LOGIN"Siapa di sana?! Berani sekali menyelinap masuk ke dalam gudang senjata pribadi kaisar?!"Suara bentakan sang penjaga elit kembali menggema, jauh lebih keras dan sarat akan ancaman dibanding sebelumnya. Detik berikutnya, sapuan cahaya kekuningan yang berasal dari lentera minyak yang dibawa oleh petugas tersebut mulai bergerak agresif membelah kegelapan lorong rak senjata kuno. Cahaya itu bergeser naik, hampir saja menerangi dan mengenai wajah Scarlett yang saat itu masih berada di bawah kungkungan Elian.Rasa panik seketika menyerang dada Scarlett. Hilang sudah semua rencana sensual dan permainan emosi yang tadinya ia susun dengan rapi."Cepat lari!" bisik Scarlett dengan nada terengah-engah yang penuh kepanikan.Tanpa menunggu persetujuan dari pria di hadapannya, Scarlett langsung menyambar dan menggandeng erat telapak tangan besar Elian. Dengan sentakan kuat, dia menarik tubuh tegap sang Putra Mahkota untuk ikut berlari bersamanya, memotong jalur gelap di antara rak-rak besi menu
Suasana di dalam ruang teratas kastil barat itu terasa begitu dingin dan mencekam. Dinding-dinding batu yang kokoh dilapisi oleh mantra pelindung tingkat tinggi, memancarkan aura magis yang berat. Tempat ini adalah gudang senjata pribadi milik Kaisar—sebuah kawasan terlarang yang dijaga sangat ketat. Di dunia nyata maupun di dalam ruang batin ini, tidak ada satu orang pun yang diizinkan melangkah masuk ke tempat suci ini tanpa mandat langsung dari penguasa tertinggi, tidak terkecuali sang Putra Mahkota sekalipun. Scarlett melangkah dengan tenang di antara deretan rak senjata kuno. Langkah kakinya yang anggun terhenti di depan sebuah wadah beludru hitam. Sepasang mata ungunya berbinar saat menatap sebilah pedang perak yang luar biasa indah. Pedang itu memiliki ukiran runik yang sangat rumit di sepanjang bilahnya, dan sebuah batu rubi berwarna biru tua yang langka tertanam kokoh di bagian gagangnya, memancarkan kilau mistis yang memikat. Elian melangkah mendekat perlahan, mengam
KLIK. Pintu kayu mahoni milik ruang VIP restoran mewah itu terbuka perlahan. Sesosok pria dengan langkah tegap melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu adalah Elian. Namun, penampilannya kali ini tampak berbeda dari beberapa saat lalu. Dia datang tanpa mengenakan jubah mewah bulan bintang ataupun zirah kebesaran miliknya. Hanya menyisakan kemeja formal kekaisaran yang terkancing rapi hingga ke leher. Setelah menutup pintu rapat-rapat di belakang punggungnya, sepasang mata rubah milik Elian langsung bergerak menyapu ruangan. Pandangannya terkunci pada sosok Scarlett yang sudah duduk manis menantinya di balik meja makan bundar. Elian menatapnya dengan tatapan mata yang luar biasa datar, kaku, dan dingin. Sebaliknya, Scarlett sama sekali tidak terpengaruh oleh atmosfer membeku yang dibawa oleh sang Putra Mahkota. Wanita bergaun lilac itu justru s
"Maaf," jawab Elian, suaranya terdengar bariton, kaku, dan tanpa fluktuasi emosi sedikit pun. "Aku di sini hanya menangani urusan resmi kekaisaran. Aku tidak memiliki waktu untuk menghadiri undangan pribadi yang tidak penting, apalagi membuang waktu untuk sekadar minum alkohol." Taktik godaan yang dilancarkan Scarlett ternyata tidak membuahkan hasil instan seperti biasanya. Di dalam dimensi batin ini, pesona sensual yang ia pancarkan seolah membentur dinding es yang tebal. Elian sama sekali tidak bergeming. Alih-alih terbuai oleh tatapan genit Scarlett, sepasang mata rubah milik pria itu justru memancarkan kilat ketidaksukaan yang amat ketara Scarlett seketika tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak kecil karena terkejut. Di dalam benaknya, rasa heran bercampur tidak percaya bergejolak hebat. "Mengapa situasinya menjadi seperti ini?" Scarlett bertanya-tanya, menatap bingung pada sosok di hadapannya
Setelah perbincangan intim di bawah siraman cahaya bintang di atas atap gazebo mereda, kesadaran Scarlett kini telah berpindah. Dia sudah berada di dalam keheningan kamar tidur utamanya yang megah. Tanpa membuang-buang waktu yang berharga untuk beristirahat, wanita bergaun lilac itu langsung memfokuskan pikirannya. Dia memanggil Pixie di dalam benaknya, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat dingin dan tegas. "Sistem, Akses ruang batin Elian sekarang juga." "Perintah diterima. Memproses pengurangan poin penderitaan... Membuka kunci gerbang dimensi khusus. Sedang mengakses ruang batin target keempat: Elian." WUSH! Seketika itu juga, monitor virtual transparan di depan wajahnya menyala dengan pendaran cahaya merah keunguan yang pekat. Detik berikutnya sistem berkata. "Akses Berhasil." Gelom
Scarlett tahu betul niat itu, namun dia mengiyakan ajakan Elian. Elian memantapkan posisinya. Tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari para bangsawan yang tersisa di aula perjamuan, dia membawa Scarlett pergi dari sana. Pria itu menggendong Scarlett dengan gaya bridal style—mendekap tubuh ramping sang Penguasa Kota yang baru dengan sangat posesif di dada bidangnya. Langkah kaki sepatu bot Elian terdengar sangat mantap saat menaiki undakan tangga batu menuju lantai tertinggi mansion. Tidak ada sedikit pun riak oleng pada tubuh tegapnya, membuktikan bahwa toleransi alkohol sang Putra Mahkota ras rubah ini memang berada di tingkatan yang luar biasa tinggi. Ketika mereka akhirnya sampai di area atap aula perjamuan, embusan angin malam yang sejuk langsung menerpa kulit mereka, menyapu sisa-sisa aroma pekat alkohol dari dalam ruangan tadi. Di sana, terdapat sebuah gazebo terbuka yang megah dengan alas karpet beludru yang nyaman. Elian menurunkan Scarlett dengan sangat hati-hati,







