MasukYuna kaku di tempatnya, tubuhnya seperti dipaku ke tanah.
Mata Darren masih menatap Yuna yang berdiri sedikit di belakang Alya. Ia menyunggingkan senyum ramah di wajahnya dengan wajah masih tak menyangka.“Kebetulan sekali ketemu lagi. Dunia kecil ya, Yuna.”Yuna menelan ludah berat, jantungnya berdegup kencang. Baru saja ia ingat—di adegan novel, Alya biasanya dijemput Darren setiap pulang, dan mereka memang sangat dekat.Sialan!Lantaran kepenatan dan pikiranHening menyelimuti udara di kabin mobil membuat Yuna semakin gugup. Kai mengambil minumnya lebih dulu sebelum menjawab dengan tenang. “Saya bawa kamu keluar.” “Terus?” “Keluarga Mahesa panik.” Yuna memejamkan mata frustrasi kecil. Ya Tuhan …. Yuna bahkan tidak berani membayangkan sekacau apa suasana tadi setelah dirinya pingsan. “Kemudian Ibunya Darren meminta maaf karena memaksamu datang saat kondisi kamu sakit.” Kai berhenti sebentar. “Dan acara ulang tahun dilanjutkan setelah kita pergi.” Yuna perlahan membuka mata lagi. “Cuma itu?” Kai menatapnya lurus beberapa detik. “Sebelum kamu pingsan, Ayah Darren hampir menyebut nama kamu di depan semua tamu. Makanya saya suruh kamu berdiri.” Yuna membeku. Beberapa potongan kejadian langsung tersusun di kepalanya sekarang. Tatapan Kai yang mendadak berubah serius. Nada suaranya yang tegas. Perintahnya agar Yuna berdiri saat itu juga. Dan beberapa detik setelahnya … dirinya benar-benar tumbang. Jantung Yuna langsu
Kesadaran Yuna perlahan kembali bersama suara samar hujan rintik yang mengetuk kaca mobil. Kelopak matanya terasa berat saat ia membuka mata perlahan. Pandangannya masih sedikit buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada interior mobil sport hitam yang terasa begitu familiar. Kini, ia berada di mobil Kai. Yuna mengernyit kecil sambil memegang kepalanya yang masih berdenyut samar. Tubuhnya terasa ringan seperti habis kehilangan tenaga terlalu banyak. Dan yang pertama kali kembali ke ingatannya justru bukan suara musik pesta. Melainkan suara Dustin Mahesa di atas panggung: “… akhirnya membawa calon tunangannya sendiri.” Jantung Yuna langsung mencelos. Ia refleks duduk lebih tegak sambil napasnya berubah cepat. Bayangan lampu pesta, para tamu, tatapan keluarga Mahesa, lalu tubuhnya yang mendadak limbung langsung memenuhi kepalanya sekaligus. Sial. Apa Dustin sempat menyebut namanya?! Yuna buru-buru menoleh ke samping, namun kursi pengemudi kosong. “Kai …?” panggi
Suasana meja makan kini terasa canggung setelah ucapan Dwina barusan. Perkataan Ibu Darren yang awalnya terdengar seperti candaan ringan itu justru meninggalkan keheningan aneh di antara mereka sekarang. Yuna langsung merasa tenggorokannya mengering. Dadanya sesak bukan hanya karena gugup, tapi karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa semua kebohongan ini mulai saling bertabrakan di depan matanya sendiri. Di satu sisi, Darren yang menyeretnya masuk ke dalam sandiwara pertunangan palsu demi menghindari perjodohan. Tapi, Kai justru duduk terlalu dekat dengannya sekarang, sampai bahkan orang lain mulai menangkap sesuatu yang seharusnya tidak terlihat. Dan yang paling membuat Yuna takut, perlahan ia mulai tidak tahu harus berdiri di sisi siapa sejak semuanya berubah kacau. Terlebih sekarang, Darren sendiri mulai terlihat kehilangan kendali atas kebohongan yang dulu ia ciptakan sendiri. Yuna masih belum berani mengangkat wajah sepenuhnya. Jantungnya berdegup kacau, sementara
