LOGINYuna kaku di tempatnya, tubuhnya seperti dipaku ke tanah.
Mata Darren masih menatap Yuna yang berdiri sedikit di belakang Alya. Ia menyunggingkan senyum ramah di wajahnya dengan wajah masih tak menyangka.“Kebetulan sekali ketemu lagi. Dunia kecil ya, Yuna.”Yuna menelan ludah berat, jantungnya berdegup kencang. Baru saja ia ingat—di adegan novel, Alya biasanya dijemput Darren setiap pulang, dan mereka memang sangat dekat.Sialan!Lantaran kepenatan dan pikiranYuna membeku, dan tanpa sadar kakinya mengerem pelan hingga mobilnya hampir berhenti di pinggir jalan.Dada Yuna mendadak sesak. Dan untuk pertama kalinya, hatinya seperti tertusuk perlahan sambil masih menatap Kai bersama sosok wanita itu dari kejauhan.“Kai dan … siapa lagi wanita itu?” gumam Yuna berbisik.Hubungan mereka … terlihat sangat akrab. Wanita itu tersenyum manis sambil tangannya sempat menyentuh lengan Kai sebentar sebelum mundur.Wanita itu terlihat sangat cantik. Berpakaian elegan, rambut tergerai sempurna, aura percaya diri yang kuat. Bukan tipe Alya yang polos-ceria, tapi tipe wanita dewasa yang sepadan dengan Kai Verazo.Napas Yuna tetahan sepersekian detik. Bukan karena cemburu yang membara, tapi sakit yang dingin dan menusuk. Yuna teringat perkataan Kai saat bilang Alya kurang menarik karena terlalu sempurna.Lalu wanita ini …?Tangan Yuna yang memegang burger gemetar. Sausnya menetes ke pangkuannya,
Yuna membeku di tempat. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa menyakitkan di dada.Firas… mau antar dirinya pulang?Firas melanjutkan dengan nada lebih lembut, penuh perhatian yang kali ini terasa lebih dalam.“Kamu kelihatan kecapekan. Saya nggak enak kalau kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini.”Yuna menahan napas sepersekian detik. Tawaran Firas begitu sederhana, tapi terasa sangat berat dan tulus. Namun, Yuna harus menelan ludah lagi saat pikirannya mulai panik oleh kenyataan yang menampar dirinya.Kalau Firas tahu ia tinggal di kediaman Kai, bagaimana reaksinya?Yuna tidak berani membayangkan kemungkinan itu. Apalagi kalau Firas mulai menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyentuh hidup pribadinya dan … hubungannya dengan Kai.Yuna menelan ludah berat karena tenggorokannya mendadak terasa kering.“Terima kasih, Dok … tapi nggak usah. Saya bawa mobil sendiri kok. Lagian, masih ada yang ha
Yuna menarik napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya kembali sesak.“Iya … baru saja dari ICU. Kondisinya sudah lebih stabil. Makasih udah nanyain.”Firas diam di sampingnya, menyesap kopi hitam dari botol di tangannya. Tatapannya sempat turun, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu tetap mendengarkan dengan saksama.Darren di telepon melanjutkan dengan nada yang semakin lembut.“Saya lega dengarnya. Kamu sendiri gimana? Kemarin kamu kelihatan … capek banget. Sudah makan? Tidurmu juga cukup nggak?”Yuna menggigit bibir bawahnya. Pertanyaan sederhana itu terasa berat. Karena di balik perkataan Darren, ia bisa mendengar kepedulian yang tulus yang membuatnya tidak nyaman.Bukankah seharusnya Darren lebih mengkhawatirkan Alya yang semalam terlihat tidak enak badan?Tapi … kenapa justru dia yang ditanyakan?“Saya… sudah makan tadi. Sekarang lagi di taman rumah sakit,” jawabnya pelan.
Yuna membeku sesaat di kursi taman. Ia menelan ludah berat sambil jari-jarinya mencengkeram botol air mineral hingga plastiknya berkerisik pelan. Jantungnya berdebar kencang. Banyak kata yang ingin Yuna ucapkan, tapi semuanya tertahan di tenggorokan. “Pak Kai …” suaranya keluar pelan, hampir ragu. “Dia … atasan saya di kantor. Dan … dia yang membantu biaya operasi Ibu.” Firas diam dengan tatapan yang tetap lembut tapi penuh perhatian. Ia tidak langsung bereaksi, seolah sedang menunggu kelanjutan. Yuna buru-buru menambahkan dengan suara sedikit lebih cepat. “Tapi … hubungan kami nggak seperti yang Dokter pikirkan. Bukan apa-apa. Benar-benar cuma … urusan kerja.” Dibenaknya, Yuna sendiri merasa aneh mendengar perkataannya. Padahal semalam ia tidur telanjang dalam pelukan Kai. Apalagi, pria itu hampir .… Yuna tersenyum kaku pada Firas sambil berusaha mengenyahkan pi
Yuna tersentak sebelum menoleh cepat ke asal suara. Firas berdiri tak jauh darinya. Senyumnya lembut seperti biasa, meski ada garis kelelahan samar di sudut matanya. “Iya, Dok,” jawab Yuna sambil tersenyum kecil. “Saya mau jenguk Ibu. Gimana keadaannya hari ini?” Firas mendekat, tatapannya hangat. “Stabil. Responsnya sudah lebih baik. Kamu boleh masuk sebentar, tapi jangan terlalu lama ya.” Yuna mengangguk. Tapi sebelum melangkah, ia tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah lorong tempat bisik-bisik perawat tadi berasal. Semuanya terasa semakin rumit. Dan ia tahu, ini baru permulaan dari risiko perubahan di plot cerita. Mereka berjalan menuju ruang ICU. Di balik dinding kaca tebal, Yuna berdiri diam menatap sosok Yuvita yang terbaring di ranjang rumah sakit. Banyak alat medis menempel di tubuh ibunya. Wajah Yuvita pucat, tapi dadanya naik-turun dengan ritme yang lebih tenang dibanding malam kemarin. Yuna menekankan telapak tangan ke kaca dingin. Dada yang tadinya ri
Yuna mengerjap dengan kesadaran perlahan yang merayap masuk. Tubuhnya terasa ringan dan tak tersentuh. Ia menoleh pelan ke samping ranjang dan mendapati ranjang yang kosong. Kai tidak ada bersamanya. Dan ia masih berada di kamar utama Kai. Yuna duduk perlahan hingga selimut meluncur turun dari bahunya yang telanjang. Ingatan semalam kembali muncul—pelukan hangat Kai, bisikan tentang hukuman, sentuhan yang hampir melewati batas sebelum penolakan Yuna yang begitu lemah. Ia tertidur lelap dengan cara yang mengejutkan, meski ada ketegangan kecil di antara mereka. “Dia benar-benar pergi …” gumamnya pelan. Entah kenapa, dada Yuna terasa campur aduk. Ada lega karena untuk sesaat ia bebas dari tatapan tajam dan kendali Kai. Tapi di balik itu, ada kekosongan kecil yang membuatnya gelisah. Kenapa … ia malah mencari kehadirannya? Ia bangkit dan melangkah canggung menuju kamar mandi Kai. Aroma sabun pria itu masih samar menempel di udara, mengingatkannya pada sentuhan semalam. Setelah m







