LOGINSetelah tatapan penuh kebencian dari Rosalie membakar udara, tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk saling melempar dendam. Detik berikutnya, sang MC melangkah ke tengah panggung utama dengan wibawa seorang penyihir agung. Kedua telapak tangannya diangkat tinggi-tinggi ke udara, memancarkan pendaran cahaya magis yang sangat menyilaukan mata. "Final seleksi dimulai!" teriak sang MC dengan suara menggelegar. Bersamaan dengan seruan itu, gelombang energi hisap yang luar biasa kuat memancar dari ketiga gerbang dimensi di tengah arena. Tanpa bisa menghindar, tubuh Scarlett, Rosalie, dan kandidat ketiga—Aveline—seketika ditarik paksa masuk ke dalam pusaran pendaran cahaya. Jiwa mereka diseret tanpa ampun, dilemparkan ke dalam labirin ilusi yang akan menguliti ketakutan terdalam di lubuk hati masing-masing. Sedangkan tubuhnya dikurung dalam gerbang dimenasi. Di atas tribun penonton, tiga buah layar magis raksasa berukuran masif mendadak mengambang di udara, berpendar terang untuk
"Terlebih... jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisik Elian, suaranya bergetar dengan nada menuntut yang nakal. "Aku juga sangat ingin merasakan... apa yang sudah dirasakan oleh Valerian malam itu." DEG! Kalimat itu bagai sengatan listrik yang langsung membuat tubuh Scarlett menegang sesaat. Matanya membelalak kecil. Bagaimana bisa rubah licik ini mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar pribadi Valerian dua malam lalu?! "Kamu... tau?" Elian hanya menyeringai tipis, matanya berkedip genit satu kali ke arah Scarlett. Lalu dia menegakkan punggungnya lagi, wajahnya dibuat setenang mungkin, padahal satu detik sebelumnya baru saja mengucapkan satu rahasia Scarlett. Banyak sekali pertanyaan yang mendadak berputar di dalam kepala Scarlett setelah mendengar bisikan nakal dari Elian. Dia ingin sekali menuntut penjelasan dari mana rubah licik itu bisa mengendus rahasia malam intimnya dengan Valerian. Namun, sebelum kata pertama sempat keluar dari bibirnya, sebuah be
TAK! TAK! TAK! Di tengah riuhnya gemuruh penonton dan kepulan energi sihir dari gerbang ilusi, Scarlett mendengarkan sesuatu yang berbeda. Indera pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki ritmis di lantai batu tepat di belakangnya. Ada sekitar lima pasang kaki yang berjalan mendekat dengan langkah mantap dan penuh wibawa. Tanpa perlu membalikkan badannya, Scarlett sudah tahu persis siapa mereka. Mereka adalah kelima suami binatang miliknya, para pria kuat yang garis takdirnya kini telah saling bertautan dengan jiwanya. Kelimanya langsung berjalan mengelilingi Scarlett, membentuk barisan pelindung yang membuat para penonton di tribun berbisik heboh. Kini posisi Scarlett berdiri di kelilingi pagar betis tinggi dan tegap, membuat hampir semua orang iri saat melihatnya. Orang pertama yang maju mengambil inisiatif untuk berinteraksi adalah Valerian. Sang panglima perang itu mengulurkan tangannya yang besar, lalu menggenggam erat jemari lentik Scarlett. "Apa
Rasa perih yang tertinggal di tubuhnya membuat Scarlett tidak bisa langsung memejamkan mata. Dengan helaan napas panjang, dia memfokuskan energi spiritual dalam dirinya. Scarlett mengaktifkan mantra penyembuhan internal. Gelombang hangat yang lembut mengalir perlahan, membasuh rasa sakit yang ditimbulkan oleh 'milik' Valerian tadi. Setelah tubuhnya terasa jauh lebih nyaman, dia bangkit dari ranjang dengan gerakan anggun. Scarlett meraih kembali jubah tidur tipisnya, memakainya dengan rapi untuk menutupi tubuh polosnya. Sebelum melangkah pergi, Scarlett berbalik sesaat. Dia menatap Valerian yang kini sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Wajah pria itu tampak begitu damai, sangat berbeda dengan sosok panglima perang yang garang atau pria penuh hasrat beberapa saat lalu. Scarlett memutar kenop pintu tanpa suara, lalu melangkah keluar dari kamar Valerian. Dia berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi menuju kamarnya sendiri. Saat membuka pintu kamarnya, suasana su
Scarlett menyambut ciuman Valerian tanpa ragu. Bibir mereka bertemu dalam keheningan kamar yang hanya diterangi cahaya temaram dari lampu di sisi ranjang. Untuk pertama kalinya, bukan Scarlett yang mengambil inisiatif. Valerianlah yang mendekat lebih dulu, seolah seluruh keberaniannya terkumpul dalam satu tindakan sederhana itu. Dan ketika Scarlett membalasnya, dada Valerian seakan dipenuhi letupan bunga. Dia tidak ditolak. Perasaan itu membuat ciumannya semakin dalam, semakin penuh emosi yang selama ini berusaha dia sembunyikan. Tangannya bergerak perlahan ke belakang kepala Scarlett, menahannya agar keduanya tetap dekat. Scarlett menghela napas kecil ketika Valerian memperdalam ciuman mereka. Tanpa melepaskan tautan bibir, Valerian perlahan mendorong tubuh Scarlett hingga wanita itu berbaring di atas ranjang. Suasana kamar berubah semakin sunyi, tetapi justru karena itulah setiap tarikan napas dan detak ja
Scarlett perlahan mengurai pelukannya, membiarkan tubuh mereka berjarak beberapa senti saja. Dia mendongak, lalu menangkup pipi cekung Valerian yang ternoda bercak darah ilusi dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Kulit Valerian terasa kasar dan dingin, bergetar akibat gejolak amarah dan ketakutan yang belum reda."Yang tidak bisa kamu jaga adalah penyesalan masa lalu," ucap Scarlett dengan nada suara yang jernih, mantap, dan sarat akan penekanan. "Tapi kamu bisa menjaga dirimu yang sekarang."Saat kalimat itu meluncur dari bibirnya, sepasang mata ungu Scarlett berkilat tajam. Manik ungu yang jernih itu mengunci rapat-rapat mata merah darah Valerian yang masih berapi-api, memancarkan perpaduan antara kesedihan mendalam dan trauma pengkhianatan yang belum usai. Tatapan Scarlett bertindak bagai jangkar, memaksa kesadaran sang panglima perang untuk berhenti tenggelam dalam memorinya sendiri.Perlahan, kedua tangan Scarlett