Jantung Yuna langsung terasa berhenti berdetak beberapa detik setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Dustin. Sial. Sejak Kai Verazo muncul di acara ini, perasaan Yuna tidak pernah benar-benar tenang. Sepanjang waktu, ia terus diliputi gugup dan ketakutan kalau pria itu sewaktu-waktu akan membuat situasi di pesta ulang tahun adi Darren berubah kacau. Sekarang, tatapan semua orang perlahan mengarah pada Kai. Bahkan Darren ikut menegang di sambil menatap pria itu waspada. Namun berbeda dari yang Yuna takutkan, Kai justru terlihat sangat santai. Pria itu berdiri tenang di samping kursi Yuna dengan satu tangan masih berada di sandaran kursi tersebut sebelum akhirnya menjawab rendah dan formal. “Saya tahu. Tapi saya memang sudah terbiasa bergerak lebih sigap untuk mempersilakan seorang wanita duduk lebih dulu.” Ucapan Kai begitu datar, elegan, bahkan terdengar sangat masuk akal, membuat Yuna langsung menghembuskan napas lega kecil dalam hati. Untungnya Kai tid
Alya masih berdiri diam di depan mansion keluarga Mahesa bahkan setelah taksi online yang mengantarnya perlahan pergi meninggalkan gerbang utama. Yuna melihat tangan gadis itu menggenggam gift bag kecil lebih erat. Mata Alya bergerak perlahan ke Darren, Kai, lalu berhenti pada Yuna lagi.Suasana di depan mansion seketika berubah sunyi dan canggung, hingga Yuna bisa mendengar jantungnya sendiri berdetak kacau.Sial! Kalau dibiarkan beberapa detik lagi, semuanya bakal makin aneh.Yuna lantas buru-buru menjauh sedikit dari posisi Kai dan Darren sebelum berjalan cepat menghampiri Alya dengan senyum gugup yang dipaksakan.“Alya, kamu baru datang?” sapanya cepat.Alya masih terlihat bingung. Tatapannya sempat melirik Kai sepersekian detik sebelum kembali ke Yuna lagi.“Kak Yuna …” ucap Alya pelan. “Kakak beneran datang? Bukannya tadi Kakak bilang lagi nggak enak badan?”Yuna langsung mengangguk cepat.“Iya,
Darren masih berdiri membeku di depan pintu utama mansion keluarganya. Tatapannya belum lepas dari Kai Verazo yang kini berdiri di samping Yuna dengan tenang seolah kehadirannya di sana adalah sesuatu yang wajar. Udara malam itu langsung berubah aneh. Lampu taman yang hangat, suara musik pelan dari dalam mansion, serta para tamu yang lalu-lalang mendadak terasa jauh lebih menyesakkan bagi Yuna. Ya Tuhan …. Yuna bahkan sudah tidak sanggup lagi memikirkan seberapa jauh alur cerita novel ini mulai melenceng dari yang ia kenal. Seharusnya sejak awal, ia memang tidak berada di acara ulang tahun adik Darren malam ini! Namun semuanya terlanjur kacau karena Darren dan Dwina terus memaksanya hadir di tengah keluarga mereka—sebagai perempuan yang dianggap sedang memiliki hubungan spesial dengan Darren di mata kedua orang tuanya. Yuna bahkan bisa melihat jelas bagaimana Darren sedang berusaha mencerna semuanya—kenapa Kai datang bersama Yuna? Dan sejak kapan mereka sedekat itu? Sementara Ka
Koridor lantai dua rumah sakit terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang sedang mempertaruhkan nyawa seseorang. Di ujung lorong, lampu merah bertuliskan Operasi Berlangsung masih menyala dan tak berkedip. Yuna duduk diam di kursi tunggu dengan tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan. ‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin. Sekejap, ingatannya langsung meny
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Sesaat Yuna menelan ludah berat dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang. Pandangannya refleks menatap Darren yang sedang memperhatikannya. “S–Saya … lagi sama temen lama di restoran, pak.” Yuna meringis dalam hati lantaran ia harus berbohong pada Kai, sambil berharap pria ini tak akan tahu







