홈 / Fantasi / Sang Villainess Yang Disayang / 16. Kegagalan Rosalie

공유

16. Kegagalan Rosalie

작가: Hydragea
last update 게시일: 2026-07-05 14:44:42

Beberapa saat sebelumnya.

Seorang pelayan kediaman Pengusaha Kota sedang membawa nampan berisi minuman untuk para tamu kediaman itu.

Matanya menyiratkan kepanikan, tangannya gemetar saat menaruh gelas di depan Valerian.

Valerian menangkap gelagat aneh pelayan itu, dahinya sedikit mengkerut. Hanya beberapa detik, mengira pelayan itu gugup karena ada banyak pejabat tinggi dan jajaran kekaisaran yang bergabung membahas perang yang akan dilakukan besok.

Memfokuskan kembali pikirannya ke str
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sang Villainess Yang Disayang   162. Scarlett, Elian dan Keseriusan

    Scarlett menimang sebentar ajakan Elian. Di tengah banyaknya urusan takhta, tatapan mata rubah pria itu terlihat begitu menuntut. Scarlett akhirnya mengembuskan napas pendek lalu mengiyakan. "Baiklah, ayo," jawab Scarlett kemudian. Senyum manis langsung mengembang lebar di bibir Elian, matanya berkilat senang. "Pilihan yang bagus, Nona Besar. Mari ikut aku." Elian mengulurkan tangan, menuntun Scarlett berjalan bersama meninggalkan ruang audiens menuju ke arah taman belakang Kediaman Penguasa Kota. Scarlett menerima uluran tangan Elian. Seketika itu juga Elian langsung menggenggam erat jari Scarlett. Padahal sudah sering sekali Scarlett melakukan kontak intens dengan Elian serta yang lain, tapi selalu saja detak jantungnya berdegup menggila. Begitu pintu kayu besar taman terbuka, embusan angin segar langsung menyambut mereka. Di taman itu terdapat sebuah danau kecil yang jernih dan hamparan taman yang dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang sedang mekar dengan indah. Elia

  • Sang Villainess Yang Disayang   161. Rapat Dewan Pertama

    "Nghhh..." Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar, membangunkan Scarlett dari tidur nyenyaknya. Dia mengerjapkan mata ungunya, lalu menoleh ke arah samping ranjang. Tempat di mana Caspian memeluknya semalam kini sudah kosong dan mendingin. "Pria itu... sudah pergi lagi sepagi ini? Benar-benar pendeta yang sibuk," gumamnya lirih, seraya beranjak duduk. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu memutus lamunannya. Pelayan pribadinya melangkah masuk dengan kepala menunduk khidmat, membawa nampan berisi naskah agenda hari ini. "Selamat pagi, Yang Mulia Penguasa Kota. Hamba datang untuk membantu Anda bersiap. Hari ini adalah hari penting di mana Anda harus menetapkan struktur anggota pemerintahan yang baru." Ya ampun! Karena banyaknya masalah yang terjadi belakangan ini, Scarlett hampir melupakan hal penting ke penguasaannya. Tapi Scarlett tak melupakan undangan pribadi malam ini dari sang Kaisar Vulpisgard. Scarlett mengangguk tegas, beranjak dari ranjang. "Bai

  • Sang Villainess Yang Disayang   160. Bermalam Dengan Caspian

    Caspian terdiam mematung selama beberapa saat setelah bayangan tubuh tegap Zayn sepenuhnya menghilang di balik pintu keluar Altar Agung. Kalimat tajam sang raja laut dalam yang menuduhnya bertingkah kekanakan terus berputar di kepalanya, bertabrakan dengan nasihat bijak yang baru saja dilontarkan oleh Alden. Perlahan, Caspian memalingkan wajahnya, melirik ke arah pendeta junior di sampingnya. Menatap binar ketulusan di mata Alden, sebuah pencerahan mendadak menyambar benaknya. Dia seolah-olah telah menemukan jawaban yang dia butuhkan untuk memecahkan dilema hidupnya. Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Caspian melangkah maju lalu merengkuh tubuh Alden ke dalam sebuah pelukan persaudaraan yang kuat. Alden terkejut setengah mati, tubuhnya menegang kaku karena tidak mengira sang Pendeta Agung akan melakukan tindakan sefrontal ini. Namun, menyadari bahwa pelukan itu adalah simbol dari runtuhnya beban batin sang pemimpin, Alden memilih untuk tidak bertanya lebi

