Share

40. Istana Laut Dalam

Penulis: Hydragea
last update Tanggal publikasi: 2026-07-12 10:24:19

Begitu tubuh ramping Scarlett terkulai sepenuhnya di atas sofa beludru, alunan senandung mistis yang menguar dari bibir pucat Zayn mendadak berhenti.

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruang tamu mewah itu.

Zayn melangkah luwes, mengabaikan tubuh besar Killain yang terkapar tak berdaya di atas karpet, lalu berhenti tepat di hadapan Scarlett.

Zayn mencondongkan tubuhnya yang bertelanjang dada. Jemari pucatnya dengan lembut menyingkirkan beberapa helai rambut hitam panjang yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Villainess Yang Disayang   158. Nasehat Alden

    Keheningan malam yang sunyi membungkus Altar Gereja Suci dengan atmosfer yang sakral. Cahaya temaram dari puluhan lilin putih raksasa yang menyala di sepanjang altar memantulkan bayangan pilar-pilar batu yang tinggi melengkung. Di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah patung simbol ketuhanan yang agung, Caspian tampak sedang bersujud di atas kedua lututnya. Pemuda itu menundukkan kepala, merajut jemarinya di depan dada dalam posisi berdoa yang kaku, mencoba mencari jawaban atas dilema terbesar yang sedang meretakkan batinnya. Caspian mengembuskan napas pendek yang terasa sesak di dadanya. Sepasang mata abu-peraknya menatap sayu ke arah lilin yang bergoyang ditiup angin malam. "Tuhan... Tolong berikan hamba-Mu ini petunjuk yang jernih. Apa yang sebenarnya harus kulakukan saat ini?" gumamnya dengan nada lirih dan parau. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa mengikat kontrak pengaktifan totem dengan Scarlett sebagai suaminya... namun di saat yang sama, rumah suci in

  • Sang Villainess Yang Disayang   157. Obsesi Zayn Yang Semakin Parah

    "Kalau begitu, minumlah tehnya sampai habis, Tuan... Dan setelah itu, biarkan aku membantu merilekskanmu." Mendengar bisikan sensual tepat di telinganya, Scarlett perlahan membuka kelopak mata ungunya. Sentuhan jari-jari putih pucat Zayn di bahunya, berpadu dengan kehangatan tubuh pria duyung itu yang menempel di punggungnya, perlahan-lahan mengikis tumpukan kepenatan yang menggelayuti benaknya sejak pagi. "Kau selalu tahu cara memanfaatkan situasi, Zayn," ucap Scarlett dengan nada suara yang rendah dan rileks. Zayn terkekeh rendah, sama sekali tidak tersinggung ucapan Scarlett. "Benarkah aku seperti itu... di matamu?" "Ya." Scarlett mendongak, menatap Zayn dari bawah. "Bisa dibilang, kau pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan." Zayn menunduk, dan terkekeh kembali, kali ini sedikit lebih keras. Matanya berkedip sebelah–gestur menggoda genit. "Ku anggap itu pujian, Nona Besar." Tawa Scarlett pecah, Zayn pun ikut tertawa bersamanya. "Lalu dengan cara apa k

  • Sang Villainess Yang Disayang   156. Apa Ini Zayn?

    Pintu ruang kerja Penguasa Kota yang baru telah ditutup rapat. Scarlett duduk bersandar di balik meja mahakarya kayu ek yang kokoh, menopang dagunya dengan satu tangan. Manik mata ungunya yang jernih menatap kosong ke arah deretan dokumen pemerintahan yang menumpuk di hadapannya. Pikirannya benar-benar sedang bercabang hebat, berputar-putar di antara dua masalah besar yang mendadak melanda hatinya. Scarlett mengembuskan napas panjang, memijit pelan pelipisnya yang berdenyut halus. "Caspian... ku mohon jangan gegabah. Dan Killain... ku harap kau bisa membantu Valerian di lembah tengkorak." Scarlett memejamkan matanya rapat-rapat. Dua masalah ini benar-benar sukses membuat kepalanya hampir pecah karena khawatir. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu yang mendadak memutus lamunan panjang Scarlett. Daun pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pelayan pribadinya yang melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa sepucuk surat yang entah siapa pengirimnya. "Maaf, Nona Besa

  • Sang Villainess Yang Disayang   155. Jenderal Yang Baru

    Suasana ruang kerja yang megah namun sunyi. Lilin-lilin besar menerangi meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah. Pintu ruang ganda terbuka. Scarlett melangkah masuk dengan gaun berwarna ungu lilac–ciri khasnya, yang sedikit berdebu, kelelahan setelah melewati hari panjang dengan berdebat bersama Caspian. "Sialan. Caspian benar-benar sudah gila." batinnya menggerutu sepanjang perjalanan. Killain berjalan satu langkah di belakangnya, tangan kanannya secara refleks selalu berada di dekat gagang pedangnya. Scarlett menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja, lalu mendudukkan diri. Baru saja punggung Scarlett menyentuh sandaran kursi, mencoba mencari ketenangan— BRAKK!!! Pintu ruang kerja dibuka paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras. Killain langsung melesat ke depan Scarlett, menghunuskan separuh pedangnya dari sarung dengan bunyi desingan logam yang tajam. Prajurit Garth, utusan setia Valeria

  • Sang Villainess Yang Disayang   154. Derita di Balik Tembok Suci

    Mendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona

  • Sang Villainess Yang Disayang   153. Pertanyaan Yang Memaku Jiwa

    PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status