LOGINDua hari setelah tragedi berdarah dan pemurnian jiwa yang melelahkan, Balai Agung Alun-Alun Takhta telah dipugar sepenuhnya.
Sinar matahari keemasan menembus pilar-pilar marmer putih yang berdiri megah. Ribuan rakyat dari berbagai ras berkumpul memenuhi lapangan terbuka. Atmosfer dipenuhi wibawa politik yang kental dan sakral. Di atas altar tertinggi, Scarlett duduk dengan keanggunan mutlak. Gaun Victoria berwarna putih suci melekat indah di tub"Singkirkan tanganmu darinya, Yang Mulai Putra Mahkota!" Sebuah bentakan yang berat dan serak seketika memotong kalimat Elian. Killain melangkah maju dengan cepat, sepatu bot bersol besinya menghentak lantai marmer dengan ritme yang penuh ancaman. Sebagai pengawal pribadi sekaligus ksatria pelindung yang bertugas menjaga keselamatan fisik Scarlett, insting protektifnya langsung menyala penuh melihat pria lain menyentuh majikannya dalam situasi emosional. Melihat kilatan amarah di mata Killain, Scarlett berusaha meredakan situasi dengan mengangkat tangannya yang bebas. "Killain, tenanglah. Elian tidak bermaksud buruk," ucap Scarlett dengan nada tenang, mencoba menjadi penengah. Namun, Elian sama sekali tidak menggubris teguran Killain. Sang rubah justru semakin mempererat genggaman tangannya pada jemari Scarlett, melemparkan pandangan meremehkan ke arah sang ksatria pelindung.
Dua hari setelah tragedi berdarah dan pemurnian jiwa yang melelahkan, Balai Agung Alun-Alun Takhta telah dipugar sepenuhnya. Sinar matahari keemasan menembus pilar-pilar marmer putih yang berdiri megah. Ribuan rakyat dari berbagai ras berkumpul memenuhi lapangan terbuka. Atmosfer dipenuhi wibawa politik yang kental dan sakral. Di atas altar tertinggi, Scarlett duduk dengan keanggunan mutlak. Gaun Victoria berwarna putih suci melekat indah di tubuh rampingnya. Caspian, dengan jubah putih kebesaran Pendeta Agung yang megah, melangkah maju dengan mantap. Kedua tangannya yang memegang mahkota terangkat tinggi sebelum perlahan menurunkannya ke atas kepala Scarlett. Aura suci berpendar tipis saat mahkota itu menyentuh helaian rambut Scarlett. "Atas nama takdir dan kehendak suci, dengan ini aku menobatkan Nona Scarlett sebagai Penguasa Kota yang sah! Pelindung wilayah dan pembawa fajar baru bagi ki
Mendengar seruan parau dari Caspian yang terus memohon di bawah kaki ranjang dengan mata dipenuhi air mata, atmosfer di dalam kamar tidur utama itu kian terasa sesak oleh kebenaran emosi yang meluap. Belum sempat Scarlett memberikan balasan atas kekhawatiran sang Pendeta Agung, sebuah pergerakan kembali terjadi di sisi ranjangnya.Zayn langsung merangsek maju, mengambil posisi tepat di samping Valerian. Pangeran ras duyung berambut biru yang biasanya penuh dengan aura menggoda itu kini benar-benar telah kehilangan seluruhnya. Dengan napas yang memburu pendek, dia menggenggam erat selimut sutra yang menutupi tubuh Scarlett, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi dari pandangannya."Tuan... jangan tinggalkan aku lagi," ucap Zayn dengan nada suara yang lirih dan serak, sementara air matanya mulai meleleh deras membasahi pipinya tanpa bisa dia bendung lagi.Dia mempererat genggamannya pada selimut, lalu menambahkan dengan keputusasaan
Mendengar keputusan yang keluar dari bibir Scarlett, Pixie tidak langsung memproses perintah tersebut. Makhluk kecil itu berhenti tepat di depan wajah Scarlett. "Pikirkanlah baik-baik, Inang," ucap Pixie, nada suaranya kini dipenuhi oleh peringatan. "Ini adalah kesempatan terakhir. Begitu gerbang ini ditutup dan jiwamu dikirim kembali, kamu tidak bisa menyesal lagi untuk selamanya. Hak kepulanganmu ke dunia asal akan hangus total." Namun, segala bentuk ancaman dan peringatan logis dari sistem sama sekali tidak mampu menggoyahkan dinding pertahanan batin Scarlett. Sepasang mata ungunya justru memancarkan kilat keteguhan dan keyakinan yang jauh lebih pekat. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius, mengunci tatapan Pixie tanpa berkedip. "Aku sangat yakin." Pixie yang mendengar jawaban dari Scarlett hanya bisa menghel
Kelopak mata Scarlett perlahan terbuka kembali. Namun, sensasi pertama yang menyerang inderanya bukan lagi rasa sakit yang menusuk atau aroma anyir darah dari alun-alun takhta. Tidak ada juga suara tangisan histeris yang parau dari para suami binatangnya yang mengiringi kepergian jiwanya beberapa saat lalu.Saat pandangan matanya menjadi jelas, Scarlett menyadari bahwa dirinya saat ini sedang terbaring di tengah-tengah sebuah lingkup dunia yang asing—sebuah dimensi luas yang serba putih bersih tanpa ujung, tanpa dinding, dan tanpa batas cakrawala yang jelas. Tempat itu begitu sunyi, begitu damai, dan diselimuti oleh pendaran cahaya terang yang tidak menyilaukan mata. Scarlett sendiri benar-benar tidak tahu di mana dia berada saat ini.Dengan sisa-sisa tenaga yang entah bagaimana terasa telah pulih seutuhnya, Scarlett berusaha untuk mendudukkan tubuh rampingnya di atas hamparan ruang putih tersebut. Dia memijit pelan pelipisny
"Nona Scarlett... Dengar suaraku, kumohon jangan tutup matamu!" panggil Caspian lagi dengan nada parau yang kian menyayat hati. Valerian menggenggam sangat erat telapak tangan kanan Scarlett yang terasa sangat dingin di dalam genggamannya. Seluruh urat saraf di tubuh sang jenderal perang tampak menegang, dia mencoba mengerahkan seluruh energi internal emasnya untuk disalurkan masuk ke dalam tubuh Scarlett, berharap bisa menahan kepergian jiwanya. Namun, semua usaha keras itu sama sekali tidak membuahkan hasil sedikit pun; tubuh Scarlett menolak setiap pasokan energi luar karena inti spiritual mentalnya telah melebur habis. "Bertahanlah, Scarlett! Aku memerintahmu untuk tetap bertahan hidup!" teriak Valerian, suaranya yang biasa menggelegar di medan laga kini terdengar sangat pecah dan ketakutan. "Aku... aku akan segera membawamu pulang untuk berobat ke tabib terbaik di seluruh kekaisaran! Jadi, kumohon jangan menyerah!" Kondisi fisik Scarlett saat ini sudah benar-benar b