  • Sang Villainess Yang Disayang   159. Deklarasi Perang Dari Zayn

    Caspian terhenyak, bibirnya membisu mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut pendeta junior di sampingnya. Kata-kata Alden bagai seberkas cahaya menembus kegelapan labirin pikirannya, memaksanya untuk merenungkan kembali strategi baru yang jauh lebih taktis tanpa harus mengorbankan perasaan ataupun rakyatnya. Alden tidak mendesak Caspian untuk memberikan jawaban cepat, dia juga tidak mencoba untuk meyakinkan atau memengaruhi keputusan sang pemimpin lebih jauh lagi. Dia tahu, seluruh keputusan penentu masa depan tatanan suci ini berada sepenuhnya di dalam genggaman tangan Caspian sendiri. Perlahan seulas senyum lembut yang tulus merekah di bibir Caspian yang pucat, dia menatap Alden dengan binar mata penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak, Alden. Kamu... kamu benar-benar telah berhasil membuka mata batinku yang sempat buta oleh kecemburuan." Alden tersenyum tulus, tak menjawab, namun kepalanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Namun, tepat di saat kelegaan ter

  • Sang Villainess Yang Disayang   158. Nasehat Alden

    Keheningan malam yang sunyi membungkus Altar Gereja Suci dengan atmosfer yang sakral. Cahaya temaram dari puluhan lilin putih raksasa yang menyala di sepanjang altar memantulkan bayangan pilar-pilar batu yang tinggi melengkung. Di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah patung simbol ketuhanan yang agung, Caspian tampak sedang bersujud di atas kedua lututnya. Pemuda itu menundukkan kepala, merajut jemarinya di depan dada dalam posisi berdoa yang kaku, mencoba mencari jawaban atas dilema terbesar yang sedang meretakkan batinnya. Caspian mengembuskan napas pendek yang terasa sesak di dadanya. Sepasang mata abu-peraknya menatap sayu ke arah lilin yang bergoyang ditiup angin malam. "Tuhan... Tolong berikan hamba-Mu ini petunjuk yang jernih. Apa yang sebenarnya harus kulakukan saat ini?" gumamnya dengan nada lirih dan parau. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa mengikat kontrak pengaktifan totem dengan Scarlett sebagai suaminya... namun di saat yang sama, rumah suci in

  • Sang Villainess Yang Disayang   157. Obsesi Zayn Yang Semakin Parah

    "Kalau begitu, minumlah tehnya sampai habis, Tuan... Dan setelah itu, biarkan aku membantu merilekskanmu." Mendengar bisikan sensual tepat di telinganya, Scarlett perlahan membuka kelopak mata ungunya. Sentuhan jari-jari putih pucat Zayn di bahunya, berpadu dengan kehangatan tubuh pria duyung itu yang menempel di punggungnya, perlahan-lahan mengikis tumpukan kepenatan yang menggelayuti benaknya sejak pagi. "Kau selalu tahu cara memanfaatkan situasi, Zayn," ucap Scarlett dengan nada suara yang rendah dan rileks. Zayn terkekeh rendah, sama sekali tidak tersinggung ucapan Scarlett. "Benarkah aku seperti itu... di matamu?" "Ya." Scarlett mendongak, menatap Zayn dari bawah. "Bisa dibilang, kau pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan." Zayn menunduk, dan terkekeh kembali, kali ini sedikit lebih keras. Matanya berkedip sebelah–gestur menggoda genit. "Ku anggap itu pujian, Nona Besar." Tawa Scarlett pecah, Zayn pun ikut tertawa bersamanya. "Lalu dengan cara apa k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status