LOGINYuna terkejut hingga jantungnya berdegup kencang. Campuran gugup, senang, dan ragu langsung menyeruak di dadanya.Ajakan makan malam dari Firas terasa begitu tiba-tiba.Yuna menarik napas pelan sebelum akhirnya tersenyum kecil, mencoba menolak dengan cara yang sehalus mungkin.“Maaf, Dokter … sepertinya saya nggak bisa,” ucapnya pelan. “Mobil saya masih di parkiran, dan saya juga harus segera pulang. Takut kemalaman.”“Tenang, restorannya dekat kok. Cuma jalan kaki sekitar 10 menit dari sini,” ujar Firas menenangkan.Yuna terdiam beberapa saat.Ia memang tidak punya tempat lain untuk pergi. Dan entah kenapa, kembali ke penthouse sekarang terasa seperti pilihan terakhir yang ingin ia hindari selama Kai masih bersama tamu wanitanya.Yuna menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk kecil.“Baiklah … saya mau, Dokter.”Firas tersenyum kecil dan mengangguk. “Oke.”Mereka berjalan menyusuri kori
Yuna langsung tersedak oleh ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan ibunya. Pipinya memerah seketika hingga terasa panas yang menjalar ke telinga.“Bu …!” serunya gelagapan panik. “Ngomong apa sih? Dokter Firas kan cuma … cuma dokter Ibu!”Yuna sontak menghindar dari tatapan Ibu dan Firas sambil pura-pura sibuk merapikan ujung selimut Ibunya agar tidak perlu menghadapi ekspresi jahil Yuvita.Namun dibalik penolakannya, Yuna tak bisa memungkiri satu hal. Cara Yuvita menjodohkannya memang bukan tanpa alasan.Siapa pun yang melihat sosok dokter dengan pembawaan yang tenang, tutur kata lembut, dan perhatian yang tulus … rasanya sulit untuk tidak berpikir bahwa pria seperti Firas Adiyaksa adalah tipe yang diharapkan setiap orang tua untuk anak perempuannya.Firas yang berdiri di belakang Yuna tersenyum malu-malu, tapi tetap tenang dan profesional. Ia menggaruk pelipisnya sebentar sebelum menjawab dengan suara lembut.“Bu Yuvita … s
Kai tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada Yuna dengan tatapan datar, hingga sulit ditebak apa yang sedang ia pikirkan. Ciel di sampingnya hanya tersenyum tipis, matanya bergantian melihat Kai dan Yuna seolah menikmati situasi kecil yang canggung itu. “Hmm,” gumam Ciel ringan. “Kalau saya sih nggak masalah. Lagian … rasanya juga kurang nyaman kalau ada orang lain di sini.” Nada suaranya lembut, tapi jelas menyiratkan sesuatu. Yuna langsung menunduk sedikit sambil menahan napas. Ia benar-benar tidak ingin memperpanjang situasi ini. Dan semoga kali ini saja … Kai benar-benar mengizinkannya untuk pergi dari sini! Beberapa detik hening berlalu. Kai akhirnya menghela napas pelan. “Baik.” Yuna langsung mendongak cepat dengan tatapan setengah tidak percaya. “Kamu boleh pergi ke rumah sakit,” lanjut Kai dengan n
Yuna melongo saat melihat sosok wanita itu melangkah masuk dengan percaya diri. Garpu di tangannya nyaris terjatuh, namun ia segera mengeratkan pegangannya kembali. Gila. Ternyata benar asumsinya! Yuna terkekeh pelan dalam hati sambil menggeleng pelan. Ia sudah tahu sejak awal bahwa Kai Verazo tidak mungkin berubah menjadi pria ‘green flag’ dalam semalam! Sialan. Kalau sudah tahu begini, harusnya ia pergi lebih cepat ke rumah sakit daripada menetap lama di Penthouse ini! Ia tidak mau menjadi orang ketiga selama wanita itu ada bersama Kai. Yuna menghela napas panjang. Ia tidak cemburu sama sekali, tapi hanya menyayangkan karena di plot aslinya, Kai seharusnya berakhir bersama Alya. Kai yang sejak tadi menyambut tamu wanita itu akhirnya menarik pinggangnya sambil menutup pintu masuk ke belakangnya. Kini, jarak tubuh mereka lebih dekat dari yang seharusnya. Ciel tersenyum manis sambil tangannya dengan ringan menyentuh dada Kai. “Rumahmu masih sama seperti terakhir kali saya ke sin
