ia melempar ponselnya di kursi penumpang.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menginjak pedal gas dan membawa mobilnya melesat keluar dari rumah sakit.Dalam perjalanan ke Penthouse, pikirannya berputar liar oleh rentetan kejadian hari ini hingga dadanya sesak. Lantaran belum kelar satu masalah, masalah lain muncul lagi.Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana agar keluar dari pusaran konflik yang menjeratnya. Ia hanyalah tokoh antagonis, tapi entah sejak kapan, ia justru semakin terseret ke pusat konflik yang semakin menelannya.Beberapa saat kemudian, Yuna akhirnya sampai di basement gedung apartemen. Ia mematikan mesin dan langsung keluar dari mobilnya sebelum berjalan dengan gontai menuju lift.Lift bergerak naik menuju lan
Yuna menegang. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering saat Darren menyebut acara makan malam bersama keluarganya. “Makan … malam?” ulangnya tanpa sadar, suaranya mengecil dari biasanya. Di seberang sana, Darren terdengar menghela napas pelan, seolah sudah menduga reaksi itu. “Yuna, jangan bilang kamu lupa apa yang sudah kita bicarakan waktu itu?” Yuna langsung panik. Ia melirik Firas sekilas sebelum buru-buru menjauh beberapa langkah agar pria itu tidak mendengar percakapannya. “Dokter, maaf … tunggu sebentar ya?” katanya cepat dengan suara setengah berbisik. Firas mengerutkan dahi, namun ia mengangguk pelan dan memberi ruang. Yuna berjalan menjauh ke sudut koridor yang lebih sepi, jantungnya berdegup kencang. Ia baru ingat sekarang. Insiden di hotel malam itu, saat Darren menarik Yuna di depan kerumunan untuk memutuskan hubungan dengan seorang perempuan.
Yuna membeku. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Pertanyaan Ibunya seperti pukulan pelan tepat di dada. Kali ini, ia tidak bisa menjawab jujur pada Ibunya. Kalau bisa Yuvita tidak boleh tahu. Kalau Yuvita tahu bahwa putrinya terjerat kontrak gelap dengan atasannya sendiri demi biaya operasi, Yuna tidak berani membayangkan reaksi ibunya. Ibunya yang sudah lemah ini pasti hancur, merasa bersalah, dan mungkin malah menolak pengobatan untuk selanjutnya. Yuna menelan ludah berat. Tenggorokannya terasa seperti tersumbat. “Ada … bonus dari firma, Bu,” jawab Yuna akhirnya, suaranya pelan dan sedikit bergetar. “Mereka bantu banyak selama aku kerja di sana. Katanya … karena aku sering lembur dan tangani kasus penting.” Yuna memaksakan senyum dengan lembut. “Jadi mereka kasih tunjangan khusus untuk biaya pengobatan keluarga karyawan.” Yuvita terdiam. Matanya menatap Yuna lekat-lekat, seolah sedang mencari kebenaran di balik perkataan putrinya. Lalu ia tersenyum lembut, penuh kebangg
Yuna melangkah masuk dengan tangan gemetar. Di dalam ruangan yang lebih terang dan nyaman, Yuvita terbaring di ranjang dengan mata setengah terbuka. Wajahnya masih pucat, tapi ada senyum kecil yang samar ketika melihat putrinya. “Yuna …” suara Yuvita lemah, tapi jelas penuh kasih. Yuna langsung mendekat dan memegang tangan ibunya dengan lembut. Air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan. “Ibu … Ibu sudah bangun? Syukurlah … aku takut sekali .…” Yuvita mengusap punggung tangan Yuna dengan jari yang lemah. “Maafkan Ibu … sudah bikin kamu khawatir.” Yuna menggeleng pelan. “Jangan minta maaf. Yang penting sekarang, Ibu sudah disini. Ibu juga harus sehat, ya.” Firas berdiri di belakang Yuna memberi ruang, tapi tetap mengawasi dengan tatapan lembut. Yuna menangis pelan sambil menempelkan pipinya ke punggung tangan ibunya. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. Semua ini berawal dari keputusan Kai untuk melunasi biaya pengobatan Yuvita. Tapi Yuna tahu, di balik itu, ia justru
Alis Kai menukik sebelah dengan sorot mata heran karena pertanyaan Yuna.“Kamu masih saja mengkhawatirkan rekan kerja yang selalu merudungmu, Yuna?”Yuna mengerjap dengan perasaan gugup yang menyergapnya tiba-tiba. Tangannya refleks mempererat genggaman tas.“Seenggaknya saya mau tahu dia masih baik-baik saja. A–Anda … nggak pecat dia, kan?”Kai menghela napas pendek. “Saya tidak memecatnya. Tapi dia sudah menerima resikonya. Dia yang memulai gosip itu dan selalu membuat ulah. Saya tidak akan membiarkan siapapun mengacaukan lingkungan kerja saya.”Yuna tercekat. Jawaban Kai dingin dan tanpa emosi berlebih, tapi justru itu yang terasa menekan. Ia menatap pria itu cukup lama sambil mencoba mencerna.Biasanya, Kai hanya akan bertindak jika sesuatu langsung menyentuh reputasi atau kepentingannya. Hal sepele seperti perundungan di kantor bukan urusannya. Tapi kali ini … agak berbeda dari cerita asli Novel yang ia pernah baca
Yuna refleks menghentikan pergerakan kedua tangannya sebelum akhirnya, ia mendongak ke arah suara Kai. Alya, maupun para karyawan pun terdiam seketika.Rosie yang masih duduk di meja kerjanya seketika menegang sebelum akhirnya ia berdiri canggung sambil melihat kanan-kirinya dengan wajah bingung. Ia akhirnya berjalan pelan dan masuk ke ruang kerja Kai sebelum ia tutup pintu di belakangnya.Setelah Rosie masuk, bisik-bisik pun mulai mengudara.“Rosie dipanggil? Kok tiba-tiba banget sih?”“Nggak tahu tuh. Dia kan nggak ada buat masalah seharian ini.”“Apa jangan-jangan … Pak Bos udah denger gosip soal perempuan yang datang itu?”“Wah, kalo Pak Bos denger, bisa gawat!”Yuna menangkap setiap bisikan lirih di sekitar sebelum tiba-tiba HP-nya bergetar pelan di mejanya. Yuna menoleh sekilas sebelum ia mengernyit dalam saat baca isi pesan dari Kai. Jantungnya langsung berdegup cepat.Kai: “Langsung pulang. Bersihkan Pen