Kai kembali dengan nada dingin sambil tetap fokus ke jalan saat menyetir. “Mulai siapkan bahan. Tamunya datang sore nanti.” Yuna menghela napas pelan sebelum ia akhirnya mengangguk menurut. “Iya, Kai.” Di sudut hati yang paling dalam, Yuna mulai berpikir. Kalau Kai sudah berani membawa perempuan ke penthouse, berarti ia bisa meminta izin untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Toh, sesuai peraturan Kai sendiri—jangan ikut campur urusan pribadinya. Sudut bibir Yuna terangkat tipis. Ia berharap Kai memperbolehkannya pergi sebelum tamu itu datang. Lagi pula, ia tidak mau menjadi pihak ketiga saat Kai sedang berurusan dengan tamu istimewanya. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di gedung apartemen. Begitu masuk penthouse, Yuna langsung bergerak ke dapur tanpa banyak bicara. Ia mengeluarkan semua bahan belanjaan dan mulai menyiapkan peralatan. Kai hanya duduk di kursi bar dapur, sesekali melihat tapi tidak banyak membantu. Ia membiarkan Yuna memasak sendiri.
Yuna mengernyit kecil melihat perubahan sikap Kai yang begitu cepat. Barusan pria itu sempat mengusap keringat di dahinya dengan lembut, tapi sekarang wajahnya kembali datar dan dingin seperti biasa.Namun Yuna memilih tidak banyak bertanya dan hanya mengangguk pelan.“Oke, Kai.”Ia beranjak dari dapur menuju kamar tamu untuk mandi dan bersiap-siap. Di bawah guyuran air hangat, pikirannya sempat melayang. Siapa tamu istimewa yang akan datang sore ini? Tapi ia segera mengusir pertanyaan itu. Tidak. Itu bukan urusannya.Setelah mandi, Yuna memilih pakaian santai seperti kaos longgar berwarna krem dan jeans biru muda. Ia merasa lebih nyaman dengan penampilan seperti ini untuk ke supermarket.Begitu keluar dari kamar, Kai sudah berdiri di ruang tengah dengan kemeja gelap yang rapi dan semi-formal. Pria itu melirik Yuna dari bawah ke atas dengan tatapan menilai, dan ekspresinya berubah sinis.“Ganti pakaiannya.”Yuna terkejut. “Kai … kan kita hanya ke supermarket? Kenapa—”“Ganti,” poto
Kai menatap Yuna beberapa detik sebelum sudut bibirnya terangkat kecil membentuk senyuman tipis yang jarang sekali terlihat. “Besok sore ada tamu. Kamu temani saya belanja bahan makanan. Setelah itu kamu masak, saya yang akan jadi penyicipnya.” Yuna tertegun. “Tamu …
Yuna baru saja membuka mulut untuk menjawab.“Dari makan mal—”Tanpa peringatan, Kai mencengkram lengannya dan menariknya masuk ke dalam penthouse. Pintu di belakang mereka tertutup dengan bunyi klik keras yang menggema di keheningan.Dalam satu gerakan cepat, Kai mendo
Yuna terdiam cukup lama setelah pertanyaan Darren terlontar begitu pelan, namun sangat tepat sasaran. Ia masih menatap lurus ke depan dengan hati yang bergolak oleh perasaan muak yang perlahan menyelimutinya. Malam ini, sudah cukup banyak kebohongan. Akhirnya, ia menghela napas panjang
Napas Yuna tertahan sepersekian detik setelah ancaman Kai yang dingin itu masih terngiang di telinganya.“Baik, Kai,” jawab Yuna akhirnya dengan suara pelan dan tegas. “Saya segera pulang.”Telepon pun terputus. Yuna menatap layar ponsel beberapa detik, dan di waktu be







